NovelToon NovelToon
Duka Yang Ternoda

Duka Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Janda / Obsesi / Keluarga / Trauma masa lalu / Penyelamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

"Apa? Anak?!" Bella berteriak histris, suaranya melengking memenuhi ruang tamu yang luas.

Ia berdiri dengan tubuh gemetar, matanya yang tadi penuh binar kini berkaca-kaca karena amarah dan rasa malu yang luar biasa.

"Tante pasti bercanda, kan? Baskara tidak pernah dekat dengan wanita mana pun! Aku sudah memberikan segalanya untuk dia, Tante! Aku menolak banyak lamaran pria lain, aku selalu ada setiap dia butuh teman bicara untuk bisnisnya, dan sekarang Tante bilang dia punya anak dengan wanita lain?!"

Bella melempar pandangannya ke arah tas Hermès yang tadi ia berikan, merasa barang mewah itu kini tak ada harganya.

"Siapa wanita itu? Pasti wanita murahan yang hanya ingin hartanya, kan? Tidak mungkin dia lebih baik dariku!"

Pak Handoko ikut berdiri, wajahnya merah padam.

Ia merasa harga diri keluarganya baru saja diinjak-injak di depan umum.

Sebagai salah satu investor terbesar di proyek Grand Mahameru, ia merasa memiliki posisi tawar yang kuat.

"Cukup, Widya!" bentak Pak Handoko sambil menggebrak meja marmer hingga cangkir teh di atasnya berdenting.

"Saya tidak menyangka keluarga Surya serendah ini dalam berbisnis. Anda membiarkan saya dan putri saya berharap, sementara putra Anda ternyata punya simpanan dan anak di luar sana?"

Pak Handoko menunjuk ke arah Nyonya Widya dengan penuh ancaman.

"Dengar baik-baik. Jika Baskara benar-benar menikahi wanita antah berantah itu dan mengabaikan Bella, saya pastikan besok pagi seluruh investasi saya di proyek Grand Mahameru akan ditarik total! Saya akan buat proyek kebanggaan putra Anda itu mangkrak dan menjadi sampah di Jakarta!"

Nyonya Widya tetap tenang, meski di dalam hatinya ia merasa geram dengan sikap angkuh Pak Handoko.

Ia berdiri dengan anggun, menatap balik Pak Handoko tanpa rasa takut sedikit pun.

"Silakan, Pak Handoko," ucap Nyonya Widya dingin.

"Tarik saja investasi Anda. Keluarga Surya tidak pernah membangun kejayaan di atas paksaan atau air mata seorang ibu. Wanita yang Anda sebut 'antah berantah' itu adalah ibu dari cucu-cucu saya, darah daging Baskara yang sah. Jika Anda merasa uang Anda lebih berharga daripada kebahagiaan putra saya, maka silakan bawa uang itu pergi."

Nyonya Widya kemudian menatap Bella yang masih menangis tersedu-sedu. "Dan Bella, kecantikan dan barang mewah tidak bisa membeli hati. Baskara memilihnya bukan karena dia lebih kaya darimu, tapi karena dia adalah rumah bagi Baskara."

Pak Handoko menarik tangan Bella dengan kasar.

"Ayo pulang, Bella! Kita tidak perlu berurusan lagi dengan orang-orang yang tidak tahu terima kasih ini. Kita lihat saja seberapa kuat Baskara bertahan tanpa dukungan modal dari saya!"

Mereka berdua melangkah keluar dengan penuh kemarahan, meninggalkan Nyonya Widya yang menghela napas panjang.

Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Baskara.

"Bas, Pak Handoko menarik investasinya. Siapkan dirimu, karena besok akan ada badai di bursa saham, tapi jangan khawatir, Mama tetap di pihakmu dan Swari."

Swari yang sejak tadi bersandar di ranjang rumah sakit terdiam setelah tanpa sengaja mendengar percakapan telepon Baskara dengan Nyonya Widya.

Wajahnya yang semula mulai memerah karena martabat cokelat, kini kembali diselimuti kecemasan.

Ia tahu betapa besarnya proyek Grand Mahameru.

Ia tahu bahwa penarikan modal secara mendadak bisa menghancurkan reputasi bisnis yang dibangun Baskara bertahun-tahun.

Rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya; ia merasa kehadirannya hanya membawa sial bagi karier pria di depannya.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Swari meraih tas kecilnya yang diletakkan di nakas.

Ia mengeluarkan sebuah buku tabungan dan beberapa kartu kredit internasional miliknya.

"B-bas..." panggil Swari lirih.

Baskara yang sedang mengetik pesan di ponselnya langsung menoleh.

"Iya, Sayang? Ada yang sakit lagi?"

Swari menyodorkan buku tabungan itu ke arah Baskara.

"Ini ada tabunganku selama bekerja di Kanada. Mungkin nilainya tidak banyak, bahkan mungkin tidak cukup untuk membayar bunga dari kerugian perusahaan kamu akibat Pak Handoko. Tapi, pakailah, Aku tidak mau kamu hancur karena aku."

Baskara menatap buku tabungan di tangan Swari, lalu beralih menatap wajah tulus wanita itu.

