Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 : Hubungan darah yang tak mungkin dihapus
Situasi berubah tegang seketika. Tak ada yang berani asal bicara kecuali Alea. Gadis kecil itu masih merengek dari dalam pagar meminta untuk dibukakan pintu. Wajar, dia sudah berbulan-bulan selama proses gugatan hingga persidangan berakhir, tidak memiliki atau mungkin tidak diberi kesempatan untuk bertemu sang ayah. Setiap kali ia mengutarakan keinginannya, Alena pasti akan marah.
"Len, aku cuma mau ketemu dan ngobrol sama Alea. Tolong jangan seperti ini ke aku." Arinta berusaha menjelaskan dan menegaskan maksud kedatangannya memang murni hanya untuk Alea.
"Sekarang kamu udah liat dia 'kan? Udah cukup, jangan lama-lama," balas Alena dengan nada ketus. "Bi Yani, gendong Alea, bawa masuk," ujarnya kemudian dengan nada memerintah.
Perempuan itu dengan sigap bergerak mendekati Alea dan langsung menggendongnya tanpa menunggu jawaban. Alea spontan meronta dalam gendongan sang Bibi.
"Alea gak mau masuk!!! Alea masih mau sama Papih!!!" Alea memukul-mukul wajah Yani dan kedua kakinya menendang kasar di udara.
Alena yang melihat betapa kerasnya perlawanan Alea menjadi sangat emosional, marah, tak suka.
"Alea mau ikut Papih??" Kata-katanya tajam menusuk. Dia menatap putri kecilnya dengan wajah yang menantang, lebih seperti sebuah ancaman tersirat.
Alea terdiam saat mendapati tatapan dingin Alena. Ia menunduk dalam dengan wajah murung. Tampak ada gurat ketakutan di wajah si kecil saat melihat tatapan tegas Alena.
"Alena, kamu gak bisa memutus hubungan aku sama Alea begitu saja!" Arinta terlihat sekali keberatan saat Yani mulai berjalan membawa Alea pergi masuk ke dalam rumah.
"Lebih baik kamu pulang saja dan gak perlu kemari. Aku bisa mengurus Alea sendiri." Itu adalah ucapan final dari Alena sebelum akhirnya dia pun ikut masuk.
Putri, Wahyu dan ibunya Alena satu-persatu memasuki rumah. Mereka meninggalkan Arinta yang masih berharap berdiri di depan pagar.
.
.
Kejadian itu berlalu begitu cepat dan tanpa disadari hari sudah sore dengan ditandai oleh warna langit yang kemerahan. Namun, siapa yang menduga kalau Arinta ternyata masih ada di sana. Ia masih berdiri di posisi yang sama menatap ke dalam rumah.
"Pak Arinta...." Yani terkejut bukan main melihat lelaki itu masih berdiri di sana saat hendak menyuapi Alea makan di halaman.
"Alea...." Kedua-mata Arinta berbinar seketika ia melihat buah hatinya berada dalam gandengan tangan sang babysitter.
"Pap...." Alea hampir saja berteriak memanggil senang. Tapi Arinta segera memberi isyarat agar anak itu tidak berisik.
Seakan memahami situasi, Alea langsung melirik ke belakang lalu mengikuti gestur sang ayah yang sedang menempelkan jari telunjuknya ke mulut.
"Alea sini," ujarnya setengah berbisik.
Gadis kecil itu buru-buru berlari ke arah Arinta. Terlihat sekali si kecil menahan kerinduan yang teramat dalam dari wajahnya yang langsung memerah saat mendekati Arinta.
"Alea...." Arinta bergumam lembut saat merasakan kedua-tangan milik sang putri menyentuh wajahnya.
"Bi, tolong bukain pagarnya," ucapnya dengan tatapan memohon.
"Aduh, bagaimana ya, Pak...." Yani bimbang seketika. Ia segera melirik ke dalam rumah, memantau kalau-kalau ada yang melihatnya berbicara dengan Arinta. "Saya takut dimarahi sama Bu Alena...," ucapnya dengan jujur dan beralih kembali menatap Arinta.
"Tolong saya sekali ini saja..., tolong Bi, buka pintu pagarnya." Arinta pun mulai memohon. "Saya cuma mau gendong Alea..., saya ingin peluk dia," ujarnya dengan rasa rindu yang sudah tak dapat dibendung lagi.
Yani akhirnya merasa iba dan membukakan pintu pagar agar Alea bisa benar-benar memeluk ayahnya.
Dengan hati-hati ia membuka pintu pagar itu agar suaranya tidak berisik terdengar ke orang rumah.
Begitu pintu terbuka Alea segera berlari keluar pintu pagar dan memeluk ayahnya.
