NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

"Lan, kok pulangnya diantar mobil mewah begitu? Itu tadi bos kamu ya?"

Ibu berdiri di ambang pintu rumah kontrakan yang penerangannya hanya mengandalkan lampu bohlam kuning redup. Arlan masih berdiri di depan pagar kayu yang catnya sudah mengelupas, memeluk map cokelat itu seolah benda itu adalah bayi yang sangat rapuh.

"Iya, Bu. Itu Pak Yudha. Beliau cuma kebetulan lewat dan melihat Arlan masih di depan gedung," jawab Arlan sambil mencoba mengatur napasnya.

{Mobil itu terasa sangat jauh berbeda dengan kursi plastik di ruang tamu ini.}

"Alhamdulillah, bos kamu baik sekali. Ayo masuk, Ibu sudah buatkan teh hangat. Kamu pasti capek sekali, mukamu pucat begitu."

Arlan masuk ke dalam rumah. Ruangan sempit itu terasa sangat sesak malam ini. Ada tumpukan kain jahitan ibu di sudut ruangan, pekerjaan sampingan yang ibu ambil untuk membantu biaya hidup mereka. Arlan meletakkan map cokelatnya di atas meja makan kayu yang permukaannya sudah tidak rata.

"Ibu belum tidur?" tanya Arlan sambil menyeruput teh hangat yang disodorkan ibunya.

"Gimana bisa tidur tenang kalau anak Ibu belum pulang? Kamu itu harta Ibu satu-satunya, Lan. Kerja boleh keras, tapi jangan sampai menyiksa diri sendiri."

Arlan menatap tangan ibunya yang kasar karena terlalu sering memegang jarum dan kain. "Arlan cuma ingin kita cepat pindah dari sini, Bu. Arlan ingin Ibu tidak perlu menjahit sampai malam lagi."

Ibu tersenyum, mengusap kepala Arlan dengan lembut. "Ibu sudah bahagia asal kamu sehat, Lan. Kejujuran itu lebih mengenyangkan daripada uang hasil tipu-tipu. Ingat pesan bapakmu dulu, kan?"

{Kejujuran... tapi kejujuran ini mungkin akan membuatku dipecat besok, Bu.}

"Iya, Bu. Arlan ingat."

"Ya sudah, Ibu tidur duluan ya. Jangan terlalu malam tidurnya."

Setelah ibu masuk ke kamar, suasana rumah menjadi sangat sunyi. Arlan membuka laptop tuanya yang bunyi kipasnya terdengar sangat berisik di tengah malam yang sepi ini. Dia mulai mengeluarkan lembaran-lembaran dari map cokelat milik Siska.

[Sistem: Memulai Sinkronisasi Data Fisik ke Model Digital...] [Proses: 10%... 30%... 70%...] [Analisis Selesai: Terdeteksi Penggelapan Dana Insentif Kurir sebesar 450 Juta Rupiah.]

Arlan terkesiap. Jarinya membeku di atas touchpad. {Empat ratus lima puluh juta? Ini bukan sekadar manipulasi data efisiensi. Ini pencurian!}

[Keterangan: Dana tersebut dialihkan sebagai 'Bonus Pencapaian Analis' atas nama akun Tegar_Adm selama enam bulan terakhir.]

"Dia mencuri uang para kurir lapangan..." bisik Arlan dengan suara bergetar.

[Peringatan: Jika Anda memperbaiki data ini tanpa melaporkan sumber aslinya, Anda akan dianggap sebagai pihak yang membantu menyembunyikan jejak Tegar jika suatu saat audit dilakukan.]

Arlan menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras. Kepalanya terasa sangat pening. Dia melihat ke arah pintu kamar ibunya. Di sana, ibunya sedang beristirahat dengan tenang, berharap anaknya menjadi orang sukses yang jujur. Tapi di depan matanya, ada sebuah skandal besar yang melibatkan orang yang punya koneksi ke direksi.

{Kalau aku lapor, Tegar akan menggunakan koneksinya untuk menghancurkanku. Kalau aku diam, hatiku tidak akan pernah tenang melihat uang para pekerja itu masuk ke kantong Tegar.}

Arlan kembali menatap layar laptopnya. Dia melihat daftar nama-nama kurir yang insentifnya dipotong. Nama-nama yang mungkin sama seperti bapaknya dulu, pejuang jalanan yang tidak tahu apa-apa tentang angka di layar komputer.

"Siapa yang mau membantu mereka kalau bukan aku yang memegang data ini?" gumam Arlan.

[Misi Diperbarui: Keadilan Bagi Pekerja Lapangan] [Tujuan: Susun bukti pengalihan dana tanpa meninggalkan jejak pada akun pribadi Anda.] [Hadiah: Peningkatan Level Hubungan dengan Pak Yudha (Ekstrem)]

Tiba-tiba, ada suara langkah kaki di luar rumah. Arlan segera menutup laptopnya dan mematikan lampu ruang tamu. Dia mengintip dari balik tirai jendela yang tipis. Di depan pagar rumahnya, ada sebuah motor sport berhenti. Pengendaranya tidak turun, tapi dia tampak sedang memperhatikan rumah kontrakan Arlan.

