Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Konfrontasi di Mansion Ardiman
Pintu jati setinggi tiga meter itu terbuka perlahan, mengeluarkan bunyi derit halus yang terdengar seperti auman kecil di tengah keheningan malam Mansion Ardiman.
Rigel melangkah masuk. Aura dingin pendingin ruangan langsung menyapanya, bercampur dengan aroma pengharum ruangan wangi kayu cendana yang mahal dan mengintimidasi. Tidak ada sambutan hangat. Tidak ada pelayan yang berbaris. Hanya keheningan yang mencekam.
Di ruang tamu utama yang luasnya bisa dipakai main futsal itu, Gavin Ardiman sudah menunggu.
Dia duduk di sofa kulit tunggal berwarna hitam, persis seperti raja yang sedang menunggu eksekusi tawanan perang. Di hadapannya, di atas meja marmer, secangkir kopi hitam mengepulkan asap tipis. Tidak ada satupun kue atau camilan. Jelas ini bukan jamuan tamu.
"Masuk," suara Gavin berat, memantul di dinding-dinding tinggi ruangan. Dia tidak menoleh, matanya tetap terpaku pada lukisan abstrak di dinding seberang. "Saya kira nyali kamu cuma sebatas di parkiran."
"Selamat malam, Pak Gavin," sapa Rigel tenang. Dia berdiri tegak di tengah ruangan, tidak berani duduk sebelum dipersilakan. Tangannya terpaut santai di depan tubuh, sikap istirahat di tempat yang sopan namun siaga.
Gavin akhirnya menoleh perlahan. Matanya memindai Rigel dengan tatapan laser. Dia melihat kemeja hitam Rigel, celana bahan rapi, dan tentu saja... sepatu yang kali ini terlihat bersih dan mahal, bukan sneakers butut yang dulu pernah dia hina.
"Anak penjual obat," Gavin mendengus sinis, mengulang pesan yang disampaikan satpam tadi. "Berani sekali kamu pakai sebutan itu di rumah saya. Kamu mau mengejek saya karena dulu Ardiman kalah tender rumah sakit daerah sama Kalandra Pharma?"
"Sama sekali tidak. Saya hanya meluruskan fakta. Ayah saya memang memulai bisnisnya dari jualan obat keliling. Saya bangga dengan itu," jawab Rigel tanpa ragu. Suaranya stabil, tidak goyah sedikitpun di hadapan tatapan membunuh Gavin.
Sementara itu, di lantai dua, tepatnya di balik railing tangga yang terlindung bayangan pilar besar, dua pasang mata sedang mengintip dengan cemas.
Arka menyikut lengan ibunya pelan. "Ma, itu Papa nggak bakal lempar asbak kan? Rigel ganteng lho, sayang kalau mukanya lecet."
Kiana, istri Gavin yang masih terlihat anggun dengan daster sutranya, menahan lengan Arka agar tidak turun.
"Sstt! Jangan berisik," bisik Kiana tegas. "Biarkan mereka."
"Kok dibiarin sih, Ma? Kita turun dong, belain Rigel. Kasian dia dikeroyok aura gelap Papa," protes Arka.
"Jangan, Arka. Kamu nggak ngerti laki-laki," Kiana menggeleng. "Papamu itu egonya lagi luka parah. Dia merasa dibodohi. Kalau Mama atau kamu turun ikut campur, Papa malah makin gengsi dan makin keras sama Rigel. Ini urusan jantan. Biar mereka selesaikan secara man-to-man. Kalau Rigel emang pantes buat kakak kamu, dia harus bisa naklukin singa tua itu sendirian."
Arka manggut-manggut. "Oke. Tapi kalau ada suara gedebuk, aku langsung panggil ambulans ya."
Kembali ke ruang tamu. Ketegangan semakin meningkat.
Gavin berdiri, berjalan perlahan mengelilingi Rigel seolah sedang memeriksa barang dagangan cacat.
"Kalandra..." gumam Gavin, berhenti tepat di depan wajah Rigel. Jarak mereka begitu dekat hingga Rigel bisa mencium aroma tembakau mahal dari baju Gavin. "Musuh bebuyutan saya. Lima tahun lalu, bapak kamu memborong saham mayoritas pabrik infus yang saya incar. Gara-gara itu, Ardiman rugi ratusan miliar."
Gavin tertawa sumbang.
