Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Bagi Amara Lathifa, hari Senin adalah musuh bebuyutan. Upacara bendera di bawah terik matahari Jakarta yang membakar kulit, jam pelajaran yang padat, hingga tumpukan tugas baru yang seolah tidak ada habisnya. Namun, Senin kali ini terasa sedikit lebih berat karena bayangan Nicholas dan kejadian "ikan goreng gosong" di hari Minggu kemarin masih terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Amara! Bengong aja lo, kesambet unsur periodik baru tahu rasa!"
Sebuah tepukan ringan di bahu menyentakkan Ifa dari lamunannya. Ia menoleh dan mendapati Daffa sudah berdiri di sampingnya dengan senyum lebar yang menjadi ciri khas cowok itu. Di sekolah, semua orang memanggilnya Amara, nama yang terasa lebih formal dan dewasa dibanding panggilan 'Ifa' di rumah.
Daffa adalah anomali di hidup Amara. Cowok itu supel, pintar, dan sangat perhatian. Banyak yang mengira mereka punya hubungan spesial, tapi bagi Amara, Daffa adalah sahabat yang paling bisa diandalkan.
"Eh, Daffa. Enggak kok, cuma kurang tidur aja," dalih Amara sambil merapikan jas laboratorium putih yang ia kenakan.
"Jangan terlalu diforsir belajarnya, Ra. Inget, hari ini kita ujian praktek kimia. Kalau lo nggak fokus, bisa-bisa larutan kita malah meledak," canda Daffa sambil menyerahkan kacamata pelindung pada Amara.
Mereka pun masuk ke dalam laboratorium. Amara satu kelompok dengan Daffa. Di antara bau menyengat asam klorida dan deretan tabung reaksi, mereka bekerja sama dengan kompak. Amara yang teliti mencatat data, sementara Daffa yang mengeksekusi percampuran larutan.
"Ra, lo tahu nggak kenapa gas mulia itu susah bereaksi?" tanya Daffa di sela-sela menunggu perubahan warna larutan.
"Ya karena konfigurasi elektronnya sudah stabil, Daff. Emang kenapa?" jawab Amara tanpa menoleh dari buku catatannya.
"Sama kayak lo. Stabil banget, susah buat dideketin sama unsur asing," Daffa terkekeh pelan.
Amara hanya bisa memutar bola matanya, namun bibirnya tersenyum tipis. "Gombalan lo basi, Daff. Fokus, tuh larutannya udah berubah jadi ungu."
Interaksi manis itu tak luput dari pandangan teman-teman sekelas mereka. Daffa yang selalu punya cara untuk mencairkan suasana membuat beban ujian praktek itu terasa lebih ringan. Bagi Amara, Daffa adalah tempat aman—berbeda jauh dengan Nicholas yang setiap kehadirannya selalu terasa seperti alarm bahaya.
Ujian berakhir pukul empat sore. Tubuh Amara rasanya remuk. Ia berdiri di depan gerbang sekolah, memandangi langit yang mulai mendung. Biasanya ia pulang naik ojek online, tapi ponselnya menunjukkan baterai lemah dan kuotanya sedang kritis.
"Ra, mau bareng gue nggak? Gue bawa motor hari ini," tawar Daffa saat ia keluar dari parkiran.
Amara menggeleng sopan. "Enggak usah, Daff. Gue mau bareng Bang Ryan aja, tadi dia bilang mau lewat daerah sini sekalian pulang kampus."
"Oh, oke deh. Kabari ya kalau udah sampai rumah. Gue duluan, Ra!" Daffa melambaikan tangan sebelum melesat pergi.
Amara menghela napas, lalu mengeluarkan ponselnya yang tinggal 5 persen. Ia mencari kontak 'Abang' dan segera melakukan panggilan.
Nada sambung terdengar. Satu kali... dua kali...
"Halo?"
Amara mengernyit. Suara itu... suara itu bukan suara Ryan. Suaranya berat, serak, dan terdengar sangat tidak asing di telinganya. Jantung Amara berdegup sedikit lebih kencang karena firasat buruk.
"Halo, Bang? Bang Ryan di mana? Jemput aku di gerbang depan dong, aku udah selesai les tambahan," ucap Amara cepat-cepat sebelum baterai ponselnya benar-benar mati.
Hening sejenak di seberang sana. Lalu terdengar tawa rendah yang dingin, tawa yang membuat bulu kuduk Amara berdiri.
