Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 – Tembus ke Alam Lain
Kekuatan itu masih berdenyut dalam diri Defit dan Maya. Meski sepertinya dunia di sekitar mereka terhenti, mereka bisa merasakan aliran energi yang mengalir melalui setiap saluran tubuh mereka. Cahaya kristal itu semakin menyilaukan, dan setiap sentuhan energi itu terasa seperti petir yang mengalir melalui jiwa mereka. Mereka berdiri di tengah kegelapan, di ambang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertempuran sebuah perubahan yang akan mengubah takdir mereka selamanya.
Maya menggenggam tangan Defit lebih erat, rasa takut yang tak bisa disembunyikan lagi menghantui setiap pori kulitnya. “Defit, aku aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi selain ini,” katanya dengan suara bergetar, namun ada keteguhan di balik ketakutannya. “Ini bukan hanya sekedar kekuatan. Ini seperti seperti kita sudah kehilangan kontrol.”
Defit menatapnya, matanya penuh dengan kekhawatiran yang mendalam. “Aku tahu, Maya. Aku merasakannya juga. Tapi kita tidak bisa berhenti sekarang. Kita sudah membuat keputusan. Kita harus tetap maju, meski aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”
Sebuah kilatan cahaya yang luar biasa terang menyelubungi mereka, dan tanpa ada peringatan, semuanya menjadi hening. Tiba-tiba, Defit dan Maya terlempar ke dalam sebuah ruang yang tidak mereka kenal sebuah tempat yang tidak memiliki batasan waktu, tidak ada awal maupun akhir. Tempat yang hanya bisa digambarkan sebagai ruang kosong yang gelap, namun penuh dengan beban yang tak terucapkan.
Wuras, yang sebelumnya berada di belakang mereka, kini sudah tidak ada. Hanya ada mereka berdua. Dalam ruang kosong itu, hanya ada gema langkah kaki mereka sendiri. Tidak ada suara alam, tidak ada angin yang berhembus, hanya ketenangan yang mengerikan. Defit merasakan perasaan terjebak di tengah-tengah ruang dan waktu, seakan mereka tidak berada di dunia yang sama lagi.
"Apa ini?" tanya Maya, suaranya penuh kebingungan dan ketakutan. "Apa yang terjadi pada kita, Defit?"
Defit menatap sekeliling, merasa semakin terperangkap dalam sebuah dunia yang tak bisa ia pahami. “Ini bukan dunia yang kita kenal, Maya. Ini ini seperti dimensi lain. Sepertinya kita telah dipanggil ke sini, ke sebuah tempat yang tidak ada jalan keluar.”
Sebuah suara bergema di dalam ruang kosong itu, begitu kuat dan dalam, seakan berasal dari seluruh penjuru alam. Suara itu penuh dengan kekuatan dan kepastian, seperti takdir yang tak bisa dihindari.
“Defit… Maya…”
Maya menutup telinganya sejenak, tubuhnya menggigil. "Itu suara suara yang sama. Itu itu suara yang kita dengar sebelumnya, bukan?"
Defit menunduk, matanya tajam, mencermati setiap inci ruang di sekitar mereka. “Ya, itu suara yang sama. Tapi kali ini… terasa lebih nyata.”
Suara itu kembali bergema, lebih jelas, lebih dekat, seakan berbicara langsung ke dalam jiwa mereka.
“Anak-anak terpilih… Kalian telah memasuki ranah yang lebih tinggi. Kalian telah membuka pintu yang menghubungkan kalian dengan takdir kalian yang sesungguhnya. Kekuatan yang mengalir dalam darah kalian bukanlah hal biasa. Kalian adalah penerus yang akan menentukan apakah dunia ini akan hancur atau terlahir kembali.”
Defit merasakan napasnya tercekat. Keringat dingin mulai mengalir di dahinya. Semua yang ia dengar semakin mempersulit pemahaman. Apa yang mereka lakukan, apa yang telah mereka pilih, ternyata bukan hanya tentang diri mereka berdua tetapi tentang seluruh dunia.
“Maya…” Defit berkata pelan, “Kita kita tidak hanya bertarung untuk diri kita sendiri. Ini jauh lebih besar. Apa yang kita pilih hari ini akan menentukan nasib semua orang.”
Maya menatap Defit, matanya penuh dengan air mata yang tak tertahankan lagi. "Aku takut, Defit. Aku takut kita tidak bisa menghentikan semuanya. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita hadapi."
Defit menatapnya dalam-dalam, merasakan perasaan yang sama, tetapi ada keteguhan yang terbangun di dalam dirinya. “Maya, kita tidak tahu apa yang akan datang. Tetapi kita punya satu hal yang pasti kita tidak akan melarikan diri. Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama.”
Saat itu, sebuah sosok muncul di tengah-tengah kegelapan tidak bisa dijelaskan bentuknya, namun ada aura yang sangat kuat yang datang dari makhluk itu. Makhluk itu tidak berbicara, hanya berdiri dengan kekuatan yang menyelimuti ruangan.
“Mereka yang datang dari darah yang terkutuk,” suara itu terdengar lebih dalam dari sebelumnya, penuh dengan kebingungan. “Mereka yang membuka gerbang yang tidak seharusnya dibuka. Kalian datang ke sini bukan hanya untuk menguasai, tetapi untuk memahami apa yang kalian ambil. Kekuatan ini akan menguji kalian.”
Tiba-tiba, seberkas cahaya menyelimuti tubuh Defit, Maya, dan makhluk itu. Semua yang ada di sekitar mereka terputus. Tidak ada lagi ruang, tidak ada lagi waktu. Hanya ada suara yang memanggil mereka untuk melangkah lebih jauh, lebih dalam ke dalam kegelapan yang mengelilingi mereka.
Defit tidak tahu apa yang akan mereka hadapi, tetapi satu hal yang pasti ia tidak bisa mundur. Tidak ada jalan kembali.
“Ini adalah tempat yang menunggu kalian,” suara itu kembali terdengar, kini lebih mendalam, seperti bisikan dari dalam tanah. “Kekuatan yang terpendam akan terbangun dalam diri kalian, dan hanya dengan menyatu dengan kegelapan yang ada di sini, kalian bisa mencapai akhir dari takdir ini.”
Maya mendekat pada Defit, tangan mereka saling menggenggam erat, meskipun ketakutan hampir menghabisi keberanian yang tersisa dalam diri mereka. “Defit… apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa yang kita hadapi?”
Defit menatap Maya dengan mata penuh keyakinan. “Kita hadapi ini bersama. Apapun itu.”
Sosok itu akhirnya berbicara lagi, dengan suara yang lebih keras dan lebih menuntut. “Kalian akan dipilih. Kekuatan kalian akan mengalir atau menghancurkan semuanya. Pilihan kalian akan menentukan jalan yang akan kalian tempuh. Tetapi ingat kekuatan ini tidak akan pernah mudah dikuasai.”
Defit mengangkat wajahnya, matanya penuh dengan api tekad. “Kami akan menguasainya. Apa pun yang terjadi, kami akan menghadapinya.”
Dan saat itu, dunia sekitar mereka terbelah, dan mereka terlempar ke dalam kedalaman yang tak bisa mereka prediksi. Dalam gelombang kekuatan yang begitu besar, hanya ada satu hal yang mereka yakini mereka akan bertarung hingga akhir.
Kehancuran atau kebangkitan mereka tidak tahu. Tapi mereka tahu satu hal yang pasti: mereka tidak akan berhenti, tidak akan mundur.
terus menarik ceritanya 👍