Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Terbongkar.
Lorong kampus siang itu ramai.
Mahasiswa lalu-lalang, tawa kecil, suara langkah sepatu, dan obrolan ringan bercampur jadi satu. Tidak ada yang menyadari bahwa di tengah keramaian itu, satu tubuh sedang berusaha bertahan—sendirian.
Lian berjalan pelan.
Tangannya menggenggam tali tas, jemarinya dingin dan sedikit gemetar. Napasnya pendek. Setiap tarikan terasa seperti tidak pernah cukup. Dadanya berdebar keras, terlalu keras, seolah jantungnya ingin keluar dari tempatnya.
Tenang…
Sedikit lagi…
Langkahnya terhenti.
Pandangan Lian mengabur. Dinding putih lorong kampus bergoyang pelan, suara di sekitarnya menjauh seperti ditarik ke dasar air. Ia mencoba memanggil seseorang siapa saja tapi bibirnya hanya terbuka tanpa suara.
Tangannya refleks bergerak ke perut.
Melindungi.
Lalu dunia runtuh.
Tubuh Lian jatuh ke lantai dengan suara berat.
“LIAN!”
Teriakan itu menggema.
Mahasiswa berhamburan. Beberapa mundur panik, beberapa mendekat kebingungan. Nayla sahabatnya yang baru keluar dari kelas membeku melihat tubuh Lian tergeletak, wajahnya pucat, bibirnya kebiruan.
“Panggil ambulans!” teriak seseorang.
Nalya berlutut, tangannya hampir menyentuh bahu Lian
namun berhenti.
Karena tiba-tiba, udara berubah.
Langkah berat terdengar dari ujung lorong.
Bukan langkah tergesa.
Bukan langkah panik.
Langkah yang terukur.
Dan semua orang menoleh.
Seorang pria berseragam hitam-hijau berdiri di sana. Wajahnya keras, rahangnya mengeras, mata tajamnya menyapu ruangan seperti senjata yang sudah terkunci pada target.
Haikal.
Suasana seketika membeku.
Tanpa bicara, Haikal melangkah cepat. Orang-orang refleks menyingkir, seperti ada insting purba yang memerintahkan mereka membuka jalan.
Ia berlutut di samping Lian.
“Lian,” panggilnya rendah tenang, tapi penuh tekanan.
“Sayang.”
Tidak ada jawaban.
Haikal langsung memeriksa napasnya, denyut di lehernya. Saat jari-jarinya menyentuh kulit itu, alisnya mengerut dalam.
Terlalu lemah.
“Ambulans sudah dipanggil?” tanyanya dingin.
“I—iya,” jawab seseorang gugup.
Haikal membuka jaket militernya, menyelubungi tubuh Lian, lalu mengangkatnya ke dalam dekapan—ringan, terlalu ringan.
Saat itulah Nayla berdiri.
“Aku temannya,” kata Nayla cepat.
“Dia tadi kelihatannya—”
Haikal berhenti.
Perlahan, ia menoleh.
Tatapan itu…
bukan marah.
Lebih buruk dari itu.
Kosong.
Dingin.
Membuat lutut siapa pun lemas.
“Menjauh,” ucap Haikal singkat.
Nada suaranya rendah, tapi tidak bisa dibantah.
Nayla mundur satu langkah tanpa sadar.
Haikal berjalan menuju luar gedung sambil menggendong Lian. Sirene ambulans terdengar dari kejauhan, menyatu dengan detak jantungnya sendiri yang kini berdentum keras.
“Bertahan, Lian,” bisiknya di rambut istrinya.
“Jangan berani-berani ninggalin aku.”
Di ambulans, Lian sempat tersadar.
Pandangan matanya kabur, tapi sosok itu jelas—terlalu jelas.
“Mas…” suaranya hampir tak terdengar.
Haikal menggenggam tangannya erat.
“Aku di sini.”
Lian mencoba tersenyum.
“Maaf…”
Satu kata itu menghantam Haikal lebih keras dari peluru mana pun.
“Diam,” katanya cepat.
“Kamu tidak perlu minta maaf.”
Lian ingin bicara ingin jujur tapi gelombang sakit kembali menghantam dadanya. Monitor berbunyi cepat. Paramedis saling bertukar pandang.
“Detak jantung tidak stabil!”
Haikal menoleh tajam.
“Jaga dia,” katanya dingin, seperti perintah medan tempur.
“Kalau terjadi apa-apa—”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Karena ia tidak sanggup membayangkannya.
Saat ambulans melaju, Haikal menatap wajah Lian yang kembali pucat tak bernyawa. Dan untuk pertama kalinya sejak ia menjadi tentara—
Haikal merasa benar-benar takut.
Bukan takut mati.
Tapi takut hidup tanpa Lian.
Dan di dalam hatinya, satu keyakinan mengeras seperti baja:
Kamu bohong soal kondisimu.
Dan aku tidak akan membiarkanmu menanggung ini sendirian lagi.
Lampu IGD terlalu terang.
Bau antiseptik menusuk hidung, suara monitor jantung berdenting tak beraturan—cepat, lalu melambat, lalu cepat lagi. Haikal berdiri di sisi ranjang, rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal sampai urat-uratnya menonjol.
