NovelToon NovelToon
My Dangerous Kenzo

My Dangerous Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama / Playboy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Dinan

Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - My Dangerous Kenzo

...----------------...

...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...

...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...

...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...

...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...

...Cerita ini fiksi yaa ✨...

...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...

...No plagiarism allowed ❌📝...

...----------------...

Naya berdiri di depan cermin sambil merapikan rambutnya. Ponsel masih ia genggam, layar menampilkan wajah Kenzo yang setengah tersenyum.

“Aku sekolah yaa,” ucap Naya pelan, ada nada berat yang disembunyikan.

“Iya sayang, hati-hati yaa,” jawab Kenzo lembut.

Naya mengangguk kecil. “Jangan lupa kabarin kalo udah nyampe.”

“Pasti.” Kenzo menatapnya lama. “Jangan bandel. Sarapan.”

“Cerewet,” Naya nyengir tipis, lalu suaranya melembut lagi. “Aku kangen.”

“Sama.”

Satu kata itu cukup bikin dada Naya hangat.

Panggilan ditutup. Naya menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar kamar—sekolah terasa lebih berat hari ini, tapi ada janji kecil yang bikin dia kuat: Kenzo nunggu.

Panggilan terputus lebih cepat dari biasanya. Layar ponsel Naya kembali gelap, menyisakan pantulan wajahnya sendiri.

“Yaudah deh…” gumamnya pelan.

Naya duduk diam beberapa detik, lalu menaruh ponsel di atas meja. Ada rasa ngerti, tapi tetap saja sepi itu datang tanpa izin. Biasanya Kenzo cerewet, suka ngegodain, suka nahan-nahan telpon biar gak ditutup duluan. Sekarang cuma beberapa menit.

Dia kerja, Nay. Jangan manja, batinnya mencoba rasional.

Tapi dada tetap terasa kosong.

Di kelas, Naya lebih banyak melamun. Pulpen di tangannya berputar-putar, buku terbuka tapi isinya tak benar-benar ia baca. Setiap getaran kecil dari ponsel bikin jantungnya refleks berdetak lebih cepat—lalu kecewa lagi karena bukan Kenzo.

Sore menjelang, langit mulai menguning. Naya pulang dengan langkah pelan, berharap janji itu ditepati.

'Awas aja kalo nggak nelpon lagi', pikirnya.

Dan untuk pertama kalinya, Naya sadar—dia bukan cuma kangen. Dia mulai bergantung.

---

Day 3

Seharian penuh—dari pagi sampai sore—ponsel Naya sunyi.

Tidak ada chat. Tidak ada telepon. Tidak ada nama Kenzo yang muncul di layar.

Naya beberapa kali mengecek, pura-pura iseng.

Beberapa kali membuka layar, lalu menguncinya lagi.

Malamnya, akhirnya ponsel itu bergetar.

Kenzo.

Vcall masuk.

“Kemana?” suara Naya langsung keluar, tipis tapi jelas.

“Maaf, sayang. Tadi di kantor, nggak sempat liat HP,” jawab Kenzo cepat.

Naya menatap layar, berusaha mencari-cari sesuatu di wajah Kenzo.

Entah rasa bersalah, entah rindu yang sama.

“Aku ada meeting jam delapan. Nggak apa-apa kan?” lanjut Kenzo.

“Yaudah… nggak apa-apa,” jawab Naya, terlalu cepat.

Kenzo tersenyum kecil.

“Ada waktu dua puluh tiga menit. Buat lepas kangen dulu.”

Naya mengangguk.

Tersenyum.

Tapi rasanya tetap ada yang ganjil.

---

Day 4

Tidak ada telepon.

Tidak ada chat.

Tidak ada vcall.

Hari berjalan tanpa suara Kenzo.

Naya makan asal-asalan. Bahkan lebih sering nggak makan sama sekali.

Susu pun cuma diteguk sedikit.

Ponselnya tetap di tangan.

Layarnya tetap sering menyala—bukan karena pesan masuk, tapi karena Naya yang terus berharap.

---

Day 5

Naya makin murung.

Di sekolah, wajahnya pucat. Langkahnya ringan tapi goyah.

Perutnya kosong. Kepalanya sering pusing.

Sepulang sekolah, saat melangkah di depan gerbang, semuanya terjadi terlalu cepat.

Sebuah motor menyerempet.

“Nay—!”

Tubuh Naya oleng. Kakinya terkilir.

Siku terhempas ke aspal—perih, berdarah.

Keningnya membentur motor lain yang sedang parkir.

Pandangan Naya menggelap.

“NAYA!”

Citra menjerit.

Reno dan Bian langsung berlari.

Tanpa banyak bicara, mereka mengangkat tubuh Naya yang lemas ke mobil.

Di rumah sakit, Naya akhirnya sadar.

“Pappii…”

Begitu melihat ayahnya, air matanya langsung tumpah. Tangisnya pecah, sesegukan.

"sayang"

“Adek kenapa?” Pappi memeluk dan mengusap rambut Naya lembut. “Kok beberapa hari ini murung terus?”

