Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI MENJELANG BADAI
Rabu pagi, Arief bangun lebih awal dari biasanya.
Dia tidak bisa tidur nyenyak semalam. Mimpi aneh tentang server LokalMart yang crash di tengah traffic tinggi, lalu dia sendirian mencoba fix tapi tidak berhasil.
Mimpi bodoh sebenarnya. Server mereka stable, traffic masih dalam kapasitas aman, backup system jalan dengan baik.
Tapi anxiety tetap ada.
Dia mandi cepat, sarapan roti tawar dengan selai, lalu berangkat ke kantor jam tujuh pagi.
Sampai di kantor, masih sepi. Dia buka pintu, nyalakan lampu, duduk di depan komputernya.
Mengecek server log dari semalam. Semua normal. Tidak ada error, tidak ada downtime.
Mengecek database. Clean. Tidak ada anomali.
Mengecek analytics. Order kemarin empat puluh tiga. Traffic naik terus. Conversion rate stabil di tiga koma delapan persen.
Semua baik.
Tapi kenapa dia masih merasa ada yang salah?
Ponselnya berdering, panggilan dari Rian.
"Yo, Rief. Lu udah di kantor?"
"Udah. Dari tadi. Lu?"
"Gue baru bangun. Gue mau tanya, lu cek server semalam gak?"
"Udah. Kenapa?"
"Gue dapet notifikasi aneh jam tiga pagi. Ada login attempt ke admin panel dari IP yang gak familiar. Tapi gagal karena wrong password."
Arief langsung tegang.
"Serius? Berapa kali attempt?"
"Lima kali. Terus stop. Kayak ada yang coba brute force tapi nyerah."
"Lu screenshot log-nya?"
"Udah. Gue kirim sekarang."
Beberapa detik kemudian, screenshot masuk ke chat mereka.
Arief zoom in, melihat detail IP address yang mencoba login.
IP dari Jakarta, tapi bukan IP yang pernah mereka pakai.
"Ini suspicious," kata Arief. "Gue harus bilang Rajendra."
"Iya. Gue sekarang ke kantor. Kita harus strengthen security."
"Oke. Gue tunggu."
Sambungan terputus.
Arief langsung telepon Rajendra.
Nada sambung berbunyi lama, lalu Rajendra angkat dengan suara serak.
"Halo?"
"Bos, sorry ganggu pagi-pagi. Ada masalah. Semalam ada yang coba hack admin panel kita."
Rajendra langsung terdengar lebih alert.
"Apa? Hack? Berhasil gak?"
"Enggak. Gagal karena password salah. Tapi ini tetap red flag. Ada yang targeting kita."
"Lu yakin ini hack attempt, bukan cuma random bot?"
"Bot biasanya coba IP range yang luas. Ini specifically target admin panel LokalMart. Ada yang tahu struktur sistem kita."
Rajendra diam sebentar.
"Oke. Gue ke kantor sekarang. Jangan touch apa-apa dulu. Kita harus trace ini."
"Siap."
Rajendra sampai kantor jam delapan lewat, rambut masih basah, pakai kaos dan celana jeans.
Rian sudah datang sepuluh menit sebelumnya, duduk di depan komputer dengan Arief, analyzing log.
"Gimana?" tanya Rajendra langsung.
"Gue udah trace IP-nya," jawab Rian. "Ini dari internet cafe di kawasan Tanah Abang. Gak bisa trace lebih jauh tanpa akses ke CCTV cafe itu."
"Berarti ini bukan random. Ini orang yang sengaja pakai public internet biar untraceable."
"Exactly."
Rajendra menatap layar komputer dengan pikiran berputar cepat.
"Ini connected dengan kasus-kasus sebelumnya. Dokumen palsu, laporan polisi palsu, sekarang hack attempt. Mereka coba semua cara untuk jatuhkan gue."
Arief menatapnya.
"Mereka siapa?"
"Keluarga gue. Specifically Dera."
Rian bersiul pelan.
"Bro, keluarga lu intense banget. Gue kira drama keluarga cuma di sinetron."
"Real life lebih drama dari sinetron."
Arief bertanya.
"Lu mau kita report ke polisi?"
"Belum. Ini cuma failed attempt. Polisi gak akan gerak kalau gak ada damage real. Tapi kita harus strengthen security sekarang. Change semua password. Enable two-factor authentication. Install firewall lebih kuat."
