NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab spesial akhir : Warisan di jemari kecil

​Waktu di pesisir tidak hanya mengubah garis pantai yang terus tergerus ombak, tapi juga mengubah cara kami memaknai arti sebuah peninggalan. Lima tahun telah berlalu sejak tangisan pertama Fajar memecah kesunyian subuh di rumah ini. Kini, rumah kami tidak lagi hanya dipenuhi oleh aroma kopi dan bau cairan kimia film, melainkan oleh keriuhan langkah kaki kecil yang selalu ingin tahu tentang isi dunia.

​Sore itu, cahaya matahari jatuh dengan warna madu yang kental, menyelinap di antara celah rak buku kayu yang kini semakin padat. Fajar Samudra Langit, putra kami yang memiliki mata setajam elang milik ayahnya namun dengan tutur kata selembut fajar, sedang duduk bersila di atas meja kayu jati bekas kapal nelayan itu. Meja itu kini tidak lagi bersih; ada noda cat air, bekas rautan pensil, dan jejak-jejak kreativitas yang berantakan di atasnya.

​Di tangan kirinya, ia memegang sebuah buku tulis kecil bersampul kumal. Di tangan kanannya, ia memegang kamera analog Nikon tua milik Biru—kamera yang dulu digunakan ayahnya untuk memotret hiruk-pikuk Jakarta sebelum akhirnya dipensiunkan di desa ini.

​"Ibu, kenapa Ayah selalu bilang kalau setiap orang punya warna yang berbeda di matanya?" tanya Fajar tanpa menoleh. Ia sedang berusaha memutar dial fokus di lensa kamera itu dengan jemari kecilnya yang belum sepenuhnya kokoh.

​Aku meletakkan pena, menghentikan draf esai yang sedang kutulis. Aku mendekat, merapikan rambutnya yang sedikit pirang dan kasar karena terlalu sering bermain di bawah terik matahari pantai. "Karena setiap orang membawa ceritanya masing-masing, Sayang. Ayah ingin Fajar tidak hanya melihat wajah mereka, tapi juga merasakan apa yang mereka rasakan."

​Biru muncul dari arah dapur, membawa tiga potong semangka dingin. Ia berhenti di ambang pintu, menatap putra kecilnya dengan binar bangga yang tidak pernah bisa ia sembunyikan. Sosok Biru kini jauh dari kesan pria kota yang kaku; kulitnya sudah sewarna tembaga, dan senyumnya jauh lebih tulus daripada saat ia masih mengenakan jas ribuan dollar.

​"Jagoan, jangan cuma diputar-putar lensanya," sahut Biru sambil mendekat. Ia duduk di kursi kayu di samping Fajar. "Coba lihat ke arah pagar galeri kita. Apa yang kamu lihat di sana?"

​Fajar memicingkan satu matanya ke arah jendela, membidik pagar kayu yang masih setia memajang foto-foto warga desa. "Fajar lihat Pak Darma sedang tertawa bersama cucunya, yah. Tapi... Pak Darma kelihatan lebih kurus dari yang ada di foto lama Ayah."

​Biru mengangguk perlahan. "Itulah gunanya kamera ini, Fajar. Dia menangkap waktu yang tidak bisa kembali. Tapi, apa yang akan kamu lakukan dengan foto itu?"

​Fajar terdiam sejenak. Ia meletakkan kamera itu, lalu mengambil buku tulisnya. Dengan gerakan yang penuh kesungguhan, ia menuliskan beberapa baris kalimat dengan huruf-huruf yang masih miring dan berukuran tidak rata. Aku mengintip dari balik bahunya, dan jantungku seolah berhenti berdetak saat membaca apa yang ia tulis:

​"Pak Darma sudah tua, tapi tawanya masih muda. Laut mungkin ambil banyak ikan darinya, tapi laut tidak bisa ambil senyumnya. Ayah potret mukanya, Fajar tulis hatinya."

​Aku merasakan mataku memanas. Ia bukan hanya perpaduan fisik kami berdua. Ia adalah rekonsiliasi dari dua bakat yang pernah tersesat di rimba beton Jakarta. Ia menangkap visual dengan ketajaman ayahnya, namun ia memberi "nyawa" dan struktur perasaan melalui kata-kata yang ia serap dariku.

​"Ayo, Ayah! Kita ke dermaga!" ajak Fajar tiba-tiba. Ia menyampirkan tali kamera itu di lehernya—tampak terlalu besar untuk tubuh kecilnya, namun ia membawanya dengan penuh martabat. "Fajar mau potret ombak yang pecah, terus Fajar mau tulis kalau ombak itu seperti suara tepuk tangan buat para nelayan."

​Biru tertawa, sebuah tawa yang meledak penuh syukur. Ia menggendong Fajar di pundaknya, membawa kamera dan buku tulis itu bersamanya. Aku mengikuti mereka dari belakang, berjalan menuju pantai saat matahari mulai menyentuh garis cakrawala.

​Di tepi dermaga tua, tempat kami dulu mengubur botol berisi surat masa depan, kami berdiri bertiga. Biru membiarkan Fajar mengambil alih kendali, memandu jemari kecil itu untuk menekan tombol shutter pada momen yang tepat. Sementara itu, aku duduk di samping mereka, mencatat dalam hati betapa sempurnanya lingkaran kehidupan ini.

​Dulu, kami melarikan diri karena takut akan masa lalu. Kami pikir kami hanyalah sisa-sisa manusia yang hancur. Namun ternyata, dari reruntuhan ego di Jakarta, kami berhasil membangun sebuah kuil kedamaian di pesisir ini. Fajar adalah puncaknya—dia adalah mahakarya yang tidak akan pernah bisa dinilai dengan angka.

​Matahari akhirnya tenggelam, meninggalkan semburat warna ungu dan emas yang magis di langit. Fajar sudah tertidur di pangkuan Biru, kelelahan setelah "bekerja" seharian dengan kamera dan buku tulisnya.

​"Kita sudah selesai mencari, ya, Na?" bisik Biru, suaranya nyaris tenggelam oleh deru ombak, namun terasa sangat mantap.

​Aku menggenggam tangannya, merasakan kehangatan yang sama sejak pertama kali kami memutuskan untuk menetap di sini. "Ya, Biru. Kita tidak perlu lagi berlari. Fajar sudah terbit, dan musim dingin kita sudah benar-benar usai."

​Di bawah langit yang bertabur bintang, di sebuah desa pesisir yang tidak pernah ada di peta kemewahan dunia, Aruna dan Biru akhirnya benar-benar pulang. Mereka tidak lagi memiliki nama yang besar, tapi mereka memiliki cinta yang tak terbatas. Dan di tangan putra mereka, kamera dan kata-kata itu akan terus bercerita—bahwa sukses sesungguhnya adalah ketika kamu berani menjadi diri sendiri, di tempat di mana hatimu merasa paling aman.

​TAMAT.

Ini terakhir dan benar-benar tamat, rasanya masih ingin menuliskan cerita mereka, tapi aku takut jika membuat kalian bosan.

Baca cerita yang lain ya...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!