NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Api yang Salah Sasaran

Hawa malam itu terasa lebih gerah dari biasanya. Angin tidak berembus sama sekali, seolah-olah alam pun sedang menahan napas menunggu sesuatu yang buruk terjadi. Gia baru saja merebahkan tubuhnya di kamar rumah utama, mencoba memejamkan mata setelah hari yang melelahkan. Namun, perasaannya terus gelisah. Bayangan wajah Niko yang penuh kebencian terus menghantui tidurnya.

Tiba-tiba, suara gong yang dipukul bertalu-talu dari arah pos kamling memecah kesunyian malam.

"Kebakaran! Kebakaran! Kedai Kopi Pak Jaya!"

Gia tersentak bangun. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Tanpa sempat mengganti pakaian tidurnya, ia menyambar kerudung dan berlari keluar rumah. Dari kejauhan, ia melihat rona merah yang mengerikan menjilat langit malam tepat di arah kedai kopi kesayangannya.

"Tidak! Bapak! Kedai, Pak!" jerit Gia histeris.

Pak Jaya juga sudah terbangun dan berlari mengikuti putrinya dengan langkah gontai. Saat mereka sampai di sana, api sudah melalap bagian depan kedai kayu itu. Namun, pemandangan yang menyambut Gia bukan hanya kobaran api, melainkan puluhan warga desa yang sudah berbaris rapi membawa ember, jeriken, hingga selang air dari sumur terdekat.

"Cepat! Oper embernya ke sini! Jangan biarkan apinya merembet ke rumah Pak Jaya!" teriak seorang pria yang suaranya sangat Gia kenal.

Rian.

Pria itu berada di barisan paling depan, tepat di titik paling panas. Kaus oblong putihnya sudah hitam terkena jelaga, dan ia tidak memakai alas kaki. Rian memanjat pagar kayu yang terbakar, menyiramkan air dengan tenaga yang seolah tidak ada habisnya. Wajahnya yang biasanya penuh tawa kini tampak tegang dan dipenuhi determinasi.

Gia terpaku melihat pemandangan itu. Para warga—yang tadinya menghujatnya lewat foto fitnah—kini justru bahu-membahu menyelamatkan nyawanya dan mata pencahariannya. Mbak Siska terlihat sibuk mengatur barisan ibu-ibu yang mengisi air, sementara para pemuda desa mengikuti instruksi Rian dengan sigap.

Setelah tiga puluh menit perjuangan yang melelahkan, api akhirnya berhasil dipadamkan sebelum melahap seluruh bangunan. Bagian depan kedai hangus menghitam, rak-rak kayu artistik buatan Rian sebagian besar sudah jadi arang, dan papan nama "Kopi Utang" itu jatuh terbelah dua di tanah.

Gia jatuh terduduk di depan pintu kedai yang masih mengepulkan asap. Air matanya mengalir deras melihat tempat yang ia bangun dengan susah payah hancur begitu saja.

"Gia... kamu nggak apa-apa?" suara Rian terdengar parau. Pria itu berjalan mendekat dengan napas tersengal-sengal. Tangannya tampak merah dan lecet karena panas, tapi tatapan matanya langsung memeriksa kondisi Gia.

"Rian... kenapa ini terjadi? Kenapa mereka sejahat itu?" Gia terisak sambil memegang potongan papan namanya yang hangus.

Rian berlutut di depan Gia, mengabaikan rasa sakit di tangannya sendiri. "Ini bukan kecelakaan, Gia. Aku nemuin botol sisa bensin di balik semak-semak belakang."

Rian menoleh ke arah kegelapan jalan desa, di mana sebuah mobil hitam tampak memutar balik dan melaju pergi dengan terburu-buru. "Dia benar-benar ingin main api. Tapi dia lupa, kalau api itu cuma bakal bikin kita makin keras, bukan makin hancur."

