Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories
VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan
Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.
Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?
Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 21: Ketimpangan kutukan [2]
...●◉◎◈◎◉●...
...#1 Original story [@clandestories]...
...#2 No Plagiatrism...
...#3 Polite and non-discriminatory comments...
...•...
...•...
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...
Di kediaman Tuan Besar Liorlikoza, malam semakin larut, tapi rasa gelisah justru kian menebal. Hamu berdiri lama di dekat pintu utama, memperhatikan halaman yang gelap dan kosong. Tidak ada suara langkah. Tidak ada tanda kepulangan. Terlalu sunyi untuk jam segini.
“Mereka lama,” katanya akhirnya, lebih pada dirinya sendiri.
Kale bersandar di tiang kayu, ekspresinya tenang seperti biasa, tapi matanya tidak berhenti bergerak. “Saka jarang melanggar jam pulang. Kalau dia belum kembali, berarti dia tertahan oleh sesuatu yang serius.”
Hamu mengangguk pelan. “Dan Zack bukan tipe yang sabar menunggu tanpa alasan.”
Mereka tidak menyebut siapa pun selain dua nama itu. Dalam pikiran mereka, hanya Saka dan Zack yang relevan. Kalau ada orang lain bersama mereka, itu hanya bayangan samar, tidak cukup penting untuk diberi bentuk.
Kale melangkah ke ruang pantau. Lentera-lentera di sana menyala redup, memantulkan cahaya pada lantai batu yang penuh ukiran lama. Di tengah ruangan, dua cahaya tipis berdenyut perlahan.
“Saka,” gumam Kale.
“Zack,” sambung Hamu.
Hamu menunggu, seolah mengharapkan satu cahaya lagi muncul. Tapi tidak ada apa-apa.
“Hanya mereka berdua,” katanya, sedikit lega, sedikit bingung.
Kale mendekat, mencondongkan tubuhnya. Ia mengamati denyut cahaya itu dengan lebih teliti. Ada gangguan halus, seperti gelombang kecil yang tidak seharusnya ada.
“Ada distorsi,” katanya pelan.
“Dari mana?”
“Bukan dari mereka.” Kale menggeleng. “Lebih seperti… jalur mereka tertutup sementara.”
Hamu mengernyit. “Oleh apa?”
Kale terdiam. Ia tidak punya jawaban. Tidak ada istilah yang cocok. Bukan perlindungan keluarga. Bukan artefak. Bukan kesalahan sistem. Seolah ada sesuatu yang berdiri di sana, menghalangi, tapi tidak cukup nyata untuk dikenali.
“Tempat itu bermasalah,” katanya akhirnya. “Sumur tua selalu meninggalkan sisa tekanan.”
Hamu menerima penjelasan itu tanpa membantah. Ia meraih mantelnya dan mengikatkannya dengan cepat.
“Kita jemput mereka.”
“Eh seriusan kita saja?”
“Ya. Tuan Besar sedang di luar. Dan ini masih urusan keluarga.”
Kale mengangguk dan melangkah mengikutinya keluar. Pintu kediaman tertutup perlahan di belakang mereka, meninggalkan ruang pantau kembali sunyi, dengan dua cahaya yang terus berdenyut, dijaga oleh sesuatu yang tidak terlihat dan tidak tercatat.
Jauh dari sana, di bawah langit malam yang berat, Rakes berdiri di antara Saka dan Zack, satu langkah di depan mereka, tepat di posisi yang paling alami baginya. Ia merasakan perubahan halus di udara, seperti riak jauh yang mencoba mendekat.
Seseorang sedang mencari.
Bukan dirinya. Mereka tidak bisa.
Yang mereka cari hanyalah dua anak yang seharusnya sudah pulang.
Rakes menurunkan pandangannya, rahangnya mengeras. Ia tidak bergerak, tidak memancarkan apa pun. Keberadaannya tetap datar, kosong, seperti bagian dari malam itu sendiri.
Dan selama ia berdiri di sana, tidak akan ada yang menyadari bahwa ada tembok di antara pencarian dan yang dicari.
