"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Ratu di Atas Puing Kehancuran
ROMA tidak pernah benar-benar tidur, namun pagi ini, kota itu terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa. Surat kabar di setiap kios jalanan, dari Trastevere hingga ke pinggiran Parioli, menampilkan foto yang sama di halaman depan: Dante Moretti, dengan tangan terborgol dan kepala tegak, menatap kamera dengan tatapan yang seolah menantang maut itu sendiri. Judul beritanya bervariasi dari "Iblis yang Mengaku" hingga "Kiamat Bagi Elit Roma".
Di sebuah apartemen rahasia yang dikelola oleh ordo keagamaan kecil di balik tembok Vatikan, Aria Moretti duduk di depan jendela besar yang menghadap ke atap-atap merah kota. Ruangan itu sunyi, hanya suara detak jam dinding kuno dan gumaman berita dari televisi yang volumenya hampir dimatikan.
Aria mengenakan jubah hitam tebal, tangannya yang gemetar memegang cangkir teh yang sudah mendingin. Di bawah meja, kakinya terasa berat, dan nyeri di perutnya telah mereda menjadi sebuah rasa hampa yang jauh lebih menyakitkan. Dante telah tiada dari sisinya. Untuk pertama kalinya dalam setahun, ia bangun tanpa merasakan panas tubuh pria itu di sampingnya.
"Nyonya, Anda harus makan sesuatu," suara Marco terdengar dari ambang pintu.
Marco tampak lelah. Ia tidak tidur selama tiga puluh jam terakhir. Ia telah memindahkan Aria tiga kali dalam semalam untuk memastikan radar Scorpion XIII tidak bisa melacak mereka.
"Apa kabar terbaru dari penjara Rebibbia?" tanya Aria, suaranya dingin dan jernih, seolah-olah ia sedang mempersiapkan diri untuk sidang di pengadilan federal.
Marco menghela napas, ia duduk di kursi kayu di seberang Aria. "Dante ditempatkan di blok 41-bis. Isolasi total. Tidak ada kontak dengan narapidana lain. Penjaga yang ditugaskan di sana adalah unit khusus yang tidak memiliki koneksi dengan klan mana pun. Jaksa Agung ingin memastikan dia tetap hidup untuk memberikan kesaksian resminya minggu depan."
Aria meletakkan cangkir tehnya dengan denting pelan yang tegas. "Valerio tidak akan menunggu sampai minggu depan, Marco. Dia tahu bahwa begitu Dante membuka mulutnya di bawah sumpah pengadilan, kerajaan bisnis Valerio akan disita oleh negara. Dia akan mencoba membunuh Dante di dalam selnya."
"Kita sudah menempatkan dua orang 'dalam' di unit sanitasi penjara, Nyonya. Tapi pergerakan kita sangat terbatas," sahut Marco.
Aria berdiri, ia berjalan menuju meja yang dipenuhi dengan dokumen hukum dan laptop yang masih menyala. "Maka kita tidak akan menggunakan cara mafia lagi, Marco. Kita akan menggunakan cara yang lebih mematikan. Kita akan menggunakan hukum."
Ia mengambil sebuah map merah yang berisi draf perjanjian perlindungan saksi. "Aku adalah satu-satunya orang yang memiliki kunci dekripsi untuk sisa data Project Phoenix. Pemerintah Italia menginginkan daftar itu untuk membersihkan parlemen mereka. Dan aku akan menukar daftar itu dengan satu hal: Akses penuh untuk bertemu Dante sebagai pengacara pembelanya."
Markas Besar Kepolisian Italia (Polizia di Stato): Pukul 11.00 Pagi
Hujan gerimis masih membasahi Roma saat Aria melangkah keluar dari mobil SUV hitam yang dijaga ketat. Ia mengenakan setelan jas kantor berwarna abu-abu gelap, rambutnya disanggul rapi, dan kacamata hitam menutupi matanya yang sembab. Ia membawa tas kerja kulit yang berat.
Puluhan jurnalis yang berkemah di depan gedung segera menyerbu, lampu flash kamera menyambar-nyambar seperti petir.
"Nyonya Moretti! Apakah benar Anda yang mengatur wawancara semalam?!"
"Bagaimana kondisi bayi Anda?!"
"Apakah Dante Moretti melakukan ini untuk menyelamatkan Anda dari tuntutan hukum?!"
Aria tidak berhenti. Ia berjalan dengan langkah mantap, mengabaikan semua teriakan itu seolah mereka hanyalah gangguan suara di latar belakang. Pengawalan polisi segera membentuk barisan untuk membukakan jalan baginya.
Di dalam kantor Jaksa Agung, suasananya sangat tegang. Jaksa Agung Roberto Fabbri, seorang pria dengan rambut putih yang tampak sangat tertekan, sudah menunggu di meja konferensi besar. Di sampingnya duduk beberapa pejabat dari Kementerian Kehakiman.
"Nyonya Moretti," sapa Fabbri dengan nada yang tidak ramah namun memiliki rasa hormat yang terpaksa. "Kehadiran Anda di sini adalah sebuah tindakan yang sangat berani... atau sangat bodoh."
