Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Sore harinya, setelah urusan "banjir" di kasur selesai dan sprei sudah diganti dengan yang baru, Ayyan mengajak Namira duduk di meja belajarnya yang penuh kitab. Namun kali ini, di tengah tumpukan kitab kuning itu, ada sebuah laptop yang terbuka.
"Ayo, katanya mau daftar kuliah? Jangan ditunda-tunda, nanti keburu masa pendaftarannya tutup," ucap Ayyan sambil menarik kursi untuk Namira.
Namira duduk dengan semangat, jemarinya lincah menari di atas keyboard.
"Oke, Mas! Aku sudah riset tadi. Aku mau coba daftar di Universitas Islam Negeri yang di kota sebelah. Ada jurusan Psikologi-nya, dan akreditasinya A!"
Ayyan ikut memperhatikan layar laptop. "Berapa jam perjalanan dari sini ke sana?"
"Sekitar satu jam, Mas. Kalau naik motor mungkin lebih cepet. Tapi... emang Mas izinin aku bolak-balik tiap hari? Apa aku harus ngekos?" tanya Namira ragu.
Ayyan langsung menggeleng tegas. "Tidak ada kos-kosan. Kamu sudah punya suami, tempatmu ya di sini. Soal antar jemput, kalau saya sedang tidak ada jadwal mengajar, saya yang antar. Kalau saya sibuk, nanti Kang Ali yang antar pakai mobil pesantren."
Namira langsung memeluk lengan Ayyan. "Ya ampun, Mas! Baik banget sih! Makin sayang deh sama Gus Kulkas ini."
Saat sedang asyik mengisi formulir pendaftaran online, tiba-tiba notifikasi di HP Namira yang tergeletak di meja berbunyi terus-menerus. Ting! Ting! Ting!
"Mas, lihat deh! Video kita tadi pagi beneran meledak!" Namira membuka akun TikTok-nya. "Followers aku sekarang sudah 4,2 juta! Dan Mas tahu nggak? Ada brand baju muslim besar yang DM aku, mereka mau endorse kita berdua buat jadi model sarimbit (baju pasangan) Lebaran!"
Ayyan mengernyitkan dahi. "Model? Saya? Namira, saya ini ustadz, bukan bintang iklan."
"Tapi Mas, ini bajunya sopan banget! Dan bayarannya... wah, Mas, bisa buat renovasi perpustakaan pesantren kita atau buat beasiswa santri yang kurang mampu!" Namira mencoba merayu dengan alasan yang paling masuk akal buat suaminya.
Ayyan tampak berpikir sejenak. "Untuk beasiswa santri?"
"Iya, Mas! Semuanya buat santri! Aku nggak ambil sepeser pun buat jajan seblak deh, janji!" Namira mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk tanda peace.
Ayyan menghela napas panjang, tanda dia mulai luluh. "Baiklah, nanti kita bicarakan lagi. Sekarang selesaikan dulu daftar kuliahnya. Saya tidak mau istri saya cuma jadi artis TikTok, tapi harus jadi sarjana juga."
Namira pun lanjut mengisi data diri dengan riang gembira. Di tengah keheningan kamar, hanya terdengar suara ketikan laptop dan sesekali tawa kecil Namira saat melihat komentar netizen yang menjodoh-jodohkan mereka, padahal mereka sudah sah menikah.
Namira mulai fokus mengisi kolom demi kolom di layar laptop. Ayyan duduk di sampingnya, ikut memantau dengan serius, seolah-olah formulir pendaftaran kuliah itu adalah naskah ujian pesantren yang sangat krusial.
"Nama lengkap... Namira Salsabila. Tempat tanggal lahir... Jakarta... NIK... aduh bentar Mas, aku lupa NIK-ku!" Namira meraba-raba tas kecilnya mencari KTP.
"Ini," ucap Ayyan sigap sambil menyerahkan dompet Namira yang tertinggal di atas nakas. "Lain kali, hal-hal penting seperti ini harus diingat atau dicatat."
"Hehe, kan ada Mas yang selalu ingat semuanya," rayu Namira sambil mengetik cepat. "Nah, sekarang pilih jurusan. Pilihan pertama: Psikologi. Pilihan kedua... emm, apa ya Mas? Komunikasi Penyiaran Islam atau Hubungan Internasional?"
Ayyan mengetuk-ngetuk jarinya di meja. "Kalau kamu ingin membantu di pesantren nanti, Komunikasi Penyiaran Islam itu bagus. Kamu bisa membantu mengelola media sosial pesantren secara lebih profesional, bukan cuma buat main TikTok."
Namira menjentikkan jarinya. "Ide bagus! Biar konten pesantren kita lebih berkelas ya, Mas. Oke, klik!"
Setelah semua data terisi, tibalah di bagian unggah dokumen. Namira mengunggah foto ijazah, sertifikat, dan foto formalnya.
"Selesai! Sekarang tinggal pembayaran uang pendaftaran," kata Namira. Baru saja ia mau merogoh dompetnya sendiri, Ayyan sudah mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi mobile banking.
"Pakai punya saya saja. Ini tanggung jawab saya sekarang," ucap Ayyan tenang sambil memindai kode QR yang muncul di layar laptop.
Klik. Transaksi Berhasil.
Namira menatap layar yang bertuliskan "berhasil di simpan "dengan perasaan campur aduk. Antara senang, terharu, dan sedikit takut menghadapi dunia baru di Jawa Timur.
"Mas... makasih ya," ucap Namira pelan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Ayyan. "Aku nggak nyangka, pindah ke pesantren malah bikin aku ngerasa didukung banget buat maju. Aku kira bakal dilarang-larang."
Ayyan mengusap pundak Namira. "Selama itu untuk kebaikan dan kamu bisa menjaga kehormatanmu sebagai istri dan bagian dari keluarga pesantren, saya akan selalu di belakangmu."
Tiba-tiba, Namira mendongak dengan mata jahil. "Tapi Mas, kalau nanti di kampus ada cowok yang mau kenalan, aku harus bilang apa? 'Maaf ya, suami saya ustadz yang jago karate' gitu?"
Ayyan melirik Namira datar, namun ada nada posesif yang terselip. "Cukup tunjukkan cincin di jarimu. Kalau mereka masih nekat, suruh mereka datang ke pesantren ini untuk setoran hafalan kitab Imriti ke saya. Kalau nggak lancar, jangan harap bisa bicara sama istri saya."
Namira tertawa terbahak-bahak. "Sadis banget syaratnya, Mas! Bisa-bisa mereka pingsan duluan!"