NovelToon NovelToon
Mawar Di Jalan Bunga

Mawar Di Jalan Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Lari Saat Hamil / Beda Usia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.

Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Gelap

Pernikahan kilat yang lebih mirip dengan upacara penyerahan tawanan itu berakhir saat matahari mulai meninggi. Kelelahan fisik yang luar biasa akibat hantaman tinju Om Arman akhirnya meruntuhkan pertahanan Arlan. Ia terlelap di kamar Gisel sebuah ruangan yang kini secara agama menjadi kamar pengantinnya.

Sebelum kantuk benar-benar menjemputnya, Arlan sempat terduduk di tepi kasur. Gisel, dengan ketelatenan yang sunyi, membantunya mengoleskan obat merah pada lebam-lebam yang mulai menghitam di punggung dan rahangnya. Arlan meringis, menahan perih yang menyengat setiap kali jemari dingin Gisel menyentuh kulitnya yang meradang.

"Bagaimana menurutmu tentang pernikahan ini, Gisel?" tanya Arlan pelan, suaranya parau.

Gisel menghentikan gerakan tangannya sejenak. Matanya menatap botol salepdi tangannya, seolah mencari jawaban di sana.

"Tidak tahu," jawabnya jujur.

"Semuanya terjadi begitu cepat, sampai aku tidak sempat merasa sedih atau senang."

Bagi Gisel, pernikahan ini adalah paradoks. Di satu sisi, ini adalah paksaan yang merenggut haknya untuk memilih masa depan dan cinta. Di sisi lain, ini adalah satu-satunya sekoci penyelamat yang bisa membawanya keluar dari pusaran lumpur Jalan Bunga sebelum ia tenggelam selamanya.

Gisel hanya bisa berdoa dalam hati, berharap keputusan ini adalah berkah yang menyamar, bukan permulaan dari bencana yang lebih besar.

"Gisel, dengarkan aku," Arlan memutar tubuhnya meski pinggangnya terasa kaku.

"Meski aku tidak bisa menjanjikan cinta dalam pernikahan ini, setidaknya tidak sekarang. Aku akan tetap memenuhi tanggung jawabku sebagai suami. Tawaran pendidikan dan kehidupan layak yang kubicarakan sebelumnya tetap berlaku. Bahkan, aku akan mengusahakan apa pun yang kau inginkan sebagai kompensasi atas kebebasanmu yang terenggut." Gisel menatap Arlan dengan tatapan datar yang sulit diartikan.

"Kenapa Om tidak menceraikanku saja nanti?" Arlan seketika tertegun.

Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan Om Arman.

"Maksudmu?"

"Setelah kita keluar dari sini, jika Om menceraikanku tapi tetap menjamin kehidupanku di tempat lain, Om Arman belum tentu tahu, kan?" jelas Gisel dengan nada santai, seolah perceraian hanyalah sekadar membatalkan kontrak kerja.

Arlan terdiam cukup lama. Ia heran bagaimana seorang gadis belia bisa membicarakan kegagalan rumah tangga dengan begitu ringan.

Di dunianya, perceraian mungkin bukan aib besar bagi laki-laki, namun bagi perempuan apalagi yang masih belia seperti Gisel, status janda akan menjadi beban sosial yang berat, di tambah dengan stigma "tidak becus" yang kerap disematkan masyarakat pada perempuan yang gagal dalam pernikahan.

"Perceraian tidak ada dalam kamusku, Gisel. Aku dibesarkan untuk menjaga apa yang sudah kumulai," jawab Arlan tegas.

"Tapi, jika suatu saat kamu yang menginginkannya karena merasa tidak bahagia bersamaku, aku akan mengabulkannya."

Setelah kalimat itu, hening menyelimuti. Arlan merebahkan tubuhnya yang remuk, sementara Gisel membereskan kotak obat. Tak butuh waktu lama bagi Arlan untuk terhanyut dalam tidur yang dalam, dikelilingi oleh aroma harum sabun Gisel yang menempel di bantal lusuh itu.

Arlan terbangun tepat sebelum hiruk-pikuk Jalan Bunga dimulai. Tubuhnya terasa sedikit lebih ringan, meski setiap persendiannya masih protes saat digerakkan. Ia mulai memperhatikan sekeliling. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar melihat "dunia" Gisel.

Kamar itu sangat sempit, mungkin hanya berukuran 2x2,5 meter. Sebuah kasur single tanpa ranjang tergeletak di lantai, lemari kayu satu pintu yang sudah agak lapuk berdiri di pojokan, gantungan tas dan pakaian yang tersusun rapi, sebuah kursi dan meja belajar yang penuh dengan buku-buku pelajaran sekolah.

Arlan membayangkan Gisel tumbuh besar di ruangan pengap ini. Menghabiskan malam-malam panjang dengan suara bising musik liar di ujung gang dan teriakan. Bagaimana dia bisa menjaga kewarasannya di sini? pikir Arlan miris.

Pintu terbuka sedikit. Gisel masuk membawa nampan berisi sepiringmakanan.

"Om sudah bangun?"

"Hmmm... sudah," Arlan mencoba duduk.

"Terima kasih, Gisel."

"Makanlah, Om. Selagi masih hangat," ucap Gisel singkat sebelum kembali meninggalkan kamar untuk bergabung makan malam bersama sepupunya di meja makan utama.

