Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SINGA KECIL SAKIT..
"Panasnya sudah lewat dari 39 derajat, Pak. Mbak Nayla harus segera dikompres atau dibawa ke rumah sakit."
Suara Mbok Sum, asisten rumah tangga senior di kediaman Hasyim, terdengar gemetar. Di atas ranjang besarnya, Nayla terbaring ringkih. Wajah yang biasanya penuh ketengilan itu kini pucat pasi, bibirnya kering, dan napasnya terdengar berat. Tubuhnya menggigil di balik selimut tebal, sangat kontras dengan hawa panas yang menguar dari kulitnya.
Adnan berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja kerja yang lengannya sudah digulung. Ia menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada keraguan yang nyata di sana. Sebagian dirinya masih melihat Nayla sebagai anak dari pria yang menghancurkan hidupnya, namun sebagian lagi merasa sesak melihat "singa kecil" itu sakit tak berdaya.
"Tinggalkan kami, Mbok. Biar saya yang urus," perintah Adnan pelan.
"Tapi Pak..."
"Saya bisa, Mbok. Tolong siapkan bubur dan air hangat lagi saja," potong Adnan tegas.
Setelah Mbok Sum keluar, Adnan mendekat ke ranjang. Ia mengambil handuk kecil yang sudah diperas, lalu perlahan menempelkannya ke dahi Nayla. Tangannya sempat ragu saat menyentuh kulit gadis itu. Ia teringat bagaimana beberapa jam lalu Nayla masih berteriak memanggilnya "Pak Es Balok" sebelum akhirnya jatuh pingsan di depan pintu kamar Adiva.
"Yah... Ayah..."
Sebuah igauan lirih keluar dari bibir Nayla. Tubuhnya beringsut, tangannya meraba-raba udara seolah mencari pegangan.
"Ayah... Nayla takut... Jangan dipenjara..."
Adnan tertegun. Suara itu begitu rapuh. Ia menyadari bahwa di balik jilbab hitam dan kepalan tangan yang kuat, Nayla hanyalah seorang anak delapan belas tahun yang dunianya baru saja runtuh. Kebencian Adnan pada Ibram Hanin mendadak terasa seperti beban yang salah sasaran. Bagaimana mungkin ia tega memisahkan gadis yang sedang sekarat ini dari satu-satunya orang tua yang ia miliki?
"Ayah di sini... Nay disini Ayah... Jangan pergi..." rintih Nayla lagi, kali ini dengan air mata yang merembes dari sudut matanya yang terpejam.
Adnan mengepalkan tangannya. Rasa benci yang ia pelihara selama setahun terakhir mendadak terasa seperti beban yang salah tempat. Ia menatap Nayla dan menyadari sebuah kenyataan pahit: istrinya ini masih anak-anak. Di balik semua keberaniannya, Nayla hanyalah remaja delapan belas tahun yang dipaksa dewasa oleh keadaan dan kesalahan orang tuanya.
Adnan merogoh ponselnya, melangkah menjauh ke arah balkon. Ia mendial sebuah nomor.
"Dion, jemput Ibram Hanin sekarang," perintah Adnan tanpa basa-basi.
"Maaf Pak? Jemput Tuan Ibram? Tapi Anda bilang..."
"Jangan banyak tanya! Bawa dia ke mansion lewat pintu belakang sekarang juga. Nayla sakit, dia terus memanggil ayahnya," potong Adnan dengan nada ketus untuk menutupi gejolak di dadanya.
Satu jam kemudian, pintu kamar Nayla diketuk pelan. Dion muncul bersama Ibram Hanin yang wajahnya nampak sangat cemas. Begitu melihat Adnan, Ibram langsung menunduk dalam, badannya gemetar.
"Tuan Adnan... maafkan saya... saya dengar Nayla..."
"Masuklah," potong Adnan dingin, meski matanya menunjukkan sedikit empati. "Dia mengigau mencarimu sejak tadi. Obati dia, karena obat dari dokter saja sepertinya tidak cukup."
Ibram lari menghampiri ranjang putrinya. Ia menggenggam tangan Nayla dan menciumnya berkali-kali. "Nayla, ini Ayah, Nak. Ayah di sini."
Mendengar suara yang dikenalnya, napas Nayla perlahan mulai teratur. Matanya terbuka sedikit, kabur oleh panas demam. "Ayah? Ayah beneran di sini? Pak Es nggak marahin Ayah?"
Umar melirik ke arah Adnan yang berdiri mematung di sudut ruangan. "Tidak, Nak. Tuan Adnan yang menjemput Ayah. Kamu harus sembuh ya, jangan buat Ayah takut."
Nayla tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat. Ia melirik Adnan dengan tatapan sayu. seperti ingin mengatakan sesuatu.
Adnan memalingkan wajah. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya. Ia segera meninggalkan ruangan itu dan kembali beberapa saat kemudian setelah Ibram harus pulang secara sembunyi-sembunyi sebelum fajar menyingsing.
