Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 : Aroma masih tertinggal
Ainur meringis, kulit lehernya terasa perih – ujung pisau tajam menyayat sedikit dalam. Seketika darah merembes keluar, mengalir turun.
Dia berontak, menyikut sosok yang membekapnya. Tepat sasaran.
Tubuh Ainur dilepaskan. Bergegas wanita mulai kesakitan itu berbalik. Secepat kilat keningnya dihantam sebuah batu, lalu perutnya ditendang hingga terjengkang.
Bugh!
Punggung Ainur menabrak pot semen tanaman bambu hias, menimbulkan suara sedikit kencang.
Hsst … dalam cahaya nyaris gelap, dia mencoba bangkit. Tidak berani menjerit. Pandangannya mulai gelap, seolah bumi berputar cepat, tapi masih bisa melihat seringai seseorang yang mengenakan jubah hitam, wajah tertutup kain warna senada.
Perlahan kesadaran Ainur menghilang. Dia pingsan dengan luka di leher, memar pada punggung, dan keningnya pun berdarah.
Sosok misterius tadi melangkah ringan, seperti berlari tapi tak menjejak tanah, seolah memiliki ilmu kanuragan, menghilang di persimpangan ujung jalan.
Beberapa saat kemudian. Dua orang pelayan wanita menjerit. Lampu obor diarahkan ke Ainur.
“Nyonya mudah disini!”
Derap langkah kaki terdengar tergesa-gesa. Daryo tiba lebih dahulu, memandang muak sekaligus terkejut. Dia berjongkok, memeriksa kondisi Ainur, menelisik lukanya, menempelkan punggung telunjuk jari ke hidung – merasakan masih ada tidak napas kehidupan.
“Cari bedebah itu!” gelegar suara Daryo menghentikan langkah para pelayan, lalu mereka mulai memeriksa ulang bagian-bagian dirasa cukup untuk bersembunyi seseorang.
Tukiran memicingkan mata, sorot lentera digenggam oleh salah satu pelayan, memperlihatkan darah segar pada kening dan leher Ainur masih keluar.
Bu Mamik, Citranti, serta Kamila terkesiap. Sedikit ngeri melihat kondisi mengenaskan wanita yang sedari bayi sudah merasakan kekejaman mereka. Tidak dengan kekerasan, tapi menggunakan cara halus, sedikit demi sedikit merusak mental serta fisik Ainur.
“Sepertinya ada yang mau main-main dengan kita!” Tukiran menggeram, rahangnya mengeras. Mengira kalau Ainur habis diserang seseorang memiliki niat jahat.
Dari belakang mereka, Wesa datang terlambat. Tadi dia ikut memeriksa bagian dapur bersama seorang kusir.
Kemudian mba Neng pun tergopoh-gopoh mendekati kerumunan. Dirinya di temani sang rekan bagian dapur.
“Seret dia! Bawa kembali ke kamarnya!” titah bu Mamik tanpa perasaan.
Mba Neng menyerahkan obornya ke sang teman. Tanpa sungkan, tak pula terlihat raut enggan maupun kasihan – kedua tangan lemas Ainur, dia tarik menggunakan kekuatan penuh.
Ainur diperlakukan layaknya hewan. Hal biasa kala dia tertidur seperti orang mati, diseret dari tempat tidur, dibawa ke ruangan pijat. Di sana, sudah ada Ki Ageng yang bersiap melakukan ritual pujon bayi – menumbalkan janin Ainur.
Keesokan paginya saat wanita malang itu terbangun, sudah tidak ingat apa-apa. Tidak ada jejak sama sekali pada tubuhnya. Kulitnya tetap mulus, bekas goresan bebatuan maupun tanah berpasir, lenyap. Ki Ageng menyembuhkan dengan ilmu saktinya, demi menghilangkan bekas kekejaman mereka.
Sesampainya di kamar, mba Neng yang menggantikan pakaian Ainur. Menyobek baju dan celana tidur. Ekspresinya tetap datar, sorot mata dingin.
“Biarkan saja luka-lukanya! Kita bisa menakuti dia agar tidak lagi berani keluar dari kamar bila malam hari,” cegah bu Mamik, saat salah seorang pelayan masuk membawa baskom berisi air hangat dan obat bubuk berkhasiat menghentikan darah segar yang masih keluar meskipun tidak banyak.
Mba Neng menuliskan sesuatu pada kertas yang selalu tergantung di lehernya, lengkap dengan pena. 'Lukanya tidak dalam, bisa diatasi oleh proses alami tubuhnya sendiri dalam membekukan darah.'
