"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENTENG DI DEPAN LOBI
Kanaya duduk di pinggir jalan disebuah kursi taman, tubuhnya disana tapi pikirannya melayang ntah kemana rasanya bertahan lama dikantor hanya membuatnya sesak.
"Jangan kebanyakan melamun mbak, nanti kesambet"ucap seorang pria dengan suara berat
Kanaya tersentak, bahunya sedikit melonjak karena terkejut. Ia segera menghapus sisa embun di sudut matanya dengan gerakan cepat, berusaha mengumpulkan kembali kepingan harga dirinya yang baru saja berserakan di pinggir jalan.
Ia menoleh ke arah sumber suara. Di sampingnya, berdiri seorang pria tegap dengan seragam loreng khas Angkatan Udara. Baretnya terselip di pundak, dan sorot matanya tampak tenang namun tajam, seolah terbiasa membaca situasi di sekitarnya.
"Eh, maaf... iya, Mas," jawab Kanaya kaku, suaranya masih agak parau.
Pria itu tidak langsung pergi. Ia justru mengambil posisi duduk di ujung kursi taman yang sama, namun tetap menjaga jarak yang sopan. Ia meletakkan sebuah botol air mineral yang masih segel di kursi di antara mereka.
"Dunia memang kadang berisik, Mbak. Tapi melamun di pinggir jalan raya begini bukan cara yang aman untuk cari ketenangan," ucap pria itu tanpa menatap Kanaya, pandangannya lurus ke depan memperhatikan lalu lintas. "Saya tadi lewat dan lihat Mbak duduk di sini sudah cukup lama tanpa bergerak sama sekali."
Kanaya menatap botol air mineral itu, lalu beralih ke pria di sampingnya. Ada wibawa yang menenangkan dari sosok asing ini, sesuatu yang kontras dengan kekacauan emosi yang baru saja ia alami di kantor karena Hendri.
"Terima kasih," bisik Kanaya sambil mengambil botol itu. "Saya cuma... sedang butuh udara saja."
"Udara di sini penuh polusi," sahut pria itu dengan nada bicara yang tegas namun ada selipan humor tipis. "Kalau mau udara segar, harusnya ke pangkalan. Tapi di sana isinya deru mesin pesawat, mungkin malah tambah pusing."
Kanaya menarik sudut bibirnya, sebuah senyum tipis yang dipaksakan muncul untuk pertama kalinya hari ini. "Saya cuma nggak tahu harus ke mana lagi supaya nggak ketemu orang yang ingin saya hindari."
Pria berseragam itu mengangguk paham. Ia tidak bertanya siapa atau kenapa. Sebagai prajurit, ia tampaknya tahu kapan harus bertanya dan kapan cukup menjadi kehadiran yang diam.
"Kadang, cara terbaik untuk menghindar bukan dengan lari, tapi dengan tetap di tempat dan menguatkan hati. Sampai badainya lewat," ucapnya lagi sambil berdiri dan merapikan seragamnya yang gagah. "Saya duluan, Mbak. Ada tugas. Jangan lama-lama di sini, sebentar lagi mendung."
Pria itu memberikan anggukan sopan sebelum melangkah pergi menuju sebuah kendaraan dinas yang terparkir tak jauh dari sana. Kanaya menatap punggung tegap itu menjauh. Pertemuan singkat dengan orang asing berseragam itu anehnya mampu mengalihkan rasa sesaknya, meski hanya sesaat.
Ia melihat ke langit. Benar kata pria tadi, mendung mulai menggantung. Kanaya berdiri, menggenggam botol pemberian pria tersebut, dan memutuskan untuk kembali menghadapi kenyataan di kantor. Ia sadar, ia tidak bisa bersembunyi di kursi taman selamanya hanya karena bayang-bayang Hendri.
Kanaya melangkah masuk ke ruangan dengan napas yang lebih teratur, meski sisa-sisa sesak itu masih membekas di sudut matanya. Ia meletakkan botol air mineral pemberian pria berseragam tadi di atas meja, sebuah pemandangan yang langsung memancing radar keingintahuan Wanda yang sedang asyik merapikan berkas.
"Nay! Gimana, adem hati? Udah nggak kayak mau meledak lagi, kan?" tanya Wanda sambil memutar kursi rodanya mendekat, suaranya penuh selidik namun hangat.
