Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk dalam perangkap
Pagi itu, suasana mansion terasa mencekam. Evan tidak keluar dari kamarnya sejak subuh, sementara Kamila menyiapkan keperluan Baby Zevan dengan tangan yang terus gemetar. Ia telah mencatat nama kafe yang terlihat di pojok foto kemarin: "Blue Velvet Cafe."
Kamila tahu, jika ia hanya diam, fitnah itu akan mengakar dan ia akan segera diusir. Dengan keberanian yang tersisa, ia mendekati Tuan Chen,
"Tuan Chen... bolehkah saya izin pergi sebentar?" tanya Kamila, suaranya parau. "Ada barang peninggalan almarhumah Ibu saya yang tertinggal di rumah lama. Saya harus mengambilnya hari ini."
Tuan Chen menatap Kamila dengan iba, namun juga penuh peringatan. "Evan sedang dalam suasana hati yang buruk, Kamila. Tapi jika itu penting, pergilah. Jangan lebih dari dua jam."
Kamila mengangguk cepat. Ia merasa berdosa karena berbohong, namun hatinya berteriak bahwa ini satu-satunya jalan. Ia segera memesan taksi menuju alamat yang ia temukan semalam.
Setelah menempuh perjalanan 40 menit, Kamila sampai di sebuah kafe mewah yang tersembunyi di dalam sebuah pusat perbelanjaan kelas atas. Jantungnya berdegup kencang saat melihat dekorasi kafe itu. Persis seperti yang ada di foto.
Ia segera menghampiri meja kasir. "Permisi, Mas. Saya ingin bertanya," Kamila menunjukkan hasil tangkapan layar foto "persekongkolan" itu di ponselnya. "Apa Mas pernah melihat saya bersama pria ini di sini?"
Pegawai kafe itu mengerutkan kening, memperhatikan foto itu lama. "Wajah Mbak memang mirip, tapi... saya tidak ingat ada kejadian ini. Biasanya kalau ada tamu secantik Mbak, saya pasti ingat."
"Tolong diingat-ingat lagi, Mas. Ini sangat penting bagi hidup saya. Apakah mungkin foto ini diambil pada hari Selasa lalu?" cecar Kamila penuh harap.
Saat pegawai itu hendak menjawab, sebuah tepukan berat mendarat di bahu Kamila. Sebuah lengan tiba-tiba merangkul pundaknya dengan sangat akrab, bahkan menarik tubuhnya mendekat.
"Kamila? Kenapa kau bisa ada di sini, Sayang?" tanya pria itu dengan suara berat yang dibuat-buat semanis mungkin. "Kau merindukanku sampai menyusul ke sini?"
Kamila tersentak. Bau parfum maskulin yang tajam menusuk indra penciumannya. Ia merasa jijik sekaligus ketakutan. Dengan kasar, ia menyentakkan bahunya dan berbalik untuk menghardik pria asing itu.
"Siapa kau?! Jangan lancang..."
Kalimat Kamila terhenti seketika. Matanya melotot, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Wajah pria di depannya sangatlah familiar. Pria itu memiliki rahang tegas dan potongan rambut yang persis dengan pria yang ada di dalam foto fitnah tersebut.
"Kau... kau pria yang ada di foto itu," bisik Kamila dengan wajah pucat pasi.
Pria itu tersenyum miring, sebuah senyum licik yang menyembunyikan niat busuk. "Tentu saja. Masa kau lupa pada kekasihmu sendiri, Kamila? Jangan malu-malu di depan umum begitu."
Belum sempat Kamila membantah, dari arah pintu masuk kafe, terdengar suara langkah sepatu yang sangat ia kenali. Langkah yang tegas dan berwibawa.
"Jadi, ini alasanmu berbohong ingin mengambil barang di rumah, Kamila?"
Suara itu dingin seperti es. Kamila menoleh dan menemukan Evan berdiri di sana dengan tatapan yang sanggup membunuh siapapun. Di belakang Evan, Siska berdiri dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat, memegang ponsel yang seolah baru saja mengirimkan titik lokasi keberadaan Kamila.
Dunia Kamila benar-benar runtuh. Ia tidak tahu bahwa pria yang merangkulnya adalah orang bayaran Siska yang memang sudah menunggu kehadirannya di sana.
Di dalam kafe yang dingin itu, pria asing tersebut semakin mempererat rangkulannya. Ia menatap Evan dengan akting yang sangat meyakinkan, seolah ia adalah kekasih yang terluka namun tetap melindungi Kamila.
