"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Sepertinya sampai kapanpun Axton tidak akan mendengarkan ku. Apa aku harus membiarkannya bersama Lily?" batin Roy yang mulai runtuh dengan pertahanannya untuk memisahkan Axton dan Lily.
Mengingat Axton yang terus menyakiti Alin ditambah tak kunjung ingin menikah melahirkan sebuah keturunan, membuatnya semakin pusing.
"Tapi, jika Axton tau apa yang sudah kulakukan, dia pasti akan membunuhku," batin Roy keegoisan yang sudah ia lakukan dan merugikan orang lain.
**
Sementara itu, Lily setelah dua hari tak masuk kerja karena kondisinya. Hari ini memilih masuk, sekaligus untuk menerima gaji pertamanya setelah bekerja di sana.
Lily yang berusaha bekerja tenang di sana. Namun, beberapa karyawan bersikap segan padanya. Tak ada lagi yang meminta bantuan padanya, meski itu menjadi tugasnya sebagai cleaning service.
"Eh eh, biar aku saja," ucap seorang cleaning service lainnya yang mengambil alih pel di tangan Lily dan membersihkan lantai.
Lily menghela nafas kasar. Ia melihat sekeliling yang beberapa memperhatikannya. Lalu menatap sebuah tempat sampah di bawah kaki salah satu karyawan yang sudah penuh.
Tak ingin tinggal diam. Lily membungkuk ingin mengambil sampah itu. Namun, lagi-lagi ia dihentikan.
"Ah, tidak perlu, tidak perlu. Aku bisa membuang sendiri nanti," ucapnya.
Sikap seperti itu membuat Lily merasa tak nyaman. Wanita itu sejak tadi nyaris tak mengerjakan apapun.
Saat wanita itu terdiam. Seseorang memanggilnya.
"Lily." Wanita itu langsung menoleh.
"Pak Axton memanggilmu. Buatkan 7 kopi susu di ruang meeting A-3."
Lily mengerjapkan mata beberapa kali, hingga ia mengangguk patuh. Wanita itu segera ke pantry menyiapkan minuman yang di minta.
Ia yang sudah terbiasa membuatnya dengan lihai dan cepat melakukan pekerjaannya itu.
Dengan bantuan nampan lebar, ia mengangkat tujuh kopi itu berjalan menuju ruang meeting yang di maksud.
Di depan pintu ada Maria yang menatapnya sinis. Namun, wanita itu tetap membuka pintu untuknya. Saat Lily berjalan masuk. Maria bergumam sinis. "Dasar perempuan hina!"
Lily mendengar namun ia tak menggubris. Wanita itu dengan tenang tetap melangkah. Pertama ia meletakkan kopi untuk Axton yang duduk sebagai pemimpin.
Lalu meletakkan yang lainnya di depan setiap orang. Saat ia memberikan satu persatu kopi itu. Sebuah suara tak asing masuk di telinganya.
"Bagaimana Pak Axton, apa tertarik dengan kerja sama yang kami tawarkan? Atau ada yang perlu kami perbaiki?"
Suara yang membuat Lily mengangkat pandangan dan melihat Leon di sana.
Leon meliriknya melempar senyum sekilas, sebelum kembali menatap Axton. Sementara Lily mengedikkan bahu melanjutkan membagi sisa kopi itu.
Axton yang memang menunggu keduanya, melihat itu membuatnya tersenyum kecut.
Saat Lily merasa tugasnya selesai. Wanita itu hendak pergi dari sana. Namun, saat akan pergi. Matanya menangkap Axton tengah menggeser cangkir kopi miliknya dengan lengan, namun gerakannya terlalu cepat membuatnya tak bisa menghalangi.
Hanya hitungan detik, cangkir berisi kopi itu hancur di lantai, beserta kopi panas yang mengotori lantai putih bersih itu.
Suasana seketika hening selama beberapa detik. Seolah tak melakukan apapun, Axton menyandarkan tubuhnya santai, memengang sebuah kertas berisi perjanjian kerja sama.
"Kerja sama ini memang menjanjikan tapi, saya tidak tertarik," ucap Axton kemudian melempar kertas itu kembali ke meja, sembari menatap Leon yang menatap Lily.
Leon mengerjapkan mata, menatap Axton kembali. Mulutnya terbuka selama beberapa detik tanpa mengeluarkan suara.
Leon menggelengkan kepala mengumpulkan kesadarannya kembali, lalu berucap. "Maaf Pak, mungkin bapak bisa ajukan beberapa hal yang bisa membuat Pak Axton tertarik," ucap Leon.
