NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Perjalanan menuju Jakarta terasa jauh lebih panjang dari biasanya.

Di dalam mobil, Kiara membisu. Pandangannya lurus ke depan, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Alvar beberapa kali melirik, ingin bicara, ingin menjelaskan, ingin memohon, namun setiap kali membuka mulut, kata-kata itu seperti tertelan kembali. Ada jarak dingin yang tak pernah ada sebelumnya.

Begitu mobil berhenti di depan rumah sakit, Kiara langsung membuka pintu.

“Mas, berhenti di sini saja,” katanya singkat.

Alvar ikut turun. “Aku temani kamu masuk—”

“Nggak usah.” Kiara menutup pintu mobil pelan tapi tegas. “Mas sudah boleh kembali ke desa.”

Kalimat itu membuat Alvar tertegun.

“Kia … ini rumah sakit. Papa kamu—”

“Aku tahu,” potong Kiara tanpa menatapnya. “Justru karena itu. Aku belum ingin bicara apa pun dengan Mas Alvar sekarang. Lebih baik Mas pulang dulu.”

Alvar melangkah mendekat, suaranya menahan emosi.

“Setidaknya izinkan aku tunggu di sini, aku ini suamimu.”

Kiara akhirnya menoleh, matanya lelah, bukan marah dan itu justru lebih menyakitkan.

“Mas Alvar,” ucapnya lirih, “kalau kondisi papa sudah membaik, aku akan minta beliau mengurus surat perceraian kita.”

Dunia Alvar seolah runtuh dalam satu detik.

“Apa?” rahangnya mengeras.

“Kamu bicara apa, Kiara?”

“Aku ingin membebaskan Mas Alvar,” lanjut Kiara, suaranya gemetar namun mantap. “Dari pernikahan yang Mas sendiri nggak pernah minta. Dari istri yang Mas nikahi karena terpaksa.”

Alvar mengepalkan tangan, amarah, takut, dan penyesalan bercampur jadi satu.

“Kamu kira ini soal terpaksa atau tidak?” suaranya naik. “Kamu kira aku mau pergi begitu saja?”

Kiara menggeleng pelan.

“Aku nggak mau jadi orang yang mengikat Mas pada masa lalu. Aku juga nggak mau hidup dengan perasaan selalu jadi pilihan kedua.”

Ia menarik napas dalam, menahan air mata yang mengancam jatuh.

“Biarkan aku pulang ke papa dulu, tolong, Mas.”

Alvar ingin menarik Kiara, ingin memeluknya seperti saat di kabut itu, ingin mengatakan bahwa ia salah, bahwa perasaannya sudah berubah namun semua kata itu terasa terlambat.

Kiara melangkah mundur, lalu berbalik menuju pintu rumah sakit tanpa menoleh lagi.

Kiara berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah gontai. Lampu-lampu putih di atas kepalanya terasa terlalu terang, terlalu dingin. Dadanya sesak, napasnya tertahan, dan air mata jatuh tanpa bisa ia cegah. Ia menangis dalam diam, bahunya bergetar, tangannya menutup mulut agar isaknya tak terdengar orang lain.

Bayangan desa itu kembali memenuhi kepalanya, pagi di kebun, tawa Alvar yang jarang tapi hangat, caranya menjaga jarak namun selalu peduli. Semua hal kecil yang dulu ia anggap biasa, kini berubah jadi bukti betapa besar perasaannya pada Alvar. Terlalu besar, bahkan untuk ditahan sendiri.

Kiara berhenti di depan sebuah pintu. Ia menyeka air mata dengan punggung tangan, menarik napas panjang, memaksa dirinya tenang. Ia tak ingin ibunya melihatnya rapuh.

Pintu terbuka.

Ibunya langsung menoleh, wajahnya tampak lelah namun lega saat melihat Kiara.

“Kia?” panggilnya, lalu matanya bergerak ke belakang Kiara. “Alvar mana, Nak?”

Kiara tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan.

“Mas Alvar nyusul besok, Ma. Tadi masih ada urusan di desa,” katanya berbohong, suaranya cukup stabil meski dadanya kembali nyeri.

Ibunya mengangguk pelan, tak curiga. “Oh … ya sudah.”

Kiara melangkah mendekat ke ranjang ayahnya, melihat tubuh pria itu terbaring dengan selang dan monitor yang berbunyi pelan.

“Papa gimana, Ma?” tanyanya lirih.

Ibunya menghela napas panjang. “Serangan jantung mendadak. Dokter bilang penyebab pastinya masih harus dicek. Untung cepat dibawa ke rumah sakit.”

Kiara mengangguk, jemarinya menggenggam erat ujung selimut ayahnya. Kali ini air mata yang jatuh adalah campuran dari takut, lega, dan luka yang belum sempat sembuh.

Jam hampir menyentuh subuh saat mobil Alvar berhenti di halaman rumah. Kabut tipis masih menggantung, ayam belum berkokok, tapi lampu ruang tengah sudah menyala. Baru saja Alvar menurunkan kakinya, pintu terbuka keras.

