NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERSYUKUR

LIMA BULAN BERLALU...

Sejak kejadian menghilangnya Farhan...

Dan juga sejak keberhasilan usahaku dan semua orang yang telah membantuku membawa Farhan pulang...

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

"Alhamdulillah... Hari ini kita udah selesai menghafal surat Adh-Dhuha... Mulai minggu depan, Ibu minta kalian buat hafalkan terjemahnya ya..." ucapku pada seluruh murid yang mengaji.

Ustadz Furqon sebagai pendiri pengajian anak-anak desa ini, memutuskan untuk merubah jadwal pengajian. Dari yang sebelumnya setelah Ashar sampai menjelang Maghrib, menjadi ke siang hari setelah Zhuhur sampai menjelang Ashar.

Itu pun diputuskan atas musyawarah denganku sebagai tenaga pengajar, dan juga dengan semua orang tua yang menitipkan anak-anaknya mengaji di sini.

Hal itu dilakukan karena mengingat kejadian lima bulan yang lalu itu. Dengan tujuan agar hal serupa tidak akan terjadi lagi.

Aku memimpin do'a seluruh anak-anak sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing. Mereka semua tampak khusyuk dan sesekali juga ada yang bercanda.

Ketika sudah selesai, mereka semua berpamitan denganku. Dan juga di halaman pendopo sudah banyak orang tua yang menjemput anak-anak mereka untuk pulang.

"Alhamdulillah Ya Alloh... Terima kasih atas semua pertolongan-Mu dan hikmah yang telah Engkau berikan..." aku berkata dalam hati sambil memperhatikan semua anak-anak itu.

Aku bersyukur. Setelah kejadian lima bulan lalu itu, semua keadaan menjadi berubah lebih baik.

Pada awalnya, murid yang mengaji di sini hanya berjumlah sepuluh orang saja. Namun kini, jumlahnya bertambah sampai 35 orang anak.

Semua itu terjadi karena berita tentang usahaku untuk membawa Farhan pulang sangat cepat tersebar ke seluruh penjuru Desa Mawi tempatku tinggal, dan juga desa Sempu, desa yang tepat bersebelahan.

Bahkan, aku mendengar kabar bahwa berita itu juga sudah tersebar hampir ke seluruh wilayah Kecamatan Cisaung.

Entah menjadi berkah bagiku, atau justru menjadi beban bagiku jika semakin banyak orang yang tahu berita itu.

Sebenarnya aku sama sekali tak mengharapkan dikenal oleh orang banyak karena hal itu. Aku ingin dikenal orang banyak semata-mata karena keinginanku untuk bisa bermanfaat.

Bukan untuk menunjukkan kemampuan lain dalam diriku ini. Bukan juga untuk menunjukkan bahwa aku bisa sesuatu yang orang kebanyakan tak bisa.

Tapi, apalah dayaku dalam melawan cepatnya berita tersebar. Dari mulut ke mulut. Yang bahkan aku sendiri tak tahu siapa yang pertama kali menyebarkan semua itu ke orang luas.

Pada akhirnya, aku tetap bersyukur kepada Alloh, sekaligus selalu meminta pertolongan dan perlindungan-Nya dalam setiap sholatku.

Mungkin juga, bertambahnya jumlah murid yang mengaji di pendopo Ustadz Furqon ini, karena pandangan dan penilaian orang-orang di desaku yang berubah setelah kejadian itu pula.

Mereka seolah memandangku sebagai sosok gadis belia yang memiliki kemampuan istimewa. Sehingga, mereka yang awalnya tahu peristiwa mengerikan dengan bapakku satu setengah tahun lalu, di tambah kejadian Farhan menghilang, memandangku dengan rasa curiga dan takut. Kini berubah menjadi jauh lebih baik dan percaya padaku.

Cara mereka bergaul dan komunikasi denganku juga berubah. Mereka seperti sangat menghormati diriku. Seolah aku merasa seperti... Sosok gadis yang spesial di tengah-tengah mereka.

Namun tetap, aku tal boleh menjadi sombong. Tak boleh merasa yang paling bisa. Tak boleh menganggap diriku lebih dari orang lain.

Aku hanya ingin hidup bermanfaat untuk orang banyak. Berbagi ilmu. Melakukan apapun yang bisa kulakukan selama itu untuk kebaikan.

Dan juga... Alhamdulillah... Karena berita tentangku sudah tersebar kemana-mana, bapakku bisa bertemu dengan jalan kesembuhannya.

Cerita singkatnya tentang kesembuhan bapakku begini, Ustadz Furqon berkenalan dengan seorang tabib (sebutan untuk seorang dokter dalam istilah bahasa arab). Dia menjadi kenalan akrab saat tahu bahwa Ustadz Furqon ada rencana ingin membangun pondok pesantren di Jawa Timur. Di lahan warisan milik keluarganya.

