Ziva Putri Willson, putri bungsu keluarga Willson, adalah perpaduan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kepercayaan diri setinggi langit. Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi desainer ternama yg namanya menggema hingga ke mancanegara.
Damian Alexander, CEO muda yang dikenal kejam dan dingin. Baginya, hidup hanyalah deretan angka dan nilai saham. Dia sangat anti pada wanita karena menganggap mereka makhluk paling merepotkan di dunia.
"Dengar, Tuan CEO, kamu mungkin bisa membeli saham dunia, tapi kamu tidak bisa membeli hak untuk mengatur kapan aku harus bernapas. Jadi, simpan wajah sok kuasamu itu untuk rapat, bukan untukku." -Ziva.
"Aku sudah menghadapi ribuan musuh bisnis yang licin, tapi menghadapi satu wanita bermulut tajam seperti dia jauh lebih menguras energi daripada akuisisi perusahaan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda." — Damian.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Si Tuan Dingin yang mulai kehilangan akal sehatnya, atau Nona cerewet berwajah manis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIRIP
Kembali ke mansion Willson, walaupun berusaha untuk memejamkan mata nya, tapi
Ziva tidak bisa tidur dengan tenang, dia sudah berganti posisi sepuluh kali, tapi bayangan wajah Damian yang kaku dan pesan singkat tadi terus berputar di otaknya.
"Hah....Sial!" gumam Ziva, mengumpat kesal.
Ziva bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju lemari pakaian raksasanya, dia membuka pintu lemari, menatap deretan koleksi bajunya.
"Jam 10 pagi, ya? Kalau dia mau api, aku akan berikan dia kebakaran hutan," bisiknya dengan nada penuh rencana.
Ziva berjalan ke meja riasnya, mengambil sebuah gunting potong kain yang sangat tajam, benda yang dia sebutkan tadi pada Mommy nya.
Ziva berdiri, menatap pantulan dirinya di cermin, merapikan rambutnya yang berantakan.
"Besok bukan cuma soal mencairkan es, Mom. Besok adalah soal siapa yang akan bertekuk lutut lebih dulu," ucap Ziva mantap.
Setelah itu Ziva mematikan lampu kamar, nya tapi matanya tetap terbuka di kegelapan, merencanakan setiap kalimat pedas yang akan dia lontarkan esok pagi.
Di sisi lain, Damian Alexander juga melakukan hal yang sama, menutup laptopnya, namun pikirannya masih tertuju pada satu nama yang mulai mengganggu ritme hidupnya yang teratur.
"Ziva Putri Willson..." gumam Damian, melihat langit-langit ruang kerja nya.
Damian menyandarkan punggungnya pada kursi kerja yang dilapisi kulit mahal, membiarkan keheningan malam di kantornya menjadi latar belakang lamunannya.
Entah kenapa, rasa kesal karena pesannya diabaikan Ziva perlahan menguap, berganti dengan perasaan dejavu yang aneh.
Setiap kali Ziva mengomel, setiap kali gadis itu menatapnya dengan binar mata menantang, ada satu memori lama yang menggelitik ingatannya.
Flashback Damian umur 10 tahun.
Saat itu, Damian adalah anak laki-laki pendiam yang baru berusia sepuluh tahun.
Dia sedang asyik membaca buku di bawah pohon, sementara sepeda barunya bersandar di dekat pagar. Baginya, keteraturan adalah segalanya. Namun, keteraturan itu lenyap saat dia berkedip.
Sepedanya hilang.
"Sepeda aku..." gumam Damian kecil, wajahnya pucat.
SREK
SREK
SREK
Tiba-tiba, dari balik semak-semak, muncul seorang anak perempuan dengan rambut di kuncir dua yang berantakan, gadis kecil itu lebih kecil dari Damian, dia memakai kaos kebesaran dan celana kodok.
Dan saat dia tertawa, terlihat dua gigi depannya yang hilang.
"Hey! Kamu kehilangan sesuatu?" tanya anak perempuan itu dengan suara melengking.
"Aku lihat tadi ada monster besar bawa sepeda ke arah sana! Ayo, aku bantu cari! Jangan nangis ya, cowok nggak boleh cengeng!" cerocos anak perempuan itu, menarik tangan Damian.
Damian yang bingung hanya bisa mengikuti gadis itu.
Selama hampir satu jam, gadis itu membawanya berkeliling kompleks, masuk ke gang-gang sempit, hingga masuk ke area taman yang becek. Sepanjang jalan, gadis itu tidak berhenti bicara.
"Nama aku Zizi! Kamu kok putih banget kayak tahu?"
"Sepeda kamu warnanya biru ya? Jelek ah, bagusan warna pink!"
"Diem aja sih! Kamu sariawan?"
Damian merasa telinganya akan meledak, dia belum pernah bertemu manusia yang bisa bicara secepat dan sebanyak itu tanpa mengambil napas.
"Nah! Ketemu!" teriak Zizi kecil sambil menunjuk ke arah tumpukan kardus di belakang gudang tua.
Di sana, sepeda Damian tergeletak manis.
Melihat sepedanya sudah ketemu, Damian merasa lega luar biasa.
"Terima kasih..." ucapnya malu-malu.
"Sama-sama! Karena aku sudah jadi pahlawan, kamu harus kasih aku upah! Aku mau es krim!" jawab Zizi berkacak pinggang, dadanya membusung sombong.
Damian tidak tahu saat itu bahwa gadis kecil itu lah yang sebenarnya menyembunyikan sepeda itu di sana agar dia bisa muncul sebagai penyelamat, dan meminta es krim sebagai bayaran nya.
Damian tersentak dari lamunannya, dia menyentuh keningnya pelan, lalu terkekeh pendek.
Suara tawa yang bahkan membuat Riko, jika dia ada di sana, mungkin akan pingsan karena terkejut.
"Gadis berisik itu, kenapa sifatnya mirip sekali denganmu, Ziva?" gumam Damian, merasa mereka berdua mirip.
"Ah tidak mungkin itu Ziva," gumam Damian, menggeleng kan kepala nya.
Dia belum menyadari bahwa pahlawan kecil yang sangat ingin dia temui lagi untuk sekadar mengucapkan terima kasih yang tertunda, sebenarnya adalah wanita yang sama dengan yang baru saja dia kirimi pesan tantangan.
Wanita yang saat ini sedang merencanakan kebakaran hutan untuk menghadapinya besok pagi.
Damian meraih ponselnya, melihat layar yang masih gelap.
"Jam 10 pagi. Mari kita lihat, siapa yang akan memegang kendali besok, kucing nakal," bisik Damian dengan nada rendah yang berbahaya namun penuh antisipasi
___________Damian & Ziva__________
Pagi harinya, saat matahari bahkan belum sepenuhnya naik, Ziva sudah bangun, dengan gerakan gesit, dia mengenakan setelan baju olahraga yang modis namun santai, lalu dia menyambar kunci mobil sport miliknya, dan menyelinap keluar kamar sebelum para pelayan, apalagi Mommy nya terjaga.
Pukul 07.30 pagi, Ziva sudah duduk manis di sebuah kedai kopi tersembunyi di pinggiran kota yang hanya diketahui oleh kalangan terbatas, dengan santai dia menyesap iced americano-nya dengan perasaan menang yang membuncah.
"Jam sepuluh, ya? Silakan saja bertamu ke rumah kosong, Damian Alexander," gumam Ziva sambil mengunggah foto secangkir kopinya ke Instagram Story dengan lokasi yang sengaja dia matikan.
Pagi itu Ziva habis kan waktu nya di kedai kopi itu, sambil mengecek beberapa file yang dikirim oleh Rika.
"Dua Minggu waktu nya Z Style launching pakaian musim panas, dan aku harus pergi ke Negara K, untuk memastikan semua berjalan dengan lancar," gumam Ziva, membaca draf tentang projek musim panas.
Sementara itu, tepat pukul 10.00 pagi.
Sebuah mobil Ferrari hitam berhenti dengan presisi milimeter di depan teras mansion Willson.
Damian turun dari mobil, kali ini tanpa Riko, dia memutuskan untuk mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, tanpa jas kantor nya, memberikan kesan sedikit lebih santai namun tetap terlihat sangat berkuasa.
Nyonya Mauren menyambutnya di ruang tamu dengan raut wajah bingung sekaligus tidak enak hati.
"Eh, Damian, kamu sudah datang?" sapa Nyonya Mauren, basa basi.
"Pagi, Mom. Ziva sudah siap?" tanya Damian to the point, suaranya terdengar mantap.
Mendengar pertanyaan calon menantu nya, Nyonya Mauren meringis.
"Itu dia masalahnya, Damian. Mommy baru mau mengecek ke kamarnya tadi, tapi pelayan bilang mobil Ziva sudah tidak ada di garasi sejak jam tujuh pagi tadi. Dia bilang ada urusan mendadak di butik cabangnya," jawab Nyonya Mauren, tidak enak hati.
Ingatkan dia nanti, untuk menjewer telinga Putri nya itu.
Damian terdiam, matanya menyipit sedikit, dia tahu persis ini bukan soal butik. Ini adalah aksi balasan dari pesan pedas kemarin.
"Urusan mendadak, ya?" gumam Damian pelan. Bukannya marah, dia justru merogoh ponselnya.
abang posesif vs clon suami kutub....🤣🤣🤣
crazy up dpng thorrrrr
koreksi ya semangat
bru brbgi air mnum aja udh baper...
kbyang nnti kl udh nkah,trs tnggal srumah....atw sekamar pula.....🤭🤭🤭