"Abang lo lagi di bawah kolong mobil, tangannya penuh oli. Kenapa? Kangen sama gue, Bocah?"
Amara membeku di tempatnya berdiri. Nicholas. Kenapa harus pria itu lagi yang mengangkat teleponnya?
"Kak Nick? Kok Kakak yang pegang HP Bang Ryan? Abang mana kak?!" tanya Amara dengan nada menuntut, mencoba menyembunyikan kepanikannya.
"Gue udah bilang, dia lagi sibuk di bengkel himpunan. HP-nya dititip ke gue karena takut jatuh ke oli," jawab Nick santai. Amara bisa membayangkan pria itu sedang bersandar di tembok dengan gaya angkuhnya, mungkin sambil memutar-mutar kunci motor.
"Ya udah, kasihin ke Bang Ryan bentar dong, penting!"
"Nggak bisa. Dia nggak mau diganggu kalau lagi bongkar mesin. Kenapa? Mau minta jemput?" tanya Nick dengan nada yang seolah bisa menebak isi pikiran Amara.
"Enggak jadi! Aku bisa pulang sendiri!" ketus Amara.
"Yakin? Di luar mendung banget, Ra. Eh, atau gue panggil 'Amara' juga kayak temen-temen sekolah lo?" Nick memberikan penekanan pada nama 'Amara', membuat nama itu terdengar sangat berbeda di telinga Amara saat diucapkan olehnya.
Amara terkejut. "Kakak tahu nama sekolah aku dari mana?"
"Gue tahu banyak hal yang nggak lo sangka. Tunggu di situ, jangan ke mana-mana."
"Apa? Kak—"
Pip.
Sambungan terputus. Ponsel Amara benar-benar mati total. Layarnya gelap, sama seperti perasaan Amara saat ini. Ia berdiri terpaku di depan gerbang sekolah yang mulai sepi. Ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia harus menelepon di saat yang tidak tepat? Dan yang lebih penting, apa maksud Nick menyuruhnya menunggu?
Sepuluh menit berlalu. Gerimis mulai turun, membasahi aspal dan menciptakan aroma tanah yang khas. Amara merapatkan jaket almamaternya, merasa bodoh karena tidak menerima tawaran Daffa tadi.
Tiba-tiba, suara raungan mesin motor besar terdengar mendekat. Sebuah motor sport hitam berhenti tepat di depan Amara. Pengendaranya mengenakan helm full-face hitam dan jaket kulit yang sama dengan yang Amara lihat tempo hari.
Pria itu membuka kaca helmnya, memperlihatkan mata tajam yang kini menatap Amara dengan intens. Nicholas.
"Naik," perintahnya singkat.
Amara menggeleng kuat-kuat. "Nggak mau! Bang Ryan mana? Kenapa malah Kak Nick yang ke sini?"
"Ryan nggak bisa ninggalin kerjaannya. Dia minta gue buat jemput adeknya yang manja ini. Lo mau nunggu di sini sampai kehujanan dan besok sakit?" Nick menaikkan sebelah alisnya.
"Aku bisa naik taksi!"
"Dompet lo ketinggalan di meja makan tadi pagi, gue yang liat. Lo nggak punya uang cash dan HP lo mati. Jadi, jangan banyak gaya. Naik sekarang atau gue angkat paksa?"
Amara mendengus kesal. Bagaimana bisa Nick tahu kalau dompetnya ketinggalan? Dengan perasaan dongkol setengah mati, Amara akhirnya naik ke jok belakang motor Nick yang tinggi. Ia menjaga jarak sejauh mungkin, hanya berpegangan pada behel motor di belakang.
"Pegangan yang bener kalau nggak mau jatuh," ucap Nick dingin.
"Udah begini juga!"
Tanpa peringatan, Nick langsung menarik gas dengan kencang, membuat motor itu melesat maju. Amara yang tidak siap refleks memajukan tubuhnya dan melingkarkan lengannya di pinggang Nick agar tidak terjungkal ke belakang.
Amara bisa merasakan otot perut Nick yang mengeras di balik jaket kulitnya. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan hawa dingin hujan mulai menyelimuti indra penciumannya. Nick sedikit menoleh ke belakang, menyeringai di balik helmnya saat merasakan tangan kecil Amara memeluknya erat.
"Nah, gitu kan enak. Kenapa harus nunggu dipaksa dulu sih, Lathifa?"
Amara tidak menjawab. Ia hanya menyembunyikan wajahnya di punggung Nick, mencoba meredam detak jantungnya yang berkhianat.