“Alvar!” Sulastri berdiri dengan wajah tegang. Belum sempat Alvar menyapa, tamparan kata-kata lebih dulu mendarat.

“Harusnya kamu temani dia di sana, kenapa kembali?!”

Alvar menunduk, suaranya serak, lelah bercampur kacau.

“Kiara … minta pisah, Bu.”

Kalimat itu seperti api disiram bensin.

“Apa?!” Sulastri mendekat, matanya memerah.

“Kamu ngapain sampai dia minta cerai, hah?!”

Alvar mengusap wajahnya kasar. “Di pasar malam … Kiara salah paham. Alvar bantuin Hesti, Bu. Supradi mau mukul dia.”

“Salah paham?” suara Sulastri meninggi, bergetar karena marah dan kecewa. “Ibu sudah berapa kali bilang apa ke kamu, Var? Jauhi hesti! Tapi kamu dengar nggak?!”

Alvar diam, Sulastri tertawa pendek, pahit.

“Pernikahan ini bukan main-main, Alvar. Ini bukan pacaran yang kalau capek bisa ditinggal. Kamu sudah menikah!"

Ia menarik napas dalam, menahan emosinya.

“Kamu tahu nggak Kiara itu belajar pelan-pelan di sini? Dia berusaha. Dia jatuh, dia sakit, dia berubah demi kamu. Dan kamu … masih saja bikin dia merasa sendirian.”

Alvar mengepalkan tangan. Dadanya sesak.

“Kamu harus pikirkan caranya membujuk Kiara,” lanjut Sulastri lebih pelan, tapi menusuk. “Bukan malah pulang pasrah begini.”

Sulastri menatap anaknya lekat-lekat, seolah ingin menembus pertahanannya.

“Ibu tanya sekali saja, jawab jujur sama ibu.”

Alvar mengangkat wajahnya.

“Kamu sudah jatuh cinta sama Kiara … atau belum?”

Ruangan mendadak sunyi, hanya terdengar suara jam dinding berdetak pelan, mengiringi kebingungan Alvar sendiri, ia sadar, pertanyaan itu tak lagi mudah dijawab atau justru terlalu jelas untuk ia hindari.

1
Nanik Kusno
Full problem ternyata......sama2 keras...😏😏😏😏😏😏😏
Nanik Kusno
Karena belum tau kalau Kiara punya alergi akut..... makanya setelah ini.... ngobrol berdua yang baik.... saling mengenal.....mau dibawa kemana pernikahan ini ....biar g ada salah faham dan penyesalan....
Nanik Kusno
Alvar....kamu harus punya stok sabar segudang padi....😏😏😏😏🤣🤣🤣🤣
mooociii
yang mati kan kakak nya ayah alvar, tp kok istri nya temenan sama Hesti, apakah meli nikah sama orang tua🙏
Nanik Kusno
G usah nunggu lama..... Kiara pasti dah klepek2 ma Alvar...😏😏😏😏😏😏😏
Afri
aku senang baca novel begini .. kehidupan yang alami ..tanpa bumbu CEO yg harta kekayaannya d luar Nurul
🤣🤣🤣🤣
Atin Supriyatin
pengen gue gecek nih perawat nggak punya kode etik
74 Jameela
sakitjiwa..mentalnya udh sakit parah tuch hiiiiihhh ngeri kl msh jd dokter..bkn sembuh bs"koit kl dokter modelan hesti jallang🤮
74 Jameela
ccckkkk...😤...hesti ooohh hesti...gk perlu menggathel..kliatan banget bkn org yg baik...bgaikn jallang ae tingkah lakumu hesti🤮🤮..hestiiii
WJ
otaknya hesti tu
Emilia
Bagus thor
my hoby
HESTI NIH HESTI
nayoon
plin plan sekali sikap alvar ini,mencari tau bukan berarti mendekat apa lagi mantanmu,ada hati istrimu yg kamu jaga jangan sampai kamu menyesal
nayoon
cie modus ya bg🤭
nayoon
hehe dokter tapi mau jdi bibit pelakor kayanya,gak level Lo sama cwe kota apalgi minim attitude
PansaPatt
ini cwrita sambungannya ug mana lagi thor,dari ini,trus istriku dosen killer,trus nona koto jodoh anak pak kade,setelah itu lanjutanya mana,biar ga bingun bacanya
Aisyah Alfatih: habis kakak 🙏
total 1 replies
Muhammad Arifin
eealaaaa...Podo AE.pergi dari desa menghindari masalah,Nang kota tetep marani masalah.
Muhammad Arifin
kan...Hesti iku ular😒😒😒😒
Muhammad Arifin
AQ baca dari tadi baru komen....goblok emak kamu var...Uda tau Hesti ular masih aja mau di deketin....ingat nasehat ibukmu....
Kan...JD jengkel AQ,berubah JD netizen aku 😒😒
🍃🌸sativa🌸🍃
dasar janda gatellll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!