"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."
Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.
Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.
Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.
Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Bayang-bayang di Balik Nama
Bab 19: Bayang-bayang di Balik Nama
Di tengah hantaman fitnah Anita yang membuat Syabila mulai meragukan ketulusan orang tuanya, sebuah ancaman baru muncul dari arah yang sama sekali tidak terduga. Sore itu, saat Hana baru saja pulang dari Rumah Literasi dengan perasaan gundah, sebuah motor besar berhenti tepat di depan gerbang rumah. Seorang pria turun dengan langkah yang berat, menciptakan bunyi dentuman dari sepatu *boot*-nya yang kasar.
Pria itu berbadan gempal, mengenakan jaket kulit tanpa lengan yang memamerkan tato naga yang melilit di seluruh lengan kekarnya hingga ke pangkal leher. Wajahnya yang bopeng dengan bekas luka melintang di pipi kiri memberikan kesan yang sangat kontras dengan lingkungan rumah Fandy yang asri.
Hana mematung di depan pintu. Wajahnya seketika pucat pasi, lebih pucat dari saat ia pertama kali divonis akan kehilangan Nida. "Bang... Bang Riko?" bisik Hana dengan suara yang hampir hilang.
Pria bernama Riko itu menyeringai, menampilkan barisan gigi yang tidak rata dan aroma rokok yang menyengat. "Lama tidak jumpa, Han. Atau harus kupanggil 'Bu Hana' sekarang? Hebat ya, dari 'bocah jalanan' di terminal sekarang jadi nyonya besar di rumah mewah."
"Mau apa lagi Abang ke sini?" Hana mencoba bersikap tegas, meski kakinya gemetar.
"Mau apa? Kamu lupa siapa yang membiayai hidupmu saat kita masih kabur dari rumah dulu? Siapa yang melindungimu saat hampir dijual oleh mucikari itu? Sekarang kamu hidup enak, sementara aku baru keluar dari penjara dan tidak punya sepeser pun," Riko melangkah maju, membuat Hana terpaksa mundur hingga punggungnya menabrak pintu kayu. "Aku butuh uang, Han. Dan aku tahu suamimu itu punya bank sendiri di rumah ini."
Di saat yang bersamaan, Fandy baru saja turun dari mobilnya. Ia terkejut melihat sosok pria menyeramkan itu sedang memojokkan istrinya. Tanpa pikir panjang, Fandy berlari dan menarik Hana ke belakang tubuhnya.
"Siapa Anda? Pergi dari sini atau saya panggil keamanan!" bentak Fandy.
Riko tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang serak dan mengerikan. "Oh, ini suamimu? Yang katanya CEO itu? Mas Fandy, apa kamu tahu kalau istri alimmu ini dulu adalah bagian dari geng motorku? Apa kamu tahu berapa banyak toko yang kami satroni bersama sebelum dia 'tobat' dan dicuci otak oleh yayasan itu?"
Fandy terdiam sejenak. Ia menoleh ke arah Hana, mencari bantahan di mata istrinya. Namun, Hana hanya bisa menunduk sambil terisak. Masa lalu yang ia kubur dalam-dalam, masa remaja yang kelam di jalanan sebelum ia ditemukan oleh seorang ustadz dan dibimbing menjadi penulis, kini meledak di depan matanya.
"Hana, apa yang dia katakan benar?" tanya Fandy, suaranya kini melirih karena terkejut.
"Mas... aku... aku akan jelaskan semuanya," isak Hana.
"Tidak perlu penjelasan panjang, Mas CEO," potong Riko sambil mengeluarkan selembar foto lama yang sudah kusam. Di foto itu terlihat seorang remaja perempuan berambut pendek, memakai pakaian compang-camping, berdiri di samping Riko di depan sebuah markas kumuh. Itu adalah Hana, sepuluh tahun sebelum ia mengenal Nida. "Aku tidak akan bicara banyak ke media atau ke putri tirimu yang sudah mulai curiga itu, asal kamu kasih aku satu miliar sekarang juga."
Ternyata, kehadiran Riko bukan kebetulan. Di kejauhan, di dalam mobil yang terparkir gelap, Anita tersenyum puas. Dialah yang membayar pengacara untuk mencari tahu masa lalu Hana dan sengaja membebaskan Riko dari penjara dengan jaminan untuk menjadi "anjing pelacak" bagi rencananya.
"Satu serangan untuk merusak reputasi, satu serangan untuk merusak hati Syabila, dan satu serangan dari masa lalu untuk merusak cinta Fandy," gumam Anita dari balik kaca mobilnya.
Malam itu, keretakan di rumah Fandy semakin melebar. Syabila yang tidak sengaja mendengar perdebatan di ruang tamu tentang masa lalu Hana, merasa semakin dikhianati. Baginya, Hana bukan lagi bidadari yang dikirim ibunya, melainkan seorang wanita misterius dengan masa lalu kriminal yang penuh rahasia.
"Ayah! Ibu Nida tidak pernah bilang kalau Ibu Hana itu mantan narapidana atau anak jalanan!" teriak Syabila dari lantai atas. "Kenapa semua orang di rumah ini penuh dengan rahasia? Aku tidak mau tinggal di sini lagi!"
Syabila berlari keluar rumah menuju mobilnya, mengabaikan teriakan Fandy dan Hana. Ia butuh udara, ia butuh kebenaran, dan ia tidak sadar bahwa ia sedang meluncur tepat ke arah perangkap yang sudah disiapkan Anita.
Di dalam rumah, Fandy menatap Hana dengan pandangan yang sangat asing. "Kenapa kamu tidak pernah cerita, Hana? Nida membawamu ke sini karena dia percaya padamu. Jika dia tahu masa lalumu seperti ini..."
"Mbak Nida tahu, Mas!" teriak Hana di tengah tangisnya. "Mbak Nida tahu segalanya! Itulah sebabnya dia memilihku. Dia bilang, orang yang pernah merasakan kegelapan paling dalam akan lebih menghargai cahaya. Dia tahu perjalananku dari terminal sampai menjadi guru mengaji. Dia bilang, masa laluku adalah kekuatanku untuk mendidik anak-anak agar tidak salah jalan!"
Fandy tertegun. Nida tahu? Jadi, selama ini dialah yang paling tertinggal dalam mengetahui kebenaran?
Namun, waktu tidak mengizinkan mereka untuk berdebat lebih lama. Ponsel Fandy berdering. Sebuah pesan video masuk dari nomor Anita. Di layar, terlihat Syabila sedang duduk di sebuah ruangan mewah, tampak linglung, dan di sampingnya ada Anita yang sedang mengelus rambutnya.
*"Fandy, putrimu sedang bersamaku. Dia sangat sedih mengetahui 'Ibu barunya' adalah seorang mantan kriminal. Jika kamu ingin dia pulang dengan selamat, bawa Hana ke pelabuhan Sunda Kelapa malam ini. Ada akun yang harus kita tutup secara jantan,"* suara Anita terdengar penuh kemenangan.
Akhirnya timbul ketegangan yang mencekam. Hana menatap suaminya dengan tekad yang bulat. Masa lalu bertatonya mungkin telah kembali untuk menghantuinya, tapi ia tidak akan membiarkan masa depan anak-anak Nida hancur di tangan Anita.
"Mas, bawa aku ke sana," ujar Hana sambil menghapus air matanya. "Jika masalalu ini harus aku hadapi dengan nyawa, aku ridho. Demi Syabila."
---