Sementara Lily tanpa bisa protes, mulai memungut pecahan cangkir itu satu persatu.
"Tidak," jawab Axton kemudian menatap Lily. Tangannya terulur menyentuh pundak wanita itu, dan mengusapnya lembut.
Lily seketika mendongak keningnya berkerut, semakin heran saat Axton mengulum senyum genit padanya.
"Sebenarnya apa yang ada di pikiran manusia satu ini," batin Lily.
"Hati-hati hm," ucap Axton kemudian mengusap lembut wajah Lily.
Tak ada yang menyahut melihat pemandangan itu. Namun, Leon mengerutkan kening dan menampakkan kecemasan.
Axton kembali duduk tegak. Menatap Leon dengan senyum santai.
"Maaf ya Pak Leon. Kami belum tertarik bekerja sama dengan anda," ucap Axton.
"Ah, baik Pak," sahut Leon yang tampak tak nyaman, sesekali melirik pada Lily.
Axton mengangguk. "Em, silahkan minum kopinya dulu. Maaf, karena telat menjamu pak Leon," ucapnya mempersilahkan.
"Iya Pak, tidak apa." Merasa tenggorokannya memang seret, Leon meneguk kopi hangat itu sedikit demi sedikit.
Sementara Axton kembali menunduk, tangannya menyelinap masuk di baju Lily melalui leher bajunya, menyentuh punggung Lily.
Leon yang melihat itu, sontak terbatuk pelan merasa terkejut. Sementara Lily langsung menepisnya.
Axton tersenyum tipis. Menatap kembali Leon. "Jika tidak ada lagi yang perlu dibahas, mungkin Pak Leon bisa pergi dari sini," ucap Axton dengan terus terang mengusirnya.
"Hm, baik Pak, maaf sudah menganggu waktunya."
Axton mengangguk santai. "Dan maaf saya tidak bisa mengantar."
Axton menggerakkan tangannya ke samping, seolah menunjuk jalan keluar.
Leon hanya bisa pasrah bangkit dari duduknya, menunduk pelan sebagai tanda hormat sebelum pergi.
"Ada apa ini, Pak Axton sejak tadi tidak bersikap kooperatif," batin Leon.
"Dan Lily ... Pak Axton dikenal suka tidur dengan karyawannya, apa Lily sudah menjadi mainannya juga?" batin Leon dalam setiap langkahnya keluar dari gedung itu.
"Tapi tidak mungkin, Lily benci laki-laki, dia juga bukan orang seperti itu," lanjutnya bergumam dalam hatinya.
Sementara itu di ruangan itu, Lily yang masih berusaha mengeringkan tumpahan kopi dengan tisu, dengan wajah di tekuk.
Batinnya terus mengumpat. "Dasar bajingan, di depan banyak orang begini, masih berani menyentuhku!"
"Kalian juga bisa pergi," ucap Axton pada karyawannya itu.
"Baik pak, permisi," tanpa banyak protes, mereka serentak berdiri meninggalkan tempat itu.
Setelah mereka hilang dari pandangan, Axton menyahut. "Ayah anakmu kan? Yang meninggalkanmu dalam keadaan hamil, tapi kamu mau menerimanya kembali, iyakan?"
Lily memutar bola matanya, tidak menggubris ucapan Axton itu. Setelah merasa lantainya bersih, ia bangkit dari duduknya, hendak pergi dari sana.
"Hanya sebuah usaha kecil, yang paling pendapatan bersihnya belasan juta, membuatmu mengkhianatiku? Lucu sekali Lily," sahut Axton sinis.
Lily menghentikan langkahnya. Perasaan jengkelnya tak lagi mampu ia tahan. "Hey, sepertinya selain Bipolarmu yang harus disembuhkan sikap narsistikmu itu perlu dikendalikan juga!" sahutnya ketus, membuat Axton menggebrak meja.
Pria itu berbalik menatap Lily yang berdiri di belakang kursinya. Tak ada sahutan, hanya mata tajam yang tersorot di sana.
Tanpa peduli, Lily melanjutkan. "Justru memutuskan hubungan denganmu adalah hal yang tepat, jika tidak aku bisa gila menghadapimu!"
Tak ada sahutan. Namun, Axton langsung mendorong tubuh Lily ke tembok, dengan satu tangan menahan kepala.
Axton menepis nampan di tangan Lily, membuat pecahan cangkir yang sudah dibersihkan kembali terhambur di lantai.
"Ax ...." Belum sempat Lily protes. Axton membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya.
kalau kamu bahagia dengan yg lain itu rekord loh pasalnya PD CLBK semuheee