NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tiga puluh satu

"Untuk apa kau datang?pria tua itu mengirimmu kemari yah?"

Langit menatap malas bara yang berdiri di hadapannya. Bara hanya menoleh tanpa menjawab, pria itu berjalan santai menuju jendela, menatap keluar dengan kedua tangannya berada di saku celana.

"Mama yang minta aku kemari, beliau khawatir" lirih suara bara menjelaskan,

"Hahahah" tawa sumbang langit terdengar sinis, senyum smirknya terlihat menyebalkan.

"Sejak kapan mama khawatir padaku"

Bara menoleh sekilas, namun wajah tampannya terlihat biasa saja, tidak terganggu.

"Aku sampai detik ini heran, langit. tidak tahu apa yang membuatmu berubah seperti ini. Tapi yang perlu kamu tahu, bagiku selamanya kamu adalah saudaraku"

"Hhhhhhh" langit mendengus, mata elangnya memutar malas.

"Jangan sok puitis bung, katakan saja mau apa kau kemari?"

"Aku merindukan seseorang" bisik bara lirih.

Bisikan yang sangat lirih, lebih tepatnya bara berbisik untuk dirinya sendiri. Namun langit mendengarnya, rahang langit mengeras, ia tahu siapa yang dirindukan saudara tirinya itu.

"Aku ingin melihat kerjamu selama aku tidak ada.." suara bara terdengar kembali datar, tubuh kekarnya itu berbalik, mengamati langit yang terlihat terganggu.

"Aku harap, kamu tidak mengacaukan semuanya seperti sebelum-sebelumnya"

Langit melengos kesal, wajah tampannya terlihat dingin.

"Apakah kamu pikir aku masih anak kecil, kamu pikir aku masih bocah labil!"

"Hahahhaha, baguslah aku senang mendengarnya" ujar bara tertawa, namun tawa itu terdengar tulus.

"Berapa lama kamu di sini?"

Langit menatap bara serius, menanti jawaban pria itu dengan hati yang memanas. Bara tertegun cukup lama, wajah tampannya itu terlihat sedang berpikir cukup keras, jawabannya cukup menyembulkan senyum manis di bibir langit.

"Sebenarnya aku ingin lama di sini, tiga atau empat hari, tapi besok aku harus ke Jepang, kerja sama kita di sana sedikit mengalami kendala, jadi aku harus kesana"

"Pergilah.., hanya kamu yang bisa menanganinya"

Suara langit terdengar lega, binar matanya tidak dapat menutupi bahwa ia senang mendengar bara tak akan lama di bandung.

Bara menatap mata langit penuh selidik, ia sedikit heran, barusan tadi pria di hadapannya ini  tidak senang melihat kehadirannya, kening bara mengerut.

"Sepertinya kau sangat senang mendengar aku tidak lama disini!"

"Tidak..tidak..." tangan langit mengibas tidak setuju,

"Aku senang kamu berkunjung, hanya saja terkadang aku merasa seperti anak kecil yang tidak kalian percaya, kehadiranmu di sini bagai seorang supervisor yang selalu membuatku merasakan bahwa kalian tidak mempercayaiku"

"Kamu tahu, aku tidak begitu langit!, papa juga sangat mempercayaimu..."

"Aku tahu.." ujar langit menyela ucapan bara cepat,

"Kan aku bilang, perasaanku saja" sahutnya lagi tenang.

"Aku harus pergi sekarang, edo sudah menungguku di bawah...., ehh apakah alia tidak bekerja?, aku tidak melihatnya tadi" langkah bara terhenti, pertanyaan yang ia tahan sejak tadi, akhirnya bara tanyakan dengan hati-hati.

Langit menggelengkan kepalanya,

"alia sedang dinas luar dengan direkturnya, mungkin sore nanti baru kembali"

"Ohh..." jawab biru singkat.

Kakinya kembali melangkah, langit yang berjalan mengiringinya, tersenyum penuh kemenangan.

"Aku harap, sesekali sempatkan pulang langit, kasihan mama, beliau selalu merindukanmu" 

Bara tetap melangkah, ucapannya barusan walau ia tahu, langit sangat tidak menyukainya, namun ia berkewajiban untuk menyampaikannya. Bagaimanapun mereka adalah keluarga.

"Heummm.." sahut langit pelan, tidak ada keinginan untuk menimpali ucapan bara, wajahnya yang terlihat datar, menunjukkan bahwa ia sangat tidak perduli.

"Dan..lagi..., mama memintamu untuk mulai serius dengan wanita, beliau berharap, salah satu dari kita untuk cepat mengenalkan wanita yang layak" bara menghentikan langkahnya, menoleh ke arah langit yang juga berhenti.

Langit menatap mata bara lekat,

"Apakah kamu sudah punya calon untuk kamu kenalkan?"

Bara mengangguk ragu, sekelumit harapan terlihat di matanya yang bening.

"Aku harap, aku bisa mengenalkannya. Jika...jika..wanita ini bersedia"

"Apakah aku mengenal wanita itu?" Tanya langit datar, wajah tampannya terlihat begitu serius, mata elangnya menatap menuntut jawaban.

