NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

"Bakar saja kertas itu jika kau takut, tapi ketahuilah bahwa bau tinta ini tidak akan hilang hanya dengan memalingkan wajah."

Kantor desain baru itu masih tercium aroma cat yang segar dan wangi kain sutra yang baru saja datang. Alisha baru saja menata beberapa gulungan benang emas di sudut ruangan sebelum Damian datang dengan wajah yang sangat gelap. Ia mengambil kertas itu dengan ujung jari yang gemetar.

Di sana, tertempel huruf-huruf yang digunting dari majalah lama secara kasar. Isinya singkat namun sanggup menghentikan detak jantung siapapun yang membacanya.

“Arka tidak akan pernah melihat hari ulang tahunnya yang keenam,” lirih Alisha sambil mengeja baris maut tersebut.

“Ini adalah surat ketiga yang masuk ke sistem pusat Sagara dalam dua jam terakhir.” Damian berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke jalanan Jakarta.

“Mereka tidak mengirimkannya lewat pos resmi.”

“Lalu bagaimana kertas ini bisa ada di sini?” Alisha menjatuhkan kertas itu ke lantai.

“Studionya bahkan belum resmi dibuka untuk publik.”

“Seseorang meletakkannya langsung di meja sekretaris tanpa tertangkap satu pun kamera pengawas.”

Damian berbalik dengan tatapan yang penuh dengan kecurigaan.

“Artinya musuh kita tahu persis di mana titik buta keamanan Sagara.”

Alisha merasakan dingin merayapi punggungnya seperti es yang mencair. Ia menatap Damian yang kini tampak seperti singa yang terjebak dalam perangkap buatannya sendiri. Kecurigaan Alisha langsung tertuju pada satu nama yang selalu menghantui mimpinya belakangan ini. Nyonya Raina Sagara.

Namun, ia ragu apakah seorang nenek akan benar-benar mengancam nyawa cucunya sendiri hanya untuk mengusir sang ibu yang dianggap kasta rendah.

‘Kau akan melakukan apa sekarang?” tanya Alisha dengan nada mendesak.

“Aku sudah menetapkan protokol VVIP level tertinggi,” sahut Damian tegas. “Mulai detik ini, Arka tidak boleh melangkah satu inci pun tanpa dikawal oleh empat personel pasukan khusus.”

“Kau akan memenjarakan anakmu sendiri?” Alisha membelalak.

“Aku sedang menjaga agar putraku tetap bernafas!” balas Damian dengan suara yang meninggi.

“Seluruh staf rumah tangga di kediaman Sagara akan menjalani pemeriksaan intensif. Aku tidak akan mempercayai siapapun saat ini.”

Hari-hari berikutnya berubah menjadi neraka yang berlapis emas bagi Alisha dan Arka.

Arka tidak lagi diperbolehkan bermain di taman luas mansion Sagara. Setiap makanan yang masuk ke piringnya harus melalui uji sensor oleh tim medis khusus. Alisha merasa seperti narapidana di kantor desainnya sendiri. Para pengawal berdiri tegak di depan pintu studionya seolah-olah ia sedang menyimpan rahasia negara.

Ketegangan di mansion Sagara mencapai puncaknya saat Damian mulai memecat staf satu per satu. Suasana rumah menjadi sunyi dan sangat mencekam. Para pelayan bekerja dengan kepala tertunduk karena takut salah bicara sedikit saja.

Alisha melihat Damian semakin sering mengurung diri di ruang monitor. Damian menatap ratusan layar yang menampilkan setiap sudut kehidupan mereka tanpa henti.

“Kau sedang menjadi monster yang lebih buruk dari ibumu, Damian,” ujar Alisha suatu malam.

Damian tidak menoleh dari layar monitornya. “Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan seorang ayah.”

“Kau tidak sedang menjadi ayah.”

Alisha melangkah masuk ke ruang monitor. “Kau sedang menjadi tiran yang ketakutan.”

“Kau tidak mengerti beratnya beban ini, Alisha!” Damian memukul meja hingga suara dentuman menggema di ruangan itu.

“Seseorang ingin menghapus garis keturunan Sagara!”