"Dan sekarang, anaknya datang ke rumah saya. Setelah pura-pura jadi dokter miskin. Pura-pura makan ketoprak pinggir jalan. Pura-pura kaget waktu saya hina. Kamu pasti ketawa puas kan dalam hati waktu itu? 'Liat tuh Gavin Ardiman, orang kaya baru yang sombong, nggak tau kalau dia lagi ngomong sama Tuan Muda Kalandra'."
Tuduhan itu tajam dan menusuk. Tapi Rigel tidak mundur. Dia menatap mata Gavin lurus-lurus.
"Saya tidak pernah berpura-pura miskin, Pak. Bapak dan Alea yang menyimpulkan begitu hanya karena saya tidak pakai mobil miliaran dan sepatu ratusan juta," jawab Rigel tenang. "Dan soal bisnis ayah saya... itu urusan beliau. Saya Rigel. Saya dokter bedah saraf. Tangan saya dipakai buat pegang pisau bedah, bukan buat tanda tangan akuisisi saham licik."
"Omong kosong!" bentak Gavin. "Darah itu lebih kental daripada air! Kamu pasti punya agenda tersembunyi. Mau apa kamu deketin Alea? Mau mata-matai perusahaan Triple A Capital miliknya? Mau hancurin bisnis anak saya dari dalem?"
"Saya mau Alea," potong Rigel tegas. Nada bicaranya naik satu oktaf, menunjukkan keseriusan. "Cuma itu agenda saya. Saya mau Alea karena dia wanita paling keras kepala, paling gengsi, tapi paling tulus yang pernah saya kenal. Saya nggak peduli dia anak Gavin Ardiman atau anak tukang kebun."
Gavin terdiam sejenak, terkejut dengan keberanian Rigel memotong ucapannya.
"Saya menyembunyikan identitas saya karena saya muak, Pak," lanjut Rigel, kali ini suaranya sedikit melunak tapi tetap penuh penekanan. "Setiap wanita yang mendekati saya selalu tanya, 'Berapa warisan kamu?', 'Kapan kamu jadi CEO?'. Cuma Alea yang tanya, 'Pasien lo selamet nggak tadi?' dan 'Lo udah makan belum?'."
Rigel maju selangkah, mengikis jarak.
"Saya mencintai putri Bapak. Dan saya punya kemampuan untuk membahagiakan dia, dengan atau tanpa nama Kalandra di belakang saya."
Ruangan hening. Hanya terdengar detak jam dinding antik yang berbunyi tik-tak-tik-tak.
Gavin menatap pemuda di depannya. Dia mencari kebohongan, mencari keraguan, mencari ketakutan. Tapi dia tidak menemukannya. Rigel berdiri kokoh seperti karang. Gavin harus mengakui, nyali anak ini besar juga. Datang ke kandang musuh tanpa senjata, cuma bermodal mulut dan hati.
Tapi Gavin Ardiman tidak akan luluh semudah itu. Egonya masih terlalu tinggi untuk diruntuhkan hanya dengan pidato romantis.
Gavin mendengus kasar, lalu kembali duduk di sofanya dengan angkuh. Dia menyilangkan kaki, menatap Rigel dengan pandangan meremehkan yang baru.
"Bagus. Pidato yang menyentuh. Hampir bikin saya nangis kalau saya ini penonton sinetron," sindir Gavin tajam.
Gavin mengambil cangkir kopinya, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi klunting yang keras.
"Kamu pikir karena kamu jujur sekarang, dan karena kamu ternyata anak Kalandra yang kaya raya, saya bakal langsung luluh? Saya bakal langsung gelar karpet merah dan bilang 'Silahkan ambil anak saya'?"
Gavin menggeleng pelan, senyum sinis terukir di bibirnya.
"Tidak, Dokter Rigel. Uang kamu tidak memukau saya. Nama besar bapak kamu justru bikin saya makin antipati."
Gavin menunjuk dada Rigel dengan telunjuknya, tatapannya berubah menjadi tatapan seorang ayah yang posesif dan marah.
"Di mata saya, kamu bukan Tuan Muda Kalandra yang terhormat. Di mata saya, kamu tetap laki-laki kurang ajar yang berani nyolong start nyium anak gadis saya di dalam mobil sebelum ada ikatan pernikahan."
aya Aya wae nich dokter satu......