Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Langkah, Satu Pedang
Matahari pagi di Kota Batu Hijau bersinar terik, namun udara di halaman belakang kediaman Lin Xiao terasa dingin mencekam.
Brak!
Suara hantaman keras terdengar. Sebuah boneka kayu latihan yang terbuat dari Kayu Besi Hitam—kayu yang dikenal sekeras batu—bergetar hebat. Detik berikutnya, retakan muncul di bagian dada boneka itu, menjalar cepat sebelum akhirnya kayu keras itu meledak menjadi serpihan tajam.
Lin Xiao menarik kembali tinjunya. Dia mengembuskan napas panjang, menciptakan kabut putih tipis di udara.
"Ranah Pengumpulan Qi Tingkat 1... tapi kekuatan fisikku setara dengan Tingkat 3," gumamnya pelan, menganalisis hasil pukulannya.
Ini adalah keajaiban dari Teknik Naga Surga Purba. Teknik kultivasi biasa hanya mengisi Dantian dengan Qi. Namun teknik warisan Kitab Keabadian ini menempa daging, tulang, dan organ dalam secara bersamaan. Tubuh Lin Xiao sekarang, meski terlihat kurus, memiliki kepadatan otot seperti kawat baja.
"Tapi ini belum cukup," Lin Xiao menggeleng. "Kekuatan mentah tanpa teknik hanyalah kebrutalan seekor kerbau."
Di kehidupannya yang lalu sebagai Alkemis Dewa, Lin Xiao menguasai ribuan teknik bela diri tingkat tinggi. Namun, tubuhnya yang sekarang terlalu lemah untuk menanggung beban teknik-teknik tingkat Dewa itu. Jika dia memaksakan diri menggunakan Jurus Telapak Penghancur Langit, tubuhnya akan meledak sebelum musuhnya tersentuh.
Dia butuh teknik dasar. Sesuatu yang efisien, cepat, dan mematikan.
Dia memejamkan mata, menelusuri perpustakaan ingatannya. Sebuah teknik pedang kuno muncul di benaknya.
Teknik Pedang Kilat Hantu (Ghost Flash Sword Art). Hanya ada tiga jurus: Hunus, Tebas, dan Sarungkan. Fokus utamanya adalah kecepatan ekstrem. Membunuh musuh sebelum mereka menyadari pedang telah dicabut.
"Cocok," putus Lin Xiao. Dia menatap tangannya yang kosong. "Sekarang, aku hanya butuh pedang."
Dia meraba saku jubahnya. Kosong. Uang 500 koin emas yang diberikan ayahnya semalam telah dikembalikannya. Lin Xiao tidak ingin meminta uang lagi pada ayahnya; dia punya harga diri. Dia memeriksa laci kamarnya dan hanya menemukan 10 koin perak—sisa uang jajan pemilik tubuh asli yang menyedihkan.
"Sepuluh perak... hanya cukup untuk membeli besi rongsokan. Tapi bagiku, itu sudah cukup."
Lin Xiao merapikan jubahnya dan berjalan keluar halaman. Xiao Yun sedang sibuk mencuci di sumur. Melihat tuannya hendak pergi, gadis itu panik.
"Tuan Muda! Anda mau ke mana? Tabib bilang..."
"Tabib itu tidak tahu apa-apa, Xiao Yun. Aku akan jalan-jalan sebentar ke pasar. Jangan khawatir, aku akan kembali sebelum makan siang," potong Lin Xiao sambil tersenyum menenangkan, lalu melangkah pergi sebelum pelayannya sempat protes lagi.
Pasar Kota Batu Hijau sangat ramai. Teriakan pedagang, aroma daging panggang, dan bau keringat manusia bercampur menjadi satu.
Saat Lin Xiao berjalan menyusuri jalan utama, bisik-bisik mulai terdengar.
"Hei, lihat itu... bukankah itu Tuan Muda Lin?" "Si Sampah itu? Kudengar dia hampir mati dipukuli Tuan Muda Wang kemarin." "Kenapa dia berkeliaran? Wajahnya pucat sekali, mungkin dia sudah gila."
Lin Xiao mendengar semuanya, tapi wajahnya tetap datar. Di matanya, orang-orang ini hanyalah semut. Apakah seekor naga peduli dengan pendapat semut?
Tujuannya adalah sebuah toko senjata kecil di sudut pasar yang kumuh: Kedai Besi Tua. Berbeda dengan Paviliun Senjata milik Keluarga Wang yang mewah, tempat ini menjual senjata bekas atau cacat produksi dengan harga murah.