Langkah Hamu dan Kale menembus jalan tanah yang lembap, diterangi lampu kecil yang mereka bawa. Malam semakin pekat, dan semakin jauh dari kediaman, udara terasa berubah—lebih berat, lebih menekan, seolah tanah itu sendiri menyimpan ingatan yang tidak ingin diganggu.
Kale memperlambat langkah. “Stress banget gue liatnya, lo liat apa Ham?”
Hamu mengangguk. “Tekanan lama. Bukan ancaman aktif… tapi jelas bukan tempat kosong.”
Mereka berhenti sejenak ketika siluet pepohonan tua mulai jarang. Di depan, bayangan sumur tua itu tampak samar, seperti lubang gelap yang memakan cahaya. Cahaya lampu mereka tidak pernah benar-benar menyentuh dasarnya.
“Gue ga suka tempat ini, Mas Kale..” gumam Hamu.
“Semua orang juga nggak ada yang suka,” jawab Kale datar.
Di dekat sumur, Saka berdiri kaku. Zack duduk di batu besar tak jauh darinya, memijat pelipis, wajahnya pucat. Keduanya menoleh hampir bersamaan saat melihat cahaya mendekat.
“Hamu!” suara Saka terdengar lega, nyaris runtuh. “Kale!”
Hamu mempercepat langkah. “Lo kemana aja anjir, pusing banget dicariin dah”
Saka menelan ludah. "Pokoknya sekitaran sini... menemukan sesuatu.”
Zack mengangkat bahu, mencoba tersenyum, tapi gagal menyembunyikan kelelahan. “Tempat ini bikin kepala gue berat. Aneh.”
Hamu memeriksa mereka sekilas, memastikan tidak ada luka. “Kakek Saka udah tahu soal sumur ini. Kalian seharusnya tidak sendirian.”
Kale melirik ke arah sumur, lalu kembali ke Saka. “Lo mendekat?”
Saka menggeleng cepat. “No. Gue cuman… melihat.”
Itu tidak sepenuhnya bohong. Tidak juga sepenuhnya jujur.
Kale mengangguk, menerima setengah kebenaran itu tanpa memaksa. “Oke, kita pulang sekarang gue nggak mau debat. ”
"Tau Bang Zack sama Rakes dimana ngga? "
"Katanya mereka ada urusan di Asrama, balik dulu. " jawab Saka bohong.
Saat mereka berbalik, udara bergetar pelan. Hamu berhenti, menoleh cepat ke sekeliling.
“Lo dengar itu, Mas?”
Kale mengernyit. “Hah, denger apa?”
Saka ragu, lalu ikut menggeleng. “Gue juga ngga kok Bang. "
Tidak ada yang melihat bayangan yang berdiri sedikit lebih jauh dari mereka, di antara dua pohon tua. Tidak ada yang menyadari satu keberadaan yang memastikan jarak tetap aman, jalur tetap tertutup, dan tekanan tidak melonjak lebih jauh.
Hamu menghela napas, menganggapnya hanya sugesti tempat. “Ayo.”
Mereka berjalan menjauh dari sumur. Dengan setiap langkah, tekanan itu berkurang, malam kembali bernafas normal. Lampu-lampu kecil mereka bergerak menjauh, meninggalkan sumur tua kembali tenggelam dalam kegelapan.
Di sana, di balik pepohonan, Rakes tetap diam sampai langkah-langkah itu benar-benar hilang. Baru setelah semuanya aman, ia melangkah mundur, menyatu dengan bayangan, seperti ia tidak pernah berdiri di sana sejak awal.
Sumur itu sunyi lagi.
Namun sesuatu di dasarnya tahu satu hal pasti.
Malam ini, ia gagal.
......................
Setelah Hamu dan Kale membawa Saka serta Zack menjauh dari area sumur tua, malam kembali tenggelam dalam kesunyian yang lebih jujur. Tidak ada lagi langkah kaki, tidak ada lagi cahaya lampu, hanya kegelapan alami yang menyelimuti pepohonan dan tanah lembap yang menyimpan sisa tekanan dari peristiwa barusan.
Rakes berdiri sendirian.
