Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Penyamaran di Kantor
Udara fajar di pinggiran Sektor Empat terasa seperti lecutan logam dingin yang menyentuh kulit. Arlan merapatkan jaket Archivist kelabunya, merasakan tekstur kain yang kasar namun memberikan rasa aman yang ganjil. Di bawah kakinya, aroma air got yang hampa dan bau karat lembap menguar dari lubang drainase, tempat Mira baru saja melepaskannya untuk menempuh jalur tikus menuju gudang logistik.
Ia menyentuh saku dalamnya, memastikan botol kecil air raksa netral dan sepasang kunci rumah tua tanpa pintu masih ada di sana. Benda-benda itu adalah satu-satunya jangkar kemanusiaannya sebelum ia terjun kembali ke dalam teater kepalsuan yang sangat ia kenal: kantor kurir Lentera Hitam.
"Fokus pada napas mereka, Arlan," suara Mira masih terngiang, membisikkan peringatan terakhir sebelum gadis itu menghilang di kegelapan saluran pembuangan. "Dan jangan pernah menatap mata mereka lebih dari dua detik."
Arlan memanjat tangga besi yang berkarat, keluar dari balik tumpukan palet kayu di area bongkar muat. Kantor itu berdiri kaku di bawah langit yang kehilangan saturasi warnanya. Cahaya lampu merkuri hijau-kebiruan menyinari aspal, menciptakan bayangan yang tampak terlalu pekat, seolah-olah bayangan itu sendiri memiliki massa yang lebih berat daripada objek aslinya.
Ia melangkah menuju pintu samping, menarik napas manual untuk menenangkan debar jantungnya yang berdentum di balik tulang rusuk. Ia harus menjadi Arlan yang dulu—kurir yang paranoid pada detail kecil, yang dianggap sampah oleh rekan-rekannya, namun cukup naif untuk tidak dianggap sebagai ancaman.
Aroma Kertas dan Kepalsuan
Pintu kaca terbuka dengan desis AC yang sangat rendah. Suhu di dalam ruangan langsung merosot hingga sepuluh derajat Celsius, sebuah suhu endotermik yang dipelihara untuk menjaga stabilitas selular para Peniru yang kini menguasai jalur logistik.
"Kau terlambat dua puluh menit, Arlan."
Suara itu datang dari balik meja resepsionis. Arlan tersentak, sedikit bahu terangkat—sebuah reaksi natural manusia yang ia pelihara. Ia menatap sosok pria di depannya: Pak Budi, rekan seniornya yang dulu sering memberinya nasihat tentang cara membungkus paket dengan rapi. Sekarang, kulit Pak Budi tampak terlalu halus, seperti plastik yang dipoles, tanpa pori-pori yang mengeluarkan keringat meskipun udara terasa pengap.
"Maaf, Pak Budi. Ban sepedaku bocor di dekat batas distrik," jawab Arlan dengan nada merendah, sedikit gagap sesuai protokol identitas tersembunyinya.
"Sepeda?" Pak Budi menatapnya tanpa berkedip. Gerakan dadanya untuk bernapas terjadi secara sadar, statis, dan terjeda secara tidak alami. "Logistik tidak mentoleransi hambatan fisik sekecil itu. Segera masuk ke lokermu. Bos sudah menanyakan manifes kiriman yang belum terproses."
"Baik, Pak. Segera," ucap Arlan sambil menundukkan kepala.
Ia berjalan menuju deretan loker logam di lorong sempit. Bau kertas baru yang tajam bercampur zat kimiawi memenuhi indra penciumannya. Saat ia membuka lokernya, tangannya membeku. Di antara tumpukan sarung tangan kerja, terdapat sebuah Koin Perak.
Arlan menelan ludah. Ia tidak berani mengambilnya sekarang. Ia tahu ada kamera pengawas yang sedang menganalisis setiap gerak-geriknya. Melalui penglihatan tepi, ia menggunakan kemampuan barunya untuk memantau pantulan di permukaan logam loker di depannya. Di pantulan itu, ia melihat bayangan Pak Budi yang masih berdiri di ujung lorong. Bayangan itu bergerak lebih lambat satu detik daripada tubuh aslinya.
Echo itu nyata, batin Arlan. Dia benar-benar bukan Pak Budi lagi.
