Laura yang ingin mendapatkan kebebasan dalam hidupnya mengambil keputusan besar untuk kabur dari suami dan ibu kandungnya..
Namun keputusan itu membawa dirinya bertemu dengan seorang mafia yang penuh dengan obsesi.
Bagaimana kah kelanjutan kehidupan Laura setelah bertemu dengan sang mafia? Akankah hidupnya lebih atau malah semakin terpuruk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SabdaAhessa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Direktur Rumah Sakit
Laura terus berjalan meninggalkan rumah Ben. Dia tau keputusannya mungkin sebuah kemerdekaan namun juga sebuah titik awal dalam hidupnya. Tanpa harta dan keluarga.
Setelah kehilangan anaknya, Laura seakan tak punya tujuan hidup lagi. Sansa juga sudah meninggal di tangan Ben. Lalu kemana langkah kaki itu membawanya pergi?
Di belakangnya, Aaron dengan setia membuntuti Laura hingga ke persimpangan jalan. Wanita itu duduk di halte dengan tatapan kosong. Seakan dunianya sudah runtuh dan tak akan bisa kembali utuh lagi.
Sejenak Laura memejamkan kedua matanya. Memijat keningnya yang terasa pening dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya masih terasa nyeri.
"Mau pergi kemana?" Tanya Aaron berdiri tepat di depan Laura.
Sontak wanita itu mendongakkan kepala untuk memandang Aaron yang bertubuh tinggi. "Aku bilang, aku mau sendiri!" Ucap Laura masih berusaha terlihat kuat meskipun Aaron tau wanita ini sangat rapuh.
"Ya, tapi biar aku antar dulu kemana kau ingin sendiri, setelah itu aku akan pergi." Ucap Aaron.
Laura memandang Aaron lekat-lekat. Dia tak tau harus menjawab apa, karena dirinya memang belum punya tujuan sekarang. Lalu tercetus sebuah ide di benatnya. "Antarkan aku ke apartemen Sansa!" Ucapnya.
Kini giliran Aaron yang memandangnya lekat-lekat. Aaron memang belum tau betul siapa Sansa yang di maksud oleh Laura. Dirinya hanya mengetahui jika Sansa itu adalah sahabat Laura yang sudah meninggal di tangan Ben. Namun tak pikir panjang, Aaron menyetujui hal itu.
Dia tau, Laura tak akan mau ikut dengannya kembali ke Miami sekarang, karena wanita itu sudah memutuskan pilihannya. Dia juga tau, Laura tidak akan mau jika Aaron menyewakan hotel atau apartemen untuk dirinya. Itu sebabnya dia mengiyakan keinginan Laura untuk pergi ke apartemen Sansa.
Aaron segera menghubungi Fred untuk menyiapkan mobil menuju ke apartemen Sansa yang lumayan jauh. Saat Laura masuk ke dalam mobil Aaron. Ben memandangnya dengan tajam, dia sangat membenci sosok Aaron.
"Kau bilang ingin sendiri, Laura!" Gumam Ben sambil mengepalkan kedua tangannya. "Tapi kenapa kau malah pergi dengan laki-laki itu!" Sambungnya.
Sedangkan Laura yang berada di dalam mobil Aaron tak menyadari dengan kedatangan Ben di ujung jalan. Memperhatikan dirinya dan Aaron yang mulai menjauh. Lagi-lagi Ben kehilangan Laura untuk kesekian kalinya.
Di dalam mobil, Laura sama sekali tak bergeming. Dia hanya melempar pandangannya ke luar jendela. Memperhatikan setiap jengkal jalan raya yang dia lewati. Hingga dirinya tertidur pulas dan merobohkan kepalanya ke bahu kekar Aaron.
Aaron yang menyadari hal itu segera menahan kepala Laura yang hampir saja terhuyung. Nampaknya Laura benar-benar kelelahan malam ini. Semua yang terjadi sangat menguras otak dan tenaganya.
Setelah sekitar dua jam perjalanan, barulah mereka sampai di apartemen Sansa. Fred segera turun untuk menemui security disana, meminta kunci apartemen Sansa.
"Dapat?" Tanya Aaron ada Fred yang kembali ke mobil.
"Iya, tuan." Jawab Fred.
Fred memberikan kunci apartemen itu pada Aaron. Mereka pun segera masuk ke dalam apartemen itu, menuju lift dan memencet tombol angka 5.
"Terimakasih." Gumam Laura di samping Aaron.
"Kau tidak perlu berterima kasih, Laura! Aku akan melakukan apapun yang kau minta." Ucap Aaron.
Ting!