Aria duduk di kursi seberangnya, meletakkan tas kerjanya di meja dan membukanya dengan perlahan. "Mari kita lompati basa-basi formalnya, Jaksa Fabbri. Anda memiliki pria paling dicari di Eropa di dalam sel Anda, tapi Anda tidak memiliki bukti yang cukup untuk menjatuhkan para politisi di daftar Phoenix tanpa kunci dekripsi yang saya pegang."
Fabbri menyipitkan matanya. "Anda sedang mencoba memeras pemerintah Italia, Nyonya?"
"Saya sedang bernegosiasi untuk keamanan nasional," ralat Aria dengan senyum miring yang sangat mirip dengan Dante. "Suami saya telah menyerahkan dirinya secara sukarela. Dia telah memberikan pengakuan publik yang meruntuhkan kredibilitas The Circle. Sekarang, tugas Anda adalah memastikan dia tetap hidup. Karena jika seujung rambutnya terluka di penjara Rebibbia, kunci dekripsi itu akan terhapus selamanya, dan data Phoenix akan dikirimkan ke agen intelijen asing. Bayangkan skandalnya jika Amerika atau Rusia yang memegang daftar rahasia parlemen Italia."
Ruangan itu seketika menjadi sangat sunyi. Para pejabat di sana saling pandang dengan wajah pucat.
"Apa yang Anda inginkan?" tanya Fabbri parau.
"Satu," Aria mengangkat satu jarinya. "Status pengacara pembela resmi untuk saya. Saya ingin akses kunjungan harian ke Dante tanpa pengawasan audio."
"Itu melanggar protokol 41-bis!" protes salah satu pejabat.
"Protokol itu dibuat untuk mencegah bos mafia memberikan perintah kepada anak buahnya," balas Aria tajam. "Saya adalah istrinya, dan saya adalah pengacaranya. Saya tidak tertarik menjalankan klan Moretti. Saya tertarik untuk memastikan ayah dari anak saya tidak dibunuh oleh orang-orang yang Anda lindungi di gedung parlemen."
"Dua," lanjut Aria. "Perlindungan saksi penuh untuk saya, bayi saya, dan tim keamanan pribadi saya. Kita akan tinggal di lokasi yang saya tentukan, namun dijaga oleh unit khusus polisi federal."
"Dan ketiga?" tanya Fabbri.
"Transfusi darah dan perawatan medis terbaik untuk Dante di dalam selnya. Dia terluka parah di Sisilia, dan saya tidak ingin dia mati karena infeksi sebelum dia bisa menandatangani kesepakatan ini."
Fabbri menghela napas panjang, ia memijat pelipisnya. "Anda benar-benar wanita Moretti sekarang, Aria. Baiklah. Kami akan menyiapkan dokumennya. Tapi ingat, begitu kunci itu diserahkan, Dante tetap harus menjalani proses peradilan. Saya tidak bisa menjamin dia akan bebas."
"Saya tahu itu," bisik Aria, hatinya terasa perih. "Tapi setidaknya dia akan hidup."
Penjara Rebibbia: Pukul 16.00 Sore
Dante Moretti duduk di atas dipan besi yang keras di dalam selnya yang berukuran dua kali tiga meter. Cahaya lampu neon di langit-langit berkedip-kedip, menciptakan suasana yang mencekam. Bahunya masih terasa sangat sakit, namun tim medis penjara baru saja mengganti perbannya dan memberinya suntikan antibiotik dosis tinggi.
Ia menatap dinding sel yang kosong. Di dalam pikirannya, ia terus membayangkan wajah Aria. Apakah dia aman? Apakah bayi mereka sehat?
Tiba-tiba, suara pintu baja yang berat terbuka terdengar di ujung koridor. Langkah kaki sepatu hak tinggi yang tajam beradu dengan lantai beton. Dante langsung berdiri, jantungnya berpacu kencang. Ia mengenali langkah kaki itu di mana pun di dunia ini.
Seorang sipir membuka pintu selnya. "Kau punya waktu lima belas menit dengan pengacaramu. Tanpa kontak fisik yang berlebihan."
Aria masuk ke dalam sel. Begitu pintu ditutup kembali, ia berdiri di sana, menatap suaminya yang kini mengenakan seragam penjara berwarna abu-abu kasar. Aria merasa dadanya sesak melihat pemandangan itu. Pria yang biasanya mengenakan setelan jas ribuan dolar dan menguasai ruang-ruang termewah di dunia, kini tampak begitu kecil di balik jeruji besi.
Dante melangkah mendekat, ia ingin memeluk Aria, namun ia teringat kamera CCTV di sudut atas. Ia berhenti hanya beberapa inci di depan istrinya.
"Kau seharusnya tidak di sini, Aria," bisik Dante, suaranya parau namun penuh cinta.