"Papihhh!!!" Alea, gadis kecil itu tampak sangat bahagia saat bisa merasakan pelukan sang ayah.
"Alea sayang...," balas Arinta penuh haru karena akhirnya setelah terpisah berbulan-bulan dia dapat menyentuh putri kecilnya lagi.
Yani hanya bisa menghela napas lega. Sejujurnya dia tidak bermaksud untuk memilih pihak manapun. Hanya saja saat ini jujur ia kasihan dengan Arinta. Pria itu rela menunggu dari siang hingga jelang malam hanya untuk melihat Alea.
"Alea, Papih pergi dulu ya. Nanti Papih bakal datang lagi jenguk Alea," ujar Arinta setelah melepaskan pelukannya dan berbicara kepada sang buah hati dengan nada lembut.
"Papih mau kerja ya? Pulangnya kapan lagi?" Tangan mungilnya mencengkram lengan baju Arinta, seolah berat untuk membiarkannya pergi. Hati Arinta terasa terenyuh.
"Iya sayang, Papih mau kerja dulu di Jakarta. Alea baik-baik sama Mamih di rumah ya, Nak?" Ia menepuk pelan pucuk kepala Alea dengan mata yang memerah.
"Iya Papih, Alea gak bakal nakal..., tapi Alea takut sama Mamih...." Pengakuan itu meluncur mulus dari anak kecil yang polos itu.
"Jangan takut sama Mamih, dong Alea...." Arinta menghembuskan napasnya panjang dan mencoba memberi pengertian pada Alea akan sikap Alena yang mungkin sedikit berubah. "Mamih itu lagi capek, butuh tenang..., makanya Alea jangan nakal, jangan bikin Mamih pusing, ya?" Ia meminta sang putri berjanji.
"Iya deh, Papih...." Alea cuma mengangguk pelan dengan wajah ditekuk.
"Sekarang Alea masuk lagi ya? Papih pergi dulu." Ia menatap lekat ke dalam mata Alea.
"Tapi nanti janji ya, Papih cepet pulang?" Tatapannya masih begitu polos. Ia sama sekali belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
"...Iya, Papih janji...," ucap Arinta merasa miris. Tapi dia tak juga tak ingin menghancurkan harapan Alea.
Senyum cerah si kecil merekah bagai mentari pagi yang mampu memberi pengobat rindu di hati. Arinta memeluk Alea sekali lagi sebelum kemudian melepaskannya kembali dan naik ke mobil.
"Sini, Dek...." Yani bergegas menggiring Alea masuk kembali ke halaman rumah dan menutup pintu pagarnya.
Arinta masih menatap Alea untuk yang terakhir kali sebelum berpisah.
Suara mobilnya terdengar kencang saat dinyalakan membuat orang-orang rumah berjalan keluar untuk memastikan.
"Lho, itu suara mobil siapa?" Putri adalah orang pertama yang berjalan ke depan dan membuka pintu.
"Dadah, Alea...."
Mereka semua melihat mobil pria itu melaju meninggalkan depan rumah dengan wajah bahagia. Sementara Alea berdiri di dekat pintu pagar sambil melambaikan tangan.
"Loh, Arinta ternyata masih di sana??" Ujar ibunya Alena cukup terkejut saat mengetahui pria itu masih menunggu dan baru saja pergi.
"Yuk masuk, Dek..., udah mau magrib...."
Yani mengajak Alea untuk kembali masuk rumah. Ia terkejut saat melihat orang-orang rumah ternyata sudah pada keluar dan berkumpul di depan pintu dengan tatapan mengawasi.
"Bi, tadi Arinta baru pergi?" Tanya Putri untuk kroscek.
"Iya Teh, si Bapak pamitan sama Alea barusan...," ucap Yani menjelaskan. Di sini ia sedikit berbohong karena dua hal.
Satu, dia takut dimarahi kalau sampai ketahuan membiarkan Alea tadi bertemu langsung dengan Arinta. Kedua, dia kasihan takut nanti Arinta bakal semakin sulit untuk ketemu sama Alea.
"Huh dasar, pamitan cuma sama Alea doang, kita semua gak dianggapnya kali!" Putri langsung berkomentar dengan nada ketus.
"Udah, udah, ayo masuk! Sudah mau magrib, jangan di luar!" Wanita itu menyuruh mereka semua untuk segera masuk karena adzan tampaknya akan segera berkumandang.
Mereka semua menurut termasuk Alea yang tampak ceria dan bersemangat.
.
.
Bersambung....
rubah sifatmu lena jng sampai calon suamimu jg merasa tertekan oleh sifatmu