"Gue bisa handle itu," kata Rian. "Butuh satu hari full focus."
"Do it. Prioritas nomor satu hari ini."
"Siap."
Jam sepuluh pagi, Dina datang dengan wajah ceria, tapi langsung berubah serius begitu lihat atmosfer di kantor.
"Ada apa? Kenapa pada tegang?"
Rajendra menjelaskan situasi.
Dina mendengarkan dengan wajah serius, lalu bicara.
"Bos, ini escalating. Dari dokumen palsu, laporan palsu, sekarang cyber attack. Lu harus report ini. Semuanya. Ke polisi, ke pengacara lu, ke siapa aja yang bisa protect lu."
"Gue gak punya bukti yang link semua ini ke Dera. Cuma suspicious pattern. Itu gak cukup untuk laporan resmi."
"Tapi tetep harus dicatat. Build paper trail. Biar nanti kalau ada sesuatu yang worse, lu punya history."
Rajendra mengangguk.
"Lu benar. Gue akan dokumentasi semua ini."
Siang itu, Rajendra duduk di mejanya dengan laptop, menulis timeline lengkap semua kejadian mencurigakan sejak dia keluar dari keluarga.
Juni 2010: Keluar dari keluarga, tolak pernikahan dengan Jessica.
Juli awal: Sidang pertama, keluarga hadirkan saksi palsu dan dokumen medis palsu.
Juli pertengahan: Laporan polisi palsu tentang penggelapan dana investor.
Juli akhir: Orang asing nanya-nanya ke kurir tentang LokalMart dan Rajendra.
Agustus awal: Hack attempt ke admin panel LokalMart.
Pola jelas. Serangan berulang dengan metode berbeda.
Rajendra save dokumen ini, kirim copy ke Hartono via email dengan subject: "Dokumentasi Kejadian Mencurigakan - Untuk Arsip"
Beberapa menit kemudian, Hartono reply.
"Rajendra, ini penting. Simpan baik-baik. Kalau nanti ada serangan lagi, kita punya track record. Dan hati-hati tiga hari ke depan sebelum sidang. Biasanya di saat-saat terakhir seperti ini, pihak yang desperate akan coba something big."
Rajendra menatap email itu lama.
Something big.
Dia sudah merasakan itu juga. Ada sesuatu yang sedang dipersiapkan. Sesuatu yang lebih besar dari serangan-serangan sebelumnya.
Tapi dia tidak tahu apa dan kapan.
Sore itu, Rajendra pulang lebih awal dari biasanya.
Dia butuh clear his head. Butuh jalan-jalan sebentar, breathe udara segar, tidak mikir soal LokalMart atau sidang atau keluarga.
Dia naik bus tanpa tujuan jelas, turun di halte dekat Taman Menteng.
Taman yang sama dimana dia sempat duduk beberapa minggu lalu, mencoba cari ketenangan di tengah kekacauan.
Dia duduk di bangku yang sama, menatap anak-anak yang main bola di lapangan, pasangan muda yang jalan-jalan sambil gandeng tangan, orang tua yang duduk di bangku lain sambil baca koran.
Kehidupan normal. Kehidupan tanpa drama.
Rajendra hampir lupa rasanya hidup seperti itu.
Ponselnya bergetar, pesan dari Dina.
"Bos, lu dimana? Kok tiba-tiba hilang dari kantor?"
"Gue jalan-jalan bentar. Butuh clear head."
"Oke. Take your time. Tapi jangan terlalu lama. Besok kita harus prepare buat artikel Jakarta Biz yang mau publish Jumat."
"Gue balik jam enam."
"Siap."
Rajendra menaruh ponselnya, menatap langit sore yang mulai berubah jingga.
Besok Kamis. Lusa Jumat. Lusa lagi Sabtu, hari sidang.
Tiga hari lagi sebelum semua ini berakhir.
Atau mungkin baru mulai.
Malam itu, di rumah keluarga Baskara, Julian duduk sendirian di ruang kerja dengan segelas whiskey di tangan.
Dia sudah minum tiga gelas, tapi masih belum cukup untuk membuat dia lupa.
Lupa tentang sidang tiga hari lagi. Lupa tentang kemungkinan dia kalah. Lupa tentang Rajendra yang semakin jauh dari jangkauannya.
Pintu terbuka pelan. Ririn masuk dengan wajah sembab.