"Nanti saja jika wanita itu bersedia, baru aku akan mengenalkannya kepadamu" geleng bara lemah,

"Karena, entah mengapa aku merasa, wanita ini begitu tertutup dan sulit untuk kudekati"

"Apakah wanita itu alia?" Tanya langit tanpa basa basi.

Rahangnya kembali mengeras, melihat bara yang tercekat, langit sangat terganggu. Bara menoleh, mereka saling menatap. Tanpa mereka sadari suasana di ruangan itu terasa sedikit memanas, bara merasakan aura ketidaksukaan langit begitu kuat.

"Apakah kamu juga, menyukai alia?"

"Hhhhhhh...juga!" dengusan  kasar keluar dari mulut langit yang tersenyum separuh, senyum smirknya yang terlihat selalu menyebalkan.

 Matanya terlihat tajam menelisik mata bara yang juga menatapnya intens, pertanyaan bara barusan menjawab pertanyaan langit dengan jelas.

Bara tersinggung mendengar dengusan dan gumaman langit, ia sebenarnya sadar bahwa langit juga menaruh perasaan pada alia, pertanyaannya barusan hanya ingin membuktikan dugaannya yang ternyata benar.

"Aku harap, kamu jangan menganggu alia, langit. Wanita itu bukan seperti wanita kebanyakan, dia bukan seperti wanita-wanita yang pernah hadir dalam hidupmu...."

"Tahu apa kau tentang hidupku" langit mendengus kesal, memotong ucapan bara cepat, mata elang abu-abunya terlihat tersinggung.

"Aku serius langit, aku minta kamu jangan menganggu wanita itu dan juga putranya..."

Mata bara terlihat tajam, ucapannya barusan terdengar sangat dalam dan penekanan pada kata-katanya terasa sangat tegas.

Langit semakin marah, wajahnya yang menegang dengan rahangnya yang mengeras, menunjukkan ia benar-benar sedang menahan hatinya. Ada rasa cemburu yang membakar di hatinya saat ini, dan itu sangat tergambar di wajahnya dengan jelas.

"Aku akan mengajak alia nanti di aniversary papa dan mama, kuharap kamu tidak mengacaukannya.." jelas bara lagi tanpa ekspresi, namun tatapan matanya masih terlihat tajam dan menelisik, lagi-lagi langit melengos, hatinya mendidih tak karuan, dengan langkah malas ia melangkah meninggalkan bara yang mengikutinya dari belakang.

Mereka melangkah beriringan tanpa suara, langit menekan tombol pintu lift, bara hanya berdiri memperhatikan.

Pintu lift terbuka lebar, langkah bara tertahan matanya membulat sempurna, di dalam lift alia dan direkturnya terlihat canggung menatap ke arah dua orang pria, yang merupakan bos dan pemilik  perusahaan mereka, yang sedang berdiri di depan pintu lift yang terbuka.

Bu wirda dan alia menganggukkan kepalanya sopan, senyum bara terlihat mengembang indah menatap alia tak henti, sementara wajah langit mengeras dan mengelam.

Alia menyadari wajah langit yang terlihat menahan marah, namun ia tidak tahu mengapa langit menatapnya seperti itu. Tapi alia sudah dapat menduga, bahwa penyebab wajah kusut langit pasti kehadiran bara yang saat ini menatap dirinya penuh dengan binar yang tidak mau alia akui.

Pria itu, bara menatapnya penuh rindu dengan binar indah dari matanya.

"Alia...saya mau bicara sebentar bisa?"

Bara menahan langkah alia yang hendak mengikuti langkah bu wirda yang sudah terlebih dahulu melangkah, meninggalkannya.

Alia membalikkan tubuhnya, matanya mengernyit penasaran, belum sempat ia menjawab permintaan bara. Langit, pria itu memanggilnya, dengan suara yang cukup keras.

"Bu alia..!, saya tunggu laporan kamu di ruangan saya, sekarang".

Bara dan alia menoleh bersamaan menatap langit yang berdiri kaku, wajah tampannya masih terlihat menahan amarah yang sekuat tenaga di tahannya.

"Maaf pak bara, saya di panggil pak langit,.."

Alia pamit mengangguk hormat, langkahnya tertahan kembali ketika bara mengatakan sesuatu yang membuat wajah tampan langit semakin menegang marah.

"Saya telpon kamu nanti yah"

Alia menganggukkan kepalanya sebelum ia melangkah meninggalkan pintu lift yang membawa bara itu,menutup sempurna.

Langit, pria itu menatap alia dengan tatapan menusuk, alia tetap melangkah menghampiri pria itu yang membalikkan tubuhnya, begitu alia berada di hadapannya.

"Ikut aku...!" Perintahnya terdengar singkat, dingin dan datar, dengan patuh alia mengikuti langkah panjang pria itu, menuju ke ruangannya.

Bersambung....

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
laki najis
Wang Feixi
alasan modus buat deketin alia cihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!