Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
15
Sore itu, kebun belakang Anjeli yang hanya sepetak tampak seperti permata hijau di tengah gersangnya tanah tetangga. Tanaman buncisnya telah merambat rapi pada lanjaran bambu, membentuk terowongan hijau mini yang penuh dengan bunga-bunga kecil berwarna putih. Di bawahnya, selada keriting tumbuh membulat, hijau segar dengan pinggiran daun yang bergelombang cantik.
Anjeli sedang berjongkok, memeriksa satu per satu helai daun selada. Ia tidak hanya mengandalkan keajaiban tapi ia menggunakan pinset bambu untuk mengambil ulat-ulat kecil secara manual. Ia ingin sayurannya benar-benar organik dan sempurna.
"Kak, lihat! Seladanya seperti kembang yang mekar di tanah," seru Aris sambil membantu mencabuti rumput liar di sekitar bedengan.
"Iya, Ris. Dan kalau kita jaga kebersihannya, Pak Hendra pasti makin senang," sahut Anjeli. Ia mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan yang masih terbungkus tanah.
Tak lama kemudian, Pak Hendra datang. Namun, ia tidak sendiri. Ia membawa seorang wanita paruh baya berambut pendek dengan pakaian kasual namun berkelas.
"Anjeli, perkenalkan, ini Bu Widya. Dia pemilik jaringan restoran Hijau Sehat di kota," ujar Pak Hendra.
Bu Widya tidak banyak bicara. Ia langsung menuju petak selada. Ia memetik selembar kecil, membersihkannya sedikit, lalu mengunyahnya. Matanya seketika berbinar.
"Teksturnya sangat renyah, dan tidak ada rasa getir sama sekali. Ini kualitas yang selama ini saya cari untuk menu salad premium saya," ujar Bu Widya puas. Ia menoleh ke arah Anjeli. "Berapa banyak yang bisa kamu hasilkan dalam sebulan dari lahan sekecil ini?"
Anjeli berpikir sejenak. Ia harus realistis agar tidak mencurigakan. "Untuk saat ini, karena lahan saya masih sepetak, saya hanya bisa menyediakan sekitar lima sampai sepuluh kilogram selada setiap dua minggu, Bu. Saya lebih fokus pada kualitas daripada jumlah."
Bu Widya mengangguk setuju. "Saya suka prinsipmu. Saya ingin menawarkan kontrak. Saya akan membeli seluruh hasil selada dan buncismu dengan harga premium. Tapi, saya punya syarat, saya ingin tahu pupuk apa yang kamu gunakan. Saya harus memastikan tidak ada bahan kimia di dalamnya."
Anjeli sempat tegang sejenak, namun ia sudah menyiapkan jawaban. Ia menunjuk ke arah tumpukan kompos di sudut kebun. "Saya hanya menggunakan fermentasi kotoran ayam, sekam padi, dan air cucian beras, Bu. Semuanya alami."
Bu Widya mendekati tumpukan kompos itu, mencium aromanya yang tidak menyengat, lalu tersenyum. "Luar biasa. Jarang ada anak muda setelaten ini mengolah tanah."
Saat negosiasi sedang berlangsung, Anjeli menangkap sebuah gerakan di balik pohon jati besar yang membatasi tanahnya dengan tanah kosong di belakang. Ia melihat pantulan kaca seperti lensa kamera yang segera menghilang saat ia menoleh.
“Siapa itu? Apakah pengacara ibu? Atau orang suruhan Bu Sumi?” batin Anjeli waspada.
Namun, ia harus tetap bersikap tenang di depan tamu-tamunya. Setelah Pak Hendra dan Bu Widya pulang dengan membawa beberapa keranjang sampel sayur dan memberikan uang muka kontrak sebesar satu juta rupiah, Anjeli segera menghampiri ayahnya.
"Ayah, ini uang muka dari Bu Widya. Kita bisa pakai ini untuk bayar biaya sekolah Aris semester depan dan sisanya masuk ke tabungan hutang," lapor Anjeli sambil menyerahkan uang itu.
Pak Burhan yang sedang duduk di kursi kayu sambil memijat kakinya tampak bangga. "Hasil buncismu tadi memang cantik, Nak. Ayah lihat Bu Widya sampai tak berkedip. Tapi kamu tampak cemas. Ada apa?"
"Tadi ada yang mengintip di balik pohon jati, Ayah, dan Membawa kamera," bisik Anjeli.
Pak Burhan terdiam, wajahnya mengeras. "Mungkin mereka ingin mencari celah untuk menjatuhkan kita di pengadilan nanti. Mereka akan mencari bukti kalau kebun ini hanya kebetulan atau mengandung sesuatu yang ilegal."
Malamnya, Anjeli masuk ke Ruang Ajaib bukan untuk memanen, melainkan untuk bereksperimen. Ia menyadari lahan dunianya terlalu sempit untuk memenuhi permintaan Bu Widya yang akan terus meningkat.
Ia mulai mempelajari cara membuat "Cairan Pembenah Tanah" di gubuk. Ia mencampurkan Air Rohani dengan ekstrak daun mawar pelindung yang ia tanam di pagar.
"Jika aku tidak bisa memperluas lahan sekarang, setidaknya aku harus meningkatkan produktivitas per meter perseginya secara alami," pikirnya.
Ia juga menanam beberapa jenis tanaman herbal baru seperti jahe merah dan kunyit hitam yang ia temukan di kantong benih laci kedua. Tanaman herbal harganya jauh lebih mahal dan tidak butuh lahan yang luas.
Sebelum keluar, ia menyempatkan diri mengusap malai Padi Emas yang baru ia tanam kembali. Beras ini adalah rahasia kekuatan ayahnya. Ia melihat malai itu bergetar pelan, seolah memberikan respons pada sentuhannya.
Anjeli keluar dari ruang itu dengan satu tekad: besok, ia akan memasang pagar lebih tinggi di area yang berbatasan dengan pohon jati. Ia tidak akan membiarkan siapa pun mencuri gambar atau rahasia kerjanya, demi kebahagiaan ayah dan adiknya yang kini mulai ia bangun bata demi bata.
semangat updatenya 💪💪