Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.
Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.
Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.
Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.
Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Jalan Kematian yang Sunyi
Saluran Pembuangan Sektor 13 (Area Kumuh). Pukul 15:00 Sore.
Suara besi berkarat berdecit memilukan saat Jay mendorong penutup gorong-gorong dari bawah. Sinar matahari sore yang suram menerobos masuk, menyilaukan mata mereka yang sudah terbiasa dengan kegelapan terowongan selama tiga jam terakhir.
Jay naik lebih dulu, memindai area dengan pistol Sig Sauer teracung.
Aman. Atau setidaknya, terlihat aman.
"Naiklah," bisik Jay, mengulurkan tangan ke bawah.
Angeline muncul, wajahnya cemong oleh debu dan lumpur, gaun mahalnya kini kotor dan robek. Namun, tidak ada keluhan dari bibirnya. Ia menyambut tangan suaminya dan memanjat keluar. Leon menyusul di belakang, menutup kembali lubang itu.
Mereka berada di gang sempit di antara gudang-gudang tua di pinggiran kota. Bau sampah busuk dan limbah kimia menyengat hidung.
"Kita di mana?" tanya Angeline, mengatur napasnya yang berat.
"Sektor 13. Zona abu-abu," jawab Jay. "Di sini hukum tidak berlaku bahkan sebelum kudeta terjadi."
Jay menajamkan pendengarannya. Seharusnya, area ini dijaga ketat oleh blokade lapis kedua pasukan Victor Han untuk mencegah pelarian dari bukit. Seharusnya ada suara deru mesin diesel Humvee, teriakan perintah, atau setidaknya suara sepatu bot tentara.
Tapi yang terdengar hanyalah... angin.
Keheningan ini tidak wajar.
"Leon, formasi berlian. Lindungi Nyonya," perintah Jay dengan suara rendah. "Ada yang salah."
Mereka bergerak menyusuri gang menuju jalan utama. Semakin dekat ke persimpangan, semakin kuat firasat buruk Jay.
Pos Pemeriksaan Blokade Sektor 13.
Pemandangan di jalan utama membuat langkah Angeline terhenti. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan jeritan.
"Ya Tuhan..." bisiknya horor.
Di depan mereka, sebuah pos pemeriksaan militer yang lengkap dengan barikade beton dan senapan mesin berat terlihat utuh. Tidak ada tanda-tanda pertempuran. Tidak ada lubang peluru. Tidak ada bekas ledakan.
Namun, seluruh personil penjaganya sekitar dua belas tentara Red Wolves Vostok tergeletak di tanah.
Mati.
Mereka mati dalam posisi yang aneh. Ada yang sedang duduk memegang cangkir kopi, ada yang sedang berdiri bersandar di mobil, ada yang tersungkur di tengah jalan. Seolah-olah nyawa mereka dicabut serentak dalam satu detik, tanpa sempat menyadari kematian datang.
"Jangan melihatnya, Angel," kata Jay cepat, menarik kepala istrinya ke dadanya. "Leon, bawa dia ke balik tembok itu. Jangan biarkan dia melihat wajah mereka."
Setelah memastikan Angeline aman, Jay mendekati mayat terdekat seorang kapten Vostok.
Jay berjongkok, memeriksa kondisi mayat itu.
Kulitnya membiru pucat. Mulutnya mengeluarkan busa putih yang sudah mengering. Matanya melotot dengan pupil mengecil seukuran jarum.
Tidak ada luka tembak. Tidak ada luka tusuk.
Jay memeriksa leher prajurit itu. Di sana, di dekat arteri karotis, ia menemukan sebuah titik merah kecil. Sangat kecil, seperti bekas gigitan nyamuk.
"Neurotoksin VX-Gen 3," gumam Jay, darahnya terasa dingin. "Racun saraf kerja cepat. Melumpuhkan sistem pernapasan dalam 3 detik. Jantung berhenti dalam 5 detik."
Jay berdiri, memindai sekeliling dengan tatapan waspada.
Ini bukan pekerjaan tentara loyalis Jenderal Marco. Tentara reguler menggunakan peluru. Mereka berisik.
Ini adalah pekerjaan pembunuh hantu. Seseorang atau sesuatu telah menyapu bersih pos ini dengan metode yang dilarang oleh Konvensi Jenewa. Efisien. Sunyi. Dan sangat kejam.
Bzzzzzzzt.
Suara dengungan halus terdengar di telinga Jay.
Ia menoleh cepat. Seekor "lalat" besar berwarna hitam melayang di dekat wajah mayat itu, lalu terbang menjauh dengan gerakan mekanis yang kaku, menghilang ke balik atap gedung.
Mata Jay menyipit. Itu bukan lalat. Itu Micro-Drone.
"Siapa?" batin Jay. "Siapa yang memiliki teknologi drone pembunuh otonom dan racun militer kelas satu ini? Apakah ini 'Bantuan Hantu' yang dimaksud Presiden?"
Jika iya, Jay merasa muak. Bantuan ini terlalu kotor bahkan untuk standar dirinya.
"Jay?" panggil Angeline dari balik tembok. Suaranya gemetar. "Apakah mereka... apakah kita yang membunuh mereka?"
Jay menghampiri Angeline. Ia harus berbohong lagi. Ia tidak bisa bilang bahwa ada malaikat maut yang sedang membersihkan jalan untuk mereka.
"Bukan kita," jawab Jay tenang. "Sepertinya ada... kebocoran gas kimia dari pabrik di sebelah. Atau mungkin konflik internal sesama mereka. Jangan dipikirkan. Yang penting jalan kita terbuka."
"Kebocoran gas?" Angeline tampak ragu, tapi ia terlalu takut untuk membantah.
