Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konspirasi Cuaca
Raisa bisa merasakan panas tubuh Arash merambat ke kulitnya. Ia menelan ludah, berusaha keras untuk tidak memalingkan wajah. "Tentu. Selama ceknya cair tepat waktu, saya akan memberikan pertunjukan terbaik yang pernah Anda lihat."
Arash terdiam sejenak, matanya turun menatap bibir Raisa yang bergetar sedikit. Untuk sesaat, suasana dingin di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih panas dan menyesakkan. Namun, Arash segera menjauhkan dirinya seolah baru saja tersengat listrik. Ia berdeham, memulihkan topeng dinginnya.
"Bagus," ucap Arash singkat. Ia mengambil kembali botol obatnya dan berbalik pergi tanpa menoleh lagi. "Siapkan gaun hitam yang kubelikan bulan lalu. Jangan pakai pakaian lusuhmu itu ke rumah Kakek."
Raisa hanya bisa berdiri terpaku, menatap punggung Arash yang menjauh. Ia mencengkeram pinggiran wastafel dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Di bawah atap mewah ini, mereka memang tinggal bersama, namun dinding yang mereka bangun di antara satu sama lain jauh lebih tebal daripada beton mana pun.
Ia kembali menatap wastafel, melihat pantulan dirinya di air yang tersisa. Besok akan menjadi hari yang panjang. Di kantor ia akan menjadi debu yang tak terlihat di mata Arash, dan di rumah Kakek, ia harus berpura-pura menjadi pusat semesta pria itu.
"Dasar pria gila!" gerutu Raisa dalam hati dengan tangan yany mengepal.
Malam itu, di bawah atap yang sama, dua orang yang terikat sumpah suci itu tidur di kamar yang berbeda, dipisahkan oleh dinding beton dan rahasia yang semakin hari terasa semakin menyesakkan.
***
Pagi itu, langit seolah berkonspirasi dengan Arash untuk menyulitkan hidup Raisa. Hujan yang semalam hanya rintik kecil, kini berubah menjadi badai yang mengamuk, menelan jarak pandang dan mengubah aspal menjadi genangan keruh.
Raisa berdiri di bawah halte bus yang bocor, tangannya gemetar memegang payung lipat yang nyaris patah diterjang angin. Kakinya yang dibalut sepatu pantofel murah sudah basah kuyup. Ia melirik jam tangan digitalnya dengan panik—sepuluh menit lagi rapat dewan direksi dimulai.
"Ayo, datanglah ... kumohon," bisiknya lirih, matanya menyipit menembus tirai hujan, mencari sorot lampu bus yang tak kunjung muncul.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat ia kenali meluncur pelan, lalu berhenti tepat di depan halte. Kaca jendela belakang perlahan turun, menampilkan wajah Arash yang tertutup kacamata hitam, meski cuaca sedang gelap.
"Naik," perintah Arash singkat. Suaranya nyaris tenggelam oleh suara guntur yang menggelegar.
Raisa menggeleng keras, ia mundur selangkah hingga punggungnya menabrak tiang halte yang dingin. "Tidak. Bus sebentar lagi datang. Pergilah, nanti ada yang melihat!"
Arash mendengus, ia membuka pintu mobil dari dalam dan keluar dengan payung besar berwarna hitam. Langkahnya lebar dan penuh otoritas, mengabaikan cipratan air yang membasahi celana kain mahalnya. Ia berhenti tepat di hadapan Raisa, memangkas jarak hingga Raisa bisa menghirup aroma maskulin yang kontras dengan bau tanah basah.
"Kau keras kepala atau bodoh?" Arash mencengkeram lengan Raisa, tidak cukup kuat untuk menyakiti, tapi cukup tegas untuk mengunci. "Jalanan banjir di depan sana. Bus tidak akan lewat jalur ini selama tiga jam ke depan."
Raisa berusaha melepaskan diri, matanya mulai berkaca-kaca karena perpaduan rasa dingin dan frustrasi. "Lalu apa bedanya? Kalau aku naik mobilmu dan kita terlihat di lobi, aku yang akan hancur, Arash! Kau bisa memecatku kapan saja, tapi aku butuh pekerjaan ini!"