"Ada masalah dengan lokermu?"
Arlan tersentak, hampir menjatuhkan sarung tangannya. Ia dengan cepat memasukkan koin itu ke dalam telapak tangannya dan menyembunyikannya di balik ikat pinggang. "Tidak, hanya mencari kunci gudang bawah tanah. Saya pikir saya meninggalkannya di sini."
"Kunci gudang ada pada Bos," suara itu terdengar sangat dekat. Pak Budi sudah berdiri tepat di belakangnya tanpa suara langkah kaki. "Dia ingin bicara denganmu di ruangannya. Sekarang."
Di Depan Mata Predator
Arlan berjalan menyusuri koridor menuju ruang paling ujung. Setiap langkahnya di atas ubin linoleum yang licin terasa seperti berjalan di atas es tipis. Ia bisa merasakan mata-mata rekan kerjanya yang lain—yang juga telah digantikan—mengikuti gerakannya. Mereka semua mengetik di keyboard analog dengan ritme yang sama, menciptakan harmoni akustik yang hampa.
Ia mengetuk pintu kayu jati yang kokoh. "Permisi, Bos."
"Masuk."
Suara itu berat dan efisien. Arlan masuk dan mendapati seorang pria besar duduk di balik meja kaca yang sangat bersih. Sang Bos tidak menatap layar komputer; ia hanya menatap tumpukan kertas manifes di depannya.
"Duduklah, Arlan," ucap Bos tanpa mengangkat kepala.
Arlan duduk di kursi plastik yang dingin. Ia bisa merasakan suhu di ruangan ini bahkan lebih rendah daripada di luar. Melalui permukaan kaca meja yang mengkilap, Arlan secara diam-diam mengaktifkan kemampuan indra refleksinya. Ia menatap pantulan wajah Bos di kaca meja.
Di sana, ia melihat pemandangan yang mengerikan. Wajah asli Bos di pantulan itu tampak bergetar hebat, seolah-olah kulitnya sedang berusaha menyesuaikan diri dengan struktur tulang di bawahnya. Ada residu perak yang mengalir di sudut mata pantulan itu.
"Aku mendengar kau banyak bertanya tentang arsip pengiriman tahun 2012 belakangan ini," Bos mengangkat kepalanya. Tatapannya statis, predator, menembus ke dalam mata Arlan.
Arlan merasakan tangannya gemetar di bawah meja. Ia segera menggenggam kunci rumah tuanya untuk mencari kekuatan. "Hanya... hanya merapikan data, Bos. Banyak nomor resi lama yang tumpang tindih dengan kiriman Sektor Tujuh kemarin."
"Sektor Tujuh sudah tidak ada, Arlan. Kenapa kau masih peduli pada nomor resi yang sudah terhapus?"
"Karena martabat seorang kurir adalah memastikan setiap barang sampai ke tangannya yang benar, bahkan jika tangannya sudah tidak ada," jawab Arlan, suaranya sedikit lebih tegas dari yang ia rencanakan.
Bos terdiam. Ruangan itu jatuh ke dalam hampa akustik total. Detak jam dinding seolah berhenti berdetak. Sang Bos memiringkan kepalanya, menatap Arlan seolah sedang menganalisis sebuah anomali dalam kode.
"Kau bicara seperti manusia yang memiliki terlalu banyak beban emosional," ucap Bos perlahan. "Itu tidak efisien."
"Saya hanya orang bodoh yang suka mengoleksi kertas tua, Bos," Arlan kembali ke nada naifnya. Ia merogoh saku luar jaketnya dan mengeluarkan sebuah resi kusam yang sudah disiapkan oleh Dante. "Ini. Saya menemukan resi umpan untuk kiriman khusus 2012 di gudang atas. Saya pikir ini penting untuk audit hari ini."
Bos menerima kertas itu. Saat jari-jari dinginnya bersentuhan dengan jari Arlan, Arlan merasakan sensasi seperti menyentuh es kering yang membakar.
"Resi 2012?" Bos mengerutkan kening, perhatiannya teralih sepenuhnya pada kertas umpan tersebut. "Kenapa ini bisa tertinggal di atas?"