Kemudian, mungkin Ustadz Furqon bercerita juga tentangku dan bapak ke tabib tersebut. Niat hatinya mungkin ingin membantu kesembuhan bapakku.

Nah, dari situlah sang tabib itu datang ke rumahku. Melakukan pengobatan intensif selama dua bulan berturut-turut setelah kejadian Farhan ku bawa pulang. Sampai bapakku bisa sembuh dan bisa kembali beraktifitas seperti sebelumnya. Bekerja lagi di kebun milik bosnya dahulu.

Dan Alhamdulillahnya, sang tabib sama sekali tak meminta bayaran apapun padaku atau bapakku. Justru biaya ongkos datang dan pulang sang tabib pun ditanggung seluruhnya oleh Ustadz Furqon.

Lagi-lagi aku sangat bersyukur kepada Alloh atas segalanya... Bahkan tak terasa, sering aku mengalirkan air mataku ketika selesai sholat.

Sungguh... Kondisi yang amat berubah menjadi lebih baik bagiku khususnya, dan juga bagi bapakku. Juga bagi warga desa yang mengenalku.

Aku berharap, semoga semua keadaan ini dapat bertahan lama...

🌙🌙🌙🌙🌙🌙🌙🌙🌙🌙

Malam harinya... Jam dinding ruang tamu menunjukkan pukul setengah delapan malam.

Aku sedang sendirian di rumah...

Bapakku sedang menghadiri acara syukuran salah satu warga di desa sebelah. Bersama dengan Ustadz Furqon dan beberapa bapak-bapak serta anak muda lainnya.

Aku duduk di teras. Menatap jelas ke langit malam...

Nampak bulan sabit di atas sana. Langit terlihat sangat cerah. Tanpa penghalang apapun. Bertaburan juga beberapa bintang yang kerlap-kerlip cahayanya...

Angin berhembus pelan... Sejuk... Dan menenangkan diriku...

"Nisa... Aku ikut bahagia melihatmu sekarang..."

Dayang Putri menampakkan sosoknya tepat di sebelah kananku. Berdiri tegak dengan anggun di sebelah tiang teras rumahku. Menatap ke arah bulan sabit di langit sana.

"Alhamdulillah... Terima kasih juga Dayang Putri..." jawabku.

Ia menoleh ke arahku. Dengan kedua matanya yang hijau cerah. Dan senyuman anggun di bibirnya...

"Untuk apa kamu berterima kasih padaku Nisa?"

"Karena Dayang Putri sudah menemani aku selama ini."

Dayang Putri kembali menatap bulan di atas langit. Dan berkata,

"Aku tak melakukan apapun Nisa. Aku hanya sebagai pendamping ghoibmu."

Aku diam sejenak mendengar jawabannya itu. Kemudian, aku beranjak berdiri. Berjalan mendekat. Dan berdiri tepat di sebelahnya. Sama-sama kami berdua menatap ke langit yang nampak begitu indah malam ini.

Angin berhembus semilir lagi dengan lembutnya...

"Dayang Putri..." kataku.

"Hm...? Apa Nisa?"

"Dayang Putri memang sosok ghoib. Tapi bagiku Dayang Putri lebih dari itu." ucapku masih sambil menatap bulan.

Dayang Putri tampak menoleh ke arahku...

"Nisa... Tetaplah anggap aku sebagai pendamping ghoibmu. Jangan lebih." ucapnya kemudian.

"Karena bagaimana pun, aku tak akan bisa menyaingi kedudukanmu sebagai manusia." tambahnya.

"Sejak kapan ada bangsa ghoib yang bijak kayak begini? Hihihi..." jawabku sambil terkekeh kecil.

Dayang Putri kembali tersenyum dengan anggunnya. Seolah wajahnya tersipu malu mendengar ucapanku.

"Nisa..." panggilnya.

"Iya Dayang Putri?" jawabku.

"Aku akan terus mendampingi dirimu. Dan kekuatanku akan terus bertahan dan bertambah, seiring bertahan dan bertambahnya tirakat serta ibadahmu." jelasnya yang sudah kesekian kalinya.

"Iya Dayang Putri, aku sudah tau itu. Berkali-kali Dayang Putri juga sudah ingatkan aku tentang hal itu." jawabku.

"Karena sifat bangsa manusia adalah pelupa Nisa. Maka aku hadir sebagai pendampingmu, untuk menjaga agar kamu tak lupa itu."

"Iya iya... Terima kasih Dayang Putriku..."

Aku hendak memeluknya, namun dengan sengaja, Dayang Putri justru meledekku dengan menghilang dari pandanganku.

Aku tersenyum melihat tingkahnya. Yang kini terasa sudah sangat akrab dan mengenal diriku...

Dayang Putri...

Perewangan warisan almarhumah ibuku...

☺️☺️☺️☺️☺️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!