Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29-omelan Nada
Sementara di sisi lain, suasana di rumah mewah keluarga Arlan justru berbanding terbalik. Begitu deru motor sport hitam Arlan memasuki garasi, Bunda Nada sudah berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap di dada. Wajahnya menunjukkan kecemasan tingkat tinggi yang bercampur dengan emosi.
Arlan turun dari motor, melepaskan helmnya, dan berjalan santai menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat tatapan maut Bundanya.
"Mana Aluna?" tanya Nada, suaranya rendah tapi menekan.
Arlan menatap pintu sejenak, lalu menjawab datar, "Nggak tahu, Bun. Tadi pas bel pulang, Arlan cari di kelasnya dia udah nggak ada. Mungkin dia duluan..."
"Mungkin?!" potong Bunda Nada cepat. Beliau melangkah maju dan tanpa aba-aba...
TWEEK!
"Aduhh! Bun! Sakit!" Arlan meringis, tubuhnya yang tinggi tegap terpaksa membungkuk karena telinga kanannya sudah berada dalam cengkeraman maut jemari Bunda Nada.
"Aduhh! Bun! Sakit! Lepas, Bun!" Arlan meringis, tubuhnya yang tinggi tegap terpaksa membungkuk karena telinga kanannya sudah berada dalam cengkeraman maut jemari Nada. Posisi Arlan sekarang benar-benar jauh dari kesan Ketua Kelas yang berwibawa.
"Sakit kamu bilang? Hati Bunda jauh lebih sakit kalau sampai terjadi apa-apa sama Aluna!" bentak Nada, bukannya melepaskan, beliau malah memberikan satu putaran ekstra pada telinga malang Arlan.
"Arlan udah cari ke seluruh kelas, Bun! Bahkan Arlan udah tanya sama teman-temannya, mereka bilang Aluna udah melesat kayak jet!" Arlan mencoba membela diri dengan tangan yang berusaha menggapai jemari Bundanya, namun Nada bukan lawan yang mudah.
"Kamu itu punya motor sport buat apa? Buat gaya-gayaan aja? Kamu harusnya sudah nunggu di depan kelasnya sebelum bel bunyi! Aluna itu baru, Arlan! gimana kalau dia diculik? Gimana kalau dia pingsan di jalan karena kecapekan?!" Nada melepaskan jewerannya dengan sentakan kecil, membuat Arlan hampir limbung ke samping.
Arlan mengusap-usap telinganya yang kini sudah berubah warna menjadi merah menyala, bahkan mulai muncul semburat biru karena tarikan Nada yang luar biasa kuat. "Dia bukan anak kecil lagi, Bun. Aluna itu cerdik, dia nggak mungkin nyasar sampai ke kutub."
"Jawaban kamu itu ya! Benar-benar bikin Bunda naik darah!" Nada berkacak pinggang, napasnya naik turun. "Sekarang, kamu diam di sini. Bunda mau telpon Calista. Kalau sampai Aluna nggak ada di rumah Mamahnya, kamu Bunda hukum tidur di luar bareng kucing-kucing liar!"
Nada segera menyambar ponselnya di atas meja teras dengan gerakan yang sangat gesit untuk ibu-ibu seusianya. Arlan hanya bisa berdiri mematung di samping motornya, merasa harga dirinya jatuh berkeping-keping. Telinganya masih berdenyut kencang, memberikan sensasi panas yang menjalar sampai ke leher.
"Halo? Jeng Calista? Aduh, maaf banget mengganggu sore-sore begini," suara Nada mendadak berubah menjadi sangat lembut dan manis, berbanding terbalik 180 derajat saat bicara dengan Arlan tadi. "A-anu... apa Aluna ada mampir ke sana? Soalnya Arlan pulang sendirian, katanya Aluna sudah nggak ada di sekolah."
Hening sejenak. Arlan menatap Bundanya dengan penuh harap, berharap Aluna benar-benar ada di sana.
"Oh! Syukurlah kalau di sana. Aduh, maaf ya Jeng, anak asuh saya yang satu ini memang kaku banget, nggak bisa jaga istri sendiri. Iya, ini anaknya lagi saya cuci otaknya di depan rumah. Oke, oke... Arlan sekarang juga meluncur ke sana buat jemput. Maaf ya, Jeng, sekali lagi."
Begitu panggilan berakhir, wajah Nada kembali menjadi mode 'predator'. Beliau menatap Arlan dengan mata yang menyipit.
"Aluna ada di rumah Mamah Calista. Dia pulang naik ojek sendirian!" Nada menghampiri Arlan dan kembali menjentik telinga merah Arlan dengan jarinya.
"Aw! Bun, udah dong!" keluh Arlan.
"Sana berangkat! Jemput dia sekarang juga. Dan ingat, Bunda sudah pesan sama jeng Calista supaya jangan kasih Aluna pulang kalau bukan kamu yang jemput. Kalau kamu pulang ke sini tanpa membawa Aluna, lebih baik kamu cari kos-kosan baru!" ancam Nada telak.
"Tapi Arlan belum ganti baju, Bun. Masih pake seragam," gumam Arlan pelan.
"Nggak perlu ganti baju! Biar semua orang di jalan tahu kalau ada Ketua OSIS yang nggak becus jaga istri! Cepat berangkat!" Nada mendorong punggung Arlan menuju motornya.
Dengan napas berat dan perasaan yang campur aduk, Arlan kembali memakai helmnya. Rasa perih di telinganya seolah menjadi pengingat bahwa hari ini ia benar-benar kalah telak dari seorang gadis bernama Aluna.
Arlan memacu motornya di tengah kemacetan kota. Setiap kali angin menerpa telinga kanannya, ia meringis kecil. "Ck, nyusahin banget si tuh cewek" gerutunya di balik helm.
Arlan memacu motornya lebih kencang, membelah kemacetan sore hari dengan perasaan dongkol yang tertahan di balik helm fullface-nya. Sesekali ia meraba telinga kanannya yang masih terasa panas dan berdenyut. "Bunda kalau jewer beneran nggak pakai perasaan," gumamnya kesal. Bayangan wajah Aluna yang tadi kabur dari sekolah tanpa pamit membuat giginya bergemeretak.
"Awas aja ya lo Aluna! "ancam Arlan pelan sambil menambah kecepatan motornya.