"Julian, kamu harus berhenti minum. Ini sudah terlalu banyak."
Julian tidak menjawab, hanya menatap gelas di tangannya.
Ririn duduk di sofa, menatap suaminya dengan tatapan sedih.
"Apa yang kita lakukan salah, Julian? Kenapa sampai seperti ini?"
"Kita tidak salah. Rajendra yang salah. Dia yang durhaka. Dia yang melawan keluarganya sendiri."
"Atau mungkin kita yang terlalu mengontrolnya. Terlalu memaksa dia jadi sesuatu yang dia tidak mau."
Julian menatap Ririn dengan tatapan tajam.
"Kamu sekarang membela dia?"
"Bukan membela. Cuma mencoba mengerti. Rajendra itu anak kita, Julian. Darah daging kita. Kenapa kita harus saling menghancurkan?"
"Karena dia yang mulai. Dia yang keluar dari keluarga. Dia yang tolak pernikahan yang sudah kita atur. Dia yang lawan kita di pengadilan."
"Tapi kita yang memaksanya menikah dengan Jessica yang dia tidak cintai. Kita yang tidak pernah tanya apa yang dia mau."
Julian terdiam, rahangnya mengeras.
Ririn melanjutkan dengan suara gemetar.
"Dan sekarang Dera... Dera melakukan hal-hal yang menakutkan. Dokumen palsu, laporan palsu, semua itu illegal, Julian. Kalau ketahuan, bukan cuma Rajendra yang hancur. Kita semua bisa masuk penjara."
"Dera tahu apa yang dia lakukan."
"Dera kehilangan kontrol. Dia terlalu obsessed untuk menang. Dan kita membiarkannya."
Julian menghabiskan whiskey-nya, lalu menaruh gelas kosong di meja dengan sedikit keras.
"Sudah terlambat untuk mundur sekarang, Ririn. Kita sudah terlanjur jalan terlalu jauh. Satu-satunya jalan adalah terus maju sampai kita menang."
"Atau sampai kita semua hancur?"
Julian tidak menjawab.
Ririn menghapus air matanya, lalu berdiri, berjalan keluar ruangan dengan langkah gontai.
Meninggalkan Julian sendirian dengan kegelapan dan penyesalan yang tidak mau dia akui.
Di apartemennya, Dina duduk di sofa dengan laptop, tapi tidak benar-benar kerja.
Pikirannya melayang ke Rajendra.
Dia lihat betapa Rajendra semakin tertekan setiap hari. Semakin kurus. Semakin sering melamun. Semakin jarang senyum.
Dan dia tidak tahu bagaimana cara membantu.
Dia cuma marketing lead. Cuma employee. Bukan keluarga, bukan kekasih, bukan orang yang punya hak untuk terlibat deep dalam masalah personal Rajendra.
Tapi dia peduli.
Lebih dari yang seharusnya.
Dan itu yang bikin dia bingung.
Ponselnya berdering, panggilan dari ibunya.
Dina angkat.
"Halo, Ma?"
"Dina, kamu sudah makan malam?"
"Belum. Nanti aku pesan ojol aja."
"Jangan ojol terus. Gak sehat. Besok Mama masakin, kamu datang ke rumah."
"Ma, Dina sibuk. Gak bisa."
"Sibuk terus. Kapan terakhir kamu pulang?"
Dina berpikir. Kapan ya? Dua minggu lalu? Tiga minggu?
"Oke. Besok Dina usahain pulang. Tapi cuma sebentar."
"Sudah cukup. Mama kangen kamu."
"Aku juga kangen, Ma."
Sambungan terputus.
Dina menatap ponselnya, lalu menatap laptop yang masih menampilkan dashboard LokalMart.
Dia sudah dedikasi hampir semua waktunya untuk startup ini. Untuk tim ini. Untuk Rajendra.
Dan dia tidak menyesal.
Tapi kadang dia bertanya pada diri sendiri, sampai kapan dia bisa terus seperti ini?
Sampai kapan dia bisa terus peduli tanpa expect anything back?
Dia tidak tahu jawabannya.
Yang dia tahu, besok adalah hari baru dengan challenge baru.
Dan dia akan tetap ada, support Rajendra dan tim, apapun yang terjadi.
Karena begitulah cara dia.
Loyal sampai akhir.
[ END OF BAB 30 ]