Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.
Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.
Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 23 – Sander, Kamu baik Sekali
Setelah memberi beberapa sendok suapan pada Fasha, Sander pun bertanya:
“Apa kamu masih lapar? Aku hanya memesan satu mangkuk.”
“Cukup… terima kasih.”
Fasha mengerjapkan mata bulatnya. Tatapan itu membuat ujung jari Sander terasa gatal.
“Beristirahatlah.”
Lampu kamar dimatikan. Pintu terkunci dengan suara pelan.
Fasha berbaring dengan mata setengah terpejam, menggenggam erat kancing kemeja Sander di tangannya yang ia dapatkan dari mengganggu Sander tadi.
Yap, Fasha yang bertingkah kekanakan itu menarik lengan kemeja panjang Sander hingga salah satunya terlepas.
Sebenarnya ia hanya berpura-pura saja, namun ia tak menyangka kancing itu bisa terlepas.
"Tidak papa.. anggap saja kancing ini adalah jimat keberuntungan ku.."
Dengan tubuh yang pusing, ia membalikkan badan dan menekan kancing manset itu ke dada—tempat yang paling dekat dengan jantungnya.
***
“Selamat pagi, Nona Fasha.”
Wajah Dokter Liam mengejutkan Fasha yang baru setengah sadar. Ia menatap dengan pandangan kosong cukup lama sebelum akhirnya bergumam, “Ah…”
Bunyi yang terdengar sangat asal, seolah otaknya belum sepenuhnya bekerja.
“Apakah aku sedang bermimpi?”
Setelah berkata begitu, Fasha kembali memejamkan mata. Bahkan ia menambahkan dengkuran kecil. Rambutnya mencuat ke atas, aneh sekaligus menggemaskan.
“Tuan Sander, saya rasa Fasha sakit cukup berat. Kita sebaiknya ke rumah sakit.”
Sander tidak menjawab. Ia hanya menempelkan tangan ke dahi Fasha.
Demamnya sudah turun. Namun mengapa ia tampak semakin linglung?
“Fasha, ayo bangun..”
Nada suaranya rendah, mengandung ancaman halus.
Fasha menggeliat, lalu mengeluarkan kancing manset Sander dari saku piyamanya. Dengan gerakan lambat, ia memasangkannya ke pergelangan tangan Sander.
"Aku sudah mengembalikannya bukan? Biarkan aku tidur sebentar lagi.."
Ia berusaha duduk, lalu mengusap pipinya ke telapak tangan Sander seperti seekor kucing yang manja.
“Aku sedang membujukmu Sander.. Apa kau merasakannya?”
'Membujuk siapa sebenarnya?' batin Sander.
Dokter Liam yang merasa risih hanya memilih untuk memandang langit-langit kamar atau lantai, ia sengaja menghindari tatapan Sander.
“Fasha, kalau sudah bangun, bangunlah.”
Fasha mengusap pinggangnya yang pegal, mengangguk seperti kucing mengantuk, lalu duduk sambil tersenyum.
“Selamat pagi, Sander. Aku senang sekali melihatmu saat membuka mata.”
“Orang pertama yang kamu lihat saat bangun adalah aku” sela Dokter Liam yang segera maju untuk menempelkan termometer ke dahi Fasha.
Begitu alat itu berbunyi, Dokter Liam mendapati suhu normal dari Fasha – 37°C.
“Paman Dokter, kenapa Anda di sini lagi?”
“Oh.. aku hanya kebetulan lewat.”
"Benarkah? Kelihatannya tidak seperti itu deh.."
Dokter Liam hanya menunjukkan senyum palsu, lagi pula mana mungkin ia hanya kebetulan lewat disaat pekerjaannya begitu banyak.
Tentu saja bayaran dari Sander yang memanggilnya kesana lah yang membuatnya rela datang.
“Fasha, aku harus memarahimu. Katanya kamu tidur dengan jendela terbuka dan begadang. Kondisimu buruk, kamu tidak boleh terus seperti ini. Seseorang akan khawatir.” Ucap sang Dokter dengan wajah serius yang terkesan dibuat-buat
Melihat isyarat mata Sander, Dokter Liam segera meralat, “Maksud saya… akan ada orang yang khawatir.”
“Saya mengerti, Paman Dokter. Saya akan mendengarkan Sander dan menjaga diri saya.”
“Waktunya turun untuk sarapan.”
Sander berjalan lebih dulu. Dokter Liam menyusul sambil terus mengomel.
“Kalau tidak khawatir, kenapa kamu meneleponku? Nona Fasha hanya tidur tujuh belas jam. Itu bukan masalah besar.”
Sander tetap tenang meski ketahuan. Jarum jam terus bergerak. Rasa cemas yang mengganggunya sejak semalam akhirnya menghilang.
Saat kancing kemeja itu terpasang kembali, Sander menyadarinya. Jarinya terangkat sedikit, lalu ia menurunkannya saat mendengar langkah di belakang.
“Fasha, kamu tidur tujuh belas jam.”
Melihat ekspresi terkejut Fasha, Sander diam-diam menghela napas lega.
“Kak… kamu baik sekali.”
Sander terdiam, mengangkat lengannya dengan tatapan kosong, tidak mengerti mengapa Fasha tiba-tiba memeluknya.
'Dia memang baik. Lalu… mengapa Fasha memeluknya? Apa Fasha akan akan memberikan pelukannya pada semua orang yang baik?'