Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Moana & Maui
Kael berjalan tanpa alas kaki melewati ruangan kosong.
Para orang tua sudah duduk berjajar di kursi-kursi yang disusun di kedua sisi sebuah catwalk panjang di ujung ruangan.
Sierra berlari menghampirinya. Di rambutnya ada rangkaian bunga.
"Om Kael! Om kelihatan sempurna!" Dia menepuk perut Kael. "Tapi mungkin perlu sedikit lebih cokelat."
Monica mendekat dan memukul lengannya pelan sambil tertawa. "Lihat dirimu. Anak-anak bakal pingsan, dan mungkin setengah yang sudah menikah juga."
Kael mengusap tengkuknya. "Ya, tentu saja."
Mereka menunggu di sisi panggung, sementara para gadis berbaris. Kael melihat Joann di barisan depan, sibuk dengan kameranya.
Monica mencondongkan badan. "Makasih udah bantuin dia. Sebenarnya aku bisa nyewa fotografer, tapi aku keburu ribut sendiri supaya Joann belajar motret dengan benar!"
"Enggak masalah."
"Oh, Kamu seharusnya lihat waktu Sierra baru datang tadi. Dia benar-benar enggak tahu apa-apa sama kamera itu."
"Yah, aku yakin."
Musik mulai berdentum, dan gadis pertama melangkah ke catwalk. Dia berpakaian seperti Lilo, mengenakan gaun bunga sambil memeluk boneka Stitch biru, berjalan dengan langkah malu-malu.
Kakinya melangkah ragu sampai tepuk tangan para orang tua pun pecah.
"Ayo, Shila!" Seseorang berteriak.
Dia mulai menikmati perhatian itu, dan saat sampai di ujung lintasan, dia menari hula sambil melempar Stitch ke udara. Sejuta HP terangkat, merekam setiap momennya.
Kael menarik rok rumputnya.
Apa yang sudah dia lakukan?
Gadis berikutnya melangkah ke panggung. Dia menjadi Tiana dengan gaun hijau berok panjang dan membawa boneka katak. Semua anak benar-benar didandani total.
Satu per satu mendapat giliran tepuk tangan meriah. Sierra tampil terakhir dengan kostum Moana-nya.
Sierra meraih lengan Kael. "Om Maui, siap?"
"Siap, sebisanya."
Jelas, Kael sebentar lagi akan muncul di media sosial semua orang tua di ruangan ini. Kael menarik napas dalam-dalam. Untung Sierra imut banget.
Suara berat pembawa acara pun menggema dari pengeras suara. "Dan sekarang, bintang hari ini, putri ulang tahun kita, Sierra Saputri sebagai Moana bersama Om Maui!"
Mereka naik ke panggung disambut ledakan tepuk tangan.
"Ayo kita tunjukkan ke mereka!" kata Sierra.
"Kenapa enggak?"
Kael mengangkat Sierra ke bahunya dan menghentakkan tongkat ke lantai. Di atas mereka, meriam confetti meledak, menutupi si ulang tahun dengan potongan warna-warni.
Ya, ini pasti bakal viral.
"Aku kenal dia," kata seorang perempuan. "Aku bakal tag dia."
Tapi Kael tetap tersenyum, berputar ke kiri dan ke kanan supaya semua orang bisa melihat Sierra dengan jelas. Dia sudah terlanjur di sini. Sekalian saja dijalani.
Perempuan penanggung jawab acara itu pun muncul lagi. "Para orang tua, silakan naik ke panggung bersama para putri kalian. Saya akan dengan senang hati memotret pakai HP kalian."
Tugas Kael pun selesai. Dia menurunkan Sierra ke lantai, membiarkannya dikerubungi teman-temannya.
"Jangan ... Maui, harus tetap di sini!" kata seorang gadis kecil.
"Jangan pergi, Maui!" mereka bersorak.
Sepertinya Kael belum benar-benar bebas.
Dia berdiri di belakang barisan anak-anak. Setelah itu, dia diminta mengangkat satu per satu ke pundaknya untuk berfoto satu per satu.
Akhirnya, seseorang mengumumkan acara makan kue dan pesta, dan meminta para bocah untuk ke aula utama. Kael memutar bahunya yang terasa pegal.
Perempuan penanggung jawab pesta mendekat sambil menatapnya, dan Kael menangkap kilatan ketertarikan di matanya.
"Bapak ibu, katering sudah siap dengan kue dan camilan."
Kael ragu sejenak.
"Om keren mau ganti baju?" tanya si perempuan itu.
"Iya, tolong."
"Silakan. Aku antar."
Kael mengikutinya menuju pintu ruang ganti. Perempuan itu berhenti di depan tirai.
"Anak-anak bakal makan camilan dulu, jadi jangan khawatir ketinggalan kue tart nya."
"Makasih," jawabnya. Dia ragu lagi.
"Perlu bantuan buat lepas rok rumput itu?"
Kalau itu bukan tawaran, Kael tidak tahu apa lagi namanya.
Tapi pertama, dia memikirkan Sierra. Seorang paman tidak perlu macam-macam di pesta ulang tahun keponakannya.
Kedua, dia memikirkan Maggie, di rumah bersama bayinya.
Jadi, ya. Itu alasan mengapa Kael harus menolak.
"Aku bisa sendiri. Makasih," gernyitnya sambil tersenyum.
"Sampai ketemu di luar." Lalu perempuan itu pergi.
