"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minggir! 04
Ucapan Fitri terus menerus terngiang dipikiran dan hati Arundari. Dia selama ini tak pernah berpikiran buruk tentang suaminya dan juga Jelita.
Akan tetapi hari ini perasaannya sangat tidak enak dan akhirnya jadi semakin kepikiran setelah mendengar ucapan dari sang sahabat.
Arundari pun mengambil ponselnya, untuk menghubungi Heri. Namun berkali-kali dicoba pun tak diangkat. Ia lalu mencoba menghubungi Jelita, tapi gadis itu juga tak bisa dihubungi.
Arundari melihat jam di ponselnya. Ini sudah menunjukkan pukul 11 malam. Seharusnya acara kajian juga sudah selesai.
"Apa mereka udah tidur ya?"
Arundari berusaha untuk tidak over thinking. Ia lalu mencoba melihat akun instagram milik Heri. Suaminya itu baru saja mengunggah foto pantai Losari 10 menit yang lalu.
Semakin tidak karuan saja pikiran Arundari. Namun dia tak ingin gusar. Dia berusaha untuk tetap tenang dan mencoba untuk kembali menghubungi Heri. Akan tetapi hasilnya Nihil. Yang ada malah nomor Heri menjadi tidak aktif.
"Ada apa ini? Kok dia malah matiin hapenya?"ucapnya sambil mengusap wajahnya kasar.
Pikirannya yang kacau dan juga hatinya yang tidak karuan, membuat Arundari berjalan mondar-mandir sendiri.
Setelah beberapa saat, akhirnya dia pun menyadari sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan dari pada berjalan-jalan tidak jelas seperti ini.
Arundari masuk ke dalam kamar mandi, mengambil air wudhu, membentangkan sajadah lalu kemudian mengenakan mukenanya.
Takbiratul ikram tanda dia mulai menjalankan sholat. Bukan sholat wajib karena dia sudah melakukan sholat isya tadi. Arundari hanya ingin melakukan sholat sunah dua rakaat saja agar hatinya tenang.
Setelah salam, ia mulai menengadahkan tangannya. Berdoa dengan tulus tentang apa yang tengah dirasakannya.
"Hanya pada-Mu aku meminta Ya Allah. Tolong hilangkan prasangka buruk ini terhadap suamiku. Tunjukkan kebenaran yang hakiki dimana aku tak lagi meragukan cinta dan kesetiaan suamiku."
Merasa bahwa hanya dirinya saja yang berpikiran negatif, Arundari memohon agar perasaan itu segera dihilangkan.
Usai berdoa dia mengambil Al-Quran, rasanya semakin tenang saat mulutnya membaca ayat-ayat yang ada di dalamnya.
"Ya Allah."
Hanya itu saja yang diucapkan oleh Arundari. Dia membereskan semua perlengkapan ibadahnya dan kembali membuka ponselnya. Sebuah kelegaan yang luar biasa ketika pesan yang dikirimkannya berubah menjadi centang dua dan berubah warna menjadi bury.
Ia pun segera menghubungi Heri. Bertanya mengapa tadi ponselnya dimatikan.
"Maaf sayang, tadi hapenya drop batrenya. Dan tadi aku sama tim jalan-jalan bentar. Ini udah balik hotel. Maaf ya."
Seperti itulah jawaban Heri.
"Oh gitu, aku cuman khawatir ada apa-apa sama kamu, Mas,"jawab Arundari.
Meski sudah bisa berbincang dengan Heri, entah mengapa kelegaan yang tadi dirasakannya tiba-tiba memudar. Pikiran buruk itu kembali lagi menggelayut.
"Ya udah, ini udah malem. Kamu istirahat ya. Aku juga mau tidur ini, capek,"ucap Arundari. Dia ingin segera mengakhiri teleponnya tersebut.
"Oh iya udah jam sebelas ya. Iya deh, kamu tidur gih. Aku juga mau tidur. See you tomorrow, sayang. Good night. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Tidak, Arundari bukannya ingin tidur. Dia masih menatap ponselnya dengan lebih tajam lagi. Yang dia lakukan sekarang adalah, mencari tiket penerbangan ke Makasar yang bisa diambilnya sesegera mungkin.
Dia tidak peduli jika akan dikatai sebagai wanita uang protektif atau istri yang curigaan terhadap suaminya. Semua itu dia lakukan untuk tetap menjaga rumah tangga yang sudah dibangunnya selama ini.
"Dapet, Alhamdulillah."
Arundari langung mengambil tiket yang berangkat jam dua dini hari. Sekarang masih pukul sebelas malam, masih ada waktu untuk ke bandara.