Pak Jaya mendekati mereka, wajah tuanya tampak sangat sedih namun juga tegar. "Terima kasih, warga sekalian. Tanpa kalian, mungkin rumah kami juga sudah ludes."

"Nggak apa-apa, Pak Jaya. Kita ini warga desa, kalau satu kena susah, semua ikut susah," ujar Pak Kades yang juga ikut berkeringat. "Dan si Rian ini hebat, Pak. Dia yang pertama kali tahu dan teriak. Dia juga yang ngatur kita semua biar nggak panik."

Setelah warga mulai bubar satu per satu, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara puing-puing, Rian mengajak Gia dan Pak Jaya duduk di teras rumah utama. Ia mengambil kotak P3K dan mulai mengobati luka bakarnya sendiri dengan santai, seolah-olah itu bukan hal besar.

"Gia, Niko baru saja buat kesalahan terbesar dalam hidupnya," ujar Rian sambil melilitkan perban ke tangannya. "Dia pikir dengan bakar kedai ini, dia bakal buat kita takut dan lari. Dia salah. Dia justru baru saja membuktikan ke seluruh warga desa bahwa dialah penjahat sebenarnya."

"Tapi kita nggak punya bukti kalau itu dia, Rian," sahut Gia lemas.

Rian tersenyum misterius. Ia merogoh saku celananya yang basah dan mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk kotak hitam. "Ingat nggak semalam aku bilang aku nggak punya CCTV? Aku memang nggak punya CCTV permanen, tapi aku punya kamera sensor gerak militer yang aku pasang di bawah atap kedai tadi sore. Aku sudah curiga dia bakal main kasar."

Gia terbelalak. "Maksud kamu... kamu dapet videonya?"

Rian menunjukkan layar ponselnya. Di sana, terekam sangat jelas dua orang pria yang tadi malam juga datang meneror, sedang menuangkan bensin dan menyalakan korek. Dan yang lebih gila lagi, mobil sedan Niko terparkir tidak jauh dari sana dengan wajah Niko yang terlihat jelas saat ia membuka sedikit kaca mobilnya untuk memastikan api menyala.

"Video ini cukup untuk menjebloskan dia ke penjara karena tuduhan sabotase dan pembakaran sengaja," Rian menutup ponselnya. "Dan ini baru permulaan. Begitu dia ditahan, aku akan punya cukup waktu untuk ke Jakarta, menemui mandor tuaku, dan mengambil data korupsi perusahaannya."

Gia menatap Rian dengan tatapan baru. Pria ini bukan lagi sekadar tukang bangunan yang bersembunyi. Dia adalah arsitek rencana balas dendam yang sangat teliti.

"Tapi kedai kita hancur, Rian..." bisik Gia sedih.

Rian meraih tangan Gia, menggenggamnya dengan bagian tangannya yang tidak diperban. "Gia, dengar aku. Kayu bisa diganti, cat bisa dibeli lagi. Tapi keberanian kamu buat nggak menyerah malam ini, itu yang nggak bisa dibeli. Kita bakal bangun lagi kedai ini. Dan kali ini, kita nggak bakal sebut itu 'Kopi Utang'. Kita bakal sebut itu 'Kopi Kemenangan'."

Gia tersenyum di tengah tangisnya. Ia menyadari satu hal: di antara bau asap dan puing-puing yang hitam, sebuah cinta dan tekad baru saja lahir. Sebuah cinta yang tidak tumbuh di hotel mewah atau kantor megah, melainkan cinta yang ditempa di dalam api sabotase dan kesetiaan orang-orang kecil.

"Rian," panggil Gia pelan.

"Iya, Neng?"

"Jangan pernah berani-berani pergi lagi ya? Aku butuh mandor galak kayak kamu buat bangun ulang semuanya."

Rian tertawa, tawa yang terdengar sangat lega di bawah langit malam yang mulai terang. "Siap, Neng Bos. Asal gajinya jangan dikurangin ya, minimal martabak manis seminggu sekali."

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!