NovelToon NovelToon
Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pelakor / CEO / Hamil di luar nikah / Dark Romance / Balas Dendam
Popularitas:67
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Simfoni Sang Diktator

Raungan alarm keamanan yang memekakkan telinga di seluruh Villa Samudera seolah menjadi musik pengiring bagi kehancuran Hana Sato. Pintu kamar Hana digedor dengan brutal. Kenzo Matsuda, yang tadinya santai, kini berdiri di lorong dengan tatapan mata sedingin baja. Di belakangnya, beberapa penjaga berseragam hitam sudah siap siaga.

Hana tidak melawan. Ia membuka pintu dengan tenang, topeng kepatuhan yang ia kenakan kini menjadi bagian dari strategi bertahan hidupnya. Kenzo menatapnya, tidak dengan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan kekecewaan yang dingin dan terukur—seperti seorang hakim yang kecewa pada terdakwa yang melanggar masa percobaannya.

"Kau mengecewakanku, Hana," suara Kenzo datar, tanpa emosi. "Kau melanggar kepercayaan yang kuberikan. Kebebasan kecil yang kau inginkan kau balas dengan pengkhianatan."

Tangan Kenzo bergerak cepat, merampas flashdisk kecil yang masih digenggam Hana. Ia menatap benda mungil itu sejenak, lalu tanpa ragu, ia menginjaknya dengan sepatu pantofel mahalnya. Crack. Flashdisk itu hancur berkeping-keping di lantai marmer, bukti berharga itu lenyap dalam sekejap.

"Di mana Mari?" tanya Hana, suaranya sedikit bergetar.

Kenzo tersenyum tipis, sebuah senyuman predator. "Pelayan itu sudah 'diurus'. Dia kembali ke fasilitas bawah tanah di mana dia seharusnya berada. Di sini, tidak ada tempat untuk pembangkang, Hana. Dan tidak ada tempat untuk sekutu rahasia."

Ketegangan itu membekas, membuat pembaca merasakan kekesalan mendalam karena sekutu pertama Hana telah disingkirkan dengan mudah. Kenzo meraih tangan Hana dan menyeretnya bukan ke kamar tidur, melainkan ke sebuah ruangan yang belum pernah Hana lihat sebelumnya—ruang medis.

❤️❤️❤️

Ruang medis itu steril, dingin, dan berbau tajam antiseptik. Di tengah ruangan, sebuah kursi medis terbuat dari baja mengilat menunggu. Kenzo mengikat tangan Hana ke sandaran kursi dengan sabuk pengaman kulit, memastikan Hana tidak bisa bergerak

"Aku melakukan ini bukan untuk menyakitimu," bisik Kenzo, memasang jarum infus ke lengan Hana. "Tapi untuk memastikan kau fokus pada tugas muliamu."

Di depan Hana, sebuah layar monitor besar menyala, menunjukkan citra janin di rahimnya. Kenzo menyalakan mesin USG 4D terbaru. Gel dingin dioleskan ke perut Hana, dan suara detak jantung janin yang cepat dan kuat memenuhi ruangan.

"Lihat dia, Hana," perintah Kenzo. "Dia adalah tujuan dari semua ini. Puncak dari obsesiku selama tiga puluh tujuh tahun. Dia adalah bukti tujuanku yang lebih besar, rencana yang tidak akan pernah kau pahami dengan pikiran kotormu tentang kebebasan."

Kenzo berbicara dengan nada posesif, seolah Hana hanyalah wadah untuk tujuannya. "Kau hanya bejana yang kebetulan membawa anugerah ini, Hana. Jangan mengotori proses suci ini dengan pikiran konyolmu untuk melarikan diri."

Hana menatap layar itu, air mata mengalir di pipinya, bukan karena takut pada Kenzo, tetapi karena jijik melihat bagaimana Kenzo terobsesi dengan janinnya, menganggapnya sebagai alat untuk kekuasaannya.

❤️❤️❤️

Setelah sesi medis yang dingin dan menegangkan, Kenzo membawa Hana kembali ke kamarnya. Di tengah kamar, sebuah perapian menyala, dan di sampingnya, sebuah koper usang milik Hana dari Tokyo tergeletak.

"Hana Sato sudah mati di Tokyo," ucap Kenzo, mengambil paspor Hana dari dalam koper. Ia melemparkannya ke dalam api. Kertas paspor itu terbakar dengan cepat, identitas Hana lenyap dalam sekejap.

Kenzo mulai melemparkan barang-barang lain: seragam sekolah Hana, beberapa foto teman-temannya. Hana mencoba berteriak, namun Kenzo hanya menatapnya dengan tatapan kosong dan kejam.

"Kenangan hanya akan membuatmu lemah, Hana. Masa lalumu adalah beban, dan aku baru saja menghapusnya."

"Kau iblis!" teriak Hana.

"Aku adalah takdir," jawab Kenzo dingin. "Mulai sekarang, ingatanmu hanya boleh berisi tentang kewajibanmu sebagai ibu dari pewaris Matsuda yang baru. Kau adalah bagian dari rencanaku yang besar, dan aku tidak mengizinkan gangguan."

Setiap barang yang terbakar adalah sebuah pernyataan kekuasaan bagi Kenzo, namun sebuah siksaan bagi Hana. Pembaca akan merasakan kemarahan yang mendalam melihat betapa kejamnya Kenzo menghapus eksistensi Hana secara sistematis.

❤️❤️❤️

Malam itu, pintu kamar Hana tidak hanya terkunci. Kenzo memerintahkan anak buahnya untuk memasang jeruji besi tambahan di sisi luar pintu dan jendela, menyegel Hana di dalam "sangkar emas" yang kini terasa lebih seperti penjara.

Hana duduk di lantai, menatap abu dingin bekas barang-barangnya. Keputusasaan hampir merenggut akal sehatnya. Namun, saat ia meraba lipatan gaun yang ia kenakan tadi siang saat di ruang arsip, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang keras.

Sebuah kunci akses emas. Dia berhasil mencurinya saat adegan tadi siang tanpa Kenzo sadari. Kunci yang kemungkinan besar menuju fasilitas bawah tanah.

"Kau meremehkan ketidakpatuhan, Kenzo," bisik Hana pada kesunyian ruangan. "Kau lupa bahwa rencana terindah pun bisa hancur karena satu tindakan yang tak terduga."

Hana tersenyum, senyum dingin Rena Sato yang asli. Pintu kamarnya terkunci, dunianya lenyap, namun di tangannya, ia memegang kunci menuju kesempatan untuk melawan Kenzo Matsuda.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!