Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Raungan Fenrir mengguncang langit.
Tiga kepalanya membuka rahang secara bersamaan, memperlihatkan barisan taring hitam dengan berlapis aura kegelapan.
Tanah di bawah kakinya retak lalu hancur.
Kabut hitam berputar di sekitar tubuh raksasanya.
“AwoooooRRRGH!!!”
Gelombang tekanan meledak keluar dari tubuh Fenrir, menghantam Wakasa seperti badai.
Namun Wakasa tetap berdiri.
Mantelnya berkibar , rambutnya terangkat oleh angin energi. Pedang cahaya transparan di tangannya bergetar, memantulkan kilau emas yang menembus gelapnya langit.
“Dia masih punya kekuatan sebesar ini?”
Wakasa menyipitkan mata.
" Luar biasa "
Ia mengangkat pedangnya lurus ke depan.
“Golden Pulse Barrier.”
Lapisan cahaya emas langsung menyelimuti tubuhnya tepat saat shockwave Fenrir menghantam. Ledakan energi terjadi, membelah udara, menciptakan kawah besar di sekitar mereka.
Debu mengepul tinggi.
Saat asap perlahan turun, Wakasa sudah berdiri di tepi kawah.
Sementara Fenrir melangkah maju.
Setiap langkahnya membuat tanah bergetar.
Ketiga kepalanya bergerak dengan arah berbeda, satu menatap Wakasa, satu mengamati langit, satu lagi mengendus tanah .
Lalu, bersamaan—
Ketiga mulutnya memancarkan cahaya merah gelap.
“Tri-Hell Breath!”
Tiga sinar kehancuran melesat sekaligus, menyapu area dengan panas yang mampu melelehkan batu.
Wakasa menghentakkan kakinya.
“Flash Step!”
Tubuhnya menghilang dalam kilatan emas.
Serangan Fenrir menghantam tanah kosong, menciptakan jurang panjang.
Dalam sekejap Wakasa sudah muncul di atas kepala tengah Fenrir.
Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
“Heaven Splitter Slash!”
Tebasan vertikal raksasa turun.
Cahaya emas membelah udara dan menghantam tengkorak kepala tengah Fenrir, menciptakan luka panjang yang menyemburkan energi hitam seperti darah.
Fenrir meraung keras.
Namun dua kepala lainnya langsung berbalik.
Salah satunya menggigit Wakasa.
Wakasa menahan rahang raksasa itu dengan pedangnya.
“Ga cukup cepat.”
Ia mendorong balik sambil mengaktifkan—
“Overdrive Core.”
Aura emasnya meledak lebih besar, tubuhnya diselimuti cahaya pekat. Otot-ototnya menegang, matanya bersinar tajam.
Dengan satu tendangan, Wakasa menghantam rahang Fenrir hingga makhluk itu terlempar beberapa meter.
Fenrir menghantam tanah, menciptakan gempa kecil.
Namun raksasa itu bangkit lagi.
Aura gelapnya berputar liar.
Ketiga kepalanya mengangkat wajah bersamaan ke langit.
Awan hitam berkumpul di atas mereka.
Simbol kuno merah menyala muncul di udara.
“Abyssal Ragnarok.”
Ratusan tombak bayangan turun dari langit seperti hujan.
Wakasa menarik napas dalam.
Ia menancapkan pedangnya ke tanah.
“Absolute Light Domain.”
Lingkaran cahaya emas raksasa terbentuk di bawah kakinya. Pilar-pilar cahaya menjulang ke atas, menghancurkan tombak bayangan satu per satu saat menyentuh wilayah itu.
Ledakan demi ledakan terjadi.
Langit tampak seolah terbakar.
Saat hujan kehancuran itu berakhir, Wakasa mengangkat wajahnya perlahan.
Matanya sekarang sepenuhnya emas.
“Sudah selesai?”
Ia mencabut pedangnya dari tanah.
Energi di sekelilingnya mengembun.
Udara menjadi berat.
Fenrir mencoba bergerak—
namun tubuh raksasanya tiba-tiba terasa seperti terkunci.
Wakasa sudah berdiri tepat di depan dadanya.
“Final Judgment: Radiant Execution.”
Pedang cahaya transparannya berubah menjadi bilah emas pekat sepanjang beberapa meter.
Dengan satu ayunan horizontal—
seluruh dada Fenrir terbelah.
Gelombang cahaya menyapu medan perang, menghancurkan gunung kecil di kejauhan.
Fenrir bergerak tidak terarah.
Ketiga kepalanya meraung bersamaan, suara mereka pecah.
Tubuh raksasa nya mulai retak, cahaya emas keluar dari celah-celah hitamnya.
Ia jatuh berlutut.
Wakasa berdiri di depannya, napasnya sedikit berat.
Namun tatapannya dingin.
“Wujud kekuatan atau bukan…”
Ia mengarahkan pedangnya ke kepala tengah Fenrir.
“…kau tetap hanya bayangan dari ketakutan.”
Cahaya terkumpul di ujung pedang.
“Rest in light.”