"Ayo. Kita manfaatkan kesempatan ini," ajak Jay. "Ada sebuah bengkel tua dua blok dari sini. Kita bisa bersembunyi di sana sampai malam."
Mereka berjalan melewati mayat-mayat itu. Jay sengaja berjalan di sisi luar untuk menutupi pandangan Angeline.
Namun, Jay merasakan sensasi aneh. Ia merasa sedang diawasi. Bukan oleh musuh, tapi oleh "penjaga" yang tak terlihat di langit.
Penthouse Akbar Ares. Ruang Rahasia.
Akbar Ares berdiri di depan layar monitor raksasa yang menampilkan feed visual dari drone mikronya.
Ia melihat Jay, Angeline, dan Leon berjalan melewati pos pemeriksaan yang baru saja ia "bersihkan".
"Jalan sudah bersih, Sepupu," gumam Akbar datar. Topeng baja hitamnya tergeletak di meja di samping segelas wine merah.
Di layar lain, data biometrik menunjukkan detak jantung Jay yang sedikit meningkat. Jay curiga. Tentu saja dia curiga. Insting 'Zero'-nya terlalu tajam.
"Hati-hati, Jay," kata Akbar pada layar. "Jangan mencari tahu siapa penolongmu. Kau tidak akan suka jawabannya."
Tiba-tiba, lampu indikator di panel kontrol berkedip merah.
[DETEKSI ANCAMAN BARU] [Lokasi: 2 KM dari posisi Target Jay] [Unit: Batalyon Mekanis 'Iron Fist' Victor Han]
Akbar mengetik perintah cepat di keyboard hologramnya.
"Alihkan rute Batalyon ke Sektor 9," perintah Akbar pada AI-nya. "Retas lampu lalu lintas. Buat kemacetan total. Dan... lepaskan gas air mata di rute mereka untuk memperlambat."
Akbar sedang bermain. Dari menara gadingnya, ia mengatur hidup dan mati di jalanan, memastikan Jay dan Angeline tetap selamat tanpa mereka sadari.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan di pintu kamar rahasia yang disamarkan sebagai rak buku.
"Akbar?" suara Mia terdengar dari luar. "Kau di dalam? Aku bosan. Dan internetnya nyala sebentar, ada berita aneh tentang wabah penyakit misterius yang menyerang tentara."
Akbar segera menutup semua layar hologram. Ia mengubah ekspresi wajahnya dari 'Hades' yang dingin kembali menjadi 'Akbar' yang hangat.
Ia membuka pintu.
"Hai, Mia," sapa Akbar sambil tersenyum. "Wabah? Jangan percaya berita hoax. Mungkin mereka cuma keracunan makanan basi."
Mia menatap Akbar tajam, matanya menyipit. "Kau berkeringat. Dan kau bau...? Seperti bau kabel terbakar."
"Aku sedang memperbaiki server game-ku. CPU-nya overheat," alibi Akbar cepat. "Mau main catur? Atau masak lagi?"
Mia masih curiga, tapi perutnya berbunyi. "Masak. Tapi kali ini jangan pakai daging wagyu untuk sup."
Akbar tertawa kecil, menggiring Mia menjauh dari ruang rahasianya.
Di belakang mereka, di dalam ruangan gelap itu, layar monitor kembali menyala otomatis, menampilkan satu unit drone yang sedang membidik kepala seorang penembak jitu yang mengincar Jay dari gedung tinggi.
Pfffst.
Penembak jitu itu jatuh.
"Aman," suara AI komputer berbisik.
Bengkel Tua "Rusty Gears". Pukul 18:00.
Jay dan Angeline berhasil mencapai tempat persembunyian sementara. Sebuah bengkel mobil klasik yang sudah ditinggalkan pemiliknya.
Leon sedang berjaga di pintu depan. Angeline tertidur di jok belakang sebuah mobil sedan tua yang berdebu, kelelahan fisik dan mentalnya mencapai batas.
Jay duduk di lantai beton, membongkar pasang pistolnya untuk membersihkan debu.
Ia mengambil radio jadul pemberian Vanko.
"Vanko, masuk," bisik Jay.
"Aku di sini, Zero," suara Vanko terdengar kresek-kresek.
"Pos pemeriksaan Sektor 13. Bersih. Tidak ada tembakan. Racun saraf. Kau tahu siapa pemain barunya?"
Hening sejenak di seberang sana.
"Aku tidak tahu, Jay. Tapi rumor di jalanan menyebutnya 'Malaikat Hitam'. Siapa pun dia, dia memiliki akses satelit dan teknologi yang melampaui militer kita. Dia membantai unit Vostok."
Jay menatap ke langit-langit bengkel yang bolong.
"Malaikat Hitam..." gumam Jay.
"Dia sekutu untuk saat ini. Tapi ingatkan jaringanmu, Vanko. Jangan menghalangi jalannya. Aku rasa dia tidak membedakan teman atau lawan jika kita masuk ke line of fire-nya."
"Dimengerti. Oh ya, Jay. Paket dari Presiden sudah mendarat. Koordinat 4-Alpha. Di belakang perpustakaan kota. Isinya mainan berat."
"Diterima. Aku akan mengambilnya malam ini."
Jay mematikan radio.
Ia menatap Angeline yang tertidur pulas.
Perang ini semakin rumit. Ada Victor Han dengan kudetanya, Ivan Dragos dengan dendamnya, dan sekarang... "Malaikat Hitam" dengan metode pembantaiannya.
Jay harus bergerak cepat. Ia harus mengambil paket senjata itu, lalu membawa Angeline keluar dari kota ini sebelum "Malaikat Hitam" memutuskan untuk meratakan seluruh kota dengan racun demi membunuh musuh.
"Bertahanlah, Angel," bisik Jay. "Besok kita akan melawan balik."