NovelToon NovelToon
Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Time Travel / Reinkarnasi / Harem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.

Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!

"Tidak mau."

Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.

Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.

"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilas Balik: Kabar suka dan kabar duka

"Selamat ya, Bai Ruoxue."

"Kamu berhasil."

Hari itu, langit cerah.

Tidak terlalu biru, tidak pula muram. Angin berembus ringan, membawa aroma dedaunan kering dan debu jalanan. Bai Ruoxue berjalan dengan langkah cepat, jemarinya terus menggenggam gulungan kertas yang terasa hangat di telapak tangannya—seakan takut jika ia melepasnya, semua ini hanya mimpi.

Sertifikat itu.

Namanya tercetak jelas di sana.

Bai Ruoxue.

Sertifikat guru. Bukti bahwa ia lulus. Bukti bahwa ia bisa bekerja. Bukti bahwa selama ini—diam-diam, dengan luka yang tak pernah ia ceritakan—ia berhasil.

Dadanya bergetar menahan senyum.

Akhirnya…

Ia membayangkan wajah ibunya. Tatapan yang selalu berusaha lembut meski kosong. Senyum yang selalu dipaksakan, tapi tetap ia balas dengan penuh semangat. Ia bisa membayangkan ibunya duduk di rumah kecil mereka, menunggu seperti biasa, mungkin menyiapkan teh hangat, mungkin menatap pintu terlalu lama.

“Aku berhasil, Bu.” gumamnya pelan sambil melangkah.

Ia sudah menyiapkan segalanya.

Pekerjaan. Tempat tinggal yang lebih tenang. Uang yang akan ia kumpulkan sedikit demi sedikit.

Ia akan membawa ibunya pergi. Pergi dari rumah ini. Pergi dari nama keluarga ini. Pergi dari dunia yang selalu menginjak mereka berdua.

Hari ini, ia akan menyampaikan kabar gembira itu.

Hari ini, hidup mereka seharusnya dimulai.

Pintu rumah terbuka perlahan.

Tidak ada suara.

Biasanya, ibunya akan menyambutnya—meski hanya dengan langkah pelan atau suara dari dalam. Kadang hanya berkata, “Kau sudah pulang?” dengan nada datar tapi hangat.

Namun hari ini… sunyi.

Langkah Bai Ruoxue terhenti. Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Ibu…?” panggilnya ragu.

Tidak ada jawaban.

Ia masuk lebih dalam. Paviliun itu terasa dingin. Terlalu rapi. Terlalu tenang. Seolah seseorang telah membereskan segalanya dengan hati-hati.

Deg.

Pandangan matanya jatuh ke arah lantai ruang dalam.

Sosok itu tergeletak di sana.

Tubuh ibunya. Tidak bergerak.

“Ibu…?” suaranya bergetar kini. Langkahnya melambat, seakan takut mendekat akan membuat kenyataan itu semakin nyata.

Ia berlutut.

Tangannya gemetar saat menyentuh bahu ibunya.

Dingin.

“Ibu…!” Bai Ruoxue menepuk-nepuk pipi itu. “Ibu, bangun… aku pulang…”

Tidak ada jawaban.

Wajah itu tampak tenang. Terlalu tenang. Seolah sedang tertidur pulas setelah kelelahan panjang. Bibirnya pucat, matanya terpejam rapi.

Bai Ruoxue mengguncang tubuh itu perlahan. Lalu lebih kuat.

“Ibu… jangan bercanda… aku mau cerita…”

Napasnya mulai terengah. Matanya menangkap sesuatu di dekat tangan ibunya.

Sebuah botol kecil.

Kosong.

Dadanya terasa seperti diremas keras.

Tidak.

Tidak, tidak, tidak—

Ia menggeleng berkali-kali. Air matanya jatuh satu per satu, menodai lantai. Tangannya meraih botol itu. Jemarinya dingin. Ia mengenali benda itu.

Racun.

Tubuhnya gemetar hebat.

“Kenapa…?” suaranya pecah. “Kenapa, Bu…?”

Lalu matanya melihat sesuatu yang lain.

Sebuah kotak kecil.

Kotak yang sangat ia kenal. Kotak hadiah. Kotak yang biasa ia gunakan untuk menyimpan benda-benda kecil—peniti rambut, pita, atau hadiah sederhana yang ia berikan pada ibunya setiap kali ia pulang membawa kabar baik.

Kotak itu kini berada di tangan ibunya.

Seolah sengaja disiapkan.

Air mata Bai Ruoxue mengalir semakin deras. Ia merangkak mendekat, duduk di samping tubuh ibunya, lalu mengambil kotak itu dengan tangan gemetar.

“Bu…?” bisiknya, nyaris tak terdengar.

Ia membuka kotak itu.

Di dalamnya, ada selembar surat. Tulisan tangan ibunya. Rapi. Tenang. Terlalu tenang.

Bai Ruoxue menutup mulutnya, menahan isak, lalu mulai membaca.

Ruoxue… anakku.

Jika kau membaca ini, berarti ibu sudah tidak bisa menyambutmu lagi.

Kalimat pertama itu saja sudah cukup membuat bahunya bergetar keras.