Seorang pandai besi tua bertubuh kekar sedang memukul logam saat Lin Xiao masuk. Dia melirik sekilas. "Pilih sendiri. Harga tertera di label. Jangan menawar."
Lin Xiao mengangguk dan mulai memeriksa rak-rak berdebu. Matanya menyala samar dengan cahaya keemasan—menggunakan teknik Mata Roh untuk melihat struktur dalam benda.
Pedang pertama, retak di dalam. Sampah. Pedang kedua, campuran logamnya tidak rata. Sampah. Pedang ketiga...
Lin Xiao berhenti di depan sebuah tumpukan besi tua di pojok. Di sana, tergeletak sebilah pedang hitam yang penuh karat. Tidak ada sarungnya, dan gagangnya sudah lapuk. Harganya hanya 5 koin perak.
Orang awam akan melihatnya sebagai besi tua. Tapi Lin Xiao tersenyum lebar.
"Inti Besi Meteorit Hitam," batinnya. "Siapa sangka di kota kecil ini ada harta karun tersembunyi? Pandai besi yang membuatnya pasti gagal melebur meteorit ini dengan sempurna sehingga luarnya berkarat, tapi intinya sangat keras dan bisa mengalirkan Qi dengan sangat baik."
Dia mengambil pedang itu. Berat. Sangat cocok.
"Aku ambil ini," kata Lin Xiao, meletakkan 5 koin perak di meja pandai besi.
Pandai besi tua itu mendengus. "Itu tongkat besi berkarat, bukan pedang. Tapi terserah kau, Nak."
Saat Lin Xiao berbalik hendak keluar, sebuah bayangan besar menghalangi pintu masuk.
"Wah, wah. Lihat siapa yang sedang belanja senjata. Bukankah ini Lin Xiao, si Sampah Nomor Satu?"
Suara itu berat dan penuh ejekan. Lin Xiao mendongak. Di hadapannya berdiri tiga orang pria kekar. Yang memimpin di tengah adalah seorang pria dengan bekas luka di pipi dan mengenakan seragam pengawal Keluarga Wang.
Wu Gang. Pengawal pribadi Wang Lei. Kultivasinya berada di Ranah Pengumpulan Qi Tingkat 3. Dialah yang memegangi tangan Lin Xiao kemarin saat Wang Lei memukulinya.
Wu Gang menatap pedang berkarat di tangan Lin Xiao dan tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Lihat! Dia membeli rongsokan! Apa kau berniat menggunakan itu untuk menggaruk punggungmu, Tuan Muda Lin?"
Dua anak buahnya ikut tertawa mengejek.
Wajah Lin Xiao tetap tenang, namun suhu udara di sekitarnya turun beberapa derajat. "Minggir. Anjing yang baik tidak menghalangi jalan."
Tawa Wu Gang seketika terhenti. Wajahnya memerah karena marah. "Apa kau bilang? Kau berani memanggilku anjing? Sepertinya pelajaran kemarin belum cukup. Apa kau ingin aku mematahkan kakimu yang satu lagi?"
Wu Gang maju selangkah, aura Tingkat 3-nya meledak. Tekanan angin membuat debu di lantai toko beterbangan. Pandai besi tua di belakang meja hanya diam menonton, tidak ingin ikut campur urusan antar keluarga besar.
"Berlutut dan jilat sepatuku, mungkin aku akan membiarkanmu pulang merangkak!" bentak Wu Gang sambil melayangkan tamparan keras ke arah wajah Lin Xiao.
Tamparan itu dilapisi Qi. Jika mengenai orang biasa, lehernya bisa patah.
Gerakan itu cepat di mata orang awam. Tapi di mata Lin Xiao? Itu seperti gerakan siput.
Saat telapak tangan Wu Gang hampir menyentuh pipinya, Lin Xiao bergerak.
Bukan mundur, tapi maju.
Sret!
Lin Xiao menggeser tubuhnya sedikit ke samping dengan teknik langkah kaki yang aneh, membuat tamparan Wu Gang mengenai udara kosong. Sebelum Wu Gang sadar apa yang terjadi, Lin Xiao mengayunkan pedang berkarat di tangannya.
Bukan sisi tajamnya (karena memang tumpul dan berkarat), tapi sisi datarnya.
PLAK!
Suara hantaman besi bertemu pipi terdengar nyaring di seluruh toko.
"ARGH!"
