menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 2
Bel istirahat berdentang nyaring, memecah ketegangan pelajaran Matematika yang melelahkan. Namun, bagi Aria Putri, ini bukanlah waktu untuk bersantai.
Matanya terkunci pada satu target: Sasha Arka. Saat Sasha bangkit dari kursinya dengan gerakan malas dan hendak melangkah keluar menuju kantin, Aria sudah lebih dulu berdiri di depan pintu, menghadang jalannya seperti tembok baja yang tak tergoyahkan.
Sasha menghentikan langkahnya, memasukkan kedua tangan ke dalam saku *hoodie* putihnya. Ia menatap Aria dari bawah ke atas dengan tatapan tidak peduli.
"Siapa kau? Ada apa?" tanya Sasha ketus, suaranya serak seolah jarang digunakan untuk bicara.
Aria berdiri tegak, dagunya sedikit terangkat, memancarkan aura otoritas yang biasa ia tunjukkan di depan ribuan murid saat upacara. "Nama saya Aria Putri. Kelas 3-1. Saya adalah Ketua OSIS sekaligus Ketua Kelas di kelas ini," jawabnya dengan artikulasi yang sempurna.
Mendengar rentetan jabatan itu, Sasha bukannya terkesan, ia malah mengeluarkan siulan panjang yang bernada mengejek. Ia terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala.
"Wah, banyak juga jabatanmu," ucap Sasha dengan senyum miring. "Memangnya kau dibayar berapa oleh sekolah sampai mau repot-repot mengurusi semua itu? Apa kau tidak punya kehidupan lain selain menjadi pesuruh guru?"
Aria tidak terpancing. Ia tetap diam dengan wajah sedatar dinding batu. Baginya, hinaan pribadi hanyalah angin lalu dibandingkan dengan pelanggaran aturan. "Aku tidak peduli apa pendapatmu tentangku," sahut Aria dingin.
"Yang aku pedulikan adalah fakta bahwa selama satu semester penuh kau membuat ulah di kelas 3-3, dan sekarang sudah satu bulan di semester dua ini kau menghilang tanpa keterangan. Tadi kau masuk, terlambat, dan bersikap tidak sopan pada Pak Heru. Apa kau punya alasan masuk akal atas semua kekacauan yang kau buat?"
Sasha melangkah maju satu tindak, memperpendek jarak di antara mereka hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Ia tersenyum remeh, matanya berkilat penuh tantangan.
"Memangnya siapa kau? Ibuku?" bisik Sasha tepat di depan wajah Aria. Senyumnya melebar saat melihat Aria tetap tak bergeming. "Minggir. Jangan ganggu aku, aku lapar."
Tanpa menunggu jawaban, Sasha sengaja menyenggol bahu Aria dengan keras saat ia melewatinya. Tubuh Aria sedikit bergeser, namun ia segera berbalik dengan mata yang berkilat tajam.
"Kau mau ke mana, Sasha?" tanya Aria dengan nada yang lebih berat. "Sebenarnya apa yang sedang kau coba lakukan di sekolah ini?"
Sasha tidak berhenti berjalan, ia hanya melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang. "Bukan urusanmu, Tuan Putri."
Aria menghela napas pendek. Ia merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul hitam—"buku dosa" yang ditakuti seluruh murid SMA Garuda Bangsa.
Ia mencabut pena dari saku dadanya dan mulai menulis dengan cepat, suara goresan penanya terdengar kasar di atas kertas.
"Sasha Arka," panggil Aria, suaranya kini menghentikan langkah Sasha di tengah koridor yang mulai ramai. "Terlambat masuk kelas tanpa alasan yang sah: 15 poin. Membangkang dan bersikap tidak sopan kepada tenaga pendidik di dalam kelas: 25 poin. Melanggar aturan seragam dengan memakai celana dan jaket non-sekolah: 10 poin."
Aria merobek kertas kecil itu dari bukunya dengan bunyi *sret* yang tajam. Ia berjalan mendekati Sasha dan menyodorkan kertas tersebut tepat di depan mata gadis itu. Kertas itu penuh dengan coretan angka dan catatan pelanggaran yang rapi.
"Dengan semua poin pelanggaran yang kau kumpulkan hanya dalam waktu satu jam ini," ucap Aria dengan nada rendah namun penuh ancaman, "aku punya hak penuh sebagai Ketua OSIS untuk memberimu sanksi langsung tanpa menunggu keputusan guru BK. Aku menghukummu untuk membersihkan seluruh toilet perempuan di lantai ini selama satu minggu penuh, mulai hari ini."
Sasha terdiam. Senyum remehnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan kosong yang sulit diartikan.
Ia menatap kertas di tangan Aria, lalu menatap mata dingin sang Ketua OSIS. Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka berdua di tengah koridor, sementara murid-murid lain mulai berkumpul di kejauhan, berbisik-bisik menyaksikan konfrontasi dua kutub yang sangat berbeda tersebut.
Tatapan mata Sasha Arka berubah menjadi sangat gelap saat ia melihat kertas sanksi di tangan Aria.
Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, tangan Sasha bergerak cepat menyambar kertas itu. Dengan gerakan yang sangat tenang namun menghina, ia merobek kertas tersebut menjadi serpihan-serpihan kecil di depan wajah Aria.
\*Sret! Sret! Sret!\*
Serpihan kertas putih itu jatuh berserakan di lantai koridor yang bersih. Sasha kemudian melangkah pergi begitu saja, menginjak serpihan kertas tersebut dengan sepatu ketsnya yang kumal.
Aria terpaku. Dadanya naik-turun menahan amarah yang jarang sekali ia perlihatkan. Tangannya mengepal kuat. "Sasha! Kembali ke sini! Kau belum—"
"Kak Aria!"
Langkah Aria terhenti. Seorang anggota OSIS kelas 11 berlari menghampirinya dengan wajah cemas. "Kak, maaf menyela, tapi Bu Sarah sudah menunggu di ruang rapat. Perwakilan tiap kelas sudah berkumpul untuk membahas persiapan ujian akhir dan perpisahan. Kakak harus memimpin rapatnya sekarang."
Aria melirik punggung Sasha yang semakin menjauh, lalu beralih ke anggota OSIS-nya. Ada pergulatan batin di matanya antara harga diri sebagai penegak disiplin dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin organisasi.
"Baiklah," ucap Aria akhirnya dengan suara yang ditekan. "Bersihkan kertas-kertas itu. Aku akan mengurus Sasha nanti. Jangan biarkan dia berpikir dia bisa lolos begitu saja."
\---
Sementara itu, di kantin SMA Garuda Bangsa yang riuh, Sasha duduk di pojok ruangan yang agak gelap.
Ia memesan sepiring nasi goreng penuh dan segelas jus jeruk besar. Seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya, ia makan dengan sangat lahap, hampir seperti orang yang tidak makan selama dua hari. Ia mengabaikan pandangan sinis atau takut dari murid-murid lain di sekitarnya.
Tiba-tiba, seorang siswa laki-laki kelas satu yang sedang bercanda dengan temannya berjalan mundur tanpa melihat arah.
\*BRAK!\*
Punggung siswa itu menyenggol pinggiran meja Sasha dengan cukup keras. Gelas jus jeruk yang masih penuh itu terguncang, kehilangan keseimbangan, dan isinya tumpah membasahi meja serta merembes ke celana yang dipakai Sasha.
"Aduh! Maaf, Kak! Maaf banget, aku nggak sengaja!" seru siswa kelas satu itu dengan wajah pucat pasi. Ia segera mengambil tisu, mencoba mengelap tumpahan itu dengan gemetar. "Aku ganti Kak, aku belikan yang baru sekarang juga. Benar-benar maaf..."
Sasha berhenti mengunyah. Ia meletakkan sendoknya perlahan. Kepalanya tertunduk, rambutnya yang berantakan menutupi matanya, namun aura yang terpancar darinya berubah menjadi sangat mencekam.
"Kau..." suara Sasha rendah, bergetar karena emosi yang meledak.
"Maaf Kak, aku—"
Belum sempat siswa itu menyelesaikan kalimatnya, Sasha bangkit berdiri dengan gerakan eksplosif.
Ia menyambar nampan makanannya yang masih berisi sisa nasi goreng dan saus, lalu dengan kekuatan penuh, ia melemparkan nampan itu tepat ke arah wajah siswa tersebut.
\*PRANG! PLOK!\*
Nampan logam itu menghantam wajah si siswa sebelum jatuh ke lantai. Nasi goreng dan minyak berceceran di seragam putih bersih milik anak kelas satu itu.
Ia terjatuh ke lantai karena terkejut dan kesakitan, memegangi hidungnya yang memerah.
Seketika, kantin yang tadinya sangat bising menjadi sunyi senyap seolah seseorang baru saja mematikan saklar suara.
Semua murid berhenti makan. Para pedagang di stand kantin berhenti melayani. Semua mata tertuju pada Sasha yang berdiri dengan napas memburu dan tangan yang masih gemetar karena amarah.
Mereka semua tahu siapa Sasha Arka. Meskipun dia seorang perempuan, reputasinya sebagai berandalan sekolah sejak kelas satu sudah melegenda. Dia tidak takut pada siapa pun, dan dia tidak ragu untuk menggunakan kekerasan fisik jika merasa terganggu.
Di salah satu meja, seorang siswa kelas tiga berbisik pada temannya sambil menggelengkan kepala. "Lihat itu... ternyata masih ada juga bocah kelas satu yang tidak tahu siapa dia. Cari mati saja menyenggol meja singa betina seperti Sasha."
"Habislah dia," sahut temannya dengan nada ngeri. "Aria Putri mungkin tegas dengan aturan, tapi Sasha... dia tidak punya aturan. Dia hanya punya amarah."
Sasha menatap siswa yang tersungkur di lantai itu dengan tatapan jijik. "Jangan pernah sentuh mejaku lagi jika kau masih ingin punya wajah yang utuh," desisnya.
Bersambung...