Sementara itu, di kamar utama yang terletak di bagian depan rumah, atmosfer terasa jauh lebih berat. Tante Ira duduk di meja rias, menatap suaminya yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memegangi sesuatu yang ia simpan rapat di balik telapak tangannya.

"Mereka sudah menikah, Man. Apakah kamu benar-benar perlu menggunakannya?" tanya Tante Ira dengan nada khawatir yang jarang ia perlihatkan.

Om Arman menggenggam erat barang itu, sebuah bungkusan kecil berisi serbuk yang ia dapatkan dari kenalannya di dunia gelap.

"Hatiku masih tidak tenang, Ra. Laki-laki bank itu terlalu lemah. Aku khawatir begitu dia keluar dari wilayahku, dia akan mengabaikan Gisel atau memperlakukannya hanya sebagai pembantu bagi anaknya. Aku butuh ikatan yang tidak bisa dia bantah."

"Apa kamu tidak akan menyesal?" Tante Ira melangkah mendekat.

"Menyesal karena bunga mawar yang selama ini kamu jaga dengan segenap jiwa dan raga, akhirnya kamu hancurkan sendiri mahkotanya dengan tanganmu?" imbuhnya.

Om Arman tersentak. Pertanyaan istrinya menghujam tepat di jantungnya. Ia tahu apa konsekuensi dari rencananya. Ia tahu bahwa ia akan merenggut sesuatu yang selama ini ia lindungi dengan nyawanya.

"Jika itu kemarin, mungkin aku akan menyesal sampai mati," geram Arman, suaranya bergetar.

"Tapi malam ini, aku tidak punya pilihan. Sanjaya tidak akan berhenti mengejar. Jika Gisel tidak 'terikat' sepenuhnya secara fisik dengan laki-laki itu malam ini, laki-laki bank itu mungkin akan goyah saat menghadapi tekanan keluarganya nanti. Aku hanya ingin kebaikannya."

"Apakah Gisel juga akan berpikir itu demi kebaikannya? Dan apakah Arlan tidak akan menyalahkan Gisel?" tanya Tante Ira pedas.

Om Arman tidak menjawab. Nuraninya bergejolak, menciptakan badai di dalam pikirannya. Namun, bayangan anak buah Aldi Sanjaya yang akan menyeret Gisel ke ranjang para pejabat membuat tekadnya membatu kembali. Ia mengabaikan istrinya dan melangkah keluar menuju dapur.

Di dapur, makan malam berlangsung dalam kesunyian yang ganjil. Reyhan, yang masih polos, lahap memakan lauknya tanpa menyadari drama besar yang sedang bergulir. Fajri terlihat sangat hati-hati karena merasakan atmosfer sang ayah yang menekan.

Setelah Gisel pamit ke kamar lebih dulu, Om Arman membuka kulkas, mengambil air dingin, dan menuangkannya ke dalam dua gelas. Dengan gerakan kilat yang terlatih, ia memasukkan serbuk tersebut ke dalam gelas-gelas itu. Serbuk yang akan memastikan bahwa malam ini, tidak ada jalan kembali bagi Arlan maupun Gisel.

"Aku juga haus, Yah," rengek Reyhan sambil menyodorkan tangannya.

"Ambil gelas baru," tegas Om Arman.

"Ini... antarkan untuk Kakak Gisel dan suaminya di kamar.” Reyhan menurut.

Ia membawa nampan kecil berisi dua gelas air dingin itu menuju kamar Gisel. Om Arman berdiri di kegelapan dapur, memperhatikan punggung putranya yang menjauh. Matanya mendadak sendu, air muka kerasnya luruh sesaat.

“Maafkan Om, Gisel. Maafkan pamanmu yang berdosa ini,”batinnya perih.

Ia tahu, setelah gelas-gelas itu tandas, mawar Jalan Bunga miliknya akan kehilangan mahkotanya, namun ia berharap, di bawah perlindungan Arlan, mawar itu setidaknya akan tetap hidup meski akarnya telah tercabut dari sini.

Ia menunggu sampai mendengar suara pintu kamar Gisel tertutup. Om Arman mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kukunya memutih, menunggu waktu bekerja untuk menghancurkan apa yang selama ini ia jaga, demi sebuah keselamatan yang pahit.

1
Ai Umana sari
ikan cucut, Lanjut🌻
Suci Maulana
bagus banget plisss update truss😍😍😍
Meymei: diusahakan up 1 bab setiap hari kak 🙏🥰
total 1 replies
snow Dzero
selamat menjalankan ibadah puasa
snow Dzero
bagus dan menarik
snow Dzero
semangat Thor cerita nya bagus
snow Dzero
awalan cerita yang menarik,semoga penulisan dan karakter setiap peran konsisten 💪
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meymei: belum sanggup kek nya kak 🤭
total 1 replies
indy
Rumit juga masa lalu Arlan. Ternyata Keira bukan anaknya Arlan.
indy
sempat bingung kakak😄
Meymei: maaf ya kak🤭entahlah ini sistemnya 😅
total 1 replies
dini Risayatmi
assalamualaikum kak,
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏
Meymei: iya kak, maaf ya saya revisi 🙏
total 1 replies
indy
wah nggantung😄
indy
kasihan gisel
Meymei: iya kak, author jg gak tega
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
fakta bgt emang kalo yg ekonominya bagus selalu di bela tanpa memilah dlu mana yg benar mana yg salah
𝐈𝐬𝐭𝐲
aku mampir thor...
indy
hadir kakak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!