Lian terbaring pucat.
Wajahnya nyaris tanpa warna, bibirnya kering, rambutnya sedikit basah oleh keringat dingin. Selang oksigen terpasang, jarum infus menusuk lengan yang dulu sering ia abaikan saat nyeri.
Dokter dan perawat bergerak cepat.
“Tekanan darah turun.”
“Detak jantung tidak stabil.”
“Siapkan USG.”
Haikal menatap layar monitor, lalu wajah istrinya, lalu layar lagi. Matanya tajam terlalu fokus seperti sedang membaca peta ranjau di medan perang.
“Dok,” suaranya rendah, tertahan.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Dokter wanita itu menoleh. Raut wajahnya berubah—bukan raut tenang dokter yang memberi kabar baik, tapi raut seseorang yang tahu ia akan menyampaikan kebenaran yang menghancurkan.
“Pak… apakah Anda sudah mengetahui riwayat penyakit istri Anda?”
Haikal tidak langsung menjawab.
Ia menoleh ke Lian.
Wajah itu terlalu tenang. Terlalu pasrah.
“Riwayat apa?” tanya Haikal akhirnya.
Dokter menghela napas panjang.
“Pasien memiliki riwayat penyakit jantung bawaan genetik. Aritmia kompleks. Denyut jantung bisa melonjak ekstrem lalu turun drastis tanpa gejala awal yang jelas.”
Kata-kata itu seperti peluru.
Haikal menegang.
“Tidak mungkin,” katanya dingin.
“Istri saya tidak pernah—”
“Pak,” potong dokter, kali ini lebih tegas.
“Riwayat ini tercatat. Sudah lama.”
Dokter memberi isyarat. Seorang perawat menyerahkan map cokelat tebal.
Rekam medis.
Nama lengkap tertera jelas:
Humairah Liandra.
Tangan Haikal menerima map itu.
Berat.
Ia membuka lembar demi lembar.
Catatan dokter jantung.
Hasil EKG.
Riwayat pingsan sejak remaja.
Obat yang diresepkan—yang jelas tidak diminum rutin.
Dan catatan terakhir, ditulis dengan tinta merah:
> Kehamilan berisiko tinggi. Risiko kematian ibu.
Haikal menutup map itu pelan.
Lalu menoleh.
Lian membuka mata setengah.
Tatapan mereka bertemu.
Dan Haikal tahu—
ia tidak salah.
“Kamu bohong,” katanya pelan.
Tidak ada nada marah.
Justru itu yang paling menakutkan.
Lian menelan ludah.
“Mas…”
“Kamu bilang anak kita baik-baik saja.”
“Katamu cuma kecapekan.”
“Kamu tersenyum, Lian.”
Suara Haikal bergetar untuk pertama kalinya.
“Padahal kamu sedang bertaruh nyawa.”
Air mata menggenang di sudut mata Lian.
“Aku takut, Mas…”
Haikal mendekat.
“Tapi kamu tetap memilih diam.”
Sebelum Lian sempat menjawab, alarm monitor berbunyi tajam.
Beep—beep—beep—beep cepat.
“Detak jantung naik drastis!”
“Tekanan darah jatuh!”
Lian menggenggam perutnya kuat-kuat.
“Sakit…” bisiknya.
“Mas… perutku…”
Dokter bergerak cepat.
“Siapkan tindakan darurat!”
“Kita mungkin kehilangan janin jika kondisi ini berlanjut!”
Kata kehilangan membuat dunia Haikal runtuh.
“Selamatkan mereka,” katanya keras.
“Saya tidak peduli prosedur apa.”
“Pak Haikal,” dokter menatapnya lurus.
“Kami akan berusaha menyelamatkan keduanya. Tapi jika harus memilih—”
“JANGAN.”
Suara Haikal pecah.
“Jangan pernah suruh saya memilih.”
Ia menggenggam tangan Lian.
“Dengar aku,” katanya rendah, penuh tekanan.
“Kamu tidak boleh pergi. Kamu dengar aku?”
Lian tersenyum lemah.
“Mas… kalau terjadi apa-apa…”
“Jangan,” potong Haikal.
“Kamu belum selesai hidup denganku.”
Air mata akhirnya jatuh.
“Kalau kamu pergi,” lanjutnya, suaranya bergetar hebat,
“aku tidak tahu caranya hidup tanpa kamu.”
Lian menatapnya lama.
Lalu berbisik, dengan sisa tenaga:
“Aku ingin hidup, Mas…”
“Aku ingin melihat anak kita…”
Monitor kembali berbunyi—kali ini lebih stabil.
Dokter mengangkat tangan.
“Detak jantung mulai terkendali… tapi dia harus dirawat intensif. Stres sekecil apa pun bisa fatal.”
Haikal mengangguk kaku.
Saat Lian didorong menuju ruang ICU, Haikal berdiri sendiri di lorong.
Tangannya masih gemetar.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Haikal menyadari satu hal pahit:
Musuh paling berbahaya yang pernah ia hadapi
bukan teroris,
bukan senjata,
bukan medan perang—
melainkan ketakutan kehilangan orang yang paling ia cintai.
Dan kali ini,
ia hampir kalah.