NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar Terakhir dan Janji yang Dilanggar

Arya merasa seolah-olah waktu sedang mencengkeram lehernya. Setiap kali matanya tak sengaja melirik memar kebiruan yang semakin kontras di kulit pucat Ria, jantungnya berdegup tidak keruan. Ia tahu secara medis itu adalah tanda perdarahan di bawah kulit akibat jumlah trombosit yang merosot tajam—sebuah sinyal bahwa pertahanan terakhir tubuh Ria mulai runtuh.

Di kepalanya, rencana demi rencana beradu. Ia ingin membius Ria saat istrinya tertidur, membawanya ke helikopter, dan langsung menerbangkannya ke ruang operasi di Singapura. Namun, ia teringat sorot mata Ria yang memohon untuk dihargai sebagai manusia. Jika ia melakukan paksaan itu, ia mungkin menyelamatkan raga Ria, tapi ia akan membunuh jiwa istrinya selamanya.

"Mas... berhenti berpikir terlalu keras, guratan di wajahmu nanti akan membekas dan kau akan cepat tua," suara lembut Ria memecah keheningan di dalam mobil saat mereka menepi di pinggir jalan yang sepi.

Ria mengulurkan tangannya yang gemetar, menangkup pipi Arya. Sentuhannya terasa sangat dingin, membuat Arya ingin berteriak karena takut. Arya memejamkan matanya, tak sanggup menatap wajah Ria yang semakin pudar warnanya.

"Semuanya akan baik-baik saja," bisik Ria dengan senyum yang tampak sangat damai—terlalu damai untuk seseorang yang sedang digerogoti maut. "Jangan biarkan pikiranmu bergulat dengan sesuatu yang tidak bisa kau kendalikan. Aku di sini sekarang, bersamamu. Itu sudah cukup."

Arya memegang tangan Ria yang ada di pipinya, mengecup telapak tangan yang dipenuhi memar itu dengan penuh perasaan. "Bagaimana bisa aku tenang, Ria? Aku melihatmu memudar di depan mataku sendiri. Aku punya segalanya untuk menyembuhkan mu, tapi kau melarang ku menggunakannya."

Ria menggeleng perlahan. Ia menatap mata Arya dengan dalam, seolah sedang merekam setiap jengkal wajah suaminya ke dalam memorinya yang terakhir.

"Jika waktunya tiba, Mas... tolong, jangan menangis untukku," pinta Ria. Suaranya tidak lagi bergetar, melainkan terdengar seperti sebuah wasiat yang mutlak. "Jangan biarkan air matamu jatuh sebagai bentuk penyesalan. Aku sudah memaafkan semuanya—Ayah, masa laluku, dan juga kau. Aku pergi membawa rasa es krim itu, membawa kehangatan pelukanmu, dan membawa rasa dicintai yang selama dua puluh empat tahun ini hanya menjadi mimpi bagiku."

"Aku tidak bisa menjanjikan itu, Ria!" potong Arya dengan suara parau. "Aku tidak bisa melepaskan mu dengan senyuman jika aku tahu ada cara untuk menahan mu di sini!"

Arya memalingkan wajah, menatap jalanan di depannya dengan tatapan kosong yang dipenuhi obsesi untuk menyelamatkan. Di dalam hatinya, ia sudah membulatkan tekad. Ia akan menuruti satu poin lagi dalam daftar keinginan Ria besok pagi, namun ia telah menginstruksikan tim medis untuk "bersembunyi" di lokasi tersebut.

Ia akan membawa Ria ke tempat matahari terbit yang istrinya dambakan, namun di kaki bukit itu, sebuah ambulans tercanggih akan bersiap. Arya berencana untuk membujuk Ria sekali lagi di saat hatinya sedang sangat bahagia setelah melihat senja atau fajar. Ia berharap kebahagiaan itu akan memberikan Ria sedikit keinginan untuk bertahan hidup lebih lama bersamanya.

"Tidurlah, Ria. Besok kita akan melihat matahari terbit yang kau inginkan," ujar Arya sambil mengecup dahi Ria.

Ria mengangguk patuh, ia memejamkan matanya tanpa tahu bahwa di balik kelembutan suaminya, Arya sedang melakukan negosiasi terakhir dengan takdir. Arya tidak peduli jika nantinya Ria membencinya karena melanggar janji; baginya, kebencian Ria yang masih bernapas jauh lebih baik daripada kedamaian Ria di dalam liang lahat.

