NovelToon NovelToon
Ditakdirkan Menjadi Ratu Vampir

Ditakdirkan Menjadi Ratu Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Manusia Serigala / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”

“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.

“Sebagai manusia.”

“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”

“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”

999 tahun pencarian....

“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”

PLAK!

“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.

Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Telah Memastikan

Mendengar itu, Elena hanya tersenyum tipis antara lega dan juga rasa bersalah. Lega, karena Ivory memilih untuk hidup sebagai manusia biasa tanpa ingin terlibat lagi dengan mereka. Rasa bersalah, karena secara langsung telah memisahkan dua orang yang seharusnya disatukan oleh takdir.

...****************...

Sementara itu, langit malam di Mansion Agharon membeku dalam warna merah keunguan ketika sosok itu berlutut di hadapan singgasana. Ya, Theron segera kembali menghadap rajanya begitu selesai melaksanakan tugasnya, memarkirkan mobil dan segera berteleportasi untuk menyampaikan laporannya.

“Yang Mulia,” ucapnya pelan namun tegas.

Ragnar tidak bergerak. Duduk anggun di singgasananya dari obsidian hitam, jemarinya bertumpu di sandaran kursi, mata merahnya setengah terpejam seolah sudah mengetahui jawaban dari laporan yang akan ia dengar.

“Kau sudah kembali, Theron,” katanya akhirnya. “Kau telah mengantarnya dengan aman dan selamat, bukan?”

“Dengan nyawa saya sebagai jaminan,” jawab Theron. “Reinkarnasi Sang Ratu kini berada di rumahnya dengan aman dan selamat. Tapi …”

Keheningan menggantung sesaat, seperti ucapan Theron yang menggantung ragu. Lilin-lilin darah berkelip seakan ikut menahan napas. Dorian memilih diam, menunggu antara Rajanya yang akan bicara lebih dulu atau Theron yang akan meneruskan ucapannya.

“Tapi apa?” suara Ragnar rendah, berbahaya. “Bagaimana keadaannya?”

Theron menelan ludahnya sendiri dengan kasar. Untuk pertama kalinya sejak ia melayani raja itu, ada keraguan di matanya. Lebih tepatnya ia merasa bingung harus melaporkan kejadian tersebut seperti apa agar tidak menyinggung Rajanya maupun reinkarnasi ratunya.

“…dia marah besar, Yang Mulia.”

Mata sang raja terbuka sepenuhnya. Ragnar sudah memperkirakan itu sejak awal. Namun, ia menjadi semakin penasaran seberapa besar kemarahan Ivory sampai Theron ragu untuk langsung melaporkan kepadanya.

“Marah?” alisnya terangkat tipis. “Seberapa marah?”

Theron tiba-tiba menghela napas panjang. Lalu dengan ekspresi yang nyaris tak percaya pada dirinya sendiri. Ia mulai menirukan nada suara seseorang yang jelas bukan dirinya. Bahkan tidak hanya nada suara, tetapi juga raut wajah dan gerak tubuhnya.

“‘Dasar Bos Gila, Sialan!’” katanya, dengan intonasi tajam dan penuh amarah. “‘Bos Gila licik, pembohong kelas kakap! Vampir Gadungan. Kau pikir aku bodoh sampai bisa dipermainkan seperti ini?!’”

Ruangan membeku. Baik Ragnar maupun Dorian yang berada di sana hanya diam dengan mata membulat tak percaya bahwa kemarahan Ivory akan sebesar itu. Akan tetapi, yang membuat keduanya lebih terkejut adalah Theron yang biasanya seperti patung batu yang dingin bisa menirukan dengan sangat mirip kemarahan Ivory.

Tangan kanan itu melanjutkan, semakin lancar, seolah kemarahan itu masih terpatri jelas di telinganya. “‘Mengikat takdir, reinkarnasi, omong kosong tak suci! Jika kau muncul di hadapanku sekarang, akan kucabut taringmu satu per satu! Sial sekali.’”

Theron akhirnya berhenti, wajahnya pucat. Melihat ekspresi yang ditunjukan Ragnar dan Dorian setelah mendengar semua makian yang ia ulang dari reinkarnasi Ratunya.

Ya, saat berada ditengah perjalanan Ivory memang terus mengumpati Ragnar, bahkan ekspresi kemarahan dan gerak tubuh yang seakan tengah menguliti Ragnar hidup-hidup masih teringat jelas dalam ingatan Theron yang memilih fokus pada jalanan di depannya, tapi tidak dengan otak dan perhatiannya.

“Itu… hampir semua kata demi kata yang reinkarnasi Ratu lontarkan selama perjalanan, Yang Mulia,” ucapnya pelan. “Nada suaranya, pilihan katanya bahkan cara beliau menyebut Yang Mulia dengan penuh kebencian… sangat mirip dengan Sang Ratu dahulu. Sama persis seperti yang baru saja aku praktekkan.”

Senyum perlahan terukir di bibir Ragnar. Bukan senyum marah. Bukan pula senyum terkejut. Melainkan senyum penuh nostalgia yang berbahaya.

“Ah…” desahnya lirih. “Jadi jiwanya benar-benar kembali.”

“Dia memang selalu membenci kebohongan,” lanjutnya, mata merahnya berkilat. “Dan yang paling membuatku terkejut, bukan tentang kemarahannya. Akan tetapi, kau yang bisa membuat ekspresi seperti itu hanya untuk menirukan apa yang Ratuku lakukan. Aku hanya akan melihat ekspresi datar dan dinginmu selama hidupku, rupanya kau bisa berekspresi cukup baik juga.”

