Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
"Jarak dari sekolah kita ke SMA negeri 14 itu lumayan jauh," ucap Nolan tanpa memperdulikan pacar adiknya yang murka.
"Gue tahu Kak, maka dari itu. Tadi gue biarin aja Qiara turun, gue mau ngejar pun gak mungkin. Karena hari ini hari ulang tahun Dila."
"Jadi kalau aku tidak ulang tahun. Sudah di pastikan kalau kamu itu akan bolos untuk mengejar perempuan yang bernama Qiara itu. Jahat kamu Noah ... Kamu jahat," ujar Dila dengan wajah sedih, ia terlihat bangkit dari tempat duduknya dan berlari ke arah lain.
Saat Noah ingin mengejar pacar nya. Langkah kakinya di hentikan oleh Natan yang tiba tiba datang ntah dari mana.
"Udah gak usah di kejar. Lo itu terlalu baik dan nurut sama pacar lo itu, makanya dia itu suka sewenang wenang sama lo," kata Natan sembari mencekal tangan adiknya.
"Tumben Kakak itu peduli sama perempuan selain Kinara. Bahkan semalam Kakak itu mabok hanya demi perempuan itu," sindir Natan pada Nolan.
"Udah lah Kak ... Qiara itu punya kaki. Ntar dia juga balik sendiri! Lagian dia kan juga hanya seorang babu di rumah kita," ucap Natan enteng.
"Dan lo Noah, saudara gue yang paling sabar dan juga lembek. Kita itu ganteng ... Kita itu kaya, gak ada kamus buat ngemis ngemis cinta sama seorang cewek. Udah lah, kalau di putusin sama Dila. Tinggal cari cewek lain saja, gue punya nomor cewek cantik itu banyak banget. Lo tinggal pilih!" tawar Natan.
"Udah gak usah di dengerin omongan play boy cap kadal ini. Lebih baik lo itu ngejar Dila. Biar gue yang pergi ke SMA negeri 14 buat cari Qiara," tawar Nolan pada Noah.
Noah tampak mengangguk ucapan Kakak pertama nya. Lalu ke dua nya pun pergi meninggalkan Natan sendirian di dalam kelasnya dan tidak menggubris ucapan Natan.
"Loh ... Loh ... Kalian berdua gue kasih tau fakta malah nggak percaya, ini gak masuk akal!" Natan tampak menepuk jidatnya sendiri.
"Kok laki-laki bisa selemah itu sih? Jadi budak perempuan aja, huh." Gerutu Natan.
Tiba-tiba ada seseorang yang merangkul bahu Natan. "Tan ... Lo nggak usah begitu, kita kan nggak tau apa yang ada di dalam pikiran kedua saudara kembar lo itu. Nanti kalau ucapan lo perihal jadi budak perempuan balik lagi ke lo, baru deh tahu rasa!"
"Itu nggak akan pernah mungkin terjadi! Karena gue nggak akan pernah jatuh cinta sama cewek selama hidup gue. Gue nggak mau hancur seperti bokap gue yang jadi lemah, setelah diselingkuhi sama nyokap gue." Sahut Natan kepada sahabatnya yang bernama Rasya.
Melihat kedua bola mata Natan yang memperlihatkan kesedihan, Rasya memilih untuk mengalihkan pembicaraannya ke arah lain. "Ya udah mendingan kita ke kantin aja, yok! Udah lapar nih!"
"Ayok ..." Natan pun mengikuti Rasya menuju kantin, meski dalam hatinya masih bergolak dengan perasaan marah dan sedih yang dia alami.
"Mengapa nasibku seperti ini? Apakah benar yang dikatakan Rasya tadi bahwa kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam pikiran orang lain?" gumamnya dalam hati.
***
Di rumah mewah para kembar.
Ke tiga orang kembar nampak menikmati indah nya sore hari di halaman belakang rumah mereka.
"Sudah sore ... Kok Qiara belum balik ya?" celetuk Noah sembari memandang wajah Kakak kembarnya secara bergantian.
"Katanya tadi Kak Nolan mencari Qiara ke SMA negeri 14," timpal Natan.
"Tadi gue kesana. Gue udah tanya tanya, gak ada yang lihat Qiara ..." sahut Nolan dengan wajah kecewa.
"Apa jangan jangan dia itu kabur dari sini. Karena dia itu malu akan kebodohannya ... Ha ha ha." Natan berbicara di iringi dengan suara tawa. Bahkan saking gelinya dirinya nampak terbahak bahak.
"Gue barusan liat di medsos. Ada kecelakaan tak jauh dari SMA negeri kota Awan. Dan saat mau lihat siapa nama korbannya. Gue malah dapat telepon dari Dila, tapi intinya kecelakaan itu melibatkan murid berseragam. Dan juga ada yang meninggal di tempat," ucap Noah yang mana membuat ke dua Kakak kembarnya Natan dan Nolan langsung menghentikan aktifitasnya.
Natan yang berenang lantas keluar dari kolam renang menghampiri adik bungsunya.
"Lo serius. Jangan jangan Qiara itu meninggal dunia!" Natan nampak menduga duga.
Tiba tiba suara telpon rumah nampak berdering.
Ke tiganya terlihat berjalan ke arah telepon rumah yang berada di ruang keluarga.
"Siapa kak?" tanya Natan penasaran, kala Nolan mengangkat telepon.
"Ayah ..." Sahut Nolan.
"Ayah bicara apa?" tanya Natan mulai heboh.
"Astaga ... Belum, kan baru di angkat," sahut Nolan pada Natan yang selalu berisik. Ia nampak menghembuskan nafas kasar.
Sementara Noah, hanya menunggu kakak nya itu berbicara.
"Apa ... ?" ucap Nolan syok.
"Apa... Apa... Kak..." ucap Natan dengan panik, sambil mengguncang-guncang tubuh kakaknya. Ia benar benar terlihat tidak sabar.
"Sttt... Diam, Kakak lagi mendengarkan penjelasan Ayah," tegur Noah yang mulai geram dengan tingkah laku Natan, sang kakak kembar.
"Qiara kecelakaan pagi tadi. Dia ditabrak truk tronton. Dan sekarang dia ada di Rumah Sakit Ken Saras," jelas Nolan dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan.
"Apa?" sahut Noah tak kalah terkejut.
"Apa...? Terus gimana? Dia masih hidup atau udah meninggal? Ya Tuhan, gue tak menyangka umurnya sependek itu, bahkan sangat pendek seperti tubuhnya. Padahal kemarin gue itu jahil banget ke dia, kalau dia sampai gentayangan gimana buat nuntut balas dendam sama gue?" celetuk Natan dengan wajah ketakutan, suaranya mulai tidak jelas.
Ucapan Natan barusan sungguh membuat Noah dan Nolan menjadi kesal.
"Adoh, kok kepala gue dijitak sih! Kan sakit!" protes Natan karena tadi kepala Natan mendapatkan pukulan dari Nolan.
"Bisa diem enggak? Brisiik!" ujar Nolan kesal.
"Udah, Kak... Enggak usah emosi. Lebih baik kita segera ke rumah sakit! Untuk melihat keadaan Qiara," ucap Noah yang berusaha menengahi situasi.
"Siapa tahu, Qiara mungkin sangat memerlukan kita saat ini. Semoga saja ini hanyalah sebuah cobaan yang bisa kita lalui bersama-sama." Di tengah rasa ketakutan dan keresahan, pikiran Noah mulai terisi oleh harapan yang hendak menguatkan hatinya.
**
Di rumah sakit Ken Saras.
Tiga orang laki laki yang berjalan beriringan nampak menjadi pusat perhatian orang yang ada di koridor rumah sakit. Mereka menjadi pusat perhatian karena ketampanan yang mereka miliki di tambah lagi mereka bertiga juga mempunyai postur tubuh yang lebih tinggi di bandingkan dengan orang orang di negara ini.
Karena mereka memiliki darah blasteran.
"Kalau begini, bukankah kita itu lebih seperti seorang artis atau selebgram terkenal," kata Natan dengan nada bangga.