Kamila mendengus, menatap muak pada Ainur yang berbaring di atas tilam, sudah mengenakan baju terusan. “Aku berharap, semuanya cepat berakhir. Agar ndak lagi melihat wanita mirip Belalang sembah itu. Muak, teramat muak, harus berlakon manis, padahal keinginan melenyapkan dia berkobar dalam hati.”
"Sabar nggeh cintanya mas Aryo.” Daryo merangkul pundak istrinya, mengecup penuh kasih pipi Kamila – mereka adalah sepupu, tapi termasuk garis keturunan menyamping derajat keempat. Beda ayah, ibu, nenek, kakek, tapi memiliki leluhur yang sama – Wara. Diperbolehkan menikah (saudara jauh).
“Tinggalkan saja! Biarkan dia tidur, jangan diberi minuman herbal dulu. Hal tersebut bisa mengacaukan sistem tubuhmu!” Tukiran keluar dari dalam kamar, diikuti yang lainnya.
Terakhir mba Neng. Tanpa menoleh ke sosok yang perlahan mengerjapkan mata.
Pintu kamar ditutup keras, hal yang tidak akan dilakukan bila Ainur dalam keadaan terjaga.
Ainur membuka kelopak matanya – dari sudut matanya tetesan air meluncur membasahi bantal. Baru kali ini dia mendengar nada kejam tak berhati nurani, perlakuan kasar bak binatang.
Meskipun tidak dapat melihat langsung dikarenakan pura-pura pingsan, tapi dapat merasakan bersamaan dengan rasa nyeri pada sekujur tubuh.
Ainur memang sempat pingsan, namun tersadar kala merasakan punggung nyeri dikarenakan menekan batu lancip saat di seret. Memilih tetap berpura-pura tidak sadarkan diri, ingin mengetahui bagaimana aslinya para penghuni rumah ini.
“Tertawalah, bersenang-senang lah dulu. Aku beri kesempatan kalian untuk merasa puas dan diatas angin. Nikmatilah kesombongan ini sebelum perlahan-lahan aku membalikkan keadaan. Membalas dengan cara yang sama, tentunya lebih menyakitkan!” Ainur memejamkan mata, meresapi rasa nyeri pada sekujur tubuh serta hatinya.
"Ini terakhir kalinya aku menangisi diri sendiri. Setelahnya, akan ku pulangkan rasa hina, kehormatan diinjak-injak, hati dicabik-cabik, hidup dipermainkan, dan diperlakukan layaknya hewan serta orang bodoh kepada kalian!” itu tekadnya.
Sayup-sayup Ainur mendengar teriakan Tukiran, jeritan Daryo, gelegar suara Wesa – mereka menekan para pelayan yang kebanyakan berjenis kelamin perempuan, untuk mencari lebih gigih lagi sosok si penyusup.
‘Siapa orang itu?’ matanya terpejam, batin mencoba menebak dari gesture gesit, gerakan tangkas, dan aromanya masih tertinggal, bisa diingat.
Ainur yang letih fisik serta mental, mulai tertidur membawa rasa penasaran, memendam kebencian, berambisi membalas dendam.
***
Pagi hari saat matahari sudah bersinar – cahayanya masuk melalui jendela kamar, wanita yang semalam mengalami rentetan kejadian mengerikan sekaligus terkuaknya fakta serta jati dirinya. Mulai terbangun, dia tidak langsung membuka mata kala merasakan sesuatu memeluk perutnya.
'Menjijikan!' batinnya menggeram. Ingin rasanya dia potong menggunakan gergaji lengan Daryo yang melingkari perutnya.
Ainur meringis, bukan pura-pura tapi juga tak sepenuhnya benar. Badannya sakit semua.
“Sayang ….” Daryo segera menyanggah tubuh menggunakan siku kiri. Menatap iba berbalut rasa khawatir berlebihan.
Begitu Inur membuka mata, pipinya langsung dikecup mesra. “Mas takut sekali, dek. Semalam ada orang berniat jahat mau mencelakai dirimu.”
Ainur mengikuti alur sandiwara, berekspresi natural. Terkejut sekaligus takut, air matanya seketika merebak. “Mas ndak bercanda, kan? Siapa dia. Badanku sakit ….”
“Jangan bangun, sayang.” Tangannya menahan tepat diatas buah dada kanan. “Kamu terluka, dihantam batu, nyaris ditusuk. Beruntungnya, meskipun merasa ndak berguna – mas datang tepat waktu. Membalas perbuatan biadabnya yang telah melukai wanita kesayanganku ini.”
Ainur terkejut, matanya menyipit melihat pria menangis, tentu cuma pemanis sandiwara. “Penjahatnya ketangkep, mas? Siapa …?”
.
.
Bersambung.
ainur gak di bawa jalan jalan ke desanya dwipa lagi ya kak,,,biar dia lihat aktivitas warga di sana juga
menghanguskan mu si paling pintar.