NovelToon NovelToon
Kontrak Kerja Dengan Mantan

Kontrak Kerja Dengan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kehidupan di Kantor / Pernikahan Kilat / CEO / Nikah Kontrak / Playboy
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manakin Hidup

Semuanya terasa aneh sejak awal Baskara memanggil Ririn ke ruangannya, Wajah Baskara dingin tanpa ekspresi apa pun.

“Kamu ikut saya,” katanya singkat sambil meraih kunci mobil.

“Ke mana, Pak?” tanya Ririn hati-hati.

“Belanja,” jawab Baskara masih datar. “Untuk teman perempuan saya.” katanya lagi.

"Baik pak,"Jawab Ririn singkat.

Baskara sengaja melakukannya, Ririn menyadari akan hal itu dadanya mengencang, tapi wajahnya tetap tenang dia hanya mengikuti langkah Baskara tanpa berani membantah.

Di dalam mobil, suasana hening Ririn duduk kaku, tangannya saling menggenggam di pangkuan.

Mereka berhenti di sebuah butik mahal. Begitu masuk, udara dingin AC langsung menyergap.

Baskara langsung menunjuk deretan gaun, mata Ririn refleks melirik harga di balik label gaun-gaun itu angka yang membuatnya menelan ludah.

“Coba yang itu terus yang sebelahnya semua,” perintah Baskara masih menunjuk gaun-gaun itu.

Ririn menatapnya tak percaya. “Saya?”

“Iya. Kamu.” kata Baskara menegaskan.

Tak ada waktu untuk membantah, akhirnya Ririn masuk ke kamar ganti, gaun pertama terasa berat, mahal, dan asing di tubuhnya.

Saat Riri keluar, Baskara berdiri dengan tangan di saku jas, menatapnya dari ujung kepala sampai kaki sedikit menahan tawa.

“Kebesaran.”

Ririn mengangguk, kembali masuk lalu mencoba gaun kedua.

“Biasa.”

“Nggak cocok.” Nada suara Baskara dingin, nyaris tanpa emosi namun bibirnya terlihat menahan senyum.

Setiap kali keluar kamar ganti, Ririn memaksakan senyum kecil. Senyum yang terasa kaku di wajahnya kakinya mulai pegal, bahunya terasa berat, tapi dia tetap berdiri tegak melaksanakan tugas konyol itu.

Gue ini asisten, bukan boneka pajangan, batinnya kesal, tapi kalau gue protes gue bisa kehilangan pekerjaan ungkap Ririn dalam batinnya.

Baskara memperhatikan Ririn dia sangat menikmati momen itu, senyum tipis tersungging di sudut bibirnya, bukan senyum bahagia lebih seperti kepuasan kecil melihat Ririn bertahan dalam diam.

Setelah entah berapa kali bolak-balik kamar ganti, Baskara akhirnya bersuara.

“Yang itu,” kata Baskara akhirnya. “Ambil.”

Ririn mengangguk, napasnya terasa berat. “Baik, Pak.”

Mereka pindah ke toko sepatu Ririn kembali duduk, membuka dan mengenakan satu per satu sepatu hak tinggi.

Hak pertama membuat pergelangan kakinya sedikit gemetar kali ini Baskara terang ternagan tertawa kecil.

Hak kedua lebih tinggi, lebih menyiksa Baskara mengamati dengan tenang masih terlihat menikmati penderitaan Ririn.

“Ambil sepatu yang ini, yang tadi juga," katanya singkat wajah Baskara tampak puas entah kepuasan apa yang dia rasakan.

Ririn tersenyum tipis senyum sopan senyum terpaksa, kalau gue tadi jatuh mungkin dia bakalan ketawa gumam Ririn dalam hati.

Setelah itu mereka pergi ketoko perhiasan, lampu-lampu etalase memantulkan kilau kalung dan cincin mahal.

Baskara mengambil satu kalung, lalu tanpa bertanya mendekatkannya ke leher Ririn, seolah sedang menilai.

Deg.

Ririn menahan napas ini kelewatan Ririn membatin.

Tapi bibirnya tetap tertutup, Baskara menatap Ririn lama, lalu mengangguk kecil.

“Cantik,” kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Baskara.

"Euh," Ririn tak sengaja bergumam.

"Kalungnya cantik," Ungkap Baskara nadanya terdengar datar.

Setelah memilih beberapa perhiasan Baskara menyerahkan kartu ke kasir, lalu menoleh ke Ririn.

“Terima kasih,” katanya datar.

“Sudah jadi manakin hidup hari ini.”

Ririn tersenyum, senyum yang terasa sakit di pipinya senyum yang menyembunyikan lelah, jengkel, dan harga diri yang terinjak.

“Sama-sama, Pak,” jawabnya pelan.

“Bawa semua belanjaan itu,” lanjutnya sambil melangkah pergi. “Masukin ke mobil.”

Ririn mengangguk lagi tangannya penuh kantong belanjaan. Bahunya terasa berat, bukan hanya karena beban barang, tapi karena beban perasaan yang dia pikul sendirian.

Saat dia berjalan menuju parkiran, dari balik kaca mobil, Baskara menatapnya senyum kecil itu muncul lagi di wajahnya.

Baskara melihat jelas kelelahan dari langkah Ririn. dia tahu Ririn marah dia tahu Ririn tersiksa dan entah kenapa itu memberinya kepuasan.

Sedikit lagi, batinnya sedikit lagi sampai luka ini terasa seimbang.

Dan Ririn, dengan senyum yang masih terpasang, tidak tau sampai kapan dia bisa terus berpura-pura tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!