NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 9

Yurie tidak lagi bermimpi buruk.

Ia terbangun saat cahaya pagi menyelinap di sela tirai, bukan oleh jeritan dalam tidurnya, bukan pula oleh rasa sesak yang biasa menyergap. Ada keheningan yang tenang, seperti danau tanpa riak. Ia menatap langit-langit beberapa detik, memastikan bahwa ketenangan itu nyata.

Ia bangkit perlahan.

Di meja kecil dekat jendela, segelas air hangat sudah tersedia. Yurie mengernyit heran—ia yakin semalam tidak meletakkannya di sana.

Jemarinya menyentuh sisi gelas, masih hangat.

Kaiden.

Nama itu terlintas begitu saja. Ada sesuatu yang berubah sejak ia datang ke rumah ini. Perubahan kecil, hampir tak terasa, tapi cukup untuk membuat Yurie mulai menata ulang cara bernapasnya.

Saat turun ke lantai bawah, suara langkah Kaiden terdengar dari arah ruang kerja. Ia berhenti sejenak, ragu apakah harus menyapa. Namun pintu terbuka sebelum ia sempat berpikir lebih jauh.

“Kau sudah bangun,” ucap Kaiden.

Ia mengenakan kemeja abu-abu gelap, lengan digulung rapi. Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia baru saja melewati malam yang panjang.

“Kau tidur?” tanya Yurie refleks.

Kaiden tersenyum tipis. “Sedikit.”

Yurie mengangguk, lalu menyadari ada sesuatu di tangan Kaiden—map cokelat tebal dengan tulisan samar di sudutnya.

“Apa itu?” tanyanya.

Kaiden menatap map itu sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke Yurie.

“Dokumen lama. Tentang Jayden.”

Yurie menelan ludah. “Kau masih mencarinya?”

“Aku tidak pernah berhenti.”

Nada suara Kaiden tidak keras, tapi ada tekad yang mengeras di sana. Yurie merasakan dorongan untuk mengatakan sesuatu—sesuatu yang mungkin seharusnya ia simpan sendiri. Namun dorongan itu terlalu kuat.

“Aku ingin tahu tentang ibuku,” katanya pelan. “Tentang kematiannya.”

Kaiden tidak terkejut. Ia hanya mengangguk pelan. “Aku sudah menduganya.”

“Aku tidak punya bukti,” lanjut Yurie. “Hanya ingatan. Potongan-potongan yang tidak pernah dipercaya.”

Kaiden melangkah mendekat, cukup dekat untuk membuat Yurie bisa merasakan kehadirannya.

“Kadang, ingatan adalah awal dari kebenaran.”

Mereka berdiri dalam jarak yang hening. Tidak ada sentuhan, tidak ada janji. Tapi ada kepercayaan yang mulai tumbuh, pelan dan rapuh.

“Aku ingin membantumu,” ujar Kaiden akhirnya.

“Tapi kita harus berhati-hati.”

Yurie mengangguk. “Aku tahu.”

......................

Perpustakaan kembali menjadi tempat Yurie menghabiskan waktunya. Kali ini bukan untuk menenangkan diri, melainkan untuk mencari. Ia membuka buku catatan lama, album keluarga, arsip yang nyaris terlupakan.

Nama ibunya—Shella—muncul di beberapa dokumen. Catatan medis. Jadwal perawatan.

Semua terlihat rapi. Terlalu rapi.

Yurie mengerutkan kening. Ada satu halaman yang robek di tengah catatan kesehatan. Bekasnya jelas. Seolah seseorang sengaja menghilangkannya.

“Apa yang kau cari?”

Yurie menoleh. Clara berdiri di pintu, membawa secangkir teh.

“Aku hanya… membaca,” jawab Yurie.

Clara tersenyum tipis. “Kau tahu, kadang jawaban tidak ada di buku.”

Yurie menatapnya. “Lalu di mana?”

“Pada orang-orang yang memilih diam,” jawab Clara lembut.