Ia memastikan jarak sudah cukup aman, lalu berhenti di antara dua pohon besar yang akarnya mencengkeram tanah seperti tangan tua. Di titik itulah, ia akhirnya membiarkan tubuhnya merespons sepenuhnya.
Amarah keturunan Kartaswiraga tidak pernah meledak secara kasar. Ia hadir sebagai tekanan internal yang sistematis, seperti mekanisme kuno yang aktif setiap kali kematian tidak diselesaikan dengan benar. Darah itu mengenali ketidakseimbangan, mengenali kutukan yang dibiarkan terbuka, dan menuntut koreksi.
Rakes menurunkan kepalanya, satu tangan menekan bagian tengah dadanya. Napasnya tertahan sejenak, bukan karena panik, melainkan karena konflik yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Di satu sisi, naluri Kartaswiraga mendesaknya untuk bertindak—menutup sumber, menghancurkan jejak, memastikan tidak ada kelanjutan. Di sisi lain, kesadarannya sebagai penjaga menahan dorongan itu dengan keras.
Bayangan di sekitarnya memanjang secara tidak wajar, bukan karena cahaya, melainkan karena respons lingkungan terhadap tekanan darah yang bangkit. Tanah bergetar samar, hampir tak terdeteksi, seolah dunia di sekitarnya mengantisipasi keputusan yang belum diambil.
“Enggak,” ucapnya pelan, lebih seperti refleks daripada pernyataan.
Satu kata itu cukup untuk memperjelas posisi batinnya.
Ia memejamkan mata dan memusatkan pikirannya pada jangkar yang selalu ia gunakan. Saka, yang masih hidup dan harus tetap aman. Zack, yang berjalan di tepi bahaya tanpa menyadarinya. Jalan pulang yang barusan mereka lewati, utuh, tanpa korban tambahan. Semua itu menjadi alasan mengapa ia tidak boleh menyerah pada dorongan darahnya sendiri.
Kartaswiraga tidak membantah. Darah itu tidak pernah memaksa secara emosional. Ia hanya menunggu, sabar, yakin bahwa suatu hari kesempatan akan datang.
Tekanan di udara perlahan mereda. Getaran tanah berhenti. Bayangan kembali ke bentuk aslinya. Namun amarah itu tidak menghilang—ia hanya dikurung, dikendalikan, dan dipaksa tunduk sementara.
Rakes membuka mata. Pandangannya kembali jernih, tetapi keras, tanpa sisa kelembutan. Keputusan telah diambil, meskipun konsekuensinya masih panjang.
Kutukan Kartaswiraga belum berakhir. Penemuan jasad Ian hanyalah satu simpul dalam jaringan peristiwa yang lebih besar. Dan malam ini, darah itu telah menyadari bahwa masih ada penjaga yang berdiri di jalurnya.
Rakes menatap ke arah sumur tua yang kini tersembunyi di balik pepohonan. Tidak ada niat untuk kembali mendekat malam ini. Belum.
Namun satu hal ia ketahui dengan pasti:
jika kutukan itu kembali bergerak, ia tidak akan selalu mampu menahan amarah ini dengan cara yang sama.
Rakes kemudian melangkah keluar dari bayangan pepohonan, bergerak mendekat ke arah Zack yang masih berdiri di tepi jalan setapak. Wajah pemuda itu tampak kebingungan, alisnya berkerut, seolah ada sesuatu di dalam pikirannya yang tidak utuh—sebuah ruang kosong yang ia rasakan keberadaannya, tetapi tidak mampu ia isi dengan penjelasan apa pun.
Zack mengangkat kepala ketika menyadari ada seseorang mendekat. “Eh… lo dari mana?” tanyanya spontan, nada suaranya ragu. “Barusan… gue kayak ngerasa ada yang kelewat, tapi gue nggak inget apa.”
Rakes berhenti tepat di hadapannya. Ekspresinya tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini. Ia menatap Zack beberapa detik lebih lama dari yang wajar, seolah menilai kestabilan napas, arah fokus mata, dan denyut halus yang masih tersisa di sekitar tubuh pemuda itu.
“Kepala lo masih berat?” tanya Rakes.
Zack mengangguk pelan. “Iya. Kayak mimpi, tapi kebangun setengah.”