"Maaf, Tuan. Saya rasa Anda adalah majikan Kamila," ucap pria itu dengan nada tenang yang memuakkan. "Saya tahu ini salah, tapi Kamila tidak tahan lagi. Dia sering bercerita betapa tertekannya dia bekerja di rumah Anda. Rencana penculikan Baby Zevan itu... itu idenya. Dia ingin kami membawa bayi itu pergi agar dia bisa mendapatkan uang tebusan dan hidup bahagia bersamaku."
"BOHONG! Kamu siapa?! Kenapa kamu tega memfitnahku seperti ini?!" teriak Kamila histeris. Ia mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman pria itu terlalu kuat.
Kamila beralih menatap Evan dengan tatapan memohon. "Tolong Tuan percaya, saya tidak mungkin tega melakukan hal keji seperti itu. Saya tulus menyayangi Baby Zevan. Dia sudah seperti nyawa bagi saya!"
Namun, Evan tetap bergeming. Rahangnya menegang, otot-otot di lengannya menonjol saat ia mengepalkan tangan sekuat tenaga. Pengkhianatan ini terasa berkali-kali lipat lebih menyakitkan karena ia mulai memberikan sedikit rasa percayanya pada Kamila.
"Sebaiknya kau pergi, Kamila," suara Evan rendah namun penuh penekanan. "Putraku tidak butuh ibu susu sepertimu! Jangan pernah tunjukkan wajahmu di hadapanku atau putraku lagi, atau kau akan tahu akibatnya."
Mendengar itu, Kamila merasa dunianya gelap. Tidak ada lagi gunanya membela diri. Dengan air mata yang mengalir deras, ia berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Ia tidak tahu harus ke mana, namun langkah kakinya membawanya ke sebuah pemakaman umum, satu-satunya tempat ia bisa mengadu yakni Makam kedua orangtuanya yang berada satu tempat dengan makam Putranya, hanya tempat itulah yang menjadi tujuan terakhirnya.
Di sana, di bawah langit yang mulai mendung, Kamila bersimpuh. "Ibu...Ayah... kenapa kejujuran begitu sulit dipercaya? Aku hanya ingin menjaga bayi itu, tapi dunia seolah menolak ku."
.
.
Di kantor, Evan menjadi "monster". Setiap dokumen yang tidak sempurna dilemparnya, setiap bawahan yang salah bicara dibentaknya. Namun, di tengah amarahnya, bayangan wajah Kamila yang menangis saat pergi tadi terus menghantuinya. Ada rasa sesak yang tak masuk akal di dadanya.
Sementara itu, suasana di Mansion berubah menjadi neraka kecil.
"Oeeekk!"
"Oeeekkk!"
Suara tangisan Baby Zevan melengking, memecah kesunyian rumah besar itu. Suster Zara sudah mencoba segalanya, mengganti popok, memberi susu formula, hingga menggendongnya berkeliling, namun Zevan tetap menolak. Wajah bayi kecil itu memerah karena terlalu lama menangis.
Tuan Chen yang tidak tahan lagi, ia segera menelepon putranya. Perdebatan sengit pun terjadi.
"Kau pria paling bodoh sedunia, Evan! Papah sama sekali tidak percaya Kamila tega melakukan hal itu! Pakai logikamu, untuk apa dia bersusah payah mencari kebenaran ke kafe itu jika dia memang pelakunya?"
"Dia hanya bersandiwara, Pah! Dia ingin terlihat seperti korban!"
"Sandiwara? Lihatlah putramu sekarang! Dia tidak mau minum susu dari botol manapun. Dia hanya mau Kamila! Jika sampai terjadi sesuatu pada Zevan karena dehidrasi atau kelelahan menangis, Papah tidak akan pernah memaafkan mu!"
Klik!
Tuan Chen mematikan telepon dengan kasar.
Evan terdiam di kursi kebesarannya. Kata-kata ayahnya mulai meresap. Kenapa Kamila pergi ke kafe itu sendirian jika dia memang bersekongkol?
Ia segera memanggil asisten pribadinya, bukan untuk urusan kantor. "Bawa rekaman CCTV Blue Velvet kafe dalam sepuluh menit. Dan cari tahu siapa pria yang merangkul Kamila tadi. Jika ada satu saja bukti bahwa dia dibayar orang... aku sendiri yang akan menghancurkan siapapun di balik ini."
Saat asistennya keluar, Evan melihat ke arah jendela. Di luar, hujan mulai turun dengan deras. Pikirannya melayang pada Kamila yang pergi tanpa membawa payung, tanpa uang yang cukup, dan tanpa tujuan.
"Di mana kau sekarang, Kamila?" bisiknya dengan nada yang kini mulai berubah menjadi kecemasan yang mendalam.
Bersambung...
kopi untuk mu👍