Kanaya tersenyum tipis, kali ini sedikit lebih tulus. "Lumayan adem, Wan. Ada cowok baik tadi yang tiba-tiba negur di taman. Kayaknya dia sadar aku lagi kacau."
Wanda langsung membelalakkan mata, ia hampir saja berteriak saking antusiasnya. "Wah, kalau ada cowok baik begitu, kasihan dong saudaraku!"
Kanaya mengernyitkan dahi, tangannya yang baru saja ingin menyalakan monitor komputer terhenti. "Siapa? Kenapa kasihan saudara kamu? Hubungannya sama aku apa, Wan?"
"Hehe, itu dia masalahnya!" Wanda menyeringai nakal sambil mengerlingkan mata. "Aku tuh dari kemarin sudah pamer soal kamu ke saudaraku. Dia itu orangnya kaku banget karena kelamaan di asrama, makanya aku niat mau kenalin ke kamu. Aku sudah suruh dia jemput aku sore ini nanti, biar bisa langsung kenalan sama kamu!"
Kanaya memijat pelipisnya, merasa kepalanya mendadak berdenyut. "Wan, aku baru saja mau lari dari satu drama, jangan tambahin drama baru dong. Aku nggak siap kenalan sama siapa-siapa."
"Tenang aja, Nay. Dia nggak gigit kok, paling cuma bikin kamu merasa lagi diinterogasi komandan," canda Wanda sambil terkekeh, mengabaikan protes Kanaya. "Pokoknya nanti sore ikut aku ke depan ya, jangan kabur lagi lewat pintu belakang!"
Kanaya hanya bisa menghela napas pasrah, tidak menyadari bahwa "saudara" yang dimaksud Wanda mungkin adalah orang yang sama yang baru saja memberinya botol air mineral di taman tadi.
Saat jam pulang tiba, lobi kantor terasa lebih sempit dari biasanya. Kanaya sudah berusaha memperlambat gerakannya di ruang arsip, berharap semua orang sudah meninggalkan gedung. Namun, saat pintu lift terbuka di lantai dasar, sosok yang paling ia hindari berdiri di sana. Hendri menunggu dengan punggung bersandar pada pilar marmer, matanya langsung terkunci pada Kanaya begitu gadis itu melangkah keluar.
Kanaya tidak bisa lagi menghindar. Ia tidak mungkin berbalik lari ke dalam lift seperti pencuri. Dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan sejak di kafe tadi, ia melangkah maju. Tangannya mencengkeram erat tali tas bahunya, berusaha menahan getaran yang menjalar hingga ke ujung jari.
"Sepertinya kamu memang sengaja menghindariku seharian ini, Nay," ucap Hendri dengan nada suara yang rendah, ada sedikit kekecewaan yang terselip di sana.
Kanaya berhenti di jarak dua meter. Ia tidak ingin menghirup aroma parfum yang sama yang dulu sering menempel di bajunya saat mereka masih bersama. Ia menarik napas dalam, mencoba memasang topeng paling profesional yang ia miliki.
"Aku sibuk, Mas. Banyak laporan yang harus diselesaikan," jawab Kanaya datar. Ia kemudian melirik sekilas ke arah ponsel yang digenggam Hendri, teringat foto wanita di balik casing itu. "Selamat ya, sudah mau jadi ayah. Semoga keluargamu selalu bahagia."
Kalimat itu terasa seperti menelan duri bagi Kanaya, namun ia berhasil mengucapkannya dengan senyum yang dipaksakan. Hendri tampak tersentak, ia hendak membuka mulut untuk menjelaskan sesuatu—tentang foto itu, tentang hidupnya setahun terakhir—namun suaranya tertahan.
Di sudut lobi, Wanda duduk di kursi resepsionis dengan mata yang berbinar penuh rahasia. Ia memperhatikan drama di depannya seperti sedang menonton film bioskop. Hingga kemudian, sebuah langkah kaki yang mantap dan berirama tegas terdengar menggema di lantai lobi yang sunyi.
"Kanaya, maaf... Mas terlambat jemput. Tadi ada urusan mendadak di pangkalan."
Suara berat itu memecah keheningan yang menyesakkan antara Kanaya dan Hendri. Kanaya menoleh dengan cepat, matanya membelalak. Di sana, berdiri pria berseragam loreng Angkatan Udara yang tadi ia temui di taman. Masih dengan seragam yang sama, gagah, dengan wibawa yang seolah menyedot seluruh atensi di ruangan itu.
