Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.
" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~
"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~
Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa peranku ?
Elora melangkah pelan di belakang Anna. Kepala pelayan itu membawanya menuju lantai tiga—lantai yang terasa berbeda sejak pijakan pertama. Sunyi. Terjaga. Dan hanya diperuntukkan bagi satu orang.
Di sana bukan hanya terdapat kamar tidur tuan muda Arkaven, tetapi juga ruang kerja yang luas, ruang olahraga pribadi, bahkan kolam renang indoor. Seolah satu rumah berdiri sendiri, ditumpuk rapi di atas rumah utama.
“Masuklah. Tuan muda sudah menunggumu,” ujar Anna sambil berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna gelap.
Ia menoleh tajam namun penuh peringatan pada Elora.
“Ingat, jaga sikapmu jika kau ingin bekerja lama di sini.”
Elora mengangguk paham. “Baik.”
Anna pun berbalik pergi. Langkahnya menjauh perlahan, namun di hatinya terselip keheranan. Selama puluhan tahun mengabdi pada keluarga Arkaven, belum pernah ia melihat tuan mudanya memanggil pelayan baru untuk bertemu langsung di ruang pribadinya. Biasanya, mereka bahkan tak bertahan lebih dari beberapa hari.
Di depan pintu itu kini hanya ada Elora.
Tangannya terulur hendak mengetuk, namun terhenti di udara. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang kian tak terkendali. Ada rasa takut, bingung, sekaligus sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
Belum sempat jemarinya menyentuh permukaan pintu—
Klik.
Pintu itu terbuka dari dalam.
“Masuklah.”
Suara itu…
tenang, dalam, dan begitu familiar.
Elora membeku sesaat. Matanya terangkat perlahan, dan di sanalah ia melihatnya.
Arelion Arkaven.
“Kita bertemu lagi… Elora.”
Ucapan itu meluncur pelan, namun menghantam tepat ke dadanya. Tatapan Arelion tertambat lekat di wajahnya, seolah tak ingin melewatkan satu perubahan kecil pun.
Elora membeku.
Napasnya tercekat di tenggorokan, jemarinya mengerat saling genggam di pangkuan. Bingung… dan takut. Takut karena ia sadar, sejak langkah pertamanya memasuki rumah ini, ia telah berjalan terlalu jauh. Masuk ke dunia Arelion Arkaven ..dan ia takut jika hatinya tak sekuat yang ia harapkan .
Tuan… saya sangat berterima kasih atas apa yang Tuan lakukan… meski saya tak mengerti kenapa Anda melakukan ini semua.”
Suara Elora lirih, namun jelas. Ada ketulusan yang tak dibuat-buat di setiap katanya.
“Tapi… saya akan pura-pura mengerti,” lanjutnya pelan. “Karena Anda sudah menolong keluarga saya di panti. Apa pun itu… asal mereka tetap tersenyum.”
Arelion terdiam.
Ia mendengarkan—bukan sekadar mendengar—setiap kata yang keluar dari bibir pucat Elora. Gadis itu berdiri di hadapannya tanpa gemetar, meski jelas hatinya sedang berperang dengan banyak rasa.
Tatapan Elora tegas. Bukan tatapan seorang pelayan yang sedang memohon belas kasihan, melainkan tatapan seseorang yang siap mengorbankan dirinya demi orang-orang yang ia cintai.
Ada sesuatu yang bergerak di dada Arelion.
“Kau tahu, Elora…” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan terkendali,
“tidak banyak orang yang bersedia menukar hidupnya sendiri demi senyum orang lain.”
Ia melangkah mendekat, menjaga jarak yang tetap pantas, namun cukup dekat untuk membuat Elora menahan napas.
“Aku menolongmu bukan untuk membuatmu berutang padaku.”
Elora menatapnya, bingung.
" Aku harap ini tempat yang lebih aman daripada rumah ibu angkatmu."
Arelion menatap Elora dalam diam.
Maaf…
Untuk sementara kau harus memakai identitas seorang pelayan,
ini akan membuatmu aman berada di sisiku…
Batin itu bergaung pelan, jauh lebih jujur daripada kata-kata yang sanggup ia ucapkan.
Dunia milik keluarga Arkaven bukan tempat yang ramah bagi gadis sebersih Elora. Terlalu banyak mata, terlalu banyak kepentingan, dan terlalu banyak bahaya yang mengintai dari balik senyum sopan. Identitas itu..seorang pelayan adalah satu-satunya tameng yang bisa ia berikan saat ini.
Setidaknya orang tuanya tak akan banyak bertanya jika Arelion tiba-tiba membawa seorang wanita masuk ke rumahnya .
Arelion memalingkan wajahnya sesaat, menekan perasaan yang perlahan tumbuh tanpa izin.
“Datanglah ke sini setiap hari. Di rumah ini, kau hanya perlu mendengarkanku. Dan kau tak perlu bekerja berlebihan. Akan ada pelayan lain yang menggantikan tugasmu.”
