NovelToon NovelToon
Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Anime / Harem / Action / Romantis / Fantasi
Popularitas:567
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Setelah itu, mereka bertiga mulai berjalan-jalan mengelilingi kota. Jalanan ramai, toko-toko penuh pembeli.

“Neeh,” ucap Diana sambil melirik kertas pengumuman, “aku dengar ada pelelangan hari ini. Mau ke sana?”

“Boleh,” jawab Wakasa singkat. “Ayo.”

Mereka pun menuju gedung pelelangan yang cukup besar dan mewah. Di dalamnya sudah dipenuhi orang-orang berpakaian rapi—pedagang kaya, bangsawan, dan kolektor.

Mereka memilih duduk di bangku paling belakang.

Tak lama kemudian, pelelangan dimulai. Satu per satu berlian dipamerkan di atas panggung. Kilauannya memantul oleh cahaya lampu, disambut suara tawaran yang bersahut-sahutan.

Namun Wakasa hanya menatap sekilas… lalu kembali bersandar di kursinya.

“Berlian biru langit…” “Berlian merah darah…” “Berlian dengan kemurnian tinggi…”

Harga-harga fantastis terus melambung, tapi ekspresi Wakasa tak berubah sedikit pun.

Starla meliriknya pelan. (Dia bahkan tidak tertarik sama sekali…)

Waktu terus berjalan hingga akhirnya pelelangan mendekati akhir.

“…Dengan ini, pelelangan hari ini dinyatakan selesai.”

Wakasa menghela napas pelan. “Tidak ada yang menarik,” gumamnya datar.

Diana menoleh heran. “Serius? Padahal itu semua sangat indah loh.”

“Ya,” jawab Wakasa sambil berdiri. “Biasa saja.”

Starla tersenyum kecil, meski dalam hati ia makin bertanya-tanya— sebenarnya apa yang bisa membuat Wakasa tertarik?

Saat semua orang mengira pelelangan telah selesai, pemimpin lelang tiba-tiba mengangkat tangannya.

“Tunggu sebentar.”

Ruangan yang sempat riuh perlahan kembali tenang.

“Ada satu barang terakhir,” ucapnya dengan suara berat, “barang ini… tidak tercantum di daftar awal.”

Beberapa orang langsung berbisik.

Seorang asisten membawa sebuah kotak kecil berlapis kain hitam, lalu membukanya perlahan di atas panggung.

Di dalamnya—sebuah berlian bening kebiruan.

Namun udara di sekitarnya langsung berubah.

Uap dingin tipis menyebar, membuat napas beberapa orang terlihat samar.

“Berlian ini,” lanjut pemimpin lelang, “secara alami memancarkan sihir es"

Bisik-bisik berubah menjadi gumaman kagum.

Wakasa akhirnya mengangkat pandangannya. Matanya tertuju pada berlian itu.

(Sihir es…)

Ia mendengarkan penjelasan pemimpin lelang dengan tenang—tentang asalnya dari daerah bersalju, tentang kegagalannya diproses oleh penyihir biasa, tentang betapa sedikit orang yang mampu memanfaatkannya.

Namun…

“Biasa saja,” gumam Wakasa pelan.

Starla yang duduk di sampingnya terkejut. “Eh? Tapi itu barusan—”

“Kalau hanya memancarkan sihir es,” lanjut Wakasa datar, “itu bukan sesuatu yang layak menarik”

Diana menyipitkan mata. “Kamu aneh, tahu nggak? Orang lain rebutan, kamu malah nggak peduli.”

Tawaran mulai melonjak.

“Seratus ribu!” “Dua ratus!” “Lima ratus ribu!”

Suasana kembali panas, tapi Wakasa tetap bersandar, tak sedikit pun mengangkat tangan.

Berlian itu akhirnya terjual dengan harga tinggi, disambut tepuk tangan.

Pemimpin lelang menutup acara dengan senyum puas.

Wakasa berdiri. “Ayo. Kita pulang.”

Starla menatap panggung sekali lagi, lalu ke arah Wakasa. (Barang seperti itu pun tidak menarik perhatiannya…)

Mereka bertiga keluar dari gedung pelelangan dan kembali menyusuri jalan kota.

“Wakasa-kun,” Starla berjalan di sampingnya sambil menoleh, “memangnya tidak ada yang menarik dari berlian tadi?”

Ia ragu sejenak, lalu menambahkan dengan jujur, “Padahal menurutku semuanya terlihat bagus, loh.”

Wakasa melangkah santai, kedua tangannya di saku. “Berlian-berliannya memang bagus,” jawabnya tenang, “tapi… tidak ada yang benar-benar menarik.”

Diana meliriknya sekilas. “Standar kamu tinggi juga ya.”

Wakasa hanya mengangkat bahu kecil. “Kalau cuma indah, masih banyak yang lebih indah dari itu.”

Starla terdiam. Ia menatap punggung Wakasa sambil berjalan, ada sedikit rasa penasaran bercampur kagum di dadanya.