"Aku adalah pengacaramu, Dante. Kau tidak bisa mengusirku," Aria mencoba tersenyum meskipun air mata mulai menggenang. Ia meraih tangan Dante yang terbelenggu rantai tipis di pergelangan tangannya. "Aku sudah membuat kesepakatan. Kau aman untuk saat ini. Mereka akan menjagamu karena mereka butuh data Phoenix."
Dante menatap mata Aria, mencari tanda-tanda kelelahan fisik. "Bagaimana dengan bayi kita? Agostino bilang ada risiko..."
"Dia kuat, Dante. Dia menendangku tadi pagi, seolah-olah dia sedang memarahiku karena membiarkan ayahnya ditangkap," jawab Aria, ia menuntun tangan Dante ke perutnya.
Dante memejamkan matanya saat ia merasakan getaran halus di bawah telapak tangannya. Untuk sesaat, dinding penjara itu menghilang. Tidak ada musuh, tidak ada polisi, tidak ada kematian. Hanya ada mereka bertiga.
"Dengar, Dante," Aria merendahkan suaranya hingga nyaris tak terdengar. "Valerio sedang mencoba mendekati beberapa faksi di luar. Dia akan mencoba menyerangmu di sini. Aku sudah menempatkan Marco untuk mengawasi dari luar, tapi kau harus waspada. Jangan makan apa pun yang tidak diberikan oleh sipir yang bernama Lorenzo. Dia adalah orang kita."
Dante mengangguk kecil. "Valerio adalah pecundang. Dia hanya berani menyerang saat aku terikat. Tapi jangan khawatirkan aku, Aria. Fokuslah pada persidangan. Gunakan daftar Phoenix itu sebagai pedang. Jika mereka ingin aku dihukum, mereka harus menyeret semua menteri itu bersamaku."
"Aku akan melakukannya, Dante. Aku akan membuat mereka memohon agar kita tidak bicara lagi," janji Aria.
Waktu lima belas menit berlalu seperti lima belas detik. Sipir kembali dan mengetuk pintu sel. "Waktunya habis, Nyonya."
Aria harus melepaskan tangan Dante. Saat ia melangkah keluar, Dante membisikkan sesuatu yang akan menghantui Aria sepanjang malam.
"Aria... jika terjadi sesuatu padaku. Jika aku tidak bisa keluar dari sini hidup-hidup... berikan anak kita nama ibuku. Letizia. Dan katakan padanya, bahwa ayahnya mencintainya bahkan sebelum dia melihat dunia."
Aria tidak sanggup menjawab. Ia hanya mengangguk cepat dan berjalan keluar dari blok isolasi dengan langkah yang goyah. Begitu pintu koridor tertutup, ia jatuh terduduk di kursi ruang tunggu, menangis dalam diam sementara Marco segera melindunginya dari pandangan orang-orang.
Sebuah Hotel Rahasia di Roma: Pukul 22.00 Malam
Valerio Moretti berdiri di depan jendela besar, menatap ke arah Penjara Rebibbia di kejauhan. Wajahnya dipenuhi oleh kemarahan yang tertahan. Wawancara Dante telah menghancurkan setengah dari kerajaan bisnisnya dalam satu malam. Beberapa sekutu politiknya sudah mulai menjauh, takut terseret ke dalam lubang yang sedang digali Dante.
"Tuan, rencana sudah siap," ucap seorang pria dengan tato kalajengking di lehernya. "Kita telah menyuap salah satu narapidana di blok sanitasi. Dia akan menggunakan sianida cair yang dicampur ke dalam air minum Dante besok pagi. Tidak akan ada jejak kekerasan. Semuanya akan terlihat seperti gagal jantung akibat luka-luka yang ia derita di Sisilia."
Valerio tersenyum miring, sebuah senyuman yang penuh dengan kebencian. "Bagus. Dante pikir dia bisa menjadi martir? Aku akan menjadikannya statistik kematian di penjara. Dan setelah dia mati, Aria Vane akan menjadi milikku. Aku ingin melihat bagaimana rasanya memiliki wanita yang dicintai oleh Sang Penjagal."
Valerio memutar sebuah koin emas di jarinya. "Dunia ini tidak butuh kebenaran, mereka butuh penguasa baru. Dan setelah besok pagi, namaku akan menjadi satu-satunya hukum yang tersisa di Roma."
Malam itu, di selnya yang dingin, Dante Moretti tidak bisa tidur. Ia menatap langit-langit, teringat pada semua dosa yang pernah ia lakukan. Ia menyadari bahwa perjalanannya mungkin akan berakhir di sini, di sebuah kotak beton yang tidak memiliki jendela. Namun, saat ia meraba saku seragam penjaranya, ia menemukan sesuatu yang ditinggalkan Aria saat mereka bersalaman tadi.
Sebuah foto USG kecil.
Dante tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak merasa takut pada maut. Ia memiliki alasan untuk bertahan hidup yang jauh lebih besar daripada sekadar dendam.
Ia tahu, esok pagi badai akan datang. Namun Dante Moretti bukan lagi seorang pelaut yang takut pada badai. Ia adalah badai itu sendiri.