NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Gus Azkar

Istri Pilihan Gus Azkar

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.

Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.

Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Persembunyian di Bawah Ranjang

Setelah prosesi akad yang sakral itu selesai, Gus Azkar tidak langsung membawa Rina pergi. Sebagai menantu yang sopan, ia menghabiskan waktu cukup lama berbincang dengan mertuanya, paman, dan nenek Rina. Suasana hangat menyelimuti ruang tamu, namun pikiran Gus Azkar tetap tertuju pada satu orang: istrinya.

Sementara itu, di dalam kamar, Rina sedang mengalami gejolak batin yang luar biasa.

Ketakutannya pada "malam pertama" benar-benar menguasai pikirannya. Meskipun hari masih siang bolong, imajinasi Rina sudah melanglang buana. Di balik sosoknya yang pendiam dan bercadar, Rina sebenarnya memiliki sisi rahasia; ia terkadang menonton film dewasa karena rasa penasaran remaja, dan hal itulah yang justru membuatnya semakin takut sekaligus malu setengah mati untuk menghadapi Gus Azkar.

"Rina? Kamu di dalam?" Ayah Rina mengetuk pintu kamar pelan. Tak ada jawaban. Beliau kemudian menoleh pada Gus Azkar sambil tersenyum canggung. "Masuk saja, Gus. Mungkin dia sedang istirahat.

Maklum, dari pagi sepertinya dia sangat tegang."

Gus Azkar mengangguk pelan. Dengan langkah hati-hati, ia membuka pintu kamar yang kini telah menjadi wilayah pribadinya juga. Bau harum melati dan bedak bayi khas Rina menyambut indra penciumannya. Kamar itu rapi, namun tampak kosong. Gus Azkar mengernyitkan dahi. Ia tidak melihat sosok istrinya di atas kasur.

"Rina?" panggilnya lembut.

Pandangannya menyapu sekeliling, hingga matanya menangkap ujung kain gaun putih yang terjepit di bawah dipan kayu kasur. Gus Azkar hampir saja tertawa jika tidak ingat posisinya sebagai ustadz yang berwibawa. Rupanya, istrinya yang mungil itu bersembunyi di bawah kasur.

Gus Azkar tidak langsung memaksanya keluar. Ia memutuskan untuk duduk di tepi kasur sambil membaca mushaf kecil yang selalu ia bawa. Waktu berlalu, lantunan ayat suci yang dibacakan Gus Azkar dengan nada bayyati yang merdu ternyata menjadi pengantar tidur yang ampuh.

Rina, yang tadinya meringkuk ketakutan sambil memikirkan hal-hal yang pernah ia tonton di film, perlahan merasa rileks. Rasa lelah karena menangis dan kurang tidur semalam membuatnya terlelap dengan nyenyak di bawah kolong tempat tidur yang sempit itu.

Tak terasa, cahaya jingga mulai masuk melalui celah jendela. Azan Maghrib berkumandang dari masjid desa dekat pantai. Gus Azkar menutup mushafnya, lalu berlutut di lantai untuk melihat keadaan istrinya.

"Astagfirullah, benar-benar tidur di sini ternyata,"

gumam Gus Azkar sambil menggelengkan kepala.

Dengan sangat hati-hati, ia merogoh kolong dan menarik pelan tubuh mungil Rina. Meskipun Rina mengenakan cadar, Gus Azkar bisa melihat bulu mata lentik yang masih basah itu terpejam rapat. Ia menggendong istrinya dan memindahkannya ke atas kasur dengan sangat lembut, seolah Rina adalah barang pecah belah yang sangat berharga.

Tepat saat tubuhnya menyentuh kasur, Rina tersentak bangun. Ia membuka matanya dan langsung berhadapan dengan wajah Gus Azkar yang hanya berjarak beberapa sentimeter.

"Aaah!" Rina refleks berteriak kecil dan menarik selimut sampai menutupi hidungnya, wajahnya memerah hebat di balik cadar.

"Sudah bangun? Kamu tidur lama sekali sampai Maghrib. Kenapa tidur di bawah kolong? Kasurnya tidak nyaman?" tanya Gus Azkar dengan nada menggoda, ada sedikit senyum tipis di bibirnya yang biasanya kaku.

Rina hanya bisa terdiam, jantungnya berpacu cepat. Ia malu karena ketahuan bersembunyi, dan lebih malu lagi memikirkan alasan kenapa ia bersembunyi tadi. Bayangan-bayangan film yang pernah ia tonton tiba-tiba melintas, membuatnya tidak berani menatap mata suaminya.

"Ustadz... eh, Gus... saya... saya cuma mau cari barang yang jatuh tadi," bohong Rina dengan suara super pelan.

Gus Azkar terkekeh pelan—suara yang belum pernah didengar oleh santri mana pun di pesantren. "Cari barang sampai ketiduran ya? Sudahlah, ayo ambil wudhu. Kita salat Maghrib berjamaah. Setelah itu, kita bicara. Ada banyak hal yang harus kita luruskan agar kamu tidak perlu bersembunyi di bawah kasur lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!