Naya menggeleng, bahunya bergetar.

Matanya melirik ke arah sofa—ke arah Mommy yang duduk diam, wajahnya dingin seperti biasa.

“Nggak mau cerita… ada Mommy,” suara Naya nyaris tak terdengar.

Pappi menghela napas pelan.

“Yaudah. Nanti bilang Pappi aja, ya.”

Mommy masih duduk, tangan terlipat.

“Anak-anak ada aja,” katanya datar.

Hening kembali turun.

Reno kemudian mengantar Citra pulang.

Setelah itu ia kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang yang diperlukan.

Sementara Naya berbaring di ranjang rumah sakit, infus menetes pelan.

Tangannya menggenggam ponsel.

Layar tetap gelap.

Tidak ada pesan.

Tidak ada telepon.

Dan untuk pertama kalinya, Naya merasa…

kehilangan Kenzo benar-benar sakit.

Reno membuka ponselnya. Tangannya cepat, tanpa basa-basi.

Reno:

Balik kapan?

Tak sampai satu menit, balasan masuk.

Kenzo:

Malem.

Reno menghela napas, lalu mengetik lagi.

Reno:

Gw di RS.

Paling lo nyampe besok.

Klo jemput, call aja.

Tiga titik muncul lama.

Lalu hilang.

Muncul lagi.

Kenzo:

Ngapain RS?

Reno menatap ke arah ranjang rumah sakit.

Naya terbaring lemah, wajahnya pucat, perban di siku dan kening.

Ia mengetik satu kata saja.

Reno:

Naya.

Beberapa detik.

Sunyi.

Lalu balasan masuk—singkat, tapi berat.

Kenzo:

Gw balik sekarang.

Reno menatap layar, rahangnya mengeras.

Reno:

Oke.

Di belahan dunia lain, Kenzo berdiri dari kursinya dengan wajah berubah total.

Meeting ditinggal. Laptop ditutup. Jaket disambar.

Untuk pertama kalinya sejak berangkat, napas Kenzo terasa sesak.

Bukan karena jet lag.

Bukan karena kerjaan.

Tapi karena satu nama itu.

Naya.

------

“Sayang, pulang aja biar aku yang nungguin adek,” ujar Pappi pelan ke Mommy.

Mommy menatap Naya sekilas di ranjang rumah sakit, lalu berdiri.

“Yaudah.”

“Kak, anter Mommy pulang,” lanjut Pappi.

“Oke,” jawab Reno.

"Adek, Sayang"

“Mommy udah pulang, adek boleh cerita ke Pappi,” ujar Pappi lembut.

Naya menggigit bibirnya sebentar, tapi sebelum sempat bicara, air matanya tumpah juga. Ia terisak di pelukan Pappi.

“Adek… suka seseorang, Pappi,” kata Naya antara sesak napas dan tangisan.

“Hemm…” Pappi mengangguk pelan, menenangkan.

“Pappi nggak marah?” Naya menatap ayahnya, mata sembab tapi penasaran.

“Nggak dong, kalau suka, itu wajar, sayang,” Pappi membelai rambutnya.

“Adek suka siapa, emangnya?” Pappi melanjutkan dengan senyum lembut.

“Pappi… marah nggak?” Naya kembali menatap dengan wajah cemas.

“Nggak sayang, kalau ada yang adek suka, langsung bilang Pappi, oke?” Pappi menenangkan.

Naya menarik napas dalam-dalam, perlahan menenangkan diri. Suara hatinya berdebar… tapi sekarang ada keberanian.

“Jadi… adek suka siapa?” Pappi mengulangi pertanyaannya sambil tersenyum hangat.

“Adek sukanya sama itu loh… yang sering ke rumah,” kata Naya pelan, masih menunduk di pelukan Pappi.

“Siapa? Arsen?” tanya Pappi dengan nada penasaran.

“Bukan iih, Pappi, gimana sihh… itu lohh… yang itu,” Naya gugup, pipinya memerah.

“Ohh astaga,” Pappi terkekeh pelan, menahan senyum.

“Kenzo?” tanya Pappi sambil menatapnya hangat.

Naya mengangguk pelan, wajahnya makin merah.

“Nanti Pappi bilangin ke Kenzo,” Pappi berujar lembut, mencoba membuat suasana santai.

“Jangan, adek malu nanti!” Naya cepat menolak.

“Kalau mommy tau marah nggak?” Naya menatap ayahnya dengan mata cemas.

“Nggak sayang, Mommy pasti ngerti. Lagipula Pappi cuma mau denger adek cerita dengan jujur,” Pappi menenangkan sambil mengusap rambut Naya.

...----------------...

...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...

...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...

...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...

...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...

...----------------...

1
tamara this there!
jangan lupa mampir yaa, kita saling dukung😍💪
Dinaneka: Makasih banyak kakaku🙏🙏
total 1 replies
tamara this there!
Cerita yanh baguss
Dinaneka: makasih banyak kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!