Maafkan ibu. Maaf karena ibu memilih pergi sebelum melihatmu benar-benar hidup bahagia.

Air mata jatuh ke surat itu, memburamkan tulisan.

Ibu tahu hari ini penting. Ibu tahu kau akan pulang membawa sesuatu yang kau genggam erat sepanjang jalan. Ibu bisa membayangkannya bahkan tanpa melihat.

Ibu bangga padamu.

Bai Ruoxue menggigit bibirnya keras-keras.

Sejak kecil, kau selalu lebih kuat dari yang ibu kira. Kau belajar diam bukan karena lemah, tapi karena kau tahu dunia ini kejam pada mereka yang bersuara tanpa kuasa.

Maafkan ibu… karena selama ini ibu hanya bisa diam.

Tangisnya pecah.

Ibu melihat segalanya. Ibu tahu luka-lukamu. Ibu tahu apa yang mereka lakukan. Tapi ibu tidak cukup kuat untuk melindungimu. Nama. Reputasi. Dunia ini terlalu besar untuk ibu lawan.

Itulah sebabnya ibu memilih ini.

Tangannya gemetar hebat.

Ibu sangat berbeda denganmu. Ibu tak kuat melihat semua ini, apalagi dirimu. Saat kau terluka dan ibu tak bisa melakukan apa-apa, ibu selalu merasa berdosa, mencabik diri ibu perlahan-lahan. Rasa itu selalu menghantui ibu setiap malam.

Bai Ruoxue semakin terisak dalam diam.

Dunia ini sangat kejam, jadi berjanjilah pada ibu untuk selalu menjaga diri ya?

Kalimat itu seperti ironi bagi gadis itu. Ibunya sudah melakukan ini dan ibunya menyuruhnya menjaga diri? Dadanya semakin sesak dan sakit.

Ruoxue… dengarkan ibu.

Jangan pernah menunjukkan kelebihanmu, kecantikanmu, kepintaranmu. Karena kecantikan untuk perempuan yang tak punya kekuasaan adalah awal dari kehancuran. Hiduplah dengan tenang, bahkan sampai orang pun tak mau melirikmu.

Bai Ruoxue semakin meluruhkan air matanya, melihat isi surat tersebut yang penuh makna.

Dan, jangan pernah masuk ke dunia kekaisaran.

Kalimat terakhir itu seperti pisau.

Surat itu jatuh dari tangannya.

“Tidak… tidak…!” Bai Ruoxue menangis histeris. Suaranya pecah, memenuhi rumah yang sunyi itu. Wajahnya yang biasanya tenang meskipun ditimpa masalah itu kini histeris sejadi-jadinya. Wajahnya yang selalu berpura-pura kuat saat diganggu saudara tirinya itu tak lagi menunjukkan keteguhan yang ada. Hanya wajah kesedihan, tak berdaya serta perasaan harapan yang runtuh menjalar dalam dirinya.

Ia memeluk tubuh ibunya erat-erat. Tubuh yang dingin. Tubuh yang tak akan pernah memeluknya kembali. Meskipun, dengan konyol ia masih berharap bahwa ibunya itu akan bangun dan menyambut nya.

“Kenapa Ibu tidak menunggu…?” teriaknya. “Aku sudah berhasil… aku sudah bisa kerja… aku sudah bisa membawa Ibu pergi…”

Tangannya mencengkeram pakaian ibunya.

“Kenapa hari ini…?” suaranya serak. “Kenapa justru hari ini…?!”

Ia tertawa kecil di antara tangis, tawa yang patah dan menyakitkan.

“Aku mau bilang aku lulus, Bu… aku mau bilang kita bisa hidup tenang…”

Tangisnya semakin keras.

Dunianya runtuh hari ini.

Bukan karena kegagalan.

Melainkan karena keberhasilan yang datang terlalu terlambat.

Ia memeluk tubuh ibunya lebih erat, menunduk, menangis sekeras-kerasnya. Tidak peduli siapa yang mendengar. Tidak peduli reputasi siapa yang tercoreng.

Hari itu, Bai Ruoxue kehilangan satu-satunya alasan untuk pulang.

Dan bersama tubuh dingin di pelukannya, sesuatu di dalam dirinya ikut mati—sementara sesuatu yang lain, yang jauh lebih dingin dan keras, lahir perlahan.

1
aleena
apa kau yakin ingin menyingkirkan bay rouxue,,
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi
Enah Siti
Gak bisa bladrikah klau lmah bisa bisa selir jhat akan mnang thor ksih bldri yg kuat 💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏
Azia_da: Iya juga nih, ya🥹
Nantikan terus kelanjutannya, ya! 🥰
Terima kasih sudah membaca✨
total 1 replies
Putri Amalia
kak author apakah cerita ini bakalan smpe end? truama bgt dpt crta bgs entar hiatusss
Azia_da: Pasti end dan Author jamin, Kak✨
Terima kasih dukungannya dan nantikan terus, ya! 🥰
total 1 replies
Anonymous
Iya dia itu suamimu jadi kamu harus patuh ya🤭
aleena: patuh yg seperti apa😔
total 2 replies
Anonymous
Karya baru nih thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!