Bukit itu masih diselimuti kabut tebal saat Arya menggendong Ria menuju puncaknya. Udara pagi yang sangat dingin menusuk hingga ke tulang, namun Arya membungkus tubuh istrinya dengan jaket tebal dan pelukannya sendiri. Ria tampak begitu ringan, seolah-olah jiwanya sudah mulai melayang meninggalkan raganya yang letih.

"Lihat, Mas... warnanya mulai muncul, sangat cantik," bisik Ria dengan suara yang nyaris hilang tertiup angin.

Di ufuk timur, garis jingga perlahan membelah kegelapan. Ria menyandarkan kepalanya di bahu Arya. Matanya yang sayu menatap cahaya itu dengan binar kepuasan. Ini adalah poin terakhir di daftarnya. Ia merasa tugasnya di dunia telah selesai. Ia telah mencicipi manisnya es krim, ia telah melihat keindahan fajar, dan ia telah merasakan hangatnya dicintai oleh pria yang dulu ia anggap sebagai seseorang yang paling tinggi dan sulit untuk di gapai.

Namun, tepat saat matahari menampakkan wujudnya secara utuh, tubuh Ria mendadak menegang. Ia terbatuk hebat, dan kali ini, cairan merah kental membasahi kemeja putih Arya.

"Ria! Tidak, tidak sekarang!" Arya berteriak panik.

Kesadaran Ria mulai memudar. Matanya berputar ke atas, dan tubuhnya yang tadi tegang kini terkulai lemas dalam dekapan Arya. Denyut nadinya terasa sangat lemah dan tidak beraturan di bawah jemari Arya yang gemetar.

"DOKTER! SEKARANG!" raung Arya ke arah walkie-talkie di saku jaketnya.

Dalam hitungan detik, tim medis yang selama ini bersembunyi di balik semak-semak dan di kaki bukit berlarian mendekat. Sebuah helikopter medis yang sudah bersiaga sejak tadi malam mulai menyalakan mesinnya, suaranya menderu membelah kesunyian bukit.

"Maafkan aku, Ria. Aku melanggar janjiku, aku hanya ingin kamu sembuh," bisik Arya sambil terisak, ia terus menciumi kening Ria saat tim medis mulai memasangkan masker oksigen dan jalur infus darurat di tangan Ria yang dipenuhi memar.

"Tekanan darahnya turun drastis! Kita harus segera melakukan intubasi!" teriak salah satu dokter di tengah kebisingan baling-baling helikopter.

Arya tidak melepaskan tangan Ria saat istrinya diangkat ke atas tandu. Ia ikut masuk ke dalam helikopter, mengabaikan segala protokol keselamatan. Di dalam ruang sempit itu, ia menyaksikan betapa rapuhnya kehidupan Ria. Alat monitor jantung berbunyi tit... tit... tit... dengan nada yang semakin melambat, membuat dada Arya serasa dihantam godam.

"Jangan pergi sekarang, Ria... kumohon. Aku belum sempat menebus semua tahun-tahun yang kucuri darimu. Aku belum sempat mengakui bahwa aku takut kehilanganmu," isak Arya di samping telinga Ria.

Ria sempat membuka matanya sedikit. Di balik masker oksigen yang berembun, ia melihat wajah Arya yang hancur oleh air mata. Ia ingin bicara, ingin mengingatkan Arya tentang janjinya untuk tidak menangis, tapi suaranya sudah tertelan oleh kegelapan. Ia hanya bisa menatap Arya dengan tatapan yang seolah berkata, 'Lepaskan aku, Mas...'

Namun Arya justru menggenggam tangannya semakin erat. "Kau tidak akan pergi. Aku tidak mengizinkanmu!"

Helikopter itu mendarat di atap rumah sakit hanya dalam hitungan menit. Tim bedah terbaik yang telah dibayar Arya dengan harga fantastis sudah menunggu di pintu darurat. Ria langsung dilarikan menuju ruang operasi, meninggalkan Arya yang berdiri terpaku di depan pintu kaca yang tertutup rapat, dengan noda darah istrinya yang mulai mengering di pakaiannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!