Yurie terdiam.

Clara meletakkan cangkir di meja. “Jika kau ingin tahu tentang masa lalu, kau harus siap dengan kenyataan yang tidak indah.”

“Aku sudah hidup dengan kenyataan yang tidak indah,” balas Yurie lirih.

Clara menatapnya lama, lalu mengangguk. “Kalau begitu, berhati-hatilah. Tidak semua orang suka masa lalu digali.”

Sore itu, sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang rumah Reynard.

Dari dalamnya, seorang wanita turun. Penampilannya rapi, senyumnya terlatih. Agnesa Nazeeran melangkah masuk seolah tempat itu masih memiliki hak atasnya.

“Aku datang menjenguk menantuku,” katanya pada penjaga.

Yurie sedang berada di taman saat melihat Agnesa dari kejauhan. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ingatan lama berkelebat—tatapan dingin, suara manis yang beracun.

Ia berdiri, ingin berbalik, namun langkah Agnesa lebih cepat.

“Yurie,” panggilnya. “Sudah lama sekali.”

Yurie menatap wanita itu tanpa senyum. “Ada perlu apa ke sini?”

Agnesa tersenyum. “Tidak sopan sekali caramu menyapa.”

“Kesopanan tidak pernah diajarkan padaku di rumah itu,” jawab Yurie datar.

Senyum Agnesa menegang sesaat. “Kau berubah.”

“Orang berubah ketika mereka berhenti disakiti,” balas Yurie.

Agnesa melangkah lebih dekat. “Aku dengar kau mulai banyak bertanya.”

Yurie mengepalkan tangannya. “Jika aku bertanya, itu urusanku.”

“Tidak semua urusan hanya milikmu,” ucap Agnesa pelan, tapi tajam. “Ada hal-hal yang sebaiknya kau lupakan.”

Yurie menatapnya tajam. “Aku sudah terlalu lama melupakan.”

Kaiden muncul di ambang pintu. Tatapannya dingin, tajam. “Ada masalah?”

Agnesa menoleh, senyumnya kembali muncul. “Tidak. Aku hanya menjenguk.”

Kaiden tidak membalas senyum itu. “Kunjungan ini tidak dijadwalkan.”

“Aku keluarga,” balas Agnesa.

Kaiden melangkah mendekat, berdiri di sisi Yurie. “Keluarga tidak mengancam.”

Agnesa menatap mereka bergantian, lalu tertawa kecil. “Aku hanya mengingatkan. Jangan sampai kau menyesal.”

Ia berbalik pergi, langkahnya tenang seolah tidak meninggalkan jejak.

Yurie menghembuskan napas panjang. “Dia tahu.”

Kaiden mengangguk. “Dan itu berarti kita harus lebih cepat.”

Malam turun dengan udara yang lebih dingin. Yurie duduk di balkon, memeluk secangkir teh. Kaiden berdiri di sampingnya, menatap langit gelap.

“Kau takut?” tanyanya.

Yurie berpikir sejenak. “Aku takut… tapi tidak sendirian.”

Kaiden menoleh. “Itu sudah cukup.”

Yurie tersenyum kecil. “Kenapa kau mau sejauh ini?”

Kaiden terdiam, lalu berkata, “Karena aku

kehilangan orang yang kucintai tanpa pernah tahu kebenarannya. Aku tidak ingin kau mengalami hal yang sama.”

Yurie menatapnya, dadanya menghangat. “Terima kasih.”

Kaiden mengangguk. “Besok, kita mulai dengan satu hal.”

“Apa?”

“Kunjungi tempat terakhir ibumu dirawat.”

Yurie terdiam, lalu mengangguk. “Baik.”

Di kejauhan, malam menyimpan rahasianya sendiri. Jejak-jejak lama mulai terlihat, retakan kecil di dinding kebohongan yang selama ini berdiri kokoh. Dan Yurie tahu—sekali ia melangkah, tidak ada jalan kembali.

1
mus lizar
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
mus lizar
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!