Konflik batin mulai menggerogoti pikiran Alisha setiap malam. Ia curiga bahwa semua ancaman ini adalah skenario besar untuk mengendalikan dirinya. Mungkin Raina ingin membuktikan bahwa Alisha hanya membawa nasib buruk bagi keluarga Sagara. Atau mungkin, ini adalah taktik Damian sendiri untuk memastikan Alisha tidak akan pernah berani melangkah keluar dari zona perlindungannya.

Dua hari kemudian, Arka merayu ayahnya untuk mengizinkannya pergi ke Museum Nasional. Ia bilang ia butuh melihat artefak asli untuk tugas sekolahnya. Damian awalnya menolak keras permintaan itu.

Namun melihat wajah putranya yang mulai pucat karena terkurung selama satu minggu, ia akhirnya menyerah. Damian mengirimkan delapan pengawal bersenjata lengkap untuk menjaga bocah itu.

Alisha ikut serta dalam rombongan itu agar Arka merasa lebih nyaman. Ia memegang tangan Arka dengan sangat erat sejak turun dari mobil. Suasana museum yang luas dan sunyi terasa sangat menekan bagi Alisha. Arka berjalan di antara arca-arca batu tua dengan ekspresi yang sangat datar. Ia tampak sedang mempelajari setiap detail pahatan kuno itu. Namun matanya terus melirik ke arah para pengawal yang berdiri di setiap sudut ruangan.

“Ibu, aku ingin melihat koleksi perhiasan emas di lantai atas,” ujar Arka pelan.

“Baiklah, Sayang. Ayo kita ke sana,” ajak Alisha.

Mereka naik ke lantai atas diikuti oleh empat pengawal yang sangat sigap. Saat sedang melewati lorong yang penuh dengan bayangan arca besar, sebuah alarm kebakaran tiba-tiba berbunyi. Suaranya sangat nyaring dan memekakkan telinga. Sistem penyemprot air otomatis langsung menyala di seluruh ruangan. Hal itu menciptakan kabut air yang sangat tebal di dalam ruangan yang luas itu.

“Tutup mata dan jangan lepaskan tanganku, Arka!” teriak Alisha di tengah kekacauan suara alarm.

Para pengawal segera merapat membentuk lingkaran pelindung di sekitar mereka. Namun dalam hitungan detik, kabut air itu berubah menjadi asap putih yang menyengat mata. Alisha merasakan sebuah tarikan kuat pada tangannya secara mendadak. Pegangan tangan Arka yang mungil terlepas begitu saja dari jemarinya.

“Arka! Arka! Dimana kau!” Alisha berteriak histeris.

Ia mencoba mencari dalam kegelapan dan asap tebal itu. Alisha hanya menabrak tubuh para pengawal yang juga tampak sangat kebingungan. Suara radio komunikasi mereka berderak kencang dengan nada panik. Semua pintu keluar otomatis terkunci karena sistem yang diretas secara mendadak.

“Cari dia sekarang juga! Cari putraku!” suara Damian terdengar dari speaker pengeras suara museum yang disabotase.

Alisha berlari membabi buta ke arah lorong belakang yang gelap. Jantungnya berdegup hingga ke tenggorokan. Ia tidak memperdulikan rasa sakit di kakinya yang tersandung ujung meja pajangan. Ia terus memanggil nama Arka hingga suaranya serak dan hilang.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, ia melihat sebuah bayangan kecil di ujung ruang pameran prasejarah yang terpencil.

Arka sedang berdiri mematung di dekat patung batu besar yang menyeramkan. Ia tidak menangis sama sekali. Ia juga tidak berteriak meminta tolong. Namun yang membuat jantung Alisha seolah berhenti berdetak adalah pemandangan di samping bocah itu.

Seorang pria jangkung yang mengenakan tudung hitam sedang memegang tangan Arka dengan sangat erat. Pria itu tidak membawa senjata api di tangannya. Namun kehadirannya terasa lebih mematikan daripada moncong senapan manapun yang pernah Alisha lihat.

“Lepaskan anakku!” Alisha berteriak sambil berlari mendekat.

Pria itu menoleh perlahan ke arah Alisha. Wajahnya tertutup sempurna oleh bayangan tudung hitam itu.

Alisha hanya bisa melihat sebuah bekas luka yang panjang di sepanjang rahang bawahnya. Pria itu menunduk ke arah Arka dan membisikkan sesuatu tepat di telinga bocah itu. Arka hanya bisa mengangguk dengan wajah yang sangat pucat pasi.

Pria itu kemudian menatap Alisha selama satu detik yang sangat panjang dan dingin. Ia melepaskan tangan Arka dengan gerakan yang sangat halus. Pria misterius itu menghilang ke dalam pintu darurat tepat saat para pengawal tiba di lokasi kejadian.

“Arka!” Alisha langsung memeluk putranya dan menjatuhkan diri ke lantai marmer yang dingin.

Arka tetap diam membisu dalam pelukan ibunya. Tubuh kecilnya terasa sangat dingin seperti es. Damian tiba beberapa menit kemudian dengan wajah yang sangat hancur dan penuh kemarahan. Ia langsung berlutut dan memeriksa seluruh tubuh Arka dengan teliti.

“Apa dia melukaimu, Arka?” tanya Damian dengan suara yang bergetar hebat. “Katakan pada Ayah sekarang juga, siapa dia!”

Arka mendongak perlahan. Matanya menatap Damian dengan pandangan yang sangat sulit dijelaskan. Ia tampak seperti baru saja melihat sebuah hantu yang bangkit dari masa depan. Alisha bisa merasakan tubuh Arka masih gemetar dalam dekapannya.

“Dia tidak menyakitiku secara fisik, Ayah,” ujar Arka dengan suara yang sangat pelan.

“Apa yang dia katakan padamu?” desak Damian sambil mengguncang bahu putranya.

Arka menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Ia menatap ayahnya tepat di manik matanya.

“Dia bilang. Sampaikan salamku pada ayahmu dari masa lalu yang ia kubur.”

Damian membeku seketika. Genggamannya pada bahu Arka perlahan mengendur.

“Dia juga bilang, tanah yang Ayah injak sekarang dibangun di atas tulang belulang yang belum selesai dihitung,” lanjut Arka.

Wajah Damian yang biasanya sombong kini tampak pucat pasi seperti mayat. Ia seolah-olah baru saja mendengar sebuah kutukan yang sudah lama ia lupakan di masa mudanya. Damian terdiam cukup lama sambil menatap kosong ke arah patung batu di depan mereka.

Alisha menatap Damian dengan penuh tanya dan ketakutan yang mendalam. “Damian? Siapa pria itu sebenarnya? Masa lalu apa yang dia bicarakan kepada anak kita”

Damian tidak menjawab pertanyaan Alisha. Ia hanya menatap lantai dengan tatapan yang kosong dan hampa. Ia menyadari bahwa ancaman ini jauh lebih besar daripada sekadar surat kaleng dari ibunya. Ada hantu yang lebih besar yang baru saja bangkit dari liang lahatnya untuk menagih janji lama.

“Kita harus pergi dari tempat ini sekarang juga,” bisik Damian akhirnya.

Damian menggendong Arka dengan sangat posesif dan kuat. Ia tidak membiarkan pengawal mana pun mendekat untuk menyentuh putranya. Alisha mengikuti dari belakang dengan perasaan yang sangat hancur. Ia menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam babak yang lebih gelap dari kehidupan keluarga Sagara.

Rahasia yang selama ini disembunyikan Damian kini mulai merangkak keluar.

Di dalam mobil yang melaju kencang, Arka tidak melepaskan pandangannya dari jendela luar. Ia meraba pergelangan tangannya yang tadi dipegang oleh pria misterius itu. Ada sebuah benda kecil yang tersemat di ujung lengan bajunya secara diam-diam. Itu adalah sebuah chip kecil yang pria itu selipkan tanpa diketahui oleh siapapun di sana.

“Permainan ini menjadi sangat berbahaya, Ayah,” gumam Arka dalam hati kecilnya.

1
Diana_Restu
ceritanya seru sekarang mulai satset ga terlalu muter.makasih author.love sekebon🥰
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
Lianty Itha Olivia: ya bgtu baguslah Thor keluar dari zona yg semakin rumit dan bikin pusing 💪💪
total 2 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!