Suara bel lift terbuka. Aaron menggandeng tangan Laura saat keluar dari lift. Mengantarkan Laura ke depan pintu apartemen.
"Aku akan sewa hotel dekat sini, jadi jika kau butuh sesuatu hubungi aku!" Ucap Aaron.
Laura hanya mengangguk kecil. Lalu masuk ke dalam apartemen Sansa. Meninggalkan Aaron sendiri di luar sana.
Di dalam apartemen Sansa, Laura seketika menahan nafas. Melihat isi apartemen yang masih berantakan. Memperlihatkan bahwa apartemen ini di tinggalkan begitu saja oleh Sansa sebelum kematiannya.
Di ruang tengah, nampak beberapa bungkus makanan dan susu yang masih ada di atas meja. Mangkuk berisi mie instan yang sudah membusuk bahkan sudah ada belatungnya. Televisi juga masih menyala. Laura segera memungut sampah-sampah itu dan membuangnya ke tempat sampah di dapur. Mencuci beberapa piring dan gelas kotor di wastafel.
Setelah itu, Laura kembali kembali ke ruang tengah, menonton televisi yang sudah menyala entah sejak kapan. Pandangannya kosong ke depan. Dia ingat betul bagaimana sosok Sansa yang selama ini menjadi satu-satunya orang yang perduli pada dirinya.
Sosok yang sebatang kara selama ini, bertahan hidup dengan menjadi simpanan para lelaki hidung belang. Laura tau, hidup Sansa lebih berat daripada yang bisa dia bayangkan. Hidup di tengah-tengah kota yang hiruk-pikuk ini memang butuh mental sedikit gila agar tetap hidup.
Matanya beralih ke kamar Sansa yang sedikit terbuka. Dia ingat, terakhir kali dia datang ke apartemen ini, Sansa melarang keras dirinya untuk masuk ke dalam kamar itu dan menyuruhnya untuk menunggu di kamar tamu. Laura jadi penasaran dengan kamar itu.
Langkah kakinya menuju ke kamar itu. Membuka pintunya perlahan. Mengintip bagaimana isinya. Sekilas, tidak ada yang aneh. Seperti kamar pada umumnya.
Namun, setelah Laura memutuskan untuk masuk lebih dalam dan melihat lebih detail. Dia menemukan sebuah borgol di atas meja nakas. Laura mengambil borgol itu dan menimangnya sebentar.
"Untuk apa?" Gumamnya.
Tapi tak ada yang bisa menjawab pertanyaannya sekarang. Dia juga membuka laci nakas itu. Terlihat sebuah foto disana. Foto pria paruh baya itu, yang sempat dia lihat bersama Sansa dulu.
Dia juga melihat kartu nama disana. Sepertinya milik pria paruh baya itu. Lengkap dengan nama, posisi, alamat, dan nomor telepon.
Laura memiringkan kepalanya saat membaca kartu nama itu. Alexander Diego. Di tuliskan juga posisinya disana, yang ternyata dia adalah direktur rumah sakit di Miami. Sontak dia membulatkan kedua matanya.
"Ini rumah sakit tempat Dante di rawat." Gumamnya lagi.
Laura berpikir sejenak, dia belum mendapat kabar lebih lanjut dari pihak rumah sakit. Hanya kata maaf yang di wakili oleh kepala rumah sakit. Dia juga tidak menuntut pihak rumah sakit karena kondisinya yang lemah setelah di aniaya oleh Ben.
Dia pun segera keluar dari kamar Sansa, menuju telpon rumah yang ada di dekat televisi. Laura menelpon Aaron saat itu.
"Aaron.." Panggilnya di telpon.
"Ada apa, Laura?" Jawab Aaron di ujung telepon sana.
"Apa kau sudah bertemu dengan direktur rumah sakit tempat Dante di rawat?" Tanya Laura.
"Belum, kenapa Laura?"
"Mungkin kita harus mengeceknya. Karena aku pernah bertemu dengan direktur itu sebelumnya." Ucap Laura.
"Siapa dia?"
"Alexander Diego. Aku hanya bertemu dengannya sekali, tapi aku rasa dia punya firasat buruk tentang pria itu." Laura menjelaskan.
"Baiklah, aku akan meminta Fred untuk mengeceknya."
Aaron juga baru menyadari hal itu. Karena hilangnya Dante tepat bersamaan dengan Laura yang di aniaya oleh Ben, membuatnya tak fokus dalam mencari pelakunya.
Namun, malam ini Aaron kembali fokus pada target. Dia tau, ini belum terlambat. Siapapun pelakunya harus mati di tangan Aaron dan di hadapan Laura.
Bersambung..