Elora mengernyit. Apa maksudnya?
Apakah tuannya memberinya status sebagai pelayan palsu?
“Tidak, Tuan,” ucap Elora sambil menggeleng pelan.
“Saya akan bekerja sesuai dengan tugas saya.”
Ia menunduk, suaranya sedikit bergetar.
“Jangan membuat saya semakin tidak tahu diri. Anda sudah berbuat terlalu banyak.”
Arelion terdiam.
Kalimat Elora barusan..sederhana, namun tegas..membuat dadanya terasa sesak dengan cara yang tak ia pahami.
“Tidak tahu diri?” ulangnya pelan, suaranya rendah namun jelas.
“Kau pikir menerima perlindungan dariku membuatmu rendah?”
Elora mengangkat wajahnya. Untuk sesaat, tatapan mereka bertaut.
Ia melihat sesuatu di mata Arelion..bukan sekadar kekuasaan, bukan pula belas kasihan. Ada kegelisahan yang disembunyikan rapi di balik sikap dinginnya.
“Saya ...saya hanya tidak ingin berhutang lebih dari yang mampu saya bayar, Tuan,” jawab Elora jujur.
Arelion tersenyum tipis. Senyum yang tidak benar-benar sampai ke matanya.
" Baiklah lakukan apapun yang membuatmu nyaman." ucap Arelion datar .
Hanya gadis didepannya ini yang berani membantah ucapannya .
Arelion melangkah mendekat, menjaga jarak yang sopan, namun cukup dekat untuk membuat Elora menahan napas.
“Di rumah ini,” lanjutnya, “kau aman. Selama kau berada di sisiku, tak seorang pun bisa menyentuhmu termasuk ibu angkatmu ..Nyonya Maria.”
Nama itu membuat tubuh Elora menegang.
Elora menunduk, jemarinya mengepal di sisi gaun seragamnya.
“Baik, Tuan,” akhirnya ia berkata.
“Saya akan bekerja sungguh-sungguh…”
Senyum tipis itu terbit—hampir tak terlihat, namun cukup untuk membuat Arelion terpaku sesaat. Ada ketenangan di sana. Bukan senyum yang meminta belas kasihan, melainkan senyum seseorang yang sudah berdamai dengan keadaannya.
“Sekarang, duduklah,” ucap Arelion.
Elora mengangkat wajahnya, bingung.
“Apa, Tuan…?”
“Tugas pertamamu hari ini adalah membereskan meja kerjaku,” lanjut Arelion dengan nada tegas. “Tunggu aku selesai dengan pekerjaanku. Setelah itu, baru kau bisa bekerja.”
Elora menatap meja kerja yang rapi..terlalu rapi untuk disebut berantakan. Lalu pandangannya beralih ke kursi di hadapannya. Kursi empuk, bersih, jelas bukan tempat seorang pelayan menunggu perintah.
Ia menelan ludah.
Apa maksudnya?
Apakah aku benar-benar harus duduk… menunggu… tanpa melakukan apa pun?
Sebenarnya apa peranku disini?
Pekerjaan pertama yang sungguh di luar perkiraan.
Dengan ragu, Elora melangkah dan duduk perlahan di ujung kursi, punggungnya tegak, tangannya bertaut di pangkuan. Sikapnya kaku..seperti seseorang yang siap ditegur kapan saja.
Arelion kembali menatap berkas-berkas di mejanya, namun sesekali pandangannya terangkat, mengamati Elora dari balik ketenangan wajahnya. Gadis itu duduk terlalu sopan. Terlalu waspada. Seolah ruangan ini bisa menelannya kapan saja.
“Tenang saja,” ucapnya tanpa menoleh. “Aku tak menggigit.”
Elora tersentak kecil.
“Kalo kamu haus, ada minuman di sana,” ucapnya lagi, singkat, seolah itu hal yang sangat wajar.
Elora menoleh ke arah yang ditunjuk. Sebuah meja kecil dengan teko kristal dan beberapa gelas tersusun rapi. Airnya tampak dingin, bahkan ada irisan lemon mengapung di permukaannya.
Ia tercekat.
Ia datang untuk bekerja. Untuk menebus kebaikan. Untuk menjaga jarak agar tidak merasa berutang lebih dari yang sanggup ia bayar.
Namun yang ia dapatkan justru perlakuan seorang tamu.
“Terima kasih, Tuan… tapi saya tidak haus,” jawab Elora pelan. Tangannya semakin erat bertaut di pangkuan, seolah menahan diri agar tidak terlihat salah tempat.
Arelion menghentikan gerakan tangannya sesaat. Ia tidak menoleh, tetapi sudut bibirnya bergerak tipis nyaris tak terlihat.
Keras kepala, batinnya.
Atau terlalu terbiasa menyingkirkan kebutuhan sendiri.
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara pena yang sesekali menyentuh kertas dan detik jam yang berjalan pelan. Elora duduk diam, merasa asing di kursi empuk itu, merasa bersalah hanya dengan bernapas lega.