Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Turnamen Murid Luar
Topeng kayu itu terasa dingin saat menyentuh kulit wajah Ji Zhen. Di balik lubang mata yang sempit, sepasang matanya berkilat penuh antisipasi. Di sampingnya, Lian Shu baru saja menyelesaikan urusan dengan juru tulis turnamen. Berkat keahliannya memalsukan catatan dan sedikit suap pada orang yang tepat, nama seorang murid pindahan fiktif masuk ke dalam daftar peserta, menggantikan nama Ji Zhen yang dilarang keras oleh Patriark.
“Kau bermain dengan api, Ji Zhen,” bisik Lian Shu sambil melipat gulungan kertas terakhir. “Jika kau ketahuan sebelum babak final, aku tidak akan bisa menjamin lehermu tetap menempel di bahu.”
“Jangan khawatir.” Ji Zhen memperbaiki letak topengnya, senyum tipis tersembunyi di baliknya. “Aku sudah lama membakar diri dalam api. Sedikit lebih panas tidak akan membuatku mati. Justru aku merasa sangat hidup sekarang.”
Ia melangkah menuju arena kualifikasi. Di sana, ratusan murid luar berkumpul, saling sikut demi posisi di turnamen utama. Ji Zhen tidak butuh waktu lama untuk menunjukkan dominasinya. Lawan-lawan pertamanya adalah murid-murid yang hanya mengandalkan tenaga otot dan sedikit qi mentah.
Dalam setiap pertandingan, Ji Zhen bertarung dengan efisiensi yang mengerikan. Ia tidak menggunakan ledakan energi yang mencolok. Sebaliknya, ia membiarkan lawan menyerang, lalu dengan satu sentuhan ringan, ia menciptakan lapisan es tipis yang nyaris tidak kasat mata di permukaan lantai arena. Lawannya akan tergelincir, kehilangan keseimbangan, dan sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi, ujung tangan Ji Zhen sudah berada di tenggorokan mereka.
Ia menang dengan mudah, menghemat setiap tetes qi karena sadar fondasinya masih penuh retakan. Ada rasa puas yang mendalam setiap kali ia melihat lawan yang sombong tersungkur tanpa tahu penyebabnya. Namun, di dalam hatinya, sebuah ambisi yang lebih besar terus membara. Menghajar murid-murid cupu ini hanyalah hidangan pembuka. Matanya terus melirik ke arah panggung utama, di mana Ma Yingjie sedang bersiap.
Ma Yingjie terlihat sangat berbeda hari ini. Wajahnya yang biasanya sombong kini pucat, langkahnya tidak lagi mantap. Efek sabotase balik dari malam di gudang ramuan benar-benar merusak ritme energinya. Saat babak akhir kualifikasi tiba, takdir mempertemukan mereka.
Duel itu berlangsung singkat dan memalukan bagi Ma Yingjie. Ia menyerang dengan membabi buta, namun serangannya tumpul. Ji Zhen, dengan topengnya, bergerak seperti hantu. Dengan satu hantaman punggung tangan yang dilapisi es naga, Ji Zhen memukul dada Ma Yingjie hingga pemuda itu terlempar keluar garis arena.
“Berhenti!” teriak Tetua Ma dari kursi tinggi, wajahnya merah padam melihat putranya dipermalukan oleh peserta asing bertopeng. Ia segera berdiri, menoleh ke arah Patriark Fei Wang. “Patriark, turnamen ini harus dihentikan sementara! Anakku diracuni! Seseorang telah melakukan kecurangan besar dan penyusup bertopeng ini sangat mencurigakan!”
Patriark Fei Wang mengelus janggutnya, matanya menatap tajam ke arah Ji Zhen di tengah arena. Ia merasakan sesuatu yang akrab dari cara bertarung peserta itu, namun ia belum bisa memastikannya. “Baiklah. Hentikan semua pertandingan. Cari pelaku racun itu sekarang juga.”
Ji Zhen tidak ingin momentum ini hilang. Ia melihat Ma Yingjie yang terduduk lesu di pinggir arena, memegangi dadanya yang sesak. Kemudian Ji Zhen berjalan mendekat secara anonim. Tanpa suara, ia melemparkan sebuah botol kecil berisi pil pemulihan sisa dari pemberian Yun Xia.