"Mungkin terselip saat pemindahan divisi," jawab Arlan cepat. "Saya bisa mengecek di gudang arsip bawah tanah jika Bos memberikan izin akses kunci. Saya yakin masih ada manifes induknya di sana agar laporan audit Bos sempurna di depan pusat."
Pancingan itu dilepaskan. Arlan tahu para Peniru sangat terobsesi dengan kesempurnaan laporan untuk atasan mereka. Bos tampak menimbang-nimbang, matanya masih terpaku pada resi palsu yang dibuat Dante dengan sangat autentik itu.
"Ambil ini," Bos melemparkan sebuah kartu akses magnetik ke atas meja. "Kau punya waktu tiga puluh menit sebelum sistem melakukan pembersihan data otomatis. Temukan manifes induknya dan bawa ke mejaku. Jangan mencoba membuka brankas lain."
"Terima kasih, Bos. Saya tidak akan mengecewakan Anda," ucap Arlan sambil berdiri, menyembunyikan rasa lega yang luar biasa di balik wajahnya yang tampak lelah.
Ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan kartu akses di tangannya. Namun, saat pintu tertutup, ia bisa merasakan tatapan Bos masih tertancap di punggungnya melalui kaca pintu. Arlan tahu, permainan baru saja dimulai, dan tiga puluh menit adalah waktu yang sangat singkat di dunia di mana bayangan bergerak lebih lambat daripada kematian.
Labirin Kertas Tua
Arlan menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah dengan jantung yang berdentum ritmik, seolah-olah setiap detaknya mencoba melawan keheningan hampa akustik yang menyelimuti lorong tersebut. Cahaya lampu pijar di sini tidak lagi hijau-kebiruan, melainkan kuning redup yang berkedip, sisa-sisa infrastruktur lama yang belum sempat diganti oleh faksi Eraser. Di sini, suhu turun lebih ekstrem, membuat napas Arlan keluar sebagai uap putih yang pekat.
Ia menggesek kartu akses magnetik pada pintu baja gudang arsip. Bunyi klik mekanis terasa seperti ledakan di telinganya. Begitu pintu terbuka, bau debu kertas yang telah mengendap selama belasan tahun langsung menyerbu indra penciumannya. Ini bukan bau kimiawi seperti di lantai atas; ini adalah bau sejarah yang membusuk.
"Tiga puluh menit," bisik Arlan pada dirinya sendiri.
Ia bergerak di antara deretan rak tinggi yang dipenuhi kotak-kotak karton cokelat. Ia mencari label bertuliskan 'Manifes Pusat 2012'. Melalui penglihatan refleksinya, Arlan melihat bayangan rak-rak itu di lantai semen yang mengkilap tidak bergetar. Tempat ini masih "murni", sebuah kantong realitas yang belum sepenuhnya tersentuh oleh proses penyalinan massal karena dianggap sampah logistik.
Tangannya gemetar saat menemukan kotak yang dicarinya di baris paling belakang. Ia menarik kotak itu hingga debu beterbangan. Di dalamnya, tumpukan kertas manifes disusun berdasarkan tanggal. Arlan membalik lembaran demi lembaran hingga matanya terpaku pada sebuah daftar nama: Subjek Penggantian Tahap Awal - Sektor Tujuh.
"Ya Tuhan," desis Arlan.
Ia melihat nama-nama tetangganya, penjaga toko kelontong, bahkan satpam apartemen yang ia lumpuhkan beberapa waktu lalu. Di kolom status, tertulis sebuah kode yang mengerikan: Deleted - Identity Mirrored. Namun, yang membuat napas Arlan tertahan adalah baris paling bawah. Namanya sendiri ada di sana, namun dicoret dengan tinta merah tebal dengan catatan kaki: Anomaly detected. Pure Blood. Metadata uncopyable.
"Jadi mereka sudah tahu sejak awal," Arlan merasakan keringat dingin mengucur di punggungnya.
Pilihan di Balik Bayangan
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Langkah itu berat dan terjeda, bukan langkah manusia yang terburu-buru. Arlan tahu Bos Peniru itu tidak sesabar yang ia duga. Sang predator sedang datang untuk memastikan umpan resi palsu itu benar-benar mengarah pada audit, atau hanya jebakan.
Arlan menoleh ke sekeliling. Tidak ada jalan keluar lain selain pintu utama. Jika ia tertangkap dengan dokumen ini, misinya berakhir.