Bukannya terlihat panik atau sedih karena kehilangan investor, Baskara justru merasakan hatinya hangat luar biasa.

Ia melihat bagaimana Swari, yang selama ini bersikap dingin dan penuh dendam, justru rela memberikan seluruh hasil jerih payahnya demi melindunginya.

Baskara tertawa kecil yang terdengar sangat lepas dan bahagia.

Ia tidak mengambil buku itu, melainkan merangkul bahu Swari dan mencium keningnya dengan sangat lembut dan lama.

"Simpan uangmu, Sayang," bisik Baskara tepat di keningnya.

"Kamu pikir calon suamimu ini selemah itu?"

Baskara menjauhkan wajahnya sedikit untuk menatap mata Swari, jemarinya mengusap pipi Swari yang merona.

"Pak Handoko hanya butiran debu di kerajaan bisnis Surya. Kehilangan satu investor tidak akan membuat proyek itu mangkrak. Bahkan jika aku harus membiayainya sendiri tanpa investor mana pun, kekayaanku untuk sampai ke cicit kita nanti masih sangat melimpah, Sayang."

Swari tertegun, "Tapi, Bas... satu triliun itu bukan jumlah kecil."

"Satu triliun itu harga yang sangat murah untuk mendapatkan kamu dan anak-anak kembali secara resmi," jawab Baskara dengan nada sombong yang khas namun penuh kasih.

"Lagipula, melihatmu khawatir padaku seperti ini, rasanya jauh lebih berharga daripada seluruh investasi Pak Handoko digabungkan. Itu artinya di hatimu sudah ada sedikit ruang untukku, kan?"

Swari langsung membuang muka, mencoba menyembunyikan senyumnya.

"Percaya diri sekali kamu! Aku hanya tidak mau dituduh sebagai pembawa sial bagi BSG Group."

"Pembawa sial?" Baskara terkekeh, ia menarik selimut Swari agar lebih nyaman.

"Kamu itu pembawa keberuntungan. Sejak kamu kembali, aku merasa lebih hidup dari enam tahun terakhir. Sekarang, tugasmu hanya satu: sehat. Biarkan urusan 'debu' seperti Pak Handoko dan Bella menjadi sarapan pagiku besok."

Swari menatap Baskara dengan dahi berkerut. Di tengah kemelut ditariknya investasi triliunan rupiah, ia tiba-tiba teringat pada "jeratan" awal yang membuatnya terpaksa kembali ke lingkaran hidup pria ini.

"Lalu, Bas. Bagaimana dengan utangku yang satu miliar itu? Karena Pak Handoko menarik modal, apa kamu akan menagihnya sekarang?" tanya Swari dengan nada polos yang justru terdengar menggemaskan di telinga Baskara.

Baskara yang baru saja meletakkan ponselnya di nakas, seketika tertawa terbahak-bahak.

Suara tawanya memenuhi kamar VIP yang sunyi, membuat perawat yang lewat di depan pintu sempat menoleh heran.

"Utang satu miliar itu?" Baskara menghentikan tawanya, namun sisa-sisa geli masih terlihat di sudut matanya yang tajam.

Ia mencondongkan tubuhnya, mendekat ke wajah Swari hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.

"Tentu saja aku akan menagihnya, Swari Aruna," ucap Baskara dengan suara rendah yang menggoda. "Dan kamu harus melunasinya tepat saat kamu melangkah keluar dari pintu ruang operasi besok."

Swari terkesiap, matanya membelalak. "Lunas? Pakai apa? Aku kan baru saja selesai dioperasi, mana bisa aku mencari uang secepat itu!"

Baskara menyeringai tipis, jari telunjuknya mengusap bibir bawah Swari yang mengerucut.

"Bukan pakai uang, Sayang. Satu miliar itu akan dianggap lunas jika kamu keluar dari sana dalam keadaan sehat, tersenyum, dan langsung setuju untuk menandatangani berkas pernikahan kita," bisik Baskara.

"Itu adalah bunga utang paling mahal yang pernah aku tetapkan. Jika kamu tidak sehat, utangmu akan bertambah menjadi sepuluh miliar dan kamu harus menjadi asisten pribadiku seumur hidup."

"Itu namanya pemerasan, Baskara!" maki Swari, meski ia tidak bisa menahan debaran jantungnya yang kian kencang karena perlakuan manis pria itu.

"Sebut saja itu investasi masa depan," balas Baskara ringan.

Ia kemudian mengecup dahi Swari dengan lembut.

"Sekarang istirahatlah. Simpan tenagamu untuk melunasi utangmu besok pagi. Aku tidak mau calon istriku terlihat pucat saat aku memakaikan cincin di jarinya nanti."

Swari terdiam, ia menarik selimutnya hingga menutupi separuh wajahnya.

Di balik kain itu, ia tersenyum kecil. Ternyata, menjadi tawanan "Raja Dingin" seperti Baskara tidak seburuk yang ia bayangkan sebelumnya.

1
Esti 523
lha ko bisa masuk rumah
kymlove...
sebagus ini kenapa sepi



kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor
my name is pho: terima kasih sudah mampir kak🥰
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kaka aku mampir 🤗
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!