Kanaya terpaku. Ia menatap pria itu, lalu menoleh ke arah Wanda yang kini sedang memberikan jempol dari kejauhan sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Lho, Mas... kamu?" gumam Kanaya tidak percaya.
Pria itu melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Kanaya. Kehadirannya yang tinggi besar seolah memberikan perlindungan instan bagi Kanaya dari tatapan menghakimi Hendri. Ia tidak terlihat kaget bertemu Kanaya lagi; sebaliknya, tatapannya sangat tenang dan penuh keyakinan.
Hendri menatap pria berseragam itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rahangnya mengeras. Ada rasa tidak nyaman sekaligus terintimidasi yang jelas terlihat dari raut wajahnya. "Siapa kamu, Nay?" tanya Hendri dengan nada yang tiba-tiba meninggi, penuh selidik.
Sebelum Kanaya sempat mengeluarkan satu kata pun untuk membantah atau menjelaskan, pria berseragam itu lebih dulu mengulurkan tangan ke arah Hendri dengan gerakan yang sangat sopan namun tegas.
"Nama saya Banyu. Saya pacar Kanaya," ucap pria itu dengan suara yang lantang dan stabil. "Maaf, kami agak terburu-buru karena harus mengejar waktu makan malam bersama keluarga."
Kanaya nyaris tersedak ludahnya sendiri. Ia menoleh ke arah Banyu dengan tatapan 'apa-apaan ini?', namun Banyu justru menatapnya balik dengan sorot mata yang seolah mengatakan, 'ikuti saja permainannya'. Ia bahkan dengan berani merangkul pundak Kanaya, menariknya sedikit lebih dekat.
Hendri terdiam membisu. Tangannya yang memegang ponsel mengepal erat. "Pacar? Sejak kapan?"
"Cukup lama untuk tahu bahwa Kanaya pantas mendapatkan seseorang yang selalu ada di sampingnya, bukan seseorang dari masa lalu yang hanya datang untuk bertanya kabar," sahut Banyu telak. Kalimatnya tajam, menyerang langsung pada posisi Hendri yang kini sudah menjadi milik orang lain.
Banyu kemudian beralih menatap Kanaya dengan lembut, sebuah akting yang sangat sempurna—atau mungkin terlalu nyata. "Ayo, Nay. Ibu sudah menunggu di rumah, kan? Tadi Wanda bilang kamu juga sedang tidak enak badan."
"Ah... i-iya, Mas Banyu," jawab Kanaya terbata-bata. Ia merasakan genggaman Banyu di pundaknya memberikan kehangatan yang anehnya membuat rasa sesaknya perlahan memudar.
Hendri hanya bisa berdiri mematung saat melihat Kanaya berjalan menjauh, digandeng oleh seorang perwira yang tampak jauh lebih siap melindunginya daripada dirinya di masa lalu. Ia menatap punggung mereka yang hilang di balik pintu kaca lobi dengan perasaan yang hancur sekaligus bingung.
Begitu sampai di samping mobil dinas Banyu, Kanaya langsung melepaskan diri. Ia mengatur napasnya yang memburu.
"Mas Banyu... kenapa Mas bilang begitu? Kita bahkan baru kenal tadi siang di taman!" seru Kanaya, wajahnya memerah karena malu dan bingung.
Banyu tersenyum tipis, kali ini senyumnya terlihat sangat tulus, bukan lagi bagian dari akting. "Wanda sudah menceritakan semuanya lewat telepon tadi. Tentang pria itu, tentang pengorbananmu untuk ibumu, dan tentang bagaimana kamu butuh seseorang untuk berdiri di depanmu saat kamu tidak sanggup lagi bicara."
"Tapi Mas tidak perlu berbohong jadi pacar saya," bisik Kanaya.
Banyu membukakan pintu mobil untuk Kanaya. "Anggap saja itu tugas pengamanan wilayah. Tapi kalau kamu mau menjadikannya kenyataan di masa depan, saya tidak keberatan mengajukan proposal."
Kanaya tertegun mendengar ucapan itu. Di kejauhan, ia melihat Wanda berlari mendekat sambil tertawa puas. Sore yang tadinya ia kira akan menjadi akhir dari segalanya, ternyata justru menjadi babak baru yang tidak pernah ia duga sebelumnya.