Dorian tidak tahan untuk menyampaikan pemikirannya, “Anda benar, Yang Mulia! Dibandingkan kemarahan reinkarnasi sang ratu, aku lebih terkejut dengan cara Theron menirukan kemarahannya barusan?”

BRAK.

Angin malam menyapu aula, membawa aroma asap, tanah basah, dan sihir tua yang terasa tidak asing. Jendela besar itu terbuka dengan kasar, hingga menimbulkan suara nyaring yang spontan mengalihkan perhatian mereka yang masih berada di ruangan tersebut.

“HAHAHAHA!”

Tawa nyaring dan tidak tahu sopan santun itu memantul di dinding marmer hitam. Siapa lagi, kalau bukan penyihir agung Denzel Hetherington. Bahkan kali ini ia kembali mengubah penampilannya. Menjadi seorang pria berjubah ungu tua. ia melangkah masuk tanpa basa-basi, tongkat sihirnya bertumpu santai di bahu. Rambut peraknya berantakan, matanya menyipit penuh hiburan.

“Sungguh tidak pernah aku sangka sebelumnya,” katanya sambil menepuk pahanya sendiri, “aku baru sampai dan sudah disuguhi pertunjukan teater terbaik abad ini. Theron, kenapa kau harus menyembunyikan bakatmu selama ini.”

Theron membeku. Fiks, kejadian hari ini akan menjadi senjata untuk Denzel dan Dorian mengejeknya setiap waktu. “Berhentilah menggodaku,” desisnya. “Aku hanya menjalankan tugas yang—”

“Aku tahu, aku tahu,” potongnya sambil melambai.

“Tapi serius, apa tadi itu? Kau menirukan dia, kan?”

Denzel menunjuk dengan ujung tongkatnya, masih tertawa. “ Tapi harus aku akui bahwa itu sangat persis. Nada tinggi di akhir kalimat, umpatan berlapis emosi, dan tatapan ‘aku akan membunuhmu tapi belum sekarang’…”

Denzel menggantung ucapannya, menggeleng pelan sembari kembali berkata, “Jika dulu dia akan mengumpatmu dengan sebutan Raja Vampir Sialan atau Bajingan. Kali ini dia malah menyebutmu sebagai Bos gila dan mesum. Hahahaa…”

Ragnar menghela napas panjang alkan tingkah Denzel yang terlalu menyebalkan belakangan ini. “Hentikan, Denzel! Berikan saja laporanmu,” katanya dingin.

“Oh, benar.” Denzel berdehem, lalu membungkuk seadanya. Meski lebih mirip basa-basi daripada penghormatan. “Tugas selesai dengan sempurna. Restaurant itu sudah berdiri kembali seperti semula. Aku juga sudah menghapus ingatan semua orang yang saat itu berada di sana, menyingkirkan rekaman cctv dan jejak pertarungan lainnya.”

Tak berselang lama kemudian, pintu ruangan itu kembali terbuka memperlihatkan kedatangan Morgan yang melangkah mantap menghampiri ketiganya. Terlihat setumpuk dokumen berada di tangannya dan begitu berhadapan langsung dengan Rajanya, ia segera menyerahkan semua dokumen tersebut untuk diambil alih oleh Dorian.

“Ingatan manusia biasa memang mudah di manipulasi. Tapi bagaimana dengan ingatan reinkarnasi sang Ratu? Apakah dia bisa mengingat kembali kehidupan masa lalunya seperti Kakaknya, Elena Rosalia—reinkarnasi pemilik murni sihir hitam,” jelas Morgan yang membuat ketiganya terkejut.

Theron berujar pelan, “Kau benar-benar sudah memastikannya?”

Morgan mengangguk sebagai jawaban. “Semuanya sudah berada dalam berkas dokumen itu.”

Bersambung ….

1
Fahmi Ardiansyah
ku tunggu kelanjutannya kak semangat terus ya
Desyi Alawiyah
Lanjut kak Author.. Semoga sehat selalu.. 🙏🥰
Fahmi Ardiansyah
iya terserah kmu ivori
Desyi Alawiyah
Sangat menarik dan luar biasa.. 😇
Desyi Alawiyah
Lanjut kak Author, makasih udah up.. 🙏
Desyi Alawiyah
Aku juga nurut kamu Ivory, terserah kamu mau melakukan apapun... Yang penting kamu dan Elena baik-baik saja...

Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..

Iya ngga sih... 😩
Desyi Alawiyah
Lanjut lagi dong kak...

Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋

Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Desyi Alawiyah
Oh, begitu ceritanya...

Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Fahmi Ardiansyah
lanjut kak.
Cindy
lanjut kak
Desyi Alawiyah
Update lagi dong Kak.. 🤭🙏
Fahmi Ardiansyah
tu ratumu LG marah Ragnar n susah di redamkan.
Desyi Alawiyah
Nggantung lagi ceritanya..

Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔
Desyi Alawiyah
Nah loh Ragnar, reinkarnasi Ratu mu marah tuh... Kamu sih pake bohong segala... 🤭
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Fahmi Ardiansyah
ya tunggu aja bentar LG pulng kok adkmu.tpi jgn kaget entar klu nyampek rumah cemberut n marah.
Fahmi Ardiansyah
ya iyalah seharusnya lukanya yg lebih parah LG n pertahankan agar lukanya gak hilng Ragnar skrg ivory merasa tertipu aku pastikan besok ivory pasti masih kecewa n marah.
Fahmi Ardiansyah
yaelah Ragnar caper bisa2 ivory malah merasa bersalah tu.
Fahmi Ardiansyah
aku senang cerita nya tambah seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!