NovelToon NovelToon
Kembali Ke Akhir Dunia

Kembali Ke Akhir Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Hari Kiamat / Ruang Ajaib
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Serigala Kecil

Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir, mantan prajurit wanita hebat di dunia kuno, kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad ia bergerak menumpas kejahatan dan zombie.

Sepupu dan tunangan yang selingkuh? Bunuh!
Paman dan Bibi yang licik? Bunuh!
Orang-orang serakah yang berniat jahat? Bunuh!

Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya. Bersama orang-orang kepercayaannya, menaklukkan kota miskin yang terbuang, menciptakan sebuah kota aman yang akan menjadi cahaya dimasa depan. Menciptakan sebuah harapan ditengah-tengah keputusasaan.

Mampukah Elle menciptakan harapan ditengah kehancuran? Atau justru gugur dimakan kejinya akhir dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lawan dan Lenyapkan

**

Masing-masing maju dengan senjata yang dipegang, kecuali Elle yang menggunakan pedangnya, tiga orang kenalannya masing-masing menggunakan pisau buah yang sebelumnya digunakan tiga orang jahat. Sedang laki-laki yang tidak dikenal Elle, hanya menggunakan kedua tangannya untuk menjatuhkan beberapa orang.

Suara dari tusukan pisau, dan sabetan pedang teredam oleh banyaknya teriakan dari anak buah ketiga orang jahat. Yang memukul, menendang, dan menggunakan pisau dengan mulut yang terus-menerus mengeluarkan teriakan.

Elle menyunggingkan sudut mulut kanannya melihat efisiensi kerja dari orang-orang yang melawannya, yang selalu diiringi teriakan. "Cih!" Decihnya sinis, kemudian dengan lebih cepat menggerakkan pedangnya, membunuh satu persatu orang yang datang padanya. Sampai satu orang terakhir tersisa, Elle hanya melukai tangan dan kakinya, membuatnya terduduk seraya merintih kesakitan.

"J-jangan! Tuan, Bos, Nyonya, jangan bunuh aku!" Mohonnya dengan wajah ketakutan.

"Aku tidak akan membunuhmu, tapi jawab pertanyaanku dengan serius." Ucap Elle menatapnya tajam, dengan ujung pedang yang didekatkan dengan lehernya, membuat orang dibawah gemetar ketakutan.

"A-aku jawab, aku akan jawab!" Balasnya dengan nada takut.

"Selain tiga orang tadi, apakah ada bos lain yang lebih hebat? Berapa banyak orang yang tersisa selain yang sudah terbunuh disini?" Tanya Elle langsung.

"A-ada, ada bos besar dan asistennya. Kakak pertama dan dua adiknya hanya bawahan asisten bos besar. S-selain yang terbunuh karena datang kemari, dilantai 5 ada sekitar 120 orang termasuk penyintas lain, sisanya diluar mencari perbekalan." Ucapnya lagi. "T-tuan, aku sudah mengatakan semuanya, j-jangan bunuh aku." Lanjutnya memohon.

"Hmph!" Dengus Elle seraya menarik pedangnya. Tapi kemudian ia berbalik, menatap pengawalnya dan memberi serangkaian kode padanya. Dengan tangan yang mengulurkan pedang untuk digunakan olehnya.

"K-kau, kau sudah berjanji! Jangan, jangan bunuh aku!" Teriaknya tertahan, tubuhnya makin gemetar.

"Memang, tapi aku tidak mengatakan bahwa pengawalku tidak akan membunuhmu! Kalian sekelompok kanibal menjijikkan, pantas mendapatkannya!" Pekiknya dengan sorot mata penuh dendam.

Orang-orang yang sudah memakan daging manusia, sama sekali tidak pantas hidup. Apalagi, penyiksaan, dan pencucian otak sebelum dimakan benar-benar perbuatan keji dimata Elle. Ia juga mengalami hal-hal ini meski akhirnya ia diselamatkan. Meski begitu, tetap meninggalkan trauma psikologis. Dengan kembalinya ia saat ini, ia bisa merubah takdir dan nasib beberapa orang, juga bisa mengakhiri perbuatan keji ini lebih awal. Karena penyelamatan baru akan datang 2 minggu kemudian, waktu yang sangat panjang bagi orang-orang yang sedang terjebak seperti Elle dikehidupan sebelumnya.

SRET!

Darah mulai mengucur, ditambah darah-darah beberapa orang yang sudah dibunuh, semuanya menggenang seperti kolam kecil.

"Nona.." Ucap pengawal, seraya menyerahkan kembali pedangnya.

"Kakak!" Panggil adiknya, menatap Elle.

"Nona, kau baik-baik saja?" Tanya pengurus rumah yang khawatir.

Elle menggelengkan kepala pada tiga orang itu, kemudian menatap jijik pemandangan sekitarnya. "Ambil perbekalan yang tersisa, ayo pergi cari tempat yang lebih bersih sebelum melenyapkan yang lain." Ucap Elle seraya berjalan lebih dulu meninggalkan kamar dilantai 8 tersebut.