“Ngomong-ngomong… mau makan siang?” tanya Wakasa sambil melirik ke arah mereka berdua.

“Boleh,” jawab Starla cepat, suaranya lembut.

“Hahahaha, kebetulan aku udah laper banget,” sambung Diana sambil memegang perutnya.

Mereka pun berjalan menyusuri jalan utama sampai akhirnya terlihat dari kejauhan sebuah kedai kecil. Asap tipis mengepul dari panci besar, aroma kuah mi langsung tercium dari jauh

Starla berhenti melangkah dan menunjuk pelan. “Kayaknya mi di sana enak… mau makan itu?”

Wakasa menoleh sebentar, lalu mengangguk santai. “Eem, boleh.”

Mereka pun duduk dan memesan. Tak lama kemudian, tiga mangkuk mi diletakkan di hadapan mereka.

Tanpa menunggu lama, mereka langsung mulai makan.

Rasanya cukup enak.

Kuahnya sangat gurih dan tekstur mi nya sangat kenyal.

Wakasa mengangkat sumpitnya, lalu berhenti sejenak. Saat mi itu masuk ke mulutnya, ingatannya langsung teringat — ke kehidupan sebelumnya.

Saat ia masih seorang pengamen. Duduk di pinggir jalan, makan mi murah dari kedai kecil, dengan suara koin jatuh di kotak kayu sebagai.

“Rasanya cukup enak… tapi lebih enak mi di tempatku tinggal dulu,” gumamnya lirih.

Ia menunduk, suaranya makin pelan. “Tidak terasa… sudah enam bulan aku di dunia ini.”

Setelah makan, mereka kembali berjalan menyusuri kota, melihat-lihat berbagai barang yang dijual di sepanjang jalan. Dari alat sihir kecil, aksesoris, sampai perhiasan.

“Hmm… ini cocok nggak ya?” Diana memegang sebuah barang sambil menoleh ke arah Wakasa.

“Buat siapa?” tanya Wakasa.

“Buat Sakura,” jawab Starla sambil tersenyum kecil.

" Bagus ko " jawab wakasa tersenyum

Tidak terasa hari sudah mulai sore , mereka pun kembali ke penginapan mereka karena mereka akan pulang ke ibukota kerajaan esok hari.

Sesampainya di kamar, Wakasa langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur.

“Gimana keadaan Fenrir ya…” gumamnya pelan sambil menatap langit-langit kamar.

Wakasa pun memejamkan mata. Napasnya perlahan menjadi teratur, dan kesadarannya tenggelam— masuk ke alam bawah sadarnya.

Saat ia membuka mata, yang terlihat adalah hamparan luas tanpa batas.

Di sana, Fenrir terbaring. Tubuh besarnya terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya, napasnya teratur sepertinya sedang tertidur.

Merasakan kehadiran Wakasa, Fenrir perlahan membuka matanya.

“Sepertinya kau sudah sembuh, ya,” tanya Wakasa tenang.

Fenrir menatapnya sesaat sebelum menjawab, “Ada perlu apa kau kemari?”

“Tidak ada,” jawab Wakasa singkat, “aku cuma ingin melihat kondisimu.”

“Oh ya, Fen,” Wakasa angkat bicara lagi, “sebenarnya… gimana caranya aku pakai kekuatanmu?” tanyanya tenang.

Fenrir sempat terkejut kecil mendengar itu. Matanya sedikit membesar sebelum kembali menyempit.

“Kau tidak akan bisa menggunakan kekuatanku secara langsung,” jawabnya pelan namun tegas. “Kau harus belajar cara mengendalikannya.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada berat, “Kau tahu? Karena terlalu kuatnya kekuatanku, bahkan para dewa pun takut padaku.” “Dirimu yang sekarang… tidak akan sanggup menahan kekuatanku.”

Wakasa terdiam. Matanya menunduk, pikirannya bekerja cepat.

(Benar juga…)

(Kalau begitu… apa yang terjadi kalau aku memaksa?)

“Fen,” Wakasa kembali bertanya, “kalau aku tetap memaksa menggunakan kekuatanmu… apa yang akan terjadi?”

Fenrir terdiam cukup lama. Angin di hamparan itu seolah ikut berhenti.

Akhirnya ia membuka mulutnya. “Kau akan dirasuki oleh kekuatanku.” “Dan kau akan kehilangan kendali atas dirimu.”

Suaranya menjadi lebih rendah. “Karena di dalam kekuatanku tercampur ketakutan, kebencian, kemarahan… dan dendam.”

Mata Wakasa sedikit membesar. Tubuhnya kaku, kata-kata itu menancap dalam.

(Kalau begitu…)

(Saat aku bertarung dengannya dulu…)

“Apa artinya,” gumam Wakasa pelan, “Fenrir… tidak menggunakan seluruh kekuatannya saat melawanku?”

Fenrir hanya menatapnya dalam diam.

Wakasa menghela napas panjang. “Terima kasih, Fen.”

Ia pun menutup matanya. Perlahan, kesadarannya mulai menjauh dari hamparan luas itu—

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!