"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Diterima di Puncak Terasing
Pelataran batu Sekte Mo-Yun kini diselimuti kabut tipis yang mendinginkan sisa-sisa panas dari ujian tadi. Puluhan kanvas telah digulung, namun terkecuali untuk satu kanvas, yang hanya memiliki satu garis hitam vertikal, tetap terbentang di atas meja batu, seolah-olah tinta itu menolak tunduk pada gravitasi atau waktu.
Penatua Han berdiri di depan kanvas milik Guiren. Ia tidak mengenakan jubah kebesaran yang mencolok, hanya kain abu-abu tua yang terlihat sederhana namun jatuh dengan berat yang berwibawa. Tangannya yang keriput namun bersih dari noda tinta mengusap dagunya yang dicukur rapi. Ia tidak melihat lukisan itu dengan mata fisiknya saja, melainkan dengan indra yang mampu menangkap resonansi niat di balik setiap molekul tinta.
"Garis ini," gumam Han, suaranya parau seperti gesekan batu. "Tidak ada keindahan di sini. Hanya ada tujuan."
Guiren berdiri beberapa langkah di belakangnya, masih dengan tangan yang bertumpu pada tongkat kayu. Xiaolian merapatkan diri di sisi kiri kakaknya, kepalanya menunduk, mencoba mengecilkan keberadaannya di hadapan pria yang memancarkan aura sedingin puncak gunung ini.
Han berbalik, menatap kain penutup mata Guiren. "Dunia ini penuh dengan orang yang melukis naga karena mereka ingin terbang, atau pedang karena mereka ingin kuasa. Tapi kau melukis garis ini karena kau sudah kehilangan segalanya dan tidak punya tempat lain untuk berbalik, bukan?"
Guiren tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk kecil. Dalam kegelapannya, ia bisa merasakan tatapan Han yang tajam, mencari retakan di dalam tekadnya.
"Niat Tinta-mu murni, namun sangat berbahaya. Itu adalah jenis niat yang bisa membelah diri sendiri jika tidak ada wadah yang cukup kuat untuk menampungnya," lanjut Han. Ia mengalihkan pandangannya pada Xiaolian sejenak, lalu kembali ke Guiren. "Aku akan menerimamu. Tapi jangan berharap pada karpet merah atau sumber daya yang melimpah."
Han memberi isyarat pada seorang murid pengiring yang berdiri di kejauhan. "Yuen Guiren, kau diterima sebagai murid luar. Kau akan ditempatkan di Puncak Terasing, di pinggiran sekte. Tugasmu adalah membersihkan perpustakaan tua dan menggiling tinta untuk para murid inti."
Guiren merasakan Xiaolian sedikit tersentak. Murid luar. Di sekte mana pun, itu berarti status yang paling rendah, pelayan yang diberi sedikit remah-remah pengetahuan, manusia yang bisa dibuang kapan saja jika melakukan kesalahan sekecil kuku.
"Terima kasih, Penatua," jawab Guiren dengan tenang. Tidak ada riak kecewa di suaranya. Baginya, status hanyalah nama. Selama ia memiliki tempat untuk menajamkan 'garis'-nya dan menjaga Xiaolian, itu sudah cukup.
"Adikmu," Han menunjuk Xiaolian dengan jarinya yang kaku. "Dia boleh tinggal sebagai pendamping. Tapi ingat, sekte tidak menanggung makanannya jika kau tidak bekerja dua kali lebih keras. Dia tidak memiliki status. Jika ia membuat masalah, kalian berdua akan dilempar turun dari tebing ini bahkan sebelum matahari terbenam."
"Saya mengerti."
Penatua Han menyerahkan sebuah lempengan kayu kecil yang kasar, identitas murid luar. "Kehidupan di Mo-Yun bukan tentang siapa yang paling berbakat, tapi siapa yang paling tahan dihina. Puncak Terasing adalah tempat bagi mereka yang dilupakan. Jika kau benar-benar memiliki niat lurus itu, buktikan di sana."
Han berlalu tanpa kata-kata tambahan, meninggalkan aura dingin yang perlahan memudar.
Seorang murid pengiring maju, wajahnya menunjukkan rasa jijik yang tidak ditutup-tupi saat melihat pakaian lusuh dan kotor milik Guiren. "Ikut aku. Kita harus sampai ke Puncak Terasing sebelum kabut menutup jalan."
Guiren menarik napas dalam. Ia merasakan berat lempengan kayu di tangannya. Itu bukan sekadar tanda pengenal, itu adalah pengingat bahwa di tempat ini, ia kembali berada di dasar jurang. Namun, setidaknya ia sudah berada di dalam tembok sekte.
Saat mereka mulai berjalan, Xiaolian tidak lagi hanya memegang jubah Guiren. Ia menyisipkan lengannya di bawah ketiak Guiren, membantu menyangga beban kakaknya yang masih lelah.
“Kakak,” bisik Xiaolian, suaranya gemetar oleh rasa lega sekaligus takut. “Apakah itu tandanya kita selamat?”
Guiren meremas lembut punggung tangan adiknya yang menyangga lengannya. “Kita sudah masuk. Tapi jangan lepaskan tanganku. Di sini, musuhnya tidak lagi memakai topeng seperti di kota.”
“Aku tidak akan melepaskannya,” sahut Xiaolian dengan nada bicara yang lebih dewasa dari usianya yang belum genap tujuh belas tahun. “Aku juga bisa membantu di perpustakaan nanti. Aku bisa membaca judul buku untukmu, atau menyusun rak yang tinggi. Aku bukan lagi anak kecil yang harus kau gendong melewati sungai.”
Guiren terdiam sejenak. Ia sering lupa bahwa saat ia kehilangan matanya, adiknya juga kehilangan masa mudanya. “Pekerjaan di sana akan berat, Lian-er.”
“Lebih berat mana dengan kelaparan di jalanan?” Xiaolian mempererat rangkulannya, memandu langkah Guiren melewati tumpukan batu yang tidak rata. “Aku akan menggiling tinta itu bersamamu. Jika kau harus bekerja dua kali lebih keras, maka aku akan melakukannya tiga kali lipat. Penatua itu bilang aku tidak punya status, tapi itu artinya aku punya tangan yang bebas untuk bekerja.”
Mereka terus mendaki jalan setapak yang sempit menuju bagian gunung yang paling sunyi. Puncak Terasing tampak di kejauhan, sebuah menara batu yang sepi dan terbengkalai.
Guiren tidak merasa gentar. Baginya, tempat yang sunyi adalah tempat terbaik untuk mematangkan tinta yang pekat. Di bawah status rendah ini, ia akan membangun kekuatannya dalam diam, menunggu saat di mana garis lurusnya benar-benar mampu membelah langit.