**

"Kau...siapa namamu?" Tanya Elle dengan wajah tanpa ekspresi menatap seorang laki-laki yang terlihat sama dengan wajahnya, tanpa ekspresi. Tapi ia harus bertanya dengan jelas, sebab ia mengikuti Elle saat ini.

"Luca." Balasnya singkat.

Elle mengangguk ringan. "Kami akan melenyapkan orang-orang dibawah malam nanti. Jika kau mau ikut silahkan, jika tidak kau bebas pergi kapanpun kau mau." Ucap Elle pada Luca. Ia tidak menunggu Luca menjawab pertanyaannya, langsung beralih pada tiga orang disampingnya.

"Darrion, Paman Jergh, Sam, bagaimana kabar kalian?" Tanya Elle serius.

Ketiganya menjawab baik dengan serempak. Meski kekuatan ketiganya sama-sama sedang dalam titik terendah, apalagi setelah perlawanan sebelumnya. Jelas terlihat wajah ketiganya juga pucat, dengan bibir kering pecah-pecah.

"Baiklah, kita bicarakan dulu rencana menyelinap malam ini." Ucap Elle, mulai berdiskusi dengan ketiganya, satu orang lain hanya diam mendengarkan dengan wajah tanpa ekspresi.

Selama diskusi, ketiga laki-laki didepan Elle menatapnya dengan tatapan aneh dan bingung. Jelas, karena Elle terlihat seperti bukan Elle pada saat ini. Sifat hangat dan cerianya teredam oleh ketegasan, kecerdasan, dan sikap langsungnya yang terdengar kejam. Apalagi keahlian pedangnya, meski Elle sebelumnya bisa melakukan beladiri dan berpedang, itu hanya sedikit kemampuan tidak sehebat hari ini.

Tapi ketiganya memilih diam dan percaya sepenuhnya. Ketiganya juga merasa lebih aman dan kagum pada Elle, khususnya sang adik yang selalu dilatih bersamaan dengan Elle. Elle selalu cantik dan cerdas, hal apapun yang dipelajarinya memang mudah baginya. Tapi, Elle tidak benar-benar menekuni beladiri, ia hanya sekedar mempelajari agar bisa melindungi diri sendiri, sisanya ia menekuni bisnis keluarga. Menjadi Ellenoir Vogh yang dikenal sebagai kecantikan dan kecerdasan negara.

"Darrion, aku membunuh paman, bibi dan sepupuku hari ini. Apa kau menyalahkanku?" Tanya Elle setelah diskusi panjang tentang rencana penyelinapan selesai.

Darrion menggeleng, tersenyum sendu menatap kakaknya. "Sejak awal, aku sudah ingin membunuh mereka." Balasnya. "Lagipula, kakak satu-satunya keluargaku setelah kakek ikut pergi dengan ayah, ibu, dan nenek dua bulan lalu. Aku akan selalu berdiri disamping kakak, mendukungmu." Lanjutnya.

Elle tersenyum kecil. "Baik, kita akan saling menjaga dan saling bergantung kedepannya." Balas Elle seraya mengusap kepalanya, membuat Darrion mengangguk.

"Istirahatlah, aku akan berjaga." Ucap Elle kemudian. "Kau juga istirahatlah, kau terlihat tidak sehat." Ucap Elle menatap Luca yang juga menatapnya.

Ruangan hening, ketiga laki-laki disana sudah memejamkan mata setelah minum dan makan biskuit yang tersisa di tas perbekalan milik keluarga, yang sebelum ditangkap dibawa oleh pengawal Elle.

"Apa yang terjadi disini?" Tanya Luca memecah keheningan diantara keduanya.

"Kau... Tidak tahu?" Tanya Elle ragu, pikirannya menebak beberapa hal tapi tidak ia sebutkan secara langsung.

Luca tidak menjawab, ia tidak berniat sama sekali. Malah menunggu Elle menjawab pertanyaannya, membiarkannya menerka-nerka sendiri.

"Akhir dunia datang, diluar banyak hewan dan tumbuhan yang bermutasi, khususnya banyak manusia-manusia yang berubah menjadi mayat hidup. Memangsa manusia hidup seperti kita." Ucap Elle menatap Luca untuk menilik ekspresinya, tapi tidak ada yang bisa dibaca. Jadi ia melanjutkan.

"Awalnya dimulai ketika malam menghilang, matahari menjadi tiga, dan pecahnya bintik matahari, menjadi badai hujan berwarna kuning. Hujan inilah yang merubah dunia menjadi hancur berantakan seketika. Semua makhluk hidup bermutasi, yang tidak bisa menahan energi mutasi berada pada posisi kalah, menjadi mayat hidup. Yang menang, tetap hidup dengan fisik yang diperkuat, ada yang lebih beruntung membangkitkan kemampuan khusus, seperti ini." Jelas Elle kemudian menunjukkan kemampuan kayu yang dimilikinya.

Saat ini, terdapat riak samar dimata Luca ketika melihat Elle mengeluarkan kemampuan khususnya. Kayu yang terlihat seperti tanaman merambat. Tapi tak banyak terlihat oleh Elle, Luca tetap terlihat seperti orang yang tidak punya ekspresi.

**

1
azka aldric Pratama
hadir 😁
Windy Hapsarini
lanjut Thor 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!