{Siapa itu? Apa Tegar sudah tahu di mana aku tinggal?}

Motor itu menderu keras, sengaja seolah ingin memberikan peringatan, sebelum akhirnya melesat pergi meninggalkan kepulan asap di jalanan kampung yang sempit.

Arlan duduk kembali di lantai, memeluk lututnya. Badannya gemetar. Ketakutan mulai merayapi hatinya. Megantara Group yang tadinya terlihat seperti surga masa depan, kini terasa seperti sarang serigala yang siap menerkamnya kapan saja.

"Apa aku benar-benar sanggup melakukan ini?" tanya Arlan pada kegelapan.

[Sistem: Subjek Arlan memiliki tingkat integritas 95%. Peluang keberhasilan dalam konflik frontal adalah 40%. Saran: Gunakan pihak ketiga untuk meledakkan informasi.]

"Pihak ketiga? Siapa?"

[Saran Sistem: Siska atau Maya.]

Arlan teringat wajah cemas Siska dan keramahan Maya. Tapi dia tidak ingin menyeret mereka ke dalam bahaya. Ini adalah masalahnya sendiri. Dia yang membawa map itu, maka dia yang harus menyelesaikannya.

Malam itu, Arlan tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Dia menghabiskan waktu sampai subuh untuk memilah data-data yang sah dan mana yang merupakan hasil manipulasi Tegar. Dia bekerja dengan sangat teliti, dibantu oleh panduan sistem yang memberikan koordinat letak data yang disembunyikan.

Saat fajar mulai menyingsing, Arlan sudah memiliki satu file baru yang dia simpan dengan nama yang sangat samar di dalam flashdisk-nya.

"Satu kesempatan," bisik Arlan sambil merapikan kemeja putihnya yang mulai terlihat kusam. "Hanya ada satu kesempatan besok pagi."

Ibu keluar dari kamar, sudah siap dengan mukena untuk salat Subuh. Dia melihat Arlan masih duduk di depan meja makan.

"Kamu tidak tidur semalaman, Lan?"

"Arlan tadi lagi semangat mengerjakan tugas, Bu. Jadi tidak terasa sudah pagi," jawab Arlan sambil mencoba tersenyum, meskipun matanya merah karena kurang tidur.

Ibu menatap Arlan dengan tatapan yang sangat dalam, seolah dia tahu ada beban berat di pundak anaknya. "Lan, apa pun yang sedang kamu hadapi di gedung tinggi itu, ingat ya... Ibu lebih bangga punya anak yang miskin tapi bisa tidur nyenyak, daripada anak kaya tapi takut setiap kali ada orang yang mengetuk pintu."

Arlan tertegun. Kata-kata itu seolah menjadi penguat bagi keraguannya semalaman.

"Iya, Bu. Arlan akan selalu ingat."

Arlan berangkat ke kantor dengan perasaan yang jauh lebih mantap. Saat dia turun dari bus, dia tidak lagi menyipitkan mata menatap gedung Megantara Group. Dia menatapnya dengan penuh tekad. Dia bukan lagi semut yang mencoba memanjat, tapi dia adalah seseorang yang membawa cahaya untuk menerangi kegelapan di dalam sana.

Saat dia masuk ke lobi, dia berpapasan dengan Tegar yang baru saja turun dari mobil sport-nya. Tegar menatap Arlan dengan tatapan yang sangat dingin, sangat berbeda dengan gaya meremehkannya yang biasanya.

"Kamu masih punya waktu dua puluh empat jam, Arlan. Nikmati hari terakhirmu di sini," bisik Tegar saat mereka berdiri berdampingan di depan lift.

"Terima kasih atas sarannya, Mas Tegar. Saya memang sedang sangat menikmati proses pengerjaan data ini," jawab Arlan dengan suara yang tenang, bahkan lebih tenang dari biasanya.

Tegar sedikit terkejut melihat ketenangan Arlan. "Jangan sok berani. Kamu tidak tahu siapa yang kamu lawan."

"Saya tidak sedang melawan siapa pun, Mas. Saya hanya sedang mencari angka yang benar."

Pintu lift terbuka. Mereka berdua masuk ke dalam, berdiri dalam jarak yang sangat dekat tapi dengan jurang perbedaan moral yang sangat luas. Arlan merasakan getaran di sakunya.

[Pesan Sistem: Pak Yudha sudah berada di ruangannya. Beliau sedang menunggu laporan awal Anda.]

Arlan mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Hari ini akan menjadi hari yang panjang. Dan dia sudah siap dengan "bom" yang ada di tangannya.

JANGAN LUPA LIKE UNTUK SUPPORT OTOR. BIAR UPDATE NYA KENCENG.. HUEEE.

*ngemis Mulu ni otor*

*heh, darimana otor tau ceritanya diminati kalo kalian gak like, sit men*

1
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
Pakde
up thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!