Rakes menghela napas pendek. Keputusan itu sudah ia ambil sejak awal. Tidak ada ruang untuk ragu. Semakin lama Zack berada dalam kondisi ambigu ini, semakin besar kemungkinan darah Kartaswiraga di tubuhnya bereaksi dengan cara yang tidak terkendali.
Ia mengangkat tangannya perlahan.
Gerakannya tidak agresif, tidak tergesa. Telapak tangannya mendekat ke wajah Zack, lalu menutup kedua mata pemuda itu dengan mantap namun tidak menyakitkan. Sentuhan itu hangat, stabil, dan disengaja.
“Tenang,” ucap Rakes pelan. “Ikutin napas lo.”
Zack sempat menegang, refleks, lalu perlahan tubuhnya melemas. “Lo ngapain…?”
Namun kalimat itu tidak selesai.
Begitu mata Zack tertutup, tekanan halus mengalir dari tangan Rakes, bukan sebagai kekuatan kasar, melainkan sebagai pemicu. Memori-memori yang selama ini tersembunyi, dikunci rapat demi keselamatan, merespons panggilan itu.
Bukan kenangan baru.
Melainkan kenangan lama—yang memang tidak pernah seharusnya ia ingat.
Fragmen demi fragmen bergerak di balik kesadaran Zack. Sumur tua dalam cahaya redup. Suara air yang beriak tanpa sebab. Sensasi dingin yang merambat dari tanah ke tulang. Sosok-sosok yang tidak pernah benar-benar ia lihat, hanya ia rasakan keberadaannya. Malam-malam ketika ia pulang dengan perasaan gelisah tanpa alasan. Mimpi-mimpi yang selalu berhenti tepat sebelum jawaban muncul.
Semua itu adalah memori yang pernah muncul ke permukaan—dan setiap kali pula, dihapus kembali oleh tangan yang sama.
Rakes berdiri tegak, fokusnya penuh. Ia tidak sekadar menekan ingatan; ia menyusunnya ulang. Memisahkan yang berbahaya dari yang aman, mengunci kembali fragmen-fragmen yang berpotensi membangkitkan kesadaran darah Kartaswiraga di dalam diri Zack. Setiap lapisan memori ditata dengan hati-hati, agar yang tersisa hanyalah narasi kosong yang bisa diterima pikiran manusia biasa.
Keringat tipis muncul di pelipis Rakes. Proses ini tidak pernah ringan. Menghapus memori bukan sekadar menghilangkan gambar; itu berarti menahan kemungkinan, menunda kebangkitan, dan menanggung konsekuensi jika suatu hari segel itu melemah.
Beberapa detik berlalu. Atau mungkin lebih lama.
Akhirnya, Rakes menarik tangannya perlahan.
Zack terhuyung sedikit, lalu membuka matanya. Pandangannya kosong sesaat, sebelum kembali fokus. Ia mengedipkan mata, menghela napas panjang.
“Anjir…” gumamnya. “Gue kenapa berdiri di sini?”
Rakes menangkap lengannya sebentar agar ia tetap seimbang. “Lo kecapekan,” jawabnya singkat. “Kepala lo drop.”
Zack mengangguk, menerima penjelasan itu tanpa perlawanan. “Masuk akal sih. Malam ini aneh.”
Ia menatap sekeliling, lalu mengernyit. “Saka di mana?”
“Udah duluan,” jawab Rakes. “Kita nyusul.”
Zack tidak bertanya lagi. Ia tidak merasakan kehilangan apa pun, tidak menyadari ruang kosong yang baru saja dikunci kembali di dalam dirinya. Yang tersisa hanyalah rasa lelah dan kesan samar bahwa malam ini seharusnya dilupakan.
Rakes menatapnya sesaat lebih lama setelah itu, memastikan segel bekerja dengan baik. Di balik ketenangannya, ia menyimpan satu kepastian yang tidak akan pernah ia ucapkan.
Setiap memori yang ia hapus dari Zack
bukan benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu.
Dan suatu hari nanti, jika segel itu retak, semua yang ditahan malam ini akan menuntut jawaban—dengan cara yang jauh lebih kejam.
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...