Wu Gang terpelanting ke samping, menabrak rak senjata hingga roboh. Dia memegangi pipinya yang bengkak ungu seketika. Gigi serinya rontok dua biji, bercampur darah yang muncrat dari mulutnya.
Hening.
Dua anak buah Wu Gang ternganga. Pandai besi tua itu berhenti memukul besi, matanya membelalak.
Wu Gang, seorang kultivator Tingkat 3, baru saja ditampar terbang oleh sampah tanpa kultivasi?
"Kau... Kau..." Wu Gang bangkit dengan mata merah menyala karena gila dan malu. "KAU MENCARI MATI! AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
Wu Gang menarik golok besar dari pinggangnya. Kali ini dia serius. Dia menyalurkan seluruh Qi-nya ke golok itu dan menebas horizontal ke arah leher Lin Xiao. Niat membunuh terpancar jelas.
"Mati kau!"
Serangan itu brutal dan penuh tenaga.
Lin Xiao mendengus dingin. "Teknik yang kasar. Penuh celah."
Dia mengangkat pedang karatnya. Tidak ada gerakan berlebih. Hanya satu tusukan lurus yang sederhana.
Teknik Pedang Kilat Hantu: Tusukan Satu Titik.
Pedang karat Lin Xiao bergerak lebih cepat dari golok Wu Gang. Sebelum golok itu sampai setengah jalan, ujung tumpul pedang Lin Xiao sudah menghantam titik tepat di pergelangan tangan Wu Gang.
KREK!
Suara tulang patah terdengar jelas.
"AAAAHHH!"
Wu Gang menjerit melengking, goloknya terlepas dari tangannya yang kini terkulai layu dengan sudut yang tidak wajar.
Namun Lin Xiao belum selesai. Dia memutar tubuhnya, dan dengan satu tendangan berputar yang dialiri Qi, dia menghantam dada Wu Gang.
Bum!
Tubuh besar Wu Gang melayang keluar dari pintu toko, mendarat keras di tengah jalan pasar yang berdebu. Dia muntah darah, mencoba bangun, tapi rasa sakit di dadanya membuatnya kembali ambruk. Tulang rusuknya pasti retak.
Kerumunan orang di pasar seketika menjauh, membentuk lingkaran. Mereka menatap ngeri pada Wu Gang yang mengerang kesakitan, lalu beralih menatap sosok kurus yang berjalan keluar dari toko senjata dengan santai.
Lin Xiao berdiri di ambang pintu, pedang berkarat di tangan kanannya meneteskan sedikit darah—bukan darahnya, tapi darah dari pergelangan tangan Wu Gang.
Dia menatap dua anak buah Wu Gang yang masih gemetar di dalam toko. "Kalian mau ikut berbaring di sana?" tanya Lin Xiao dingin.
Kedua orang itu menggeleng panik, wajah mereka pucat pasi. Mereka mundur ketakutan.
Lin Xiao berjalan mendekati Wu Gang yang terkapar. Dia berjongkok, lalu dengan santai mengambil kantong uang yang terikat di pinggang Wu Gang.
"K-kau... itu milikku..." erang Wu Gang lemah.
"Sekarang jadi milikku," kata Lin Xiao datar. "Anggap saja ini biaya kompensasi karena wajahmu yang jelek itu telah mengganggu pemandanganku pagi ini."
Dia menimbang kantong uang itu. Lumayan berat. Ada sekitar 20 koin emas. Cukup untuk membeli bahan herbal tahap selanjutnya.
Lin Xiao berdiri, menatap sekeliling kerumunan yang masih terdiam membisu. Tatapannya membuat siapa saja yang bertatapan dengannya menunduk takut.
"Sampaikan pada tuanmu, Wang Lei," ujar Lin Xiao, suaranya cukup keras untuk didengar semua orang. "Katakan padanya untuk mencuci lehernya bersih-bersih. Di turnamen nanti, aku akan datang untuk mengambil kembali harga diri Keluarga Lin."
Dengan itu, Lin Xiao berbalik dan berjalan pulang, punggungnya tegak lurus bagaikan tombak yang menantang langit. Pedang berkarat di tangannya kini tampak bukan lagi rongsokan, melainkan senjata mematikan di tangan iblis.
Berita tentang kejadian ini akan menyebar seperti api liar. "Sampah" Kota Batu Hijau tidak hanya bisa berkultivasi kembali, tapi juga telah menjadi monster yang mengerikan.
Dan Lin Xiao tahu, ini baru permulaan. Dengan uang di tangan dan pedang di sisi, fase kedua kultivasinya siap dimulai.