"Arlan? Kau sudah menemukan manifesnya?" Suara Bos menggema, dingin dan tanpa emosi.
Arlan dengan cepat melipat manifes 2012 itu dan menyelipkannya ke dalam saku dalam jaket Archivist-nya. Ia mengambil sembarang buku besar lain dari rak dan menjatuhkannya ke lantai untuk menciptakan distraksi suara.
"Sedikit lagi, Bos! Raknya sangat berantakan!" teriak Arlan, mencoba menjaga suaranya tetap stabil meskipun tangannya kaku.
Ia melihat sebuah botol pemadam api tua di dekat rak. Ide gila muncul di kepalanya—solusi ketiga. Jika ia hanya bersembunyi, ia akan ditemukan. Jika ia lari, ia akan ditembak. Ia harus membuat "kecelakaan" yang logis bagi sebuah gedung tua.
Arlan mencabut pin pemadam api dan menyemprotkan isinya ke arah panel listrik di sudut ruangan hingga menimbulkan percikan api dan kepulan asap putih yang menyesakkan. Alarm kebakaran mulai melengking, memecah hampa akustik di ruangan itu.
"Sial! Bos, ada korsleting di sini!" Arlan berteriak sambil berlari menuju pintu saat asap mulai memenuhi pandangan.
Bos berdiri di ambang pintu, sosoknya yang besar menghalangi jalan. Matanya yang statis menatap asap, lalu beralih ke Arlan yang tampak panik dan kotor karena debu.
"Kenapa panel itu bisa meledak?" tanya Bos, tangannya mencengkeram bahu Arlan. Dinginnya menembus jaket.
"Debu, Bos! Gudang ini sudah terlalu lama tidak dibersihkan! Saya tadi mencoba menarik kabel lampu yang mati," Arlan terengah-engah, pura-pura sesak napas. "Kita harus keluar, asapnya beracun!"
Bos menatap ke dalam gudang yang kini tertutup kabut putih pemadam api. Kalkulasi efisiensi di otaknya berjalan; menyelamatkan arsip yang ia anggap sampah atau menjaga protokol keamanan gedung. Ia melepaskan bahu Arlan.
"Tinggalkan tempat ini. Biarkan sistem pemadam otomatis yang mengurusnya," perintah Bos.
Keluar dari Mulut Singa
Arlan berlari mendahului Bos, menaiki tangga dengan kecepatan yang wajar bagi manusia yang ketakutan. Saat sampai di lantai utama, suasana kantor sudah kacau. Para Peniru lain berdiri diam, menunggu instruksi pusat saat alarm berbunyi. Arlan tidak berhenti; ia terus berlari menuju pintu belakang, tempat ia masuk tadi.
"Arlan! Kembali ke posisimu!" teriak Pak Budi dari meja depan.
"Aku harus mengambil oksigen! Dadaku sesak!" Arlan melambaikan tangan tanpa menoleh, terus berlari hingga ia menabrak pintu keluar dan merasakan udara dingin Sektor Empat menyentuh wajahnya.
Ia tidak berhenti berlari sampai ia kembali ke lubang drainase tempat Mira menunggunya. Di kegelapan bawah tanah, ia merosot jatuh, menarik napas manual dengan rakus. Ia merogoh sakunya dan merasakan kertas manifes itu masih ada.
"Kau berhasil?" Sebuah suara lembut muncul dari bayangan. Mira mendekat, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang dalam.
Arlan menunjukkan lipatan kertas itu dengan tangan yang masih bergetar hebat. "Aku berhasil... tapi mereka tahu, Mira. Mereka tahu aku adalah anomali yang tidak bisa mereka salin."
Mira menyentuh tangan Arlan, mencoba menenangkannya. "Itulah sebabnya kau adalah harapan terakhir kami, Arlan. Kau adalah satu-satunya realitas yang tersisa di kota yang berbohong ini."
Arlan menatap kartu akses yang masih tergenggam di tangannya, lalu membuangnya ke aliran air got yang hitam. Ia tahu, setelah hari ini, ia tidak bisa lagi kembali ke kehidupan lamanya. Penyamarannya mungkin berhasil untuk sesaat, tapi perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di balik pintu-pintu yang terkunci.