Tak banyak yang dia bawa. hanya berganti pakaian dan juga tas daypack saja.
Dengan mobilnya, dia melaju sangat cepat menuju bandara. Beruntung ini sudah mau tengah malam, jadi jalanan Jakarta tidak terlalu padat.
Sesampainya di bandara, Arundari langsung mengganti tiketnya dengan tiket fisik. Tak butuh watu lama, dia pun segera diarahkan ke tempat boarding pass. Kini Arundari hanya tinggal menunggu waktu keberangkatan pesawat.
Semua sungguh terasa mudah. Dia seolah mendapat kemudahan untuk pergi menemui suaminya.
Penerbangan yang tanpa delay, langit yang cerah bahkan tanpa awan dan ia sampai dengan selamat di bandara Sultan Hasanudin.
Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, Arundari menuju ke mushola lebih dulu untuk menjalankan sholat subuh. Tak lupa setelah itu dia mencari sarapan. Wanita itu merasa bahwa dirinya harus memiliki tenaga yang besar untuk hari ini.
"Hotel, ya. Untung aku tanya dulu hotel yang sekarang ditempati Mas Heri,"ucapnya di atas motor.
Arundari memesan ojek online, baginya itu lebih memudahkan dan sampai lebih cepat di sana ketimbang taksi online.
Arundari ingat, katanya mereka akan kembali ke Jakarta sekitar pukul sepuluh siang. Jadi pastilah tidak mungkin Heri dan team berangkat ke bandara pagi-pagi begini.
"Pagi Mbak. Saya ingin tanya. Tamu atas nama Heriawan ada di kamar nomor berapa ya?" tanya Arundari ke bagian informasi.
Tapi ternyata tak semudah itu. Pegawai hotel tak lantas memberitahunya karena peraturan hotel. Tapi Arundari punya cara efektif agar dia bisa mendapatkan nomor kamar milik suaminya.
"Tapi Mbak, saya istrinya. Ini kalau nggak percaya. Ini buku nikah saya dan suami saya. Mbak tahu nggak, saya buru-buru datang dari Jakarta ke sini buat ngasih ini. Ini obat suami saya ketinggalan. Setiap hari dia harus minum obat ini karena sedang pemulihan penyakit paru. Kalau sampai terlewat satu hari aja, nanti harus ngulang dari awal lagi. Please Mbak, ini sudah step terakhir. Kalau kita ngulang lagi dari awal, beneran bakal sia-sia."
Pegawai hotel tersebut nampak bingung. Alhasil dia mencari atasannya, dan kemudian menceritakan apa yang dikatakan oleh Arundari.
"Jadi begitu ya, Bu?" tanya sanga manager.
Arundari tersenyum tipis lalu mengangguk. Tentu saja itu tidak benar. Heri sangat sehat dan tidak punya penyakit apapun. Yang dia tunjukan tadi hanyalah sebuah vitamin. Tapi pihak hotel tak mungkin mengambilnya untuk memeriksa lebih lanjut.
"Baiklah kalau begitu. Pak Heri yang merupakan suami Anda, ada di kamar 1003,"ucap sang manager.
"Terimakasih, terimakasih banyak Pak, Mbak. Duuuh maaf ya, saya jadi merepotkan Anda berdua."
"Dengan senang hati bisa membantu, Bu Arundari."
Tak ingin membuang kesempatan. Arundari bergegas menuju ke kamar suaminya yang ada di lantai empat. Dadanya berdebar dengan sangat hebat sepanjang naik lift. Dan debarannya itu semakin tidak karuan ketika sudah sampai di lantai empat dan tepat berada di depan kamar suaminya.
Tok tok tok
"Siapa?"
"Sayang, ini aku. Aku kangen sama kamu, makanya aku nyusul ke sini."
Untuk sesaat tak ada jawaban dari dalam sana. Arundari bahkan menunggu kurang lebih lima menit sampai pintu terbuka.
"Hai, kenapa nggak ngabarin?"
"Kan surprise."
Arundari langsung masuk, dia menatap seluruh kamar. Dia seolah memindai, mencoba mencari sesuatu yang tidak pas dan janggal.
Mata seorang istri yang sangat jeli, Arundari merasa ada yang salah dengan dinding yang ada di sisi lemari. Ia pun berjalan dan mendekat ke sana. Namun saat hendak mendorongnya, Heri yang tadi masih di belakang, kini sudah ada di depannya persis.
"Ada apa?"
"N-nggak."
"Minggir!"
TBC
Ada maksud tersembunyi nih dari Adyaksa😄
Apakah Anis nanti nya akan berjodoh sama Beni yaa..? hhmmm... 🤣🤣