Arash menatap mata Raisa yang memerah. Untuk sejenak, tatapan dinginnya goyah. "Aku akan menurunkanku di pintu belakang, lewat jalur servis. Tidak akan ada yang melihat."
"Kau berjanji?" suara Raisa mencicit, tubuhnya menggigil hebat.
Arash tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik Raisa ke dalam perlindungan payung besarnya, merangkul bahu wanita itu agar tidak semakin basah, dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Kehangatan pemanas suhu di dalam mobil langsung menyergap kulit Raisa yang membeku, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan badai di luar.
Di dalam mobil yang sunyi, hanya terdengar suara wiper yang bekerja cepat. Arash duduk kembali di posisinya, menjaga jarak sejauh mungkin. Ia memberikan sehelai sapu tangan sutra dari saku jasnya kepada Raisa tanpa menoleh.
"Keringkan wajahmu. Kau terlihat berantakan," gumam Arash dingin, meski matanya sesekali melirik pantulan Raisa di kaca jendela yang berembun.
Raisa menerima sapu tangan itu, mencium aroma parfum Arash yang melekat di sana. "Terima kasih, Pak Arash."
Arash mengerutkan kening, rahangnya mengeras mendengar panggilan formal itu kembali terucap di ruang yang begitu sempit. "Simpan ucapan terima kasihmu. Aku hanya tidak ingin sekretarisku terlambat dan merusak suasana rapat."
Mobil melaju membelah banjir, membawa dua orang asing itu menuju medan perang yang sebenarnya kantor pusat di mana mereka harus kembali berpura-pura tidak saling mengenal.
Keheningan di dalam mobil terasa jauh lebih menyesakkan daripada gemuruh badai di luar. Raisa mencengkeram sapu tangan sutra milik Arash, meremasnya hingga kain mahal itu lecek di jemarinya yang pucat. Ia menatap tetesan air yang merayap di kaca jendela, berusaha keras untuk tidak menoleh ke samping, ke arah pria yang secara hukum adalah suaminya.
"Kenapa kau tidak memakai gaun yang kubelikan untuk acara malam ini?" suara Arash tiba-tiba memecah kesunyian, datar namun menuntut.
Raisa tersentak kecil. Ia masih menatap ke luar jendela. "Gaun itu terlalu mahal. Aku tidak ingin merusaknya jika nanti aku harus pulang naik bus lagi."
Arash mendengus, tangannya yang terbalut jam tangan mewah mengetuk-ngetuk setir dengan tidak sabar. "Kau selalu memikirkan hal-hal kecil yang tidak penting. Uang bukan masalah bagiku, Raisa. Yang jadi masalah adalah jika kau mempermalukanku di depan Kakek dengan pakaian yang tampak seperti barang obralan."
Raisa menoleh, matanya berkilat karena tersinggung. "Pakaian ini bersih dan sopan, Arash. Dan bagiku, uang adalah masalah. Aku tidak ingin terbiasa dengan kemewahan yang hanya dipinjamkan sementara padaku."
Arash mengerem mobilnya sedikit mendadak saat lampu lalu lintas berubah merah, itu membuat Raisa sangat terkejut. Ia menoleh sepenuhnya, menatap Raisa dengan pandangan tajam yang mengintimidasi.
"Dipinjamkan? Kau istriku. Apa pun yang ada di rumah itu adalah milikmu."
"Hanya di atas kertas," potong Raisa cepat, suaranya bergetar. "Jangan buat aku lupa pada kenyataan bahwa setelah kontrak ini selesai, aku akan kembali menjadi 'orang asing' yang kau temui di jalan."
Rahang Arash mengeras. Ia kembali menginjak gas saat lampu berubah hijau, melajukan mobil dengan kecepatan yang sedikit lebih tinggi. "Bagus kalau kau sadar diri. Setidaknya itu memudahkanku untuk tidak perlu merasa bersalah."