Keesokan paginya, Nayla sudah bisa duduk bersandar meski wajahnya masih pucat. Saat Adnan masuk membawa nampan berisi bubur dan obat, Nayla langsung memasang wajah tengil andalannya.
"Wah, Pak Es perhatian banget. Pakai acara jemput Ayah segala. Makasih ya, Pak Es Balok," ucap Nayla dengan suara bindeng.
Adnan meletakkan nampan itu dengan hentakan kecil. "Berhenti memanggil saya 'Pak Es'. Saya ini suamimu, bukan dosen pembimbingmu."
Nayla justru terkekeh hingga terbatuk. "Lho, kan Bapak memang sudah tua. Masih mending saya panggil Pak, daripada saya panggil Mbah?"
"Panggil Mas. Itu lebih pantas," desis Adnan sambil menyodorkan sesendok bubur ke mulut Nayla.
Nayla menggeleng, menjauhkan mulutnya dari sendok. "Enggak mau. Mas itu kurang gaul, Pak. Berasa kayak panggilan di sinetron tahun 90-an. Kaku banget, kayak kerah baju Bapak yang disetrika pakai kanji."
Adnan menarik napas panjang, mencoba menguasai emosinya. "Lalu kamu mau panggil apa? Om? Kakak?"
Nayla menopang dagunya dengan tangan yang masih gemetar, matanya berbinar jenaka. "Gimana kalau 'Hubby'? Itu lebih keren, lebih internasional, dan lebih... islami."
Adnan menaikkan sebelah alisnya, sangsi. "Islami? Dari mana asalnya? Itu bahasa Inggris, Nayla."
"Ih, Bapak mah kurang literasi," Nayla mengibaskan tangannya. "Dalam Islam, suami itu kan pemimpin, pelindung, dan belahan jiwa. Hubby itu bisa diplesetin jadi 'Habibi' yang artinya kekasihku. Jadi kalau saya panggil Hubby, itu doa biar Bapak nggak dingin lagi kayak kulkas dua pintu. Keren kan?"
Adnan terdiam. Kata 'Habibi' dan 'Hubby' yang diucapkan dengan gaya asal-asalan oleh Nayla entah bagaimana terdengar begitu manis di telinganya. Ada rasa hangat yang menggelitik dadanya, membuat sudut bibirnya hampir saja tertarik membentuk senyuman. Namun, dengan cepat ia berdehem dan kembali memasang wajah datar.
"Terserah kamu. Makan buburnya," ucap Adnan singkat sambil kembali menyodorkan sendok.
"Cie, Bapak salting ya? Telinganya merah tuh! Berarti setuju ya dipanggil Hubby?" goda Nayla sambil tertawa kecil.
"Makan, atau saya panggil dokter untuk menyuntik mulutmu agar diam," ancam Adnan, meskipun matanya tidak lagi menatap Nayla dengan kebencian.
Nayla akhirnya mau makan. Di sela-sela suapannya, ia terus mengoceh tentang bagaimana ia akan menghias motor sportnya nanti. Adnan hanya mendengarkan, sesekali memberikan komentar pendek yang ketus, namun tangannya sangat telaten menyeka sisa bubur di sudut bibir Nayla.
"Hubby..." panggil Nayla pelan di tengah kunyahannya.
"Apa lagi?"
"Makasih ya. Udah mau ngertiin saya yang masih bocah ini. Saya tahu Pak, eh, Hubby, masih belum bisa maafin Ayah sepenuhnya. Tapi Hubby udah mau jemput Ayah kemarin, itu artinya Hubby orang baik."
Adnan menghentikan gerakannya. Ia menatap Nayla yang kini menatapnya dengan tulus, tanpa ada jejak ketengilan. Untuk pertama kalinya, Adnan merasa bahwa keputusan orang tuanya untuk menikahkan mereka mungkin bukan hanya untuk menebus dosa, tapi untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari kesunyian yang membunuh.
"Jangan berpikir terlalu jauh," sahut Adnan sambil berdiri membawa piring kosong. "Cepat sembuh. Saya tidak mau punya istri yang hobinya tidur melulu,"
Saat Adnan berjalan keluar kamar, sebuah senyuman kecil benar-benar muncul di wajahnya. Senyuman yang ia sembunyikan rapat-rapat dari penglihatan Nayla.
"Hubby ya?" gumam Adnan pelan di lorong rumah yang sepi. "Dasar bocah aneh."
Sementara itu di dalam kamar, Nayla merebahkan tubuhnya kembali sambil tersenyum lebar. "Ternyata Pak Es Balok kalau dikasih panggilan sayang bisa meleleh juga. Score dua kosong buat Nayla!"
----
Ayo yang minta Update, mana nih komennya, jangan melempem dong. kasih semangat dong buat Ramanda. Biar Ramanda rajin Update. Apalagi kalau dikasih Vote, Like dan Hadiah, makin semangat tuh, dan insyaallah sehari bisa tiga kali updatenya. Cus kasih support nya.
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