“Minum itu. Kau butuh tenaga untuk kalah dengan cara yang lebih terhormat,” ucap Ji Zhen dengan suara yang disamarkan.
Ma Yingjie, yang sudah putus asa karena tubuhnya terasa lumpuh, segera menelan pil tersebut meski tersinggung. Seketika, rasa dingin yang menyegarkan menyebar, menetralisir sisa racun di nadinya. Ia merasa bugar kembali, bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya. Pikirannya dipenuhi kesombongan baru; ia pikir pria bertopeng ini sedang melakukan kesalahan besar dengan memberinya obat.
“Heh, kau bodoh!” raung Ma Yingjie sambil melompat berdiri. “Patriark! Aku sudah pulih! Aku menantang duel adil dengan pria sombong ini sekarang juga untuk membuktikan siapa yang terbaik!”
Patriark Fei Wang memberikan tanda setuju. Arena kembali dikosongkan.
Kali ini, Ji Zhen tidak lagi menahan diri. Begitu duel dimulai, suhu di seluruh arena merosot tajam. Ji Zhen melesat maju, tangan kanannya memancarkan cahaya biru kristal yang pekat. Teknik Dao Es Sejati miliknya meledak dalam bentuk cakar naga es yang menghantam telak pertahanan Ma Yingjie.
Bruak!
Ma Yingjie tidak punya kesempatan. Ia terhantam berkali-kali, tubuhnya mulai membeku dari bagian kaki hingga pinggang. Ia menggigil hebat, giginya beradu karena kedinginan yang menusuk sampai ke tulang sumsum. Kekuatan Ji Zhen begitu dominan, begitu brutal, hingga Ma Yingjie hanya bisa merangkak di tanah dengan sisa tenaganya.
“Hentikan!” Yang Huiqing lari masuk ke tengah arena, mencoba menolong Ma Yingjie yang sudah tidak berdaya. Ia menatap pria bertopeng itu dengan amarah. “Siapa kau?! Kenapa kau begitu kejam padanya?!”
Ji Zhen hanya berdiri dalam diam. Perlahan, tangannya terangkat ke wajah. Ia melepas topeng kayu itu dan menjatuhkannya ke lantai batu.
Suasana mendadak bisu. Semua orang mematung.
“Ji Zhen?!” jerit Yang Huiqing, menutupi mulutnya.
Segera saja Ji Zhen tertawa lebar, sebuah tawa yang penuh dengan kepuasan yang sudah lama ia pendam. “Ya, ini aku. Sampah yang kau buang demi pria yang sekarang merangkak seperti belatung di bawah kakiku!”
Ji Zhen menatap Ma Yingjie yang menggigil kedinginan di tanah, lalu beralih pada Yang Huiqing yang wajahnya kini memucat karena malu dan bingung. “Kalian bicara tentang kehormatan? Tentang bakat? Lihat diri kalian sekarang! Ma Yingjie hanya seorang pengecut yang bergantung pada ayahnya, dan kau, Huiqing… kau hanyalah pelacur murahan yang mengkhianati janji hanya demi posisi yang fana.”
“Kau berani menghina kami?!” Tetua Ma berteriak lantang. “Patriark! Tangkap dia! Dia melanggar larangan, dia curang, dia menggunakan sihir terlarang!”
Namun, Patriark Fei Wang tidak menjawab. Ia justru berdiri dari kursinya, menatap Ji Zhen dengan senyum bangga yang sulit disembunyikan. Ada kilat penyesalan di matanya karena pernah meremehkan pemuda ini.
“Diamlah, Tetua Ma,” ucap Patriark dengan nada yang tidak bisa dibantah. “Aku melihat kegigihan yang luar biasa hari ini. Ji Zhen, kau melanggar perintahku, tapi kau membuktikan bahwa perintahku salah dalam menilaimu. Kau tidak lagi butuh pengakuan dari turnamen ini.”
Merasa tidak percaya setelah mendengar pernyataan itu, Ji Zhen tersenyum puas, membiarkan angin dingin dari tekniknya menyapu seluruh arena. Ambisinya terpuaskan untuk saat ini, melihat musuh-musuhnya hancur secara mental dan fisik di hadapan semua orang.