Kael menata ulang pikirannya. Dia punya sekitar satu jam sebelum menelepon asistennya untuk meninjau rencana penerbangan. Ada rapat di Italia hari Senin, jadi dia akan terbang nanti malam, bersiap menghadapi rangkaian pertemuan soal akuisisi yang rumit.
Dia cepat-cepat melepas rok daun dan menggantungnya bersama kalung tulang di sebuah gantungan. Mungkin kalau dia pergi jauh, sangat jauh, dia tidak akan melihat satu pun foto dirinya yang berkostum karakter Disney itu.
Saat kembali ke pesta, Joann menepuk punggungnya.
"Kamu emang benar-benar juara, Kael. Aku enggak nyangka kamu bakal mau pakai kostum itu."
"Apa pun buat Sierra." Kael mengangkat Sierra tinggi-tinggi sampai anak itu menjerit kegirangan.
"Yeyyy ... Aku lebih tinggi dari semua orang!" teriak Sierra.
"Panggil semua orang ke sini biar kita bisa makan kue," kata Kael.
Sierra mengangkat kedua tangannya, rangkaian bunga di kepalanya pun miring. "Kue! Kue! Kue!"
Anak-anak lain ikut bersorak. Kael menurunkan Sierra kembali ke lantai, membiarkannya dikelilingi teman-temannya.
Dia mengambil kamera Joann dan memotret Sierra saat meniup lilin, supaya Joann bisa fokus menikmati momen putrinya.
Kael kembali ke sudut ruangan sementara mereka duduk di meja bundar, tanpa cermin dan lampu, kini ditata dengan taplak meja dan peralatan makan. Tempatnya terasa elegan.
Saat mengembalikan kamera ke Joann, Kael menyadari ada pesan masuk dari Maggie. Entah kenapa, dia yakin hidup Maggie jauh lebih rumit daripada hidupnya sendiri.
Menyusul sebuah foto. Sebuah selfie, rambut Maggie berantakan di bagian atas kepala, bayinya bersandar di bahunya. Dia menatap kamera dengan penuh perasaan. Cantiknya luar biasa.
Tapi Kael belum akan membalas itu.
Dia menyikut Joann. "Kirimin foto-foto aku."
Joann menggulir hasil jepretannya. Tidak seburuk yang dibayangkan. Saat mereka menemukan foto Kael dengan Sierra di pundaknya, Kael memotret layar kamera itu dengan HPnya.
Kael mengirim pesan ke Maggie. Dia melampirkan fotonya. Balasannya datang seketika, hal yang jarang terjadi.
"Aku suka banget ini! Itu keponakan kamu?"
"Iya, hari ini dia ulang tahun yang kelima."
"Dan kamu di sana! Pakai kostum Maui!"
Kael tertawa. "Apa pun buat Sierra."
"Aku suka banget! Pasti semua perempuan langsung pingsan."
Kael ingin membalas dengan mengatakan bahwa satu-satunya orang yang dia pedulikan adalah Maggie. Tapi dia menahan diri. Sebagai gantinya, dia bertanya.
"Gimana kabar kamu dan Biann?"
"Bayinya lagi tidur. Neneknya lagi nyuciin baju dan bibinya lagi nyuci piring. Akhirnya aku bisa bebas."
Kael mengatupkan rahangnya, tiba-tiba berharap mereka berada di kota yang sama. Kalau begitu, dia bisa menemuinya. Tapi jaraknya berjam-jam penerbangan.
Kael pun mengetik. "Nikmati aja."
"Aku bakal coba! Kayaknya bakal tidur nyenyak."
Perempuan penanggung jawab pesta mendekat sambil membawa sepotong kue. Dia terlihat santai saja dengan momen mereka sebelumnya.
"Mau yang manis-manis, Om Kael?"
Kael memasukkan HPnya ke saku. Dalam situasi lain, dia mungkin akan sangat tertarik. Tapi sekarang dia cuma menerima piring itu. "Makasih. Pestanya bagus banget."
Perempuan itu menatap sekeliling. "Acara ini udah habisin weekend aku."
Dia menatap Kael. "Tapi aku bisa atur. Pesta ini selesai jam enam. Enaknya ngurus acara anak-anak ya begini, enggak sampai larut malam, jadi bisa lanjut nikmatin malam di kota."
Itu isyarat kalau dia free.
"Kamu bikin pesta ini luar biasa," kata Kael. "Permisi. Yang ulang tahun udah nunggu."
Kael tidak menoleh lagi saat berjalan ke arah Sierra. Joann sudah mengacak-acak pengaturan kamera lagi, jadi Kael meletakkan kue di meja untuk membantu dia.
Kael mungkin secara resmi masih lajang. Dan dia mungkin belum tahu bagaimana harus menjalani hubungan dengan Maggie sekarang.Tapi dia tahu betul ke mana hatinya tertuju.
^^^୨ৎ────────જ⁀➴^^^
Note:
Teman-teman, aku yakin pembaca di sini bukan Bot atau Buzzer. So, boleh enggak minta tolong untuk tinggalkan LIKE setiap kali selesai baca?
Hemm, aku cuma ingin memantau sampai mana perjalanan membaca kalian, kok. Juga untuk evaluasi agar tulisan ini lebih baik lagi kedepannya.
Terima kasih yang sudah stay, dan maaf kalian harus membaca tulisan ini.
Tips Jar:
trakteer